
Seminggu berlalu, Dannis tampak menghindari gadis itu jika di rumah meski hubungan keduanya kian membaik pasca mereka memutuskan untuk tidak mengganggu satu sama lain, entah apa alasannya.
Nara hampir menjatuhkan rahangnya ketika lantai yang telah ia bersihkan sekarang tampak kotor lagi, terdapat beberapa noda di sana.
"Apa ini? siapa yang mengotorinya lagi?", Nara melirik tajam Dannis yang tampak santai melewatinya.
"Danniiiiiiiisssss.....", pekik Nara kesal.
"Kau berani menyebut namaku?".
"Kenapa kau mengotorinya? aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku dengan baik, aku mohon jangan siksa aku lebih dari ini lagi", rengek Nara menatap Dannis dengan wajah sedihnya.
Ingin sekali Dannis mengumpat tentang wajah cantik yang berhadapan dengannya saat ini, rengekan gadis itu membuat jantungnya berdenyut geli.
Sampai pada sebuah gigitan kembali menempel pada lengan Dannis seperti biasa.
"Sial... kau menggigitku lagi?".
"Iya...kau sungguh menyebalkan", Nara kesal setengah mati.
Dannis melirik gelas kopi yang masih ia pegang, pria itu menuangkan kopinya ke lantai tepat di hadapan Nara yang masih menggeram.
Tak hanya isinya, Dannis juga menjatuhkan gelas dan dipastikan pecah berserakan di lantai.
Pria itu memainkan alis matanya menggoda Nara yang terkejut, belum juga Nara ingin kembali bersuara ingin membalas Dannis sudah pergi dari hadapan gadis itu dengan berjalan cepat.
"Akan ku bunuh kau Dannis", Nara mengejar Dannis dengan wajah yang memerah karena marah.
Dannis terkejut ketika mendapati perempuan itu mengejarnya, dan terjadilah aksi kejar-kejaran yang dihiasi tawa dari pria yang merasa puas mengerjai Nara.
Nara terus maju seraya tangannya terus memukul dada Dannis yang masih terkekeh geli, sampai pada Dannis berhenti ketika kakinya terinjak kaca gelas yang pecah tadi.
Pria itu memejamkan mata sejenak.
*****
Dannis menatap Nara dengan lama, ia melihat jelas gadis itu dengan telaten membersihkan dan mengobati luka di kakinya.
"Semua ini salahmu, kenapa kau mengejarku".
Nara menatap Dannis, "Ini namanya senjata makan tuan, kau sendiri yang memecahkan gelas itu dengan sengaja sekarang menyalahkanku", ucap Nara terkekeh seraya menempelkan plester sebagai penutup luka kecil itu.
Dannis tersenyum.
"Ayo berbelanja", tawar Dannis begitu saja.
"Apa?".
"Aku tidak akan mengulangi ucapan ku".
"Ayolah tuan Dannis, bisakah kita berdamai saja jangan terus bertengkar, aku sudah lelah meladeni kemarahanmu".
Dannis terdiam.
"Aku bilang kita akan berbelanja pakaianmu", ucap Dannis canggung.
__ADS_1
"Apa? pakaian? apa kau akan membayar gajiku?".
Lama Dannis tidak bergeming saat Nara berkata tentang gaji, Dannis merasa tersindir olehnya.
"Anggap saja seperti itu, bukankah diawal kau yang minta dibelikan pakaian? apa kau lupa?".
Nara mengangguk cepat.
"Tentu saja aku ingat, aku kira kau bercanda, aku mau.... aku hanya ingin berpakaian sopan di rumah ini agar kita sama-sama nyaman satu sama lain, lagi pula kita dua orang dewasa yang tinggal satu rumah, mana tahu suatu saat kau khilaf ketika melihatku berpakaian seksi seperti pemberian adikmu itu, akan lebih baik aku menjaga penampilan ku ketika bersama mu, aku tahu kau tidak menyukai ku", ucap Nara terkekeh sambari tangannya merapikan alat P3K.
Dannis terdiam.
"Aku hanya bercanda tuan Dannis, lagi pula tidak mungkin kau akan melakukannya meski khilaf sekalipun, aku tahu aku bukan tipe mu, aku hanya ingin berpakaian dengan rasa nyaman itu saja", ucap Nara lagi setelah melihat raut canggung Dannis.
"Bersiaplah, kita akan pergi sekarang juga".
"Apa? sekarang? tapi kakimu sedang terluka".
"Ini hanya luka kecil, aku bukan anak-anak Nara", jawab Dannis.
Nara mengangguk cepat.
"Tunggulah sebentar, aku akan bersiap", jawab Nara cepat.
"Aku tidak suka menunggu".
