Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 65


__ADS_3


Dannis yang baru saja berniat akan pulang dari joggingnya karena hari sudah mulai siang, pria itu mengernyit heran saat matanya tidak sengaja melihat sosok perempuan mirip istrinya sedang dihadang seseorang dari kejauhan.


Dannis ingin tertawa ketika mata elangnya menatap wajah Nara yang ketakutan, terlebih ia mengenal pria itu.


Dannis berjalan mendekat dari arah belakang gadis itu.


Nara ingin lewat ke kiri, pria itu juga ke kiri begitupun sebaliknya hingga membuat Nara kian takut dan cemas bagaimana ia bisa lewat jika pria itu terus menghadangnya.


"Tuan aku mohon, aku tidak mengenalmu biarkan aku lewat aku ingin pulang", ucap Nara sudah mulai menangis karena takut karena memang tidak ada orang lain di sana yang bisa ia minta tolong.


"Aku ini suamimu, kau melupakanku karena pria itu?", pria itu berkata dengan raut sedih namun tetap melangkah mendekati Nara yang kian beringsut mundur.


"Ayolah sayang aku sudah lama menunggu mu pulang, sekarang kau di sini aku tidak akan kehilangan mu lagi my amor", rayu pria itu, membuat Nara menangis takut dan tidak tahu harus apa.


"Jangan dekati aku tuan, aaaaaa", pekik Nara ketakutan saat pria itu kian mendekatinya dengan tatapan penuh damba.


Nara memutuskan ingin lari ke arah belakang saja, tidak masalah ia akan lebih menjauh dari rumah mertuanya asal ia bisa lari dari pria asing nan menakutkan baginya ini.


Baru saja berbalik badan, ia tidak tahu bahwa Dannis berada tepat di belakangnya hingga Nara menabrak dada suaminya sendiri.


Semula ia menjadi lebih cemas takut ia menabrak teman pria asing itu, namun ketika menatap wajah Dannis Nara merasa jantungnya ingin lepas dari tempat nya.


"Tuan Dannis", pekik Nara berhambur memeluk Dannis.


Dannis terkekeh.


"Kenapa kau takut, bukankah dia suamimu? aku mendengarnya bilang begitu", ucap Dannis menggoda.


Nara tidak menjawab ia malah semakin menangis ketakutan.


"Beraninya kau memeluk istriku? my amor apa dia lelaki yang telah merebutmu dariku?", ucap lelaki aneh itu dengan marah.


Membuat Dannis maupun Nara membesarkan matanya.


Nara melepas pelukan, ia menelan ludah saat pria asing itu terlihat marah padanya.


"Kau ikuti aku dalam hitungan ketiga", ucap Dannis berbisik pada Nara.


"Satu.... Dua.... Tiga..... lari", ajak Dannis yang sudah lari terlebih dahulu.


Karena terlalu takut, Nara merasa otaknya bekerja lebih lambat hingga gadis ini tidak menyadari bahwa aba-aba dari Dannis adalah untuk mengajaknya lari dari pria aneh itu.


Nara terkaget saat Dannis sudah berlari lebih dulu namun ia tidak, bahkan kakinya terasa kaku saat pria asing itu sudah berhasil memegang tangannya.


Tidak ada cara lain selain menangis saja, iya Nara menangis ketakutan layak anak kecil.


"Aaaaaa..... aku tidak mau, tolong lepaskan tanganku, aku takut", rengek Nara sambil memejamkan matanya tidak ingin melihat raut pria asing yang menganggapnya istri tersebut.

__ADS_1


Melihat itu Dannis menepuk keningnya sendiri dan kembali menghampiri istrinya.


"Paman, lepaskan tanganmu dari istriku!", perintah Dannis geram.


"Enak saja, ini istriku", bantah pria itu tanpa takut.


"Kau lihat di sana, perempuan itulah istrimu bukan wanita ini", ucap Dannis seraya melepas paksa tangan pria yang memegang tangan Nara.


Lelaki itu menurut saja, ia menoleh pada arah yang ditunjuk oleh Dannis, ia melihat-lihat tidak ada seorang pun di sana sampai ia baru tersadar bahwa Dannis telah melarikan diri bersama gadis yang ia anggap sebagai istrinya yang hilang.


"My amor... My amor.....", pekik lelaki itu segera menyusul lari Dannis dan Nara.


"Tuan, aku tidak bisa mengimbangi larimu, kau terlalu cepat", ucap Nara dengan napas terengah-engah.


Dannis tidak melepas pergelangan tangan istrinya, ia memperlambat lari bersejajar dengan gadis itu.


"Kau tidak lihat dia mengejar kita? ayo kenapa kau mengeluh, kau mau dijadikannya istri?".


Nara menggeleng cepat.


"Tuan, jangan membuatku takut, lebih pelan sedikit aku tidak kuat aku belum sarapan tidak punya tenaga lebih", rengek Nara lagi.


Dannis melihat ke belakang, dan benar saja pria itu kian mendekat.


Karena ada sebuah pohon besar, Dannis menarik Nara untuk berlindung dibalik batang pohon itu agar tidak terlihat, ia meraih tubuh mungil Nara dalam dekapan tubuh besarnya, benar saja pria aneh itu melewati mereka lebih jauh.


