
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Silahkan duduk."
Karin mempersilahkan dua tamunya untuk duduk namun reaksi keduanya malah membuatnya tepuk jidat. Baik Yusuf dan Valdy malah berebut duduk di satu kursi yang paling dekat dengannya.
"Kalian ini apa apaan sih? Kursinya masih banyak." tegurnya.
Keduanya menoleh bersamaan dengan wajah malu karena tingkah konyolnya. Namun sekali lagi saat salah satu mau duduk yang satunya tak memberi kesempatan untuknya.
"Yusuf!! Duduk di sana. Dan kamu,,,, Di sana!!!" Karin terpaksa berbicara keras kepada keduanya yang benar benar konyol itu.
Ia bahkan belum tau siapa nama keponakan Dion yang seenaknya saja mengakui ia sebagai calon istrinya. Pertama dan terakhir kalinya bertemu dengannya, mereka tak saling berkenalan.
Ditegasi oleh si pemilik rumah akhirnya dua lelaki itu pun bagai kerbau dicocok hidung. Menurut saja kemana arah telunjuk pemilik rumah mengarahkan kemana mereka harus duduk. Dan sesampainya di kursi masing masing mereka saling melempar pandangan tajam mengintimidasi satu sama lain.
Karin geleng geleng kepala dibuatnya.
"Kalian bisa tidak berhenti bertingkah konyol begitu?? kalian ini sudah bukan anak anak lagi. Sekarang lebih baik kalian sampaikan apa tujuan kalian datang kemari." pinta Karin.
"Aku,,," keduanya bersamaan menjawab lalu keduanya saling melotot lagi tidak suka dibarengi.
"Aku dulu!!!" ucap Valdy tegas.
"Enak saja!! Aku yang duluan datang ya aku duluan dong." jawab Yusuf tak mau kalah.
"Heh,, Aku ini calon suaminya ya jelas aku yang lebih berhak duluan." jawab Valdy dengan nada angkuhnya.
"Ngaku ngaku. Aku lebih dulu menjadi calon suaminya." Yusuf membuka jahitan lama.
"Cukup!!!" Karin melerai dengan kesalnya.
__ADS_1
Kedua pria itu terdiam dibentak Karin. Keduanya menurunkan ketegangan di wajah masing masing menyadari sikap mereka telah membuat marah pemilik rumah.
"Yusuf. Kamu duluan." tunjuk Karin dengan wajah tidak sukanya mengingat pengkhianatan yang dibuat Yusuf waktu itu.
Bagaimana pun luka menganga akibat kekecewaan terhadap sahabat sendiri yang menyimpan kebenaran demi kepentingannya sendiri tidak jauh sakit rasanya seperti dikhianati pasangan sendiri.
Orang yang paling dipercaya malah berdusta.
"Aku kesini,,,"
"Kenapa dia duluan?? Apa istimewanya dia?? Atau memang benar apa yang dikatakannya itu? Dia calon suamimu?? Secepat ini??" baru dua patah kata terucap dari bibir Yusuf, Valdy langsung menyela dan protes pada Karin.
"Kamu sendiri apa kabar?? Kalau kamu saja boleh secepat itu menjadi calon suaminya, kenapa aku tidak?? Dasar songong,," ketus Yusuf kesal karena disela.
"Karena aku wajib melindunginya dari tangan tangan nakal sepertimu. Dia ditinggalkan untuk ku jaga. Om Dion sendiri yang berpesan padaku." jawab Valdy meyakinkan membuat Karin langsung menatapnya penuh selidik.
Ucapannya itu juga mampu membungkam Yusuf yang awalnya begitu percaya diri namun mengetahui bahwa Dion sendiri yang menitipkan Karin pada lelaki ini membuatnya hilang rasa percaya diri.
Ia kembali bebas dengan hati dan perasaan yang masih tertawan oleh Karin. Awalnya ia datang ke kota ini hanya untuk melihat dari jauh, memastikan Karin benar benar telah bahagia bersama Dion. Namun kenyataan yang ia dapat malah tangis di wajah Karin karena duka mendalam kehilangan Dion selama lamanya.