"Tuan Dannis, jangan seperti itu....aku tidak mau pergi dengan pakaian pelayan ini".
"Cepatlah".
*****
Dannis tersenyum tipis saat membawa Nara berbelanja pakaian, gadis itu tampak girang.
"Apa aku boleh membeli lebih? jika uang gajiku tidak cukup kau bisa memotong gajiku bulan depan", tanya Nara pada Dannis sambil menggigit bibir bawahnya takut akan pria itu marah lagi.
Diluar dugaan Dannis mengangguk saja tanpa banyak berkomentar seperti biasa.
Siapa sangka hatinya menggeram saat Nara terus membahas tentang gaji, ia benar-benar merasa tersindir mengingat statusnya sebagai suami gadis itu meski hanya ia anggap pernikahan di atas kertas saja namun sekarang Dannis merasa lain.
Bukankah membelanjakan gadis itu sudah bagian dari tanggung jawabnya, begitu pikir Dannis, pria itu memijat kepalanya yang tidak pusing.
Nara berbelanja banyak pakaian yang ia pikir sopan dan nyaman ketika dikenakan.
Gadis itu keluar dari toko baju yang berada di sebuah mall besar tempat tujuan mereka berbelanja, tangannya penuh dengan tas belanjaan yang harganya terjangkau, tentu saja Nara berbelanja sesuai perkiraan gajinya saja.
Dannis hanya diam saja sejak tadi, ia sibuk memperhatikan saja gerak gerik Nara yang menggemaskan.
"Ck.... dia kampungan sekali, seperti tidak pernah belanja saja", gumam Dannis berdecak disertai senyum tipis ketika matanya melirik Nara yang terlihat senang.
"Tuan.... aku sudah selesai", Nara menghampiri Dannis yang tampak melamun.
"Kau sudah selesai?".
Nara mengangguk, "Lihatlah aku bahkan sudah tidak bisa membawanya", jawab Nara terkekeh.
__ADS_1
"Apa kau tidak pernah belanja sebanyak ini sebelumnya?", tanya Dannis heran.
"Apa aku terlihat kampungan? maaf jika kau malu", jawab Nara menyadari sindiran pria itu.
"Ayo", Dannis tidak menjawab malah langsung pergi berjalan lebih dulu.
Nara tersenyum menatap punggung Dannis dari belakang.
Mereka melanjutkan langkah menyusuri mall besar yang sedang ramai pengunjung itu.
"Tuan apa kau tidak lapar?".
Dannis menggeleng.
"Tapi aku lapar, apa boleh kita makan dahulu sebelum pulang?".
"Huh..... kenapa kau banyak maunya", Dannis geleng kepala heran.
"Ayolah tuan, kau bisa memotong gajiku juga untuk itu, aku sangat lapar biar ku traktir kau hari ini sebagai perdamaian di antara kita", Nara memohon.
"Memangnya kau pikir berapa gajimu ha?" tanya Dannis kesal saat gadis itu kembali membicarakan gaji.
"Aku rasa kau bisa memberiku gaji lima juta perbulan, itu sebanding dengan pekerjaan ku mengurus rumah mu yang besar itu sendirian, belum lagi aku harus kerja lebih saat kau sering mengerjaiku".
Dannis menatap Nara bertambah kesal.
"Belanjaanku ini tidak sampai dua juta, itu artinya masih lebih bukan ayolah kita bisa makan enak sekarang".
"Kau sungguh menyebalkan Nara", Dannis berkata dengan nada geram.
"Kau kenapa lagi tuan Dannis? kenapa marah lagi?".
"Asal kau tahu aku bukan majikanmu", jawab Dannis tegas.
Nara terdiam.
"Aku pelayan mu bukan? itu artinya kau adalah majikanku apa kau lupa batas di antara kita?".
Dannis benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi sekarang, ia seakan terjebak ucapannya sendiri waktu itu.
Pria itu menghela napas kasar, ia memejamkan matanya menahan rasa kesal.
Dannis ingin membalas namun belum juga ia mengeluarkan suara, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama istrinya.
"Khinara?".
Gadis ini tentu saja menoleh pada sumber suara yang ternyata adalah seorang pria.
Nara tercekat, ketika matanya menatap pria yang berdiri tidak jauh darinya berada.
Tas belanja yang memenuhi tangan Nara pun seketika terlepas begitu saja seiring pria itu berjalan mendekatinya, siapa sangka lelaki itu mendekap erat tubuh mungil gadis cantik yang berdiri di samping suaminya.
"Nara sayang, aku mencari mu kemana-mana", ucap lelaki yang tersenyum bahagia.
"Apa-apaan kau Reno", Dannis melihat itu segera menarik tubuh pria itu seraya memukul rahangnya dengan keras.
__ADS_1