Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Tanpa Kata


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Mbaaaakkkk,,,,,"


Mela yang berlari sekitar 2 km dari lokasi kejadian tiba di rumah Dion dengan terengah engah. Keringatnya bercucuran sampai membasahi pakaiannya.


"Kamu kenapa mbak Mela?? Kok basah kuyup begini?? Sayurannya mana?? Darwin mana??" Tanya Karin yang heran dengan keadaan Mela.


"Tuan mbak."


"Tuan?? Mana??"


"Tu,, Tuan,,, Rumah sakit." Mela kehabisan nafas.


Karin mengambilkan segelas air untuknya agar ia tenang. Tidak lupa juga menyuruhnya duduk dulu. Berusaha setenang mungkin meski ia juga mulai dilanda pikiran buruk mendengar sepatah dua patah kata dari Mela tadi.


"Bicara pelan pelan mbak Mel. Ada apa??" tanyanya kemudian setelah melihat Mela menghabiskan segelas air itu dengan rakusnya dan napasnya mulai teratur.


"Tuan mbak. Tuan tadi dibawa ke rumah sakit sama bang Darwin." akhirnya Mela bisa menyampaikan berita itu tanpa menangis karena ia ingat pesan Darwin tadi.


"Kita kesana sekarang." ajak Karin tanpa banyak bertanya lagi.


"Mbak saja sendiri dulu kesana. Saya pesankan taksi online. Saya biar di rumah dulu jaga anak anak ya. Kasihan kalau mereka juga dibawa ke rumah sakit. " Mela mengingatkan.


Karin mengangguk cepat. Dan secepat kilat juga naik ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Bisa dilihat oleh Mela sambil menaiki tangga itu Karin terlihat beberapa kali mengusap airmatanya yang sudah berjatuhan tanpa bisa dilarang lagi.


"Titip anak anak mbak." pesan singkat Karin sebelum benar benar menaiki taksi online yang sudah menunggu di depan.


"Hati hati mbak. kabari segera ya." pesan Mela dijawab anggukan dari Karin.

__ADS_1


"Jalan pak. Rumah sakit B." titah Karin pada sopir taksi online.


"Baik ibu."


Sopir mulai menggerakkan taksinya menuju alamat yang disebutkan Karin. Sesekali diliriknya penumpangnya yang gelisah dan tampak terus menangis. Ia pun bisa menebak pasti penumpangnya itu kehilangan seseorang yang terkasih.


Tak ingin berlama lama membuat penumpangnya gelisah, sopir itu pun menambah kecepatan dengan tetap waspada dan mengutamakan keselamatan.


"Ambil saja kembaliannya pak." ucap Karin cepat tanpa ingin tau memangnya berapa kembaliannya.


Ia hanya ingin cepat melihat suaminya begitu taksi online yang ditumpanginya itu tiba di tujuan.


"Bu,,, terima kasih. Dan saya doakan semuanya baik baik saja." sahut sopir yang memang tidak tau menahu apa yang terjadi namun ia memang tulus mengharapkan orang baik yang memberinya banyak rejeki hari itu benar benar mendapatkan kabar baik.


"Aamiin. Terima kasih pak." Karin cepat turun.


Sopir itu masih memandangi penumpangnya yang kini berlarian dan disambut oleh seorang laki laki berpakaian rapi namun lebih tampak seperti sopir pribadi atau sejenis ajudannya. Sopir taksi itu juga masih memperhatikan kala penumpangnya tadi sempat berbicara dengan laki laki berbaju rapi itu lalu menangis tersedu sedu lagi.


"Ya tuhan. Beri ibu itu kesabaran apa pun cobaan yang Engkau berikan kepadanya saat ini." sopir itu lagi lagi berdoa dengan tulus.


Sopir itu terkejut sekaligus tersadar bahwa mobilnya masih di jalan menghalangi mobil lain yang juga akan menurunkan penumpangnya. Segera ia jalankan kembali mobilnya sambil masih menyempatkan diri melirik penumpangnya tadi dari kaca spion sebelahnya.


Penumpang baik hati yang memberikan banyak sekali uang kembalian tadi terlihat sudah berjalan memasuki rumah sakit itu. Sopir itu menghela napasnya dalam dalam turut merasakan kesedihannya sejenak sebelum benar benar kembali ke jalanan tempatnya mencari nafkah.


...#Flashback sedikit...


Karin turun dari taksi onlinenya. Segera dihampirinya Darwin yang rupanya sudah menunggunya di depan. Darwin pasti sudah dikabari oleh Mela dan memilih menunggu Karin di depan agar Karin tidak perlu lagi repot repot mencari dirinya.


