Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Reaksi Netizen


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Setibanya di sekolah baru Delvara, Dion turun dari mobil mewahnya keluaran terbaru itu. Mobil putih itu tampak masih begitu mengkilat membuat beberapa pasang mata yang melihatnya silau.


Jelas itu bukan mobil murah. Setidaknya semua yang melihat pasti bisa tau itu.


Dion dengan penampilannya yang memang selalu rapi dan perfeksionis itu mempercepat langkahnya menuju pintu mobil tempat bidadarinya duduk. Dengan senyuman manisnya, ia membukakan pintu untuk wanita spesialnya itu.


"Silahkan bidadariku." Dion mengulurkan tangannya agar bidadarinya itu tidak kesusahan turun dari mobil yang lumayan besar dan tinggi itu.


"Terima kasih." Karin tersenyum dan menyambut tangan kekar itu.


Dion lantas menutup pintu dan bergeser ke pintu belakang di mana putra sulungnya sudah menanti untuk dibukakan.


"Giliran jagoan papa nih."


Kali ini Dion tidak mengulurkan tangan seperti pada Karin tadi melainkan membuka lebar dua tangannya siap menyambut sang pangeran yang akan digendongnya turun itu.


"Haaapp,,,, mmmmhhhhh" Dion menangkap tubuh Delvara sekaligus menahan sakit di pinggangnya.


"Sial. Masak sudah cakep begini malah encok." gerutunya dalam hati.


Sebisa mungkin ia berjalan tegap layaknya tak merasakan sakit apa pun demi membuat bidadarinya tenang. Dengan Delvara di gendongan tangan kanannya dan tangan kiri menggandeng Karin, Dion dalam diam menahan sakit yang mengganggunya itu.


Aktingnya cukup berhasil karena terbukti Karin saja tak menanyakan apa dia kesakitan atau tidak. Beberapa emak emak yang mulai berbisik membicarakan mereka juga tidak melihat Dion yang sebenarnya merasa sakit.


Emak emak itu sibuk membahas hal lain yang lebih mencolok mata mereka.


"Pasti istri simpanan bos."


"*Lihat tuh. Perempuannya masih muda sekali. Yang laki laki sudah berumur. Kelihatan sekali cuma doyan sama uangnya."


"Istri ke berapa itu ya*??"

__ADS_1


"Pasti itu bukan anaknya sama si laki laki. Itu sih dia hamil sama pria muda lainnya tapi minta si beruang tanggung jawab. Kebaca banget liciknya."


Beragam cemoohan terlontar dari bibir emak emak tukang gosip. Tapi memang sih bukan emak emak namanya kalau gak ngegosip. (Hahahha termasuk author juga wkwkwk,,,)


Untungnya Karin dan Dion yang sudah memperhitungkan akan mendapati hal hal demikian sudah sepakat untuk tidak memusingkannya selama orang orang itu tidak merugikan mereka secara fisik. Kalau urusan hati gak usah ditanya.


Baik Dion maupun Karin adalah pasangan yang tidak memilih untuk mendengarkan kata orang. Bagi mereka itu bukan sumber kebahagiaan. Yang buat bahagia ya diri mereka sendiri.


"Sampai disini saja ngantar kita om papa." tukas Karin saat mereka sudah masuk halaman sekolah.


"Iya sayang. Nanti pulangnya om papa jemput ya." ucap Dion sembari menurunkan jagoannya.


Dion merasa sakit di pinggangnya lumayan berkurang setelah Delvara turun. Mungkin dia benar benar sedang encok makanya beban sedikit saja sudah sangat terasa.


"Kan ada Darwin nanti yang bisa jemput kami. Om papa kerja saja. Karin gak mau ya nanti gara gara om papa menyempatkan diri menjemput kami terus pekerjaan om papa terganggu dan ujung ujungnya om papa musti lembur."


"Hehehe,,, Baiklah sayang kalau memang itu maumu. Om papa juga gak mau melanggar undang undang rumah tangga buatanmu tentang lembur kerja. Bisa bahaya nanti kalau om papa kena sanksi."


Karin tersenyum malu lalu mencubit pinggang Dion dengan gemasnya. Tindakannya ini pun tak luput dari pandangan para netizen yang mulia yang sedari tadi memang tidak ingin kelewatan pemandangan ini.


