
Alea terbangun, ia menatap sekeliling bahwa ia telah berada dikamarnya, ia menghembus napas kasar melihat ia masih berpakaian lengkap dibalik selimutnya.
"Huh.....sepertinya bang Abrar memang tidak tertarik padaku" ucapnya sedih.
Kemudian ia mengernyitkan dahi, dan meraba bibirnya teringat akan sesuatu.
"Astaga.....apa aku bermimpi? Kenapa rasanya seperti nyata...oh god, di mimpi saja aku sangat menyukainya bagaimana jika ciuman itu memang nyata....aku bisa gila hanya karena sebuah ciuman saja" Alea tersenyum sendiri dan berguling-guling di dalam selimut membayangkan bagaimana manisnya bibir Abrar.
"Baiklah ini belum berakhir, aku harus tetap berusaha aku tidak mau jika bang Abrar menyukai wanita lain, awas saja jika ada yang berani menyukai suamiku" Alea merasa geram sendiri.
Alea cepat-cepat bangun, karena tidak mau jika suaminya sudah pergi untuk lari pagi, membayangkan bagaimana seorang janda yang menjadi tetangganya itu menikmati pesona Abrar di pagi buta ini.
Benar saja, ketika Alea turun suaminya sudah tidak ada, ia melihat siluet Abrar yang sedang memakai sepatu di teras rumah, pria itu sedang mendengarkan musik ditelinganya.
Alea tersenyum, ia segera mengambil sepatu miliknya dan menyusul Abrar namun Abrar lebih dulu pergi karena telah siap untuk lari pagi.
Alea gelagapan, ia memanggil Abrar namun tentu sia-sia saja, karena tidak ingin tertinggal maka darinya Alea mengejar Abrar tanpa alas kaki yang belum sempat ia kenakan.
"Astaga bang Abrar, kenapa dia cepat sekali...." Alea terengah-engah mengejar Abrar dalam keadaan tanpa alas kaki yang tentu akan memperlambat gerakannya karena ia merasa sakit pada telapak kakinya oleh bebatuan yang ia lewati.
Akhirnya Alea berjalan saja sambil sesekali menghentakkan kakinya kesal, tidak sengaja ia melewati rumah janda yang membuatnya gusar.
"Nona Alea? Tidak biasanya kau lari pagi seperti ini, apa kau takut suamimu hilang? Ha ha ha kasihan sekali lihat kakimu itu sayang....kenapa tidak memakai sepatu?" tanya sang janda seraya mengejek.
__ADS_1
"Suamiku tipe pria setia, dia tidak akan tergoda oleh wanita manapun apalagi seorang janda, dia hanya tergila-gila padaku saja.... Aku sebenarnya hanya berjalan santai saja, bukankah berpijak pada bebatuan ini bisa menjadi terapi makanya aku tidak memakai sepatu" jawab Alea tanpa takut.
"Begitukah....lantas kenapa tidak berbarengan dengan tuan tampan itu, apa kau sudah diabaikan pagi-pagi buta ini?" tanya si janda yang terus mengulum senyum seakan mengejek Alea, perempuan ini selalu berpakaian ketat dan seksi, ia sudah terbiasa berolahraga pagi hari sambil keliling komplek, terlebih ia sangat suka jika Abrar meramaikan pemandangan pagi nya.
Wajah Alea memerah mendengar itu, ia begitu malas meladeni wanita yang sok seksi menurutnya. Tidak berselang lama Abrar mendekat karena merasa heran kenapa Alea berada disana tanpa alas kaki.
"Alea....kenapa kau disini, kenapa kakimu tidak memakai sepatu jika ingin ikut berolahraga?"
"Tuan Abrar.....kau bahkan belum keliling, ayo biar ku temani jika istrimu tidak bisa, kasihan dia kakinya bisa terluka jika memaksa" goda wanita itu seraya melirik Alea, ia suka sekali menggoda Alea yang tampak cemburu.
"Sayang....kau jahat, kenapa meninggalkanku terlalu jauh, sekarang aku ingin pulang saja ayo gendong aku....kau harus bertanggung jawab atas kaki ku ini" Alea menghampiri Abrar dengan manja.
"Alea kenapa kau tidak memakai sepatu? Bagaimana jika terluka? Astaga...." Abrar berjongkok memeriksa telapak kaki Alea.
Pria itu tidak menghiraukan ucapan sang janda yang menggodanya, membuat Alea ingin tertawa dibuatnya.
Abrar menggendong Alea dipunggungnya.
"Kami pulang dulu nona terimakasih tawarannya" pamit Abrar pada wanita seksi yang tampak kesal itu.
Alea melirik sambil mengeluarkan lidahnya mengejek janda itu, ia mengeratkan pelukan dileher Abrar.
"Abang jahat...." kesal Alea namun ia terus tersenyum diatas gendongan Abrar.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang jika mau ikut lari pagi, aku bisa menunggumu" jawab Abrar.
"Abang tidak mendengarku karena ini" Alea menunjuk headphone dileher Abrar.
"Baiklah....maafkan aku, lantas kenapa kau bisa disana bicara dengan nona janda tadi?"
"Tentu saja untuk antisipasi jika dia menggodamu jika kau lewat sana, kalian memang menyebalkan"
"Berhenti marah-marah aku tidak akan tergoda siapapun" jawab Abrar terkekeh.
"Bagus....jika itu terjadi akan ku sunat kau dua kali" Alea menjawab seraya mengancam di telinga Abrar.
"Aw....baik bu dokter, astaga aku takut" canda Abrar, mereka sama-sama tertawa ketika sudah masuk dalam rumah.
Alea turun dari gendongan Abrar, langsung saja ia memeluk pria itu membenamkan wajahnya di dada Abrar.
"Hei kau kenapa?" tanya Abrar heran namun ia merasa senang jika Alea menempel seperti ini, namun ia masih belum mengira bahwa gadis itu menyukainya karena bagi Abrar Alea sudah terbiasa bersikap manja dan memeluknya seperti ini bahkan jauh sebelum menikah.
Alea menengadah menatap Abrar penuh arti, Abrar menjadi gugup ketika melihat bibir Alea ia teringat akan perbuatannya semalam yang berani mencium bibir manis gadis itu tanpa izin.
Berbeda dengan Alea, ia ingin sekali rasanya mengatakan bahwa ia menyukai pria itu, namun rasa malunya masih terlalu besar, Alea hanya menggeleng pelan kemudian tangannya meraih wajah Abrar dan mengecup lembut rahang pria yang jauh lebih tinggi darinya.
"Aku menyayangimu bang Abrar, aku akan bersiap ke rumah sakit" jawab Alea pelan namun penuh arti dan gadis ini pun berlalu dari hadapan Abrar.
__ADS_1
Abrar tertegun, ia masih mematung menatap punggung Alea yang menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kau selalu menyayangiku sebagai saudara Alea, aku tahu itu" gumam Abrar dengan senyum kecut.