Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Yang Tersisa


__ADS_3

...Selamat membaca ...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Hana membuka pelan pelan matanya setelah hampir empat jam tak sadarkan diri. Perlahan namun pasti bisa dikenalinya tempat ini.


Apalagi kalau bukan rumah sakit? Dengan selang infus tertancap dan aroma aroma khas rumah sakit yang lumayan menusuk hidung, Hana bisa mengingat semua kejadian yang sangat cepat itu.


"Anakku,,," Hana mulai panik dan meraba perutnya yang masih belum membuncit itu.


Ia tak bisa merasakan keberadaan jiwa kecil peninggalan suaminya di dalam rahimnya. Dengan panik ia mencari cari tombol bantuan untuk memanggil suster.


"Hana sayang,,, kamu sudah sadar rupanya." mama Herna yang baru masuk sangat senang mengetahui Hana sudah sadar.


"Ma,,, anakku ma,,, Anakku,,, Kenapa aku tidak bisa merasakannya ma,,,??" Hana histeris.


Mama Herna meraih kepala wanita kesayangannya itu dengan perasaan iba dan kasih sayang yang tulus. Dibawanya kepala itu ke bahu hangatnya.


"Sabar ya sayang. Tuhan lebih sayang anakmu. Tuhan menjaganya di sana." lirihnya pelan.


"Tidak ma,,, Tidaakkk,,,, dia satu satunya milikku yang tersisa ma. Anakku maaa,,,," Hana tak bisa lagi menahan tangisnya.


Ibu mana yang bisa menerima kabar bahwa dirinya telah kehilangan janinnya? Apalagi jika janin itu adalah miliknya yang tersisa setelah kepergian suami dan anak pertamanya. Meski kehadiran janin itu telah disalahgunakannya selama ini untuk alat kendali atas diri Dion,,,,Meski tidak ada pembenaran atas apa yang telah diperbuatnya itu,,, Tetap saja,,, Hana hanyalah seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.


Tangisan pilu Hana begitu menyayat hati mama Herna. Beliau bisa merasakan kesedihan itu meski dirinya tidak pernah bernasib naas seperti itu.


"Seandainya saja mereka tidak bertengkar sebelumnya,,, mungkin janin Hana bisa diselamatkan,,, seandainya saja tidak terjadi kecelakaan itu,,, seandainya saja tidak pernah datang wanita yang bernama Karin dalam hidup anaknya,,," Mama Herna mengutuki Karin.

__ADS_1


Puas menangis dalam dekapan mama Herna, Hana pun mulai lelah. Tubuhnya melemah kembali karena memang ia belum pulih betul. Kali ini baru terasa luka luka luar di tubuhnya yang mulai berdenyut. Meski semua luka itu tidak ada apanya jika dibanding luka batin karena kehilangan janinnya.


"Istirahat lagi ya sayang. Kamu harus cepat sembuh. Mama ingin kamu kembali bisa berbahagia. Bersama Dion." ucap mama Herna mencoba mengembalikan semangat hidup Hana dengan menyebut nama Dion.


"Bagaimana kondisi Dion ma? Apa dia baik baik saja? Apa dia makin membenci dan menyalahkan Hana atas semuanya?" tanya Hana lesu.


Dalam hati kecilnya sebenarnya ia paham Dion pasti sangat menyalahkannya dan membencinya karena kehadirannya begitu mengganggu keharmonisan rumah tangganya bersama Karin. Tapi sisi egois Hana mengatakan itu bukan semata mata salahnya saja. Siapa juga yang mau bernasib sepertinya? Apa hanya dia saja yang harus menderita? Apa harus dia saja yang harus gigit jari karena kehilangan suami dan anak anaknya?


Lagipula siapa Karin?


Keistimewaan apa yang dibawanya hingga gadis ingusan itu berhak lebih bahagia darinya?


"Dion belum sadar Han. Dia masih dalam observasi tim dokter. Keadaannya bisa dibilang parah. Tapi kamu jangan khawatir,,,Dion pasti sembuh. Anak itu punya semangat juang yang tinggi. Mama yakin dia akan berjuang untuk hidup. Dia tidak akan meninggalkan mama dan papanya dengan cara seperti ini." ucap mama Herna yakin.


"Dan untuk anak istrinya juga tentunya." lirih Hana dengan perasaan tidak bahagia.


Hana menatap kedua bola mata renta itu dengan pandangan bertanya tanya. Apa dia tidak salah dengar?


