Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 48


__ADS_3


Alea menarik tangan suaminya ke ranjang, pria itu baru saja habis mandi dan hanya mengenakan handuk saja, Abrar tersenyum melihat istrinya menggoda dengan gaun tidur nan seksi, Alea mengambil setangkai bunga yang dibawakan oleh suaminya tadi ia sematkan di telinga seraya menatap Abrar penuh cinta.


"Apa aku kurang seksi?" ucap Alea dengan tatapan nakalnya.


Abrar terkekeh melihatnya, pria itu tidak menjawab namun langsung saja meraih tubuh mungil Alea kemudian menindihnya.


"Kau terlihat seperti pengantinku malam ini, aku merindukanmu sayang" ucap Abrar membelai wajah istrinya penuh makna.


Mereka sama-sama menautkan bibir menyalurkan kerinduan selama dua hari terpisah kota, tentu saja adegan itu hanya permulaan dari arti bercinta yang sesungguhnya, menikmati malam dengan cuaca sedikit hujan rintik di luar, hanya suara desah dan racauan nikmat dari keduanya yang menghiasi kamar pasangan Alea dan Abrar malam ini.



Di bawah selimut tebal, Alea yang belum mengantuk setelah kelelahan dari percintaan panas mereka masih saja terus memandangi wajah suami yang ia cintai sepenuh hati itu, membelai dan menyusuri garis wajah sang pria sudah menjadi kebiasaan bagi Alea sebelum memulai mimpi bersama lelapnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Abrar heran.


"Tidak.....aku hanya masih seperti mimpi kita bisa seperti sekarang, di bawah selimut ini bersamamu, aku bahagia bang Abrar.....aku sungguh mencintaimu" kecup Alea pada bibir suaminya lembut.


Abrar tersenyum, dan membalas kecupan di hidung Alea.


"Kau belum mengantuk?"


Alea menggeleng "Apa kau lelah? ayolah aku masih merindukan mu, aku rasa kita begadang saja malam ini" goda Alea sambil menaikkan alisnya berulang.


Abrar lagi-lagi hanya bisa terkekeh, Alea selalu saja membuat mood dan hatinya selalu berbunga, bahkan ia tidak merasakan lelah sama sekali meski baru pulang dari perjalanan jauh, letihnya hilang begitu saja jika sudah bersama istrinya tercinta.


Abrar mengecup seluruh wajah istrinya dengan gemas, kemudian Alea membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu, sungguh ia merasa gugup sekarang ketika mengingat kebenaran akan ayah kandung suaminya yang ia ketahu baru dua hari ini.


Alea bingung ingin memulainya darimana apalagi dalam keadaan suaminya lelah seperti sekarang, namun Alea tidak ingin kebenaran ini berlarut-larut untuk ia sembunyikan, ia tidak mau terulang seperti kebenaran Arkan yang juga ia ketahui lebih dulu.


"Sayang....boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Alea tanpa menoleh, ia masih meringkuk di dada suaminya sambil memainkan jari lentiknya disana.


"Kau mau menanyakan apa hm?"


"Apa yang kau lakukan jika bertemu ayah kandungmu?"


"Kenapa kau bertanya itu sayang, kau tahu jawabannya" jawab Abrar sambil terus membelai rambut panjang sang istri.

__ADS_1


"Apa kau masih membencinya? maksudku jika kau tahu sesuatu tentang keadaan ayahmu sekarang, apa kau tidak bisa memaafkannya?"


"Hei....apa ini kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang pria brengsek itu sayang? aku tidak ingin membahasnya Alea"


Membuat Alea menarik napas dalam agar oksigen yang masuk ke paru-parunya lebih maksimal hingga ia bisa menghilangkan rasa gugup itu.


"Maksudku....kau mengetahui kebenaran bang Arkan kemarin, meski kau memukulnya namun kau tidak membunuhnya juga bukan? aku rasa itu karena kalian bersaudara, aku tahu kau hanya kecewa saja saat itu, biar bagaimanapun ikatan keluarga tidak akan putus hanya karena sebuah sebab"


"Apa yang kau bicarakan Alea, aku memang marah dan kecewa dengan adikku karena dia sudah berani mengikuti jejek pria brengsek yang sudah menghancurkan mamaku dulu, tapi kau benar Arkan tetaplah saudaraku, tentu saja aku tidak bisa membunuhnya"


"Itu yang ku maksud, kau membenci perangai ayahmu namun tidak membenci orangnya bukan?"


"Ayolah sayang, kenapa kau tiba-tiba membahas ini, aku sudah menganggapnya tiada jadi kita tidak perlu mengingatnya"


"Tidak sayang, aku hanya ingin kau juga seperti itu pada ayahmu, aku mengerti perasaanmu namun membenci orang yang telah membuat suamiku hadir di dunia ini tidaklah baik jika itu terus terjadi, aku hanya ingin tidak ada dendam dalam hatimu"


"Dia telah meninggalkan kami Alea, hingga sekarang tidak tahu keberadaannya....aku harap dia benar-benar sudah tiada jadi tidak perlu kita ungkit lagi lelaki yang tidak bertanggung jawab itu" jawab Abrar datar.


