Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 19


__ADS_3

Abrar tengah sibuk beberapa hari ini untuk menyiapkan proyek besar yang dimenangkan oleh perusahaannya, ia terus terhubung dengan Gina yang banyak membantunya dalam hal ini, karena Arkan tengah sibuk mempersiapkan pernikahan.


Alea menjadi kesal karena usahanya masih terasa sia-sia bagaimana Abrar masih belum menyadari perubahan penampilanya jika dirumah, pria itu sering pulang larut dimana Alea telah tidur duluan, membuat Alea kian frustasi ia mengira Abrar terlalu sibuk dengan urusannya dan mengabaikan gadis itu untuk beberapa hari ini.


Namun berbeda dengan apa yang terjadi pada Abrar, selain ia sibuk dengan banyaknya pekerjaan ia juga dibuat pusing oleh penampilan Alea yang kian menggoda beberapa hari ini, bagaimana tidak setiap bertemu Alea dirumah mereka selalu terlihat canggung akibat Abrar terlalu gugup jika berhadapan dengan Alea yang berpenampilan sedikit terbuka itu, pria ini benar-benar frustasi.


Abrar sengaja menghindar, ia memilih pulang larut karena ia tahu Alea pasti telah tidur jika ia pulang pada jam tersebut, ia melakukan ini karena ingin menjaga Alea agar ia tidak berbuat sesuatu yang bisa membuat Alea membencinya.


Hari ini Alea pulang agak malam dari rumah sakit, ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah, ia mengernyit heran ketika mendapati Abrar tengah duduk bersantai di bangku taman bersama seorang perempuan yang ia tidak sukai.



Gina, perempuan itu sengaja disuruh Abrar untuk mengantarkan beberapa berkas yang akan ia selesaikan dirumah saja, Abrar merasa tidak enak badan oleh karena itu ia pulang lebih cepat.


Mereka membahas tentang pekerjaan, sesekali mereka bergurau untuk mencairkan suasana, Abrar sengaja mengobrol di taman karena ia tidak ingin berada dengan wanita asing didalam rumah terlebih istrinya belum pulang.


Alea benar-benar cemburu, ia tahu Gina menyukai Abrar bahkan sejak mereka belum menikah Alea sering melihat Gina menatap Abrar penuh damba ketika ia dulu sering ke kantor Abrar.


Gadis ini keluar mobil dengan wajah memerah, ia berjalan mendekati Abrar dan Gina.


Gina menatap Alea malas, ia menjadi jengkel karena gadis itu masih ingin bersama Abrar lebih lama lagi.


"Sayang....kau sudah pulang?" tanya Alea lembut pada Abrar, ia melihat wajah suaminya yang tampak tidak baik-baik saja.


Abrar hanya mengangguk dan tersenyum.


"Hai nona Alea" sapa Gina.


"Hai juga nona Gina, kenapa kau bertamu malam-malam begini?" tanya Alea tanpa basa basi.


Alea sengaja memamerkan kemesraan dengan duduk dipangkuan Abrar.


"Aku hanya disuruh tuan Abrar mengantarkan beberapa berkas untuk diselesaikan di rumah" jawab Gina jengkel.

__ADS_1


"Alea....Gina benar, aku yang menyuruhnya kemari" ucap Abrar yang melingkarkan satu tangannya dipinggang Alea.


"Sayang kau sakit? Badanmu panas? Baiklah nona Gina aku rasa kau boleh pulang sekarang, suamiku butuh istirahat. Terimakasih sudah mau repot datang kemari" Alea meraba kening suaminya kemudian ia menatap Gina penuh arti dalam setiap ucapannya agar wanita itu segera pulang.


Gina benar-benar kesal, terlihat sekali jika Alea tidak menyukai kehadirannya, ia sedikit kecewa bahwa Abrar hanya diam dan mengangguk saja apa yang diucapkan oleh Alea.


"Baiklah tuan Abrar, aku rasa istrimu benar, aku pamit pulang semoga tuan baik-baik saja dan bisa kembali ke kantor besok" jawab Gina sopan.


Abrar hanya mengangguk, mereka berdiri dan mengantarkan Gina ke mobilnya.


Setelah Gina pergi, Alea menatap Abrar tajam.


"Alea.....apa yang kau lakukan tadi menurutku berlebihan, tidak seharusnya kau duduk dipangkuanku di hadapan tamu"


Alea kesal mendengarnya, seolah Abrar tidak menyukai kemesraan mereka dipamerkan dihadapan sekretarisnya itu.


