Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 74


__ADS_3

Pesta usai, semua telah kembali menjalani kehidupan seperti biasa tak terkecuali seorang istri yang masih juga gadis hingga sekarang.


Sheira memilih mengikuti suaminya yang berdomisili dan bekerja tetap di kota sebelah, membuat Nara sedih karena hanya adik keempat Dannis itulah yang terus mendukungnya untuk tetap berada dalam pernikahan itu.


Delila pun telah kembali pada kehidupan suaminya yang tengah mengabdi pada negara di sebuah kota kecil pulau Kalimantan, hidup di komplek asrama tentara yang tentu memberinya banyak pelajaran berharga, suami yang serba bisa sangat membantu proses belajar perempuan serba mahal itu ke arah yang lebih baik.


Meninggalkan Nara yang terus berharap akan Dannis bisa membuka diri agar mereka menjalani kehidupan pernikahan seperti pasangan lainnya.


Seperti sebelumnya, Nara bangun pagi membuat sarapan, ia mengernyit heran saat bell berbunyi di pagi buta, ia menjadi kesal saat menebak itu pasti Nesya yang mencari kesempatan untuk pergi ke kantor bersama suaminya.


"Huh apa dia tidak tahu malu, pagi-pagi buta mengganggu suamiku", gerutu Nara sambil berjalan dengan menghentakkan kaki menuju pintu.


Namun saat ia buka, luar dugaan ternyata yang datang bukanlah Nesya melainkan Alan yang menyambutnya dengan senyum manis.


"Oh tuan Alan".


"Apa aku membuatmu terkejut?", sapa lelaki berjambang itu.


"Tentu terkejut, kau tidak pernah kemari.... baiklah ayo masuk, tidak sopan aku menjawabmu di depan pintu saja", ajak Nara yang tertawa pelan.


"Mana Dannis?", tanya Alan yang berpendar pandangannya ke semua ruangan.


"Dia belum turun", jawab Nara pelan.


"Ingin ku buatkan teh?", tawar Nara.


"Dengan senang hati senorita".


"Apa itu?", tanya Nara heran.


"Senorita panggilan pada seorang gadis dalam bahasa spanyol, dan senora pada perempuan yang telah bersuami", jawab Alan tersenyum.


Nara terdiam, lalu berkata "Kenapa tidak memanggilku senora saja? bukankah aku sudah bersuami?".

__ADS_1


"Bersuami namun tidak bersuami, aku rasa senorita lebih tepat untukmu", canda Alan.


Jawaban itu sedikit membuat Nara tersinggung bagaimana bahwa Alan juga mengetahui ia belum disentuh Dannis hingga sekarang, tentu panggilan senorita masih berlaku padanya.


Melihat wajah Nara yang murung membuat Alan terkekeh.


"Apa aku membuatmu tersinggung?".


"Tidak.... aku rasa kau benar tuan Alan, baiklah tunggulah di sini akan ku buatkan teh untuk mu", jawab Nara lesu, ia pun berlalu menuju dapur.


Dannis menuruni anak tangga, ia menatap Nara dan sahabatnya tengah berbicara entah kenapa membuat moodnya memburuk.


Lelaki itu menghampiri Alan dengan wajah datar.


"Kenapa kau kemari?", tanya Dannis kesal.


"Memangnya kenapa? aku kemari tentu ingin menemui mu sekaligus calon jandamu", jawab Alan santai.


"Senyum yang pertama ingin ku lihat pagi ini adalah senyuman istrimu, itu alasannya kau tahu senyum gadis itu menaikkan moodku untuk bekerja hari ini terlebih aku sudah mendapat surat izin darimu", jawab Alan terkekeh lagi.


Dannis terdiam, ia ingin menjawab namun tidak jadi ketika Nara sudah berjalan mendekati mereka dengan secangkir teh di atas nampan yang ia bawa.


"Tuan, kau sudah turun.... sarapan mu telah siap", ucap Nara pada Dannis.


"Ini teh mu tuan Alan", Nara meletakkan teh itu di atas meja.


Alan dan Dannis saling menoleh satu sama lain, berbeda dengan Dannis yang memasang wajah kesal sedang Alan memasang wajah tersenyum tulus menghadap Nara.


"Ah tuan Alan, maafkan aku.... aku melupakan sesuatu, tunggulah di sini", ucap Nara seraya berlalu ke kamarnya.


Membuat Alan heran, namun ia menunggu seperti yang dikatakan gadis itu.


Dannis merasa muak, pria itu kembali ke kamarnya berniat mengambil jas dan laptopnya untuk segera ke kantor, seleranya mendadak hilang melihat Alan datang menemui Nara di pagi buta seperti ini.

__ADS_1


Nara memegang sesuatu ditangannya hendak kembali ke ruang tamu, bertepatan dengan Dannis yang menuruni anak tangga, pria itu melirik apa yang sedang dibawa oleh Nara yang ia yakini adalah jas milik Alan.


"Tuan, kau tidak sarapan?", tanya Nara.


"Tidak", jawab Dannis singkat.


Nara memajukan bibirnya ke depan karena jawaban Dannis yang dingin.


Pria itu meninggalkan Nara dan Alan tanpa basa basi.


Membuat Alan tersenyum sungging menatap punggung Dannis, berbeda dengan Nara yang tampak sedih dengan sikap Dannis yang cuek pagi ini.


"Ini jas mu tuan Alan, maaf aku baru mengembalikannya.... Sudah ku cuci, terimakasih banyak atas kebaikanmu waktu itu".


Alan menerima jas itu kembali.


"Jangan sungkan, apa Dannis memperlakukan mu dengan baik?".


Nara hanya mengangguk saja.


"Aku kasihan padamu Nara".


"Apa aku terlihat seperti pengemis cinta?", tanya Nara dengan nada bercanda.


"Tidak juga, bersabarlah kadang kita perlu kesabaran untuk mendapat sesuatu yang indah nantinya, seperti kata pepatah bahwa kesabaran akan berbuah manis", ucap Alan tersenyum.


Nara mengangguk, "Aku harap juga begitu tuan Alan, karena setiap penantian akan ada akhirnya".


"Semoga harimu menyenangkan Nara, aku akan ke kantor sekarang", pamit pria itu seraya mereka berjalan keluar rumah.


Nara mengangguk, dan melambai tangan pada pria yang menjadi sahabat suaminya sejak SMA itu dengan senyum tulus.


Dannis memperhatikan mereka dari mobilnya dengan jarak yang tidak berlalu jauh dari rumahnya, bagaimana pria ini melihat langsung sikap Alan yang tampak sangat menghargai Nara, terlebih saat gadis itu melambai tangan dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


__ADS_2