"Pakai pelet sih ini pasti. Kalau gak pasti pakai susuk."


Kali ini Dion yang mendengarnya tak tahan untuk tidak menjawab.


"Bu ibu hati hati kalau ngomong. Jangan sampai omongan kalian merugikan diri kalian sendiri." Dion pun memperingatkan mereka.


Mendengar itu, sekumpulan emak emak yang sedari tadi mengekor pun memilih pergi. Dari penampilannya saja ketahuan kalau ini orang kaya. Dari cara bicara juga ketahuan orang ini berpendidikan tinggi. Karenanya mereka enggan kena masalah meski tetap saja membicarakan pasangan tak seumuran itu di kejauhan.


"Om papa. Kan kita sudah sepakat kalau ada reaksi netizen kita tidak usah tanggapi. Kok malah om papa beri reaksi barusan? Kan malah senang mereka jadinya karena itu artinya ulah mereka berhasil membuat kita terganggu. Ingat om papa,,, orang orang itu akan senang kalau kitanya gak nyaman. Tapi kalau kita yang masa bodo, mereka yang akan kelabakan sendiri."


"Om papa tau. Tapi om papa tidak suka kalau mereka menuduhmu pakai pelet lah,,, susuk lah,,, Apa apaan sih mereka itu??!!" Dion masih gusar mengingat omongan mereka tadi.


"Sudah sudah. Jangan dibahas lagi. Sayang ah kalau pahala kita dari mereka yang ngomongin kita jadi balik ke mereka lagi karena kita balas dengan emosi juga."


Karin selalu bisa menenangkan dan meredakan amarah Dion. Terbukti sesaat kemudian Dion sudah tersenyum.

__ADS_1


"Kamu yakin memilih sekolahan ini sayang? Kamu beneran gak mau yang elite saja?" tanya Dion.


"Di sini saja om papa. Bukan masalah elite atau tidak elite nya. Mau di mana saja asal putra kita memperhatikan dan menguasai pelajaran hasilnya akan sama. Lagipula kita juga tidak perlu membayar banyak. Bukan tidak mau, tapi lebih baik tetap sederhana saja."


"Siap komandan!!!" Dion bersikap tegak lurus dan sikap hormat.


Bughhh,,, Karin yang gemas menabok pinggangnya.


"Mmmppphhh" Aslinya Dion sangat kesakitan tapi ia berusaha meringis saja.


"Kalau begitu om papa tinggal dulu ya. Telpon Darwin untuk menjemput kalian. Del,,, jagoan papa gak boleh nakal. Yang baik sama teman temannya. Dengar kata guru guru."


Dion berpesan pada sang putra kesayangannya. Diciumnya puncak kepala Delvara dan tak lupa juga kening Karin. Mereka juga mencium punggung tangan Dion secara bergantian. Melambaikan tangannya saat Dion berjalan menjauh.


Semua itu tetap tidak luput dari mata para netizen.


"Dek,,,itu barusan suaminya apa selingkuhannya??" cibir salah satu emak yang gak bisa lagi menahan diri.


"Alhamdulillah itu suami saya bu." jawab Karin dengan halus.


"Ohhh,,,, istri ke berapa??"


"Alhamdulillah juga saya istri satu satunya. Mari bu, saya permisi duluan. Assalamualaikum." pamit Karin.


Si emak emak itu pun tanpa menjawab salam hanya memonyongkan bibirnya kesal dengan jawaban Karin tadi.


"Sok sok'an. Banyak tuh yang kayak gitu sekarang.Hanya berkedok belaka.Palingan juga cuma ngincar hartanya. Cari yang tua biar cepat mati dan dapat deh harta warisannya." gerutunya.


"Eh sudah bu. Gak baik lho terus bergunjing. Mungkin memang benar begitu adanya. Memang jodohnya." salah satu emak memberi masukan positif.


"Iya bu. Lagipula mau dia jadi istri ke berapa juga biarkan saja. Yang penting kan bukan lakik kita yang dia jadikan sasaran." yang lain menimpali.


Karin masih bisa mendengar semuanya namun ia memilih mengabaikannya. Percuma kalau ditanggapi. Dan yang utama adalah bagi Karin mereka bukan siapa siapa. Tak peduli apa pun reaksi yang mereka berikan, bukan mereka yang boleh mengatur hidupnya.


...❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2