Dengan napas sama-sama terengah dan dada kempang kempis, Nara dan Dannis saling melempar tatapan kemudian Dannis tertawa namun berbeda dengan Nara, gadis itu malah menangis lagi.


"Aku takut tuan, kenapa bisa dia mengira aku istrinya, dan sekarang kau malah tertawa", pukul Nara pada lengan Dannis dengan manja.


"Tidak perlu takut, dia hanya orang gila", jawab Dannis terkekeh melihat raut gadis itu yang menggemaskan, tangannya tergerak menghapus airmata Nara.


"Apa? gila? jadi dia pria gila?", gumam Nara bergidik ngeri.


"Ayo kita pulang, aku rasa dia sudah jauh", ajak Dannis menarik tangan Nara seraya keluar dari persembunyian mereka.


"Darimana kau tahu dia gila?", tanya Nara heran.


"Dia tetangga mama, semua orang di sini mengenalnya, dia gila karena istrinya lebih memilih pria lain".


"Jika tuan mengenalnya kenapa kita harus lari, kenapa tidak jelaskan baik-baik bahwa aku bukan istri yang dia maksud", cebik Nara memajukan bibirnya.


"Itu akan percuma bodoh, namanya juga orang gila, pria itu saja kadang mengenalku kadang tidak, sudahlah ayo pulang atau kau ingin berkenalan dengannya? ayo aku tidak keberatan", goda Dannis lagi.


"Tidak tidak tidak.... aku takut, ayo pulang".


Dannis terkekeh, ia mengusap rambut Nara gemas.


Berjalan bersama menuju rumah, karena terlalu menikmati ketampanan dan obrolan santai suaminya, Nara sesekali mencuri pandang saat Dannis berbicara, tanpa ia sadari ada sebuah batu di hadapan, karena hanya fokus pada wajah Dannis yang ia anggap berbeda hari ini maka Nara tersandung dan terjatuh ke jalan.

__ADS_1


"Ahhhh.....", pekik Nara ketika ia tersungkur hingga menyebabkan kakinya lecet dan keseleo pergelangan mata kakinya.


"Berjalan itu juga lihat-lihat, kenapa bisa tersandung padahal batu ini besar jelas sekali tampak di depan mata", ucap Dannis geleng kepala.


Pria itu ikut berjongkok dan memperbaiki posisi kaki Nara yang terkilir, tentu saja gadis itu mengaduh kesakitan.


Nara meringis saat Dannis memijat kakinya.


"Apa masih sakit?".


Nara menggeleng pelan.


"Sudah lebih baik, terimakasih", jawab gadis itu.


"Bisa berjalan sendiri?", tanya Dannis mengulurkan tangannya agar Nara berdiri.


"Gendong", ucap Nara merengek manja, namun ia hanya menggoda Dannis saja seraya bercanda, Nara tidak benar-benar ingin pria itu menggendongnya.


Namun tidak bagi Dannis, pria itu malah berjongkok membelakangi gadis itu.


"Naiklah ke punggungku", perintah Dannis.


Nara terkejut, wajahnya bersemu merah karena hal tersebut, tanpa berpikir panjang tentu saja Nara segera menaiki punggung kekar milik suaminya itu.


Nara mengulum senyum saat berada digendongan Dannis memeluk leher pria itu dengan erat, Nara menyandarkan kepalanya dibahu Dannis dengan manja.


Gadis itu benar-benar merasa bahagia meski baru saja mengalami drama dikejar orang gila.


"Kau berat juga", celetuk Dannis di jalan menuju pulang.


"Itu karena aku makan nasi, jika aku makan angin tentu aku akan ringan seperti balon", jawab Nara terkekeh.


Dannis tersenyum dibuatnya.


Tidak banyak yang mereka bicarakan selama perjalana pulang, hanya bercanda sesekali namun lebih banyak sibuk dengan perasaan dan pikiran masing-masing.


Nara menikmati setiap momen bersama Dannis mulai saat itu.


Tidak lama berselang mereka pun sampai pada kediaman orangtua pria ini, Nara berubah sendu saat melihat wajah perempuan yang ia mulai merasa kesal saat di reuni beberapa waktu lalu.


"Nesya, kenapa kau di sini?", tanya Dannis, namun pria ini tidak menurunkan Nara dari punggungnya.


"Dannis, maaf aku menyusulmu ke sini ponselmu mati aku menghubungi bibi Eliana, ternyata kau di sini. Kau tentu ingat janji kita bukan? kenapa dengan pelayanmu ini?", ucap Nesya melirik Nara dengan kesal.


Nara tak kalah kesal, ia tetap diam dan berpura-pura memejamkan mata di punggung suaminya seraya memamerkan tangannya yang masih melingkar di leher Dannis.


"Tunggulah sebentar, aku akan mengantarkan Nara ke kamar dulu, kakinya terkilir", jawab Dannis seadanya.


Nesya menatap Nara tajam, ia sungguh kesal melihat raut mengejek dari gadis itu, siapa sangka Nara membalas tatapan Nesya dengan senyum manis lalu menjulurkan lidahnya mengejek kakak dari wanita yang dicintai Dannis itu.

__ADS_1


Nesya menghentakkan kakinya kesal, "Apa dia balas dendam padaku?", ekor matanya terus mengikuti langkah Dannis yang mulai menjauh dengan Nara yang tidak bergeming dari posisinya memeluk leher Dannis dengan manja.


__ADS_2