"Ada apa bang Win??? Om papa kenapa???" berondong Karin tidak sabar.


"Sabar ya mbak. Semua sudah takdir dariNYA. Tuan sudah tidak ada mbak. Tuan terkena gagal ginjal akut." Darwin menyampaikan berita buruk itu dengan sangat berhati hati.

__ADS_1


Ia tau benar bahwa Karin akan sangat terpukul mendengarnya. Tapi mau tidak mau berita buruk itu memang harus disampaikannya. Sebenarnya Darwin sudah tau tadi saat mengecek nafas Dion di mobil. Namun ia tidak ingin gegabah dan memilih agar tim ahli saja yang memastikannya.


"Innalillahi,,," Detik berikutnya tangis bidadari kesayangan Dion pun pecah.


Darwin tak mengucapkan kata apa pun selain memilih diam memberikan kesempatan pada Karin untuk meluapkan semua kesedihannya dan duka mendalamnya.


Berita ini tentu sangat mengejutkannya karenanya wajar saja jika reaksinya seperti ini. Manusiawi.


"Kita sebaiknya masuk ya mbak. Kita urus bersama sama urusan kepulangan jenazah tuan kalau mbak Karin sanggup." Meski merasa hal itu manusiawi namun Darwin tidak ingin Karin terus berlarut larut dalam tangisannya.


Karin mengangguk tanpa menghapus airmatanya. Ia pun masuk mengikuti Darwin yang sudah tau harus kemana. Dengan hati dan jiwanya yang masih mengambang entah kemana, Karin tetap menguatkan diri menemui wajah kesayangannya yang kini sudah meninggalkannya di dunia fana ini.


Tangis itu masih tergambar jelas diwajah Karin kala ia memasuki sebuah ruangan di mana ia melihat sebujur tubuh kaku yang sudah ditutupi kain putih secara keseluruhannya.


Karin menghentikan langkahnya sebelum benar benar mendekati tubuh itu.


"Ya Rabb,,, hati hamba terpukul. Hati hamba ingin melawan namun hamba ini tidak ada apa apanya dihadapanMU ya Rabb. Engkaulah sebaik baiknya pembuat cerita. Engkaulah sejatinya pemilik seluruh insan dan mahkluk yang bernyawa. Hamba dan suami hamba hanyalah dua nyawa yang Engkau pinjami nafas. Karenanya, saat nafas itu tak lagi tersedia untuk suami hamba, hamba mohon berikan hamba kekuatan untuk melihat jasad suami hamba tanpa membebani langkahnya menuju ke surgaMU."


Karin berdoa dalam hati memohon kekuatan kepada penciptaNYA. Dan setelah dirasa kekuatan itu telah tersedia, ia pun kembali melangkah mendekati tubuh Dion. Menguatkan diri membuka kain penutup di bagian wajahnya.


Wajah yang biasanya selalu menghiasi harinya itu terlihat pucat. Sedikit senyum mengembang meski tadinya pasti ia menahan sakit teramat sangat yang tak bisa ditahannya sehingga merenggut nyawanya.


Wajah pucat itu diciuminya perlahan di bagian kening dan kedua pipinya yang mulai terasa dingin. Karin melakukannya Tanpa air mata. Sungguh, ia tak ingin menghambat kepergian suaminya itu meski kepergiannnya terasa sangat menyakitkan.


Kepergian tanpa kata dan tanpa pertemuan di saat ia menghembuskan nafas terakhirnya.


"Aku ikhlas suamiku jika memang ini sudah jalanmu. Aku kembalikan engkau kepada pemilik sejatiMU. Istirahatlah dengan tenang di sana dan siapkan tempat di sisimu untukku kelak." bisik Karin di telinga pucat itu.


Sekali lagi diciuminya wajah pucat itu di tempat yang sama. Sedikit membuka kain penutupnya ke bawah agar menampakkan punggung tangan yang sudah diposisikan sempurna layaknya jenazah. Karin merasa beruntung karena tubuh itu belum terlalu kaku hingga ia bisa meraih tangan pucat itu untuk ia cium punggung dan telapaknya untuk terakhir kalinya.


"Aku bersaksi bahwa engkau adalah suami terbaik yang berhak mendapatkan surgaNYA. Selamat jalan om papa, imamku. Tunggu aku di JannahNYA."

__ADS_1


Diposisikannya kembali tangan pucat yang selama hidupnya telah bekerja keras demi dirinya dan anak anaknya selama ini. Kini tangan itu telah tiba masanya untuk beristirahat.


Dengan penuh cinta yang tak akan terkikis dan ketegaran yang berlapis, Karin melepas kepergian Dion dengan ikhlas.


__ADS_2