Membuat Alea kehilangan kata-kata, ia tahu bahwa suaminya benar-benar telah kecewa yang dalam terhadap papa Agung hingga tidak ingin mengingatnya, namun Alea akan terus berusaha melunakkan hati suaminya akan hal ini.


"Apa kau sadar sayang kau baru saja menunjukkan padaku bahwa kau adalah orang yang menyimpan dendam bahkan pada ayahmu sendiri" sindir Alea.


"Ayolah sayang apa kita akan terus membahas ini, aku hanya menganggap papa Ricko ayahku sekarang, jadi berhenti mengingatnya"


*****


Memeluk istrinya yang sedang memasak sarapan adalah kebiasaan bagi Abrar setiap paginya, pria itu hanya berolahraga di dalam rumah saja jika pagi hari ia sudah tidak berani berkeliling komplek setelah mendapat peringatan tajam istrinya akan hal itu.


Alea mengecup tangan suaminya yang melingkari dadanya, ia terus tersenyum sambil mengaduk-aduk nasi goreng kegemarannya yang menjadi menu andalan sarapan mereka.


"Sayang....bersiaplah, biar aku yang melanjutkan ini, aku ada pertemuan pagi ini" ucap Abrar mengecup pipi istrinya.


Alea berbalik badan setelah mematikan kompor.


"Aku akan membawa mobil saja jadi tidak perlu di antar hari ini"


"Baiklah maafkan aku....besok kau akan ku antar seperti biasa" jawab Abrar mencium kening istrinya.


Pada kenyataannya memang Alea ingin membawa mobil karena ia hendak menjemput Naura di rumah kontrakan mertuanya untuk pergi bersama ke rumah sakit.

__ADS_1


*****


Alea menjemput Naura, yang ternyata masih satu komplek dengan kontrakan rumah orangtua Vina istrinya Arkan, Alea bahkan baru menyadari itu ketika mobilnya berhenti tidak sengaja melihat mobil Vina yang juga tengah berada di sana.


Naura yang sudah bersiap, melihat Alea datang ia segera mengunci pintu rumah kontrakan sederhana itu untuk segera pergi bersama iparnya itu, namun belum juga mereka akan masuk mobil ternyata Vina lebih dulu melihat mereka.


"Alea?" panggil Vina, perempuan hamil ini baru saja ingin masuk mobilnya juga namun ia melihat heran kenapa Alea bisa berada di depan rumah tetangga orangtuanya.


"Oh....Vina kau disini? kau mengunjungi orangtuamu atau?" tanya balik Alea.


"Ah....iya orangtua ku mengontrak rumah disini, tapi tidak akan lama lagi akan dibelikan rumah baru oleh suamiku" jawab Vina tersenyum.


"Baguslah....itu berarti kau menyayangi keluargamu" ucap Alea.


"Kenapa kau bisa kenal gadis ini? bukankah temanmu hanya orang-orang kaya saja?" sindir Vina.


"Kau tidak mengenalku Vina, jangan seolah kau tahu tentang ku semuanya....ini Naura, adikku" jawab Alea santai.


"Adik? adik dari mana Alea? Naura dari mana kau kenal Alea? apa dia majikanmu?" tanya Vina beralih menatap Naura, iya Vina tentu mengenal gadis itu karena mereka lama bertetangga.


Naura yang sejak tadi kebingungan melihat interaksi dua wanita dihadapannya ini yang tampak tidak bersahabat, gadis itu bingung ingin menjawab apa, namun Alea lebih dulu menyela.


"Ini Naura adik ipar kita Vina, kau tahu keluarga yang telah lama bertetangga dengan orangtua mu ini adalah keluarga suamimu"


"Apa maksudmu Alea?"


"Iya.....Naura adalah adik ipar kita, aku rasa kau belum tuli, seperti anak yang sedang kau kandung itu akan memiliki adik dari ibu yang berbeda bukan? seperti itulah Naura, dia adik suami kita, kau tentu tahu ceritanya Vina?"


Vina tercengang, begitupun Naura.


"Naura, ini Vina....kau mengenalnya bukan? dia adalah kakak iparmu juga, istri pertama dari kakak keduamu Arkan, jadi panggil dia kakak seperti kau memanggilku" ucap Alea pada Naura yang masih tidak percaya, bahkan Alea menekankan kata istri pertama pada kalimatnya yang tentu membuat Vina mendidih.


Wajah Vina memerah, bagaimana Alea dengan gamblang menyebutkan bahwa statusnya sekarang yang di madu suaminya, Alea membuka pintu mobil untuk Naura yang segera dimasuki oleh gadis itu, kemudian Alea masuk ke pintu kemudi meninggalkan iparnya Vina sedang mematung disana.


Vina bernapas dalam ketika mobil Alea menghilang.


"Apa yang kau ketahui Alea? aku tidak menyangka ini, apa benar paman Agung....." ucapan Vina menggantung, hanya ia teruskan di dalam hati saja.


__ADS_1


*wajar ya kalo dokter bayu terobsesi, senyumnya ehhhhhh.....alea alea, ini mah ga ada bedanya sama bee, betul kata dr.bayu sama-sama cantik susah bikin move on*


lanjut yaaaa jangan lupa jejaknya gaessss


__ADS_2