
Nara menunduk hormat ketika Dannis berjalan melewatinya bersiap akan ke kantor, sudah berpakaian rapi dengan wangi maskulin khas pria.
Dannis melirik Nara sekilas.
"Berhenti menunduk aku bukan raja yang harus kau hormati", ucap Dannis kesal.
Nara mengangkat wajahnya yang tersenyum, ia tidak membalas dengan kata-kata.
"Kenapa kau malah tersenyum? apa aku terlihat lucu?", bentak Dannis lagi.
"Dihormati salah, tersenyum juga salah. Oh aku harus lebih banyak belajar untuk menjadi seorang pelayan yang baik agar majikanku ini tidak terus marah-marah di pagi buta seperti ini", ucap Nara dengan nada menyindir.
"Ck.... beraninya kau menjawabku", Dannis berdecak, ia berjalan melangkah maju menghampiri Nara yang berdiri tanpa takut.
Nara membesarkan matanya ketika Dannis menarik pinggang rampingnya hingga mereka menempel satu sama lain.
"Kau hanya perlu mengurusi rumah, jangan mencampuri urusanku apalagi membantahku....", lalu Dannis melepasnya dengan kasar.
Nara meredamkan rasa kesalnya dengan menarik napas dalam agar ia tidak membantah lagi.
"Oh kau punya kalung rupanya", Dannis merampas kalung berliontin love itu di leher gadis yang terkejut.
"Tuan, kembalikan kalung ku....", pinta Nara dengan nada marah.
"Tidak".
"Kembalikan", pinta Nara lagi.
"Tuan aku mohon".
"Apa ini berharga untukmu? ini hanya kalung biasa, oh atau mungkin ini kalung pemberian kekasihmu?".
"Tuan jangan.... itu kalung peninggalan ibuku", Nara memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Kau punya ibu? aku kira tidak", ejek Dannis.
Nara menjadi sangat kesal, tanpa basa basi ia meraih lengan Dannis yang hanya memakai kemeja saja itu lalu menggigitnya sekuat tenaga.
"Ahhhh..... sial kau menggigitku? beraninya kau", bentak Dannis seraya mengaduh kesal setelah melepaskan diri dari gigitan Nara.
"Kau jahat tuan Dannis, kembalikan kalung ku", pinta Nara mulai marah.
"Baiklah silahkan kau ambil jika bisa", ucap Dannis seraya berjalan menuju kolam renang.
Dannis terlihat seperti melempar sesuatu di sana, yang mana membuat Nara geram.
"Kau benar-benar monster", lirik Nara tajam sebelum ia turun ke kolam renang tanpa takut basah.
Dannis menatapnya heran sekaligus kesal mendengar kata monster, namun sejenak ia terdiam sebab kata monster mengingatkannya pada malam di mana Nara berani mengecup bibirnya tanpa permisi.
__ADS_1
Jantungnya berdenyut geli ketika otaknya memutar memori tersebut, namun segera Dannis tepis ketika matanya melihat Nara yang sudah menyelam mencari kalungnya berada.
"Ck.... kenapa dia mudah di tipu", gumam Dannis melirik genggamannya yang masih terdapat sebuah kalung yang ia rampas dari leher cantik itu.
"Baiklah, selamat mencarinya istriku.....", gumam Dannis lagi sambil berlalu dengan wajah puas mengerjai Nara.
Dannis keluar rumah menuju mobilnya berada.
"Huh..... apa dia punya gigi taring semua? kenapa sakit sekali", ucap Dannis memegang lengannya bekas gigitan gadis yang masih sibuk menyelam di dasar kolam renang demi sebuah kalung.
*****
Senja menjelang, Dannis yang akan segera pulang itu terkejut ketika Nesya hadir di kantornya.
"Hai... kemana saja kau Nesya? lama kita tidak bertemu", sapa Dannis dengan senyum.