Yusuf ingin menghapus duka itu. Yusuf ingin kembali menjadi pelindung Karin. Tidak peduli apakah masih ada kepercayaan di hati sahabatnya itu, yang jelas kali ini ia tulus ingin melindunginya.
Tapi tau tau muncul pria asing yang menonjok wajahnya dan mengaku sebagai calon suami pilihan Dion. Yusuf jadi ciut nyali.
"Kenapa diam songong?? Merasa kalah sudah???" ejek Valdy.
Yusuf diam tak menjawab. Memang benar ia merasa kalah saat ini. Tapi ia masih belum mau menyerah sebelum Karin sendiri yang memintanya mundur.
"Apa itu benar Rin??" lirihnya pada Karin.
Karin diam. Tidak merespon bahkan tidak menoleh ke arahnya. Karin sibuk Memandangi pria satunya itu dengan teliti. Ada banyak tanya di pelupuk matanya dan sebagai sahabatnya, Yusuf masih bisa membaca bahasa tubuh Karin itu.
"Kamu tidak percaya dengan apa yang kukatakan? Kamu mau bukti?" tanya Valdy pada Karin yang terus menatapnya dengan pandangan banyak tanya.
__ADS_1
"Akan ku buktikan. Tapi aku tidak perlu laki laki ini sebagai saksi di sini. Suruh dia pergi dulu baru aku buktikan semuanya." ujar Valdy.
"Heh,,,enak saja main mengusirku. Yang punya rumah saja gak ngusir." Yusuf berdiri dan menyampaikan rasa tidak terima.
"Masih belum jelas juga kalau kehadiranmu di sini itu gak diperlukan?? Sudah ada aku yang paling berhak menjaganya." Valdy ikut berdiri dan maju selangkah.
"Siapa bilang tidak diperlukan?? Buktinya aku juga disuruh masuk. Itu artinya Karin pun masih memberiku kesempatan." Yusuf ikut maju selangkah.
Kini dua pria yang sama sama tingginya itu berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja kaca itu. Meski demikian, tangan panjang mereka sudah sama sama mengepal dan siap kapan saja membogem mentah musuhnya.
"Jadi namanya Karin. Nama yang cantik." batin Valdy yang memang belum tau nama Karin sebelumnya.
"Kenapa diam?? Kehabisan kata??" ejek Yusuf melihat pandangan mata Valdy meluluh karena memikirkan sesuatu.
"Banyak bicara kamu!!!" Valdy menarik krah baju Yusuf dan mengabaikan meja yang jadi bergeser akibat ulahnya.
Kedua lelaki itu pun saling berontak,saling menarik, saling melawan sampai Darwin datang dan melerai. Karin sendiri hanya duduk dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia sibuk menelaah kata kata lelaki yang bahkan tak diketahuinya siapa namanya itu.
"Om papa,,, Benarkah yang dikatakannya itu?? Om papa yang menitipkanku padanya?? Kenapa om papa?? Om papa tau kan cinta dan perasaan Karin tidak akan pernah terbagi. Itu hanya milikmu om papa."
Bulir bulir bening membasahi kedua pelupuk matanya. Karin duduk menutupi wajahnya dengan sepuluh jarinya. Tertunduk dan sesengukan mengingat semua kenangan atas Dion. Membuat dua lelaki yang masih sibuk menunjukkan kekuatan masing masing meski sudah dilerai Darwin menghentikan ulah mereka.
"Rin,,,," keduanya serempak memanggilnya.
Keduanya sama sama merasa bersalah mengira telah membuat Karin menangis.
"Kenapa sakit sekali rasanya hati ini melihat wanita ini menangis? Padahal secinta cintanya dulu aku pada Morena, aku tak pernah merasa sesakit ini saat ia menangis. Tapi wanita ini,,, Kenapa dia berbeda?? Kenapa aku selalu merasa jatuh cinta pada apa pun yang dilakukannya?" batin Valdy.
"Mbak,,, Mbak Karin gak apa apa??" Mela menghampiri dan memeluk tubuh Karin yang terguncang akibat tangisannya sendiri.
"Sebaiknya tuan tuan ini pulang saja." usir Darwin yang kesal pada kedua orang yang telah membuat mata sembab itu kembali mengeluarkan airmata.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1