
Dannis kembali ke rumahnya sudah larut malam, entah sudah berapa kali ia mengelilingi desa namun tidak juga menemukan Nara.
Pria ini mulai frustasi, perasaannya campur aduk sekarang, meski Dannis belum mengartikan perasaannya saat ini adalah karena cinta atau hanya rasa bersalah saja terlebih ia baru mengetahui bahwa rumah mertuanya telah lama dijual, itu artinya Nara tidak memiliki tujuan untuk pulang.
Dannis merendamkan tubuhnya di kolam renang, pria itu tidak berenang ia hanya diam terpaku bersandar dengan kepala menengadah, matanya terpejam merasakan dinginnya air ditengah malam buta.
Setidaknya itu bisa sedikit menetralisir perasaan yang entah kenapa cukup sulit Dannis mengerti, hitungan jam perasaannya bagai dijungkir balik oleh sesuatu yang terasa sangat berat bagi hatinya.
Pernah kehilangan, namun tidak pernah ia rasakan seperti ini meski dulu ia kehilangan Naya untuk selamanya satu hari sebelum pernikahan, tapi kali ini cukup berbeda ia bukan hanya merasa kehilangan yang sejak hanya dalam hitungan jam saja mereka berpisah, namun entah apa itu hanya Dannis yang bisa menjawabnya.
Dannis sudah berulang kali mencoba menghubungi ponsel istrinya namun hasilnya masih nihil hingga sekarang.
Mata Dannis terbuka berniat akan kembali ke kamarnya setelah merasa cukup dingin berada di dalam air, memori otaknya berputar teringat ia pernah mengerjai Nara ketika itu, bagaimana bibir istrinya yang mengoceh saat Alea dan Aira mengira mereka tengah bermesraan di sana.
Pria itu terkekeh seraya geleng kepala, "Bahkan aku sudah menyukai bibirmu saat itu, Nara Nara kau lihat, hanya hitungan jam hanya hitungan jam saja kau mampu merusak pikiranku", gumamnya dengan bibir tersenyum sambil keluar kolam renang.
Dannis kembali memberingkan tubuhnya yang lelah di ranjang setelah berpakaian, ranjang yang masih sama masih belum dirapikan sejak Nara pergi.
Semua bagian rumah itu masih sama, di meja makan masih tidak tersentuh sarapan yang Nara buat tadi pagi, begitupun dengan meja yang biasa Dannis mengerjakan tugas kantor di kamarnya masih ada map berisi surat gugatan perceraian yang telah ditanda tangani oleh Nara.
Dannis terpejam, mulai berkelana dengan mimpi dengan tubuh yang meringkuk di bawah selimut yang tentu meninggalkan kenangan sekaligus saksi bahwa mereka pernah menyatu, bahkan wangi tubuh Nara mulai menghantui penciuman pria itu.
Baru satu kali berhubungan badan, Dannis telah merasakan perasaannya sekarang, bukan hanya sekedar bercinta dengan peluh bercucuran namun juga tentang perasaan yang tercipta setelahnya, perasaan yang semula membingungkan bagi pria itu antara kasihan, masih terikat cinta masa lalu atau telah menyukai Nara dalam arti sesungguhnya.
Iya Dannis mulai paham sekarang, paham dalam membedakan antara kasihan, cinta Naya atau mulai mencintai Nara, tidak bukan mulai melainkan tidak akan menyangkal lagi bahwa ia pun telah lama jatuh cinta pada istrinya itu hanya saja perasaannya terhalang bayang masa lalu.
__ADS_1
Kesalahan Dannis hanya satu, yaitu selalu menyangkal perasaannya jika bersama Nara, menyangkal bahwa ia sudah lama merasa cemburu jika perempuan itu bertemu lelaki lain, menyangkal bahwa ia mulai berbunga ketika sedang berdua, bahkan Dannis pun sekuat tenaga menahan hasrat ingin menjamah tubuh yang telah lama menjadi istri sahnya.
Terkadang perlu berpisah agar bisa saling menyadari arti satu sama lain, arti Nara bagi hidup Dannis yang semula hambar ketika ditinggal mati oleh Naya, namun mulai berwarna dan kembali normal sejak mereka menikah hanya saja pria ini terus saja menyangkalnya.
*****
Beberapa jam sebelumnya Nara benar-benar bertemu mantan tunangannya, selain hanya Reno yang ia kenal baik pria itu juga diyakini Nara akan membantunya.
Mereka bertemu di sebuah restoran, Reno seakan mengerti bahwa mantannya itu sedang lapar maka ia tidak bertanya apapun sampai Nara benar-benar menyelesaikan makan malamnya.
Nara menghabiskan minumnya, entah karena haus atau karena apa hingga air satu gelas penuh ia tenggak hingga habis hanya beberapa saat saja.
"Sepertinya kau sangat haus", canda Reno.
"Iya, aku merasa sangat butuh cairan sekarang terlebih harus bicara padamu setelah ini", jawab Nara terkekeh.
"Kau ingin bicara apa? melihat mu seperti ini aku bisa menebaknya, apa Dannis sudah melepaskanmu? apa kalian sudah berpisah hingga kau menemuiku dengan tas seperti ini?", tanya Reno yang bahkan telah penasaran sejak awal bertemu.
Nara menelan ludah, lalu ia mengangguk pelan, Reno langsung berdecak kesal ia bahkan berdiri dari duduknya dengan emosi.
"Apa yang dia lakukan padamu? apa dia menurunkanmu di jalan? kenapa tidak mengembalikanmu secara baik-baik pada ....", ucapan Reno menggantung saat mengingat bahwa Nara sudah tidak memiliki orangtua.
Nara menggeleng.
"Bisakah kita bicara tanpa emosi, aku menemui mu hanya ingin meminta bantuan karena kita saling mengenal dengan baik".
__ADS_1
Reno menarik napas dalam lalu ia duduk kembali.
Nara mulai menjelaskan hubungannya dengan Dannis saat ini tanpa dilebih-lebihkan.
"Kembali padaku Nara, kau tahu aku sangat menantikan ini", sela Reno cepat setelah mendengar kata perceraian.
"Jangan bercanda Reno, ayolah lupakan tentang kita di masa lalu, beri aku pekerjaan setidaknya aku harus melanjutkan hidupku di kota, karena kau tahu tidak ada tempatku untuk pulang ke desa lagi".
"Nara", ucap Reno pelan, ia meraih satu tangan Nara untuk ia genggam.
Dengan cepat Nara menariknya.
"Maaf Reno, aku mencintainya", jawab Nara berkaca-kaca.
"Jangan katakan itu di hadapan ku, astaga aku muak", Reno kembali kesal sendiri.
"Kau mau membantuku tidak?".
"Baiklah.... mana bisa ku menolaknya, tapi ketahui lah aku masih mengharapkanmu, aku mencintaimu Nara".
"Kau pernah meninggalkanku Reno, sekarang saudara mu juga meninggalkan ku, kalian sama saja jadi jangan harap aku mau kembali padamu, berhenti bilang mencintaiku, itu menggelikan.....", jawab Nara terkekeh.
"Kau ingin pekerjaan apa? apa pun yang kau pinta akan ku berikan, kau minta aku menikahimu besok juga aku mau".
"Tidak mau, aku hanya ingin pekerjaan bukan ingin jadi istri mu", sahut Nara melemparkan sendok pada Reno yang tertawa.
__ADS_1