Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 11


__ADS_3

Pesta telah usai, semua tamu sudah pulang. Kedua keluarga juga sudah memutuskan untuk pulang setelah berpamitan pada kedua mempelai yang kelelahan.


Tanpa Alea sadari hanya mereka berdua yang tertinggal disana, mereka sudah berada dikamar hotel yang sudah disiapkan. Alea masih kesusahan berjalan memakai gaun yang masih melekat pada tubuh mungilnya.


Ketika hendak masuk ke kamar yang berisi ranjang king size guna mengganti pakaiannya, ia tidak bisa melaju karena ekor gaun itu tersangkut di ambang pintu.


Abrar dengan sigap membantunya melepaskan diri dengan susah payah, hingga pada akhirnya Alea berhasil masuk kamar.


Abrar masih merasa gugup, ia menetralisir perasaannya dengan menjauh dari Alea, ia memilih keluar kamar dan duduk di sofa menunggu Alea selesai ganti pakaian.


"Bang Abrar....." pekik Alea dari dalam kamar.


Abrar segera berdiri dan menghampiri gadis itu.


"Ada apa?"


"Bisa bantu buka gaun bagian belakang ku tidak? ini susah sekali" jawab Alea yang masih kesusahan menjangkau bagian kancing belakang gaunnya.


Abrar gugup untuk melangkah setelah melihat bagian punggung Alea yang sudah terbuka namun bagian pinggangnya masih tersangkut karena tangannya tidak sampai.


Abrar terdiam, ia menelan ludah kasar memandangi punggung mulus tanpa celah istrinya. Ia terus merutuk didalam hati tentang pemandangan yang menggoda imannya ini.


"Kenapa abang diam saja? ayo bantu aku" kesal Alea.


Abrar dengan ragu melangkah, ia mendekati Alea dari belakang, tangannya mulai tergerak menyentuh bagian gaun yang masih terkancing.


"Astaga....." Abrar geleng kepala saat melakukannya, bagaimana matanya melihat jelas punggung mulus itu dari dekat.


Jantungnya kian gugup ketika kancing itu sangat susah untuk dibuka.

__ADS_1


"Bisa tidak? astaga aku sudah lelah dengan gaun yang berat ini, aku ingin segera mandi" rengek Alea.


"Bersabarlah, kancingnya susah sekali dibuka" jawab Abrar.


Alea hanya bisa menunggu dan bersabar, beruntung Abrar segera menyelesaikannya.


"Huh....terimakasih" ucap Alea tersenyum.


"Aku akan menunggu diluar" jawab Abrar.


Alea mengangguk, setelah Abrar keluar kamar, ia segera kekamar mandi dimana disana sudah bertaburan kelopak mawar merah yang menghiasi kamar mandi pengantin yang disiapkan hotel.


"Astaga....apa seperti ini pelayanan pengantin baru? sungguh menyenangkan...." gumam Alea sambil memungut beberapa kelopak mawar disana.


Lama Alea berendam disana melepaskan lelah yang tersisa dari pesta, ada perasaan gugup dihatinya tentang bagaimana ia melewati malam pertama ini bersama Abrar.


"Alea......apa kau masih lama didalam?" pekik Abrar dari luar kamar mandi.


Tidak lama Alea keluar dengan jubah mandi yang menampilkan paha mulusnya, rambut yang tergerai basah dan wajah yang sudah tampak segar dari sebelumnya.


Lama Abrar menatap penampilan Alea seperti ini, ia mengerjap beberapa kali agar tidak membuat Alea curiga bahwa ia menahan perasaan yang teramat menyiksanya.


"Abang bisa masuk sekarang, kenapa abang selalu melamun akhir-akhir ini ketika menatapku?" Alea bicara sambil berjalan menjauh ke arah lemari pakaiannya.


Abrar hanya diam dan segera masuk ke kamar mandi sambil memijat kepalanya yang tidak pusing.


Alea membuka bingkisan dari dua sahabatnya, kemudian ia terkikik geli melihat isi didalamnya.


"Astaga....mereka benar-benar menyebalkan, bagaimana bisa aku memakai lingerie seksi ini aku bisa ditertawakan bang Abrar jika ini terjadi, ada-ada saja....tidak mungkin kami melakukannya tanpa cinta, menggelikan" Alea menghembus napas kasar melihat lingerie seksi berwarna biru muda yang dihiasi renda bagian dada dan bawahnya.

__ADS_1


Alea memakai piyama nya sendiri, karena sudah mengantuk ia segera naik ke ranjang yang masih dihiasi kelopak mawar disana.


Abrar keluar kamar mandi dengan handuk melilit dipinggang, ia menatap lekat perempuan yang sudah tertidur tanpa bersalah di ranjang pengantinnya.


"Alea....Alea...." Abrar geleng kepala melihat istrinya sudah memejamkan mata dengan pulas.


Ia mendekat dan menaikkan selimut menutupi tubuh Alea hingga dada. Lama ia menatap wajah polos Alea yang mendengkur halus berkelana bersama mimpi.


"Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menahannya Alea, tidak bisakah kau membuka hatimu untukku?" gumam Abrar seraya menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya.


"Aku mencintaimu Alea....."


******


Abrar ikut naik ke atas ranjang, ia pun sudah lelah dan mengantuk, Abrar cukup tahu diri jika mereka bukan seperti pengantin pada umumnya maka darinya ia meletakkan guling sebagai pembatas mereka, ia tidak ingin Alea merasa risih jika tidur berdekatan dengannya.


Namun di tengah malam Abrar harus terbangun oleh ulah Alea yang rupanya tidur tidak bisa diam, dimana Alea mendekat kearahnya hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak saat ini.


Abrar lagi-lagi merasa tergoda imannya dimana ia tidak sengaja melihat arah dada gadis itu yang terbuka dua kancing atasnya menampilkan belahan dada yang tampak berisi dan sangat menggiurkan.


"Astaga Alea....." Abrar menarik napas dalam berulang kali agar menetralisir gejolaknya sebagai lelaki normal yang memang sudah sah menjadi suami dari Alea.


Lama ia menatap wajah nyenyak Alea sesekali masih melirik arah dada perempuan itu. Benar-benar menyiksa bagi Abrar dimana ia harus menahan pada sesuatu yang sudah resmi menjadi miliknya.


Abrar kian frustasi ketika Alea tanpa sadar memeluknya layak guling, sampai wajah Alea meringkuk nyaman di ceruk leher Abrar.


Lagi-lagi Abrar merasakan degup jantung yang tidak beraturan. Karena tidak ingin terus tersiksa oleh godaan yang menertawakannya karena tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Abrar dengan perlahan melepaskan Alea dari tubuhnya.


Abrar memperbaiki posisi tidur gadis itu seperti semula, pria ini kemudian berjalan keluar kamar dan memilih tidur di sofa tanpa selimut, ia hanya mengandalkan bantal sofa yang ia peluk agar tidak terlalu merasakan dinginnya malam pertamanya yang sia-sia.

__ADS_1


*bonus weekend yaaa, sabar bang sabar....


__ADS_2