"Iya. Mama sudah usir wanita pembawa sial itu. Mama tidak ijinkan dia menemui Dion sama sekali. Bahkan mama tidak mengijinkannya untuk tau kondisi Dion terkini. Mama ingin membuatnya seolah menghilang tanpa kabar."


Panjang lebar mama Herna menjelaskan maksud dan tujuannya berbuat demikian. Hana mendengarkan dan menyimak dengan seksama penuturan mama Herna. Ada ketertarikan di wajahnya untuk ambil andil dalam drama kepergian Karin ini.


"Sekarang semua terserah padamu. Kalau kamu masih mau menerima Dion dengan kondisinya saat ini maka ambillah tempat di hati Dion selagi ia taunya bahwa istrinya meninggalkannya. Tapi ya begitulah kondisi Dion,,, seperti yang mama katakan tadi. Dion lumpuh Han."


Hana terdiam. Kepalanya terasa berdenyut makin kencang tiap dipakai berpikir keras. Perban yang melilit kepalanya juga makin terasa kencang tiap kali ia memikirkan sesuatu.


Ah mungkin dirinya memang belum mampu untuk terlalu keras berpikir.

__ADS_1


"Hana pikirkan saja dulu baik baik. Yang jelas begitu Dion sadar dan mencari wanita pembawa sial itu, mama hanya akan katakan bahwa wanita itu belum pernah datang. Sekarang kamu istirahat saja dulu ya Han. Pulihkan dulu kesehatanmu. Mama mau cek kondisi papa dulu." pamit mama Herna.


Beliau paham Hana pasti galau dengan kondisi Dion saat ini. Apa yang bisa diharapkan dari pria lumpuh itu? Berharap bisa punya keturunan lagi juga rasanya sulit,,,


"Papa kenapa memangnya ma?" tanya Hana.


"Papa anfal Han. Jantungnya kambuh. Ini juga karena wanita sialaaan itu. Semua jadi kacau." kembali mama Herna mengutuki Karin.


"Sabar ya ma. Hana kagum sama mama. Mama wanita kuat. Bisa setegar ini meski di depan mata ada anak yang belum sadar dan belum dipastikan kondisinya,,, ada suami yang juga butuh perhatian." ucap Hana.


"Karenanya mama berharap besar padamu Han. Mama harap kamu mau berbagi beban ini dengan mama. Mama tau kondisi Dion mungkin tidak menguntungkanmu saat ini tapi mama harap cintamu kepadanya menghapus semua pandangan tentang kekurangan Dion saat ini. Kamu masih mencintainya kan? Cinta itu tulus kan?" tanya mama Herna dengan harap harap cemas.


"Ma,,, Hana,,, Hana,,," Hana memegang kepalanya yang kembali terasa berdenyut.


"Tidak apa. Jangan dijawab sekarang. Kondisi kamu masih rapuh lahir batin. Mama tidak seharusnya menambah bebanmu Han. Istirahat ya sayang,,, Mama bantu."


Dengan telaten mama Herna membantu memperbaiki posisi kepala Hana agar bisa lebih nyaman beristirahat. Sebenarnya mama Herna adalah wanita yang hangat dan sangat penyayang apalagi kepada menantunya. Tidak punya anak perempuan menjadikan mama Herna selalu sayang kepada menantunya karena menantunya adalah satu satunya perempuan yang akan bisa berbagi rasa dengannya. Yang akan lebih paham perasaan sesama wanita.


Hana memejamkan matanya ketika mama Herna keluar kamar. Namun begitu pintu tertutup, matanya terbuka kembali. Pikirannya berkelana jauh.


"Dion lumpuh,,, dan aku tidak merasa iba sama sekali. Aku bahkan keberatan menghabiskan sisa umurku dengan pria lumpuh sepertinya. Apa enaknya di aku? Yang ada aku hanya akan jadi perawatnya saja. Menyusahkan saja." gerutunya.


Mendadak semua sisa cinta dalam dirinya untuk Dion lenyap begitu saja. Apa memang sebenarnya tidak pernah ada cinta itu? Hana tidak paham.Yang ia pahami hanya dia tak ingin sendiri dan kehilangan segalanya setelah kepergian anak dan suaminya.


Kini hanya Dion lah kenangan manis sekaligus pahit yang tersisa dalam hidupnya dan ia tak punya pilihan selain menerimanya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2