"Kenapa? Apa kau menyukai nona Gina?abang menyebalkan, kau berani membawa perempuan lain ke rumah ini" jawab Alea menggebu-gebu.


"Iya, pegawai yang menyukaimu, tapi aku membencinya, kalian benar-benar menyebalkan" kembali Alea menatap Abrar tajam dengan mata berkaca-kaca, ia sungguh tidak menyukai Abrar berkata seperti tadi.


"Baiklah....maafkan aku, aku hanya merasa tidak nyaman kau duduk dipangkuanku di hadapan tamu, kita tidak perlu bersandiwara berlebihan juga" jawab Abrar, ia bukan tidak senang diperlakukan seperti tadi, namun ia merasa sakit jika menyadari bahwa adegan itu hanya tipuan Alea belaka, karena gadis ini sudah terbiasa melakukan itu jika Abrar tengah bersama wanita lain, ia mengingat jelas karena ulah Alea seperti ini pula yang membuat mereka terjebak pernikahan dan harus mengorbankan hati Yura.


Lama Alea terdiam.


"Kau benar bang Abrar, kau menyadarkanku bahwa kita hanya bersandiwara" ucap Alea pelan dan terasa menusuk, gadis ini berjalan masuk ke rumah tanpa menghiraukan Abrar yang masih mematung disana.


Alea mengusap sudut matanya yang sudah berair, ia mengunci pintu kamar rapat dan menumpahkan tangis disana.


Pada kenyataannya memang Abrar belum bisa membedakan sikap Alea mana yang bersandiwara mana yang tidak, karena Alea sudah terbiasa seperti itu sejak sebelum menikah, Abrar tidak ingin berharap lebih yang akan menimbulkan kekecewaan nantinya.


******


Alea menghentikan tangisnya, ia berjalan menghadap cermin.

__ADS_1


"Huh....menangis tidak akan membuat bang Abrar jatuh padaku, apa yang dia sukai dari sekretaris menyebalkan itu?"


"Aku juga tidak kalah seksi darinya, bang Abrar saja yang tidak menyadarinya, dadaku lumayan berisi, bokongku juga seksi, kenapa pria itu tidak tertarik sedikitpun denganku padahal ini nyata berada dihadapannya" Alea kembali kesal sendiri.


"Kau menyebalkan bang Abrar, oh....tidak tapi aku mencintaimu, ayolah lihat istrimu yang seksi ini" gumam Alea sambil menggerakkan dadanya yang memang berisi.


"Apa jangan-jangan dia masih menyukai nona Yura?Ck... apa hebatnya wanita itu, tidak ada apa-apanya dariku" Kembali Alea bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri.


"Huh....aku bahkan menjatuhkan harga diriku dengan berpenampilan terbuka seperti ini, tapi sama sekali belum dilirik pria menyebalkan itu, aaaahhh aku frustasi"


"Apa aku harus mengakuinya saja? iya aku rasa aku harus mengatakannya, tidak peduli dengan rasa malu....aku istrinya, lagi pula aku ini wanita jaman emansipasi"


Alea tiba-tiba bersemangat untuk keluar kamar dengan memakai dress longgar nan terbuka, ia berniat ingin mengakhiri drama itu malam ini juga.


Dengan perasaan gugup bercampur cinta yang menggebu-gebu, ia memberanikan diri untuk masuk ke kamar Abrar yang memang jarang dikunci.


Ia pikir suaminya masih terjaga, namun kekecewaan langsung menerkamnya ketika Abrar tampak telah terlelap di ranjangnya, karena memang lelaki itu tidak enak badan sebab kelelahan bekerja.


Alea melihat ada obat dan air putih di atas nakas, menandakan Abrar telah meminum obatnya.


"Bahkan aku belum mengatakan apapun, lelaki ini sudah berkelana bersama mimpi, ini benar-benar menyebalkan, aku rasa ingin menangis sekarang" gumam Alea menatap wajah Abrar sendu, ia berjalan mendekat.


Lama Alea menatap wajah suaminya, memberi belaian pada rambut Abrar hingga wajah berjambangnya, Alea tersenyum sendiri.


"Aku menyesal, kenapa baru sekarang jatuh cinta padamu padahal kau selalu ada disampingku sejak dulu, sekarang kau bahkan sangat dekat disini namun aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, aku memang istri yang payah"


"Aku mencintaimu bang Abrar, lekaslah sembuh" kecup Alea pada kening pria yang masih terasa panas itu.


****


puas kan bacanya? masih kurang juga? ayo beri dukungannya ya....


mungkin dua part kedepan mereka bisa bersatu, ikutin terus yaaaa.

__ADS_1


__ADS_2