"Aku sibuk di perusahaan, sekarang aku benar-benar telah menggantikan ayahku untuk berkecimpung di dunia bisnis ini, kita akan bekerja sama dalam waktu dekat", jawab Nesya tak kalah senyum.
"Benarkah? bagus, jadi aku akan punya rekan kerja yang handal seperti mu, aku senang mendengarnya, lantas kenapa kau kemari? ini sudah waktunya pulang", jawab Dannis melirik jam di pergelangan tangannya.
"Aku ingin meminta mu menemaniku, aku kemarin-kemarin aku belum sempat menjenguk keponakan barumu", ucap Nesya seraya menunjukkan paper bag yang berisi sebuah kado.
Dannis menepuk keningnya, "Oh kau benar, aku saja hampir lupa aku juga belum menjenguk saudari kembarku itu, baiklah kita bisa pergi sekarang", ajak Dannis.
Nesya tentu menyembutnya dengan senyum bahagia, iya tentu Nesya merasa senang Dannis tidak berubah meski pria itu akan menikah seperti kemauan mama El.
Bercanda dan bercerita banyak tentang dunia pekerjaan sekaligus kilas balik masa sekolah mereka dulu selama menempuh perjalanan menuju rumah Alea dan Abrar yang berjarak satu jam dari kantor Dannis berada.
Tidak terasa mereka pun sampai di rumah milik saudari kembar Dannis, ia memarkirkan mobil dan turun seraya membawa beberapa makanan dan mainan untuk tiga keponakannya yang lama tidak ia jumpai sejak ia menikah.
Dannis langsung di sambut heboh tiga bocah kecil yang bergelayutan pada tubuhnya, mereka saling melepas rindu karena lama tidak bertemu.
Pemandangan itu membuat Nesya tersenyum, ia tahu Dannis menyukai anak kecil, terbesit pula bayangan dipikirannya bahwa suatu saat pria itu memiliki anak seperti Alea sekarang.
"Bahkan aku masih berharap untuk menjadi ibu dari anak-anakmu kelak Dannis", gumam Nesya dalam hatinya.
"Paman, kenapa lama tidak mengunjungi kami?", pertanyaan itu yang sejak tadi keluar dari mulut-mulut kecil itu.
"Maaf sayang, paman sibuk di kantor", jawab Dannis mengusap kepala Aira yang berada di gendongannya.
"Bibi Sheira bilang paman sibuk berduaan dengan istri paman, aku iri.....", ucap Aira lagi.
"Tentu saja paman lebih memilih istrinya bodoh, kita ini masih anak-anak mana boleh mengganggu pengantin baru apa kau lupa pesan nenek?", celetuk Azzam.
Nesya tercekat, ia menajamkan pendengarannya saat Azzam berkata soal istri.
"Istri, pengantin baru? Dannis apa yang mereka bicarakan?", tanya Nesya heran.
"Jangan dengarkan mereka, anak-anak mana mengerti akan hal itu", jawab Dannis santai.
__ADS_1
Belum juga Nesya ingin bertanya lagi, ia melihat Alea muncul menghampiri mereka.
"Dannis kenapa kau baru kemari?", bentak Alea kesal, ia memeluk saudara kembarnya itu bergantian dengan Nesya.
"Maaf... aku sibuk", jawab Dannis terkekeh.
"Nesya, kau juga kemari? ayo masuklah dahulu, kita bisa bicara di dalam", ajak Alea sambil melihat kesana kemari.
"Dannis... mana istrimu? kau datang sendiri?", tanya Alea polos, ia mengira Dannis dan Nesya hanya kebetulan saja bertemu di sana.
Nesya kembali menatap Dannis penuh tanya.
"Dannis? kau sudah menikah?", akhirnya pertanyaan itu muncul juga dari bibir Nesya.
Bukan menjawab dengan kata-kata, Dannis malah menjawab dengan hardikan bahu dengan santai, ia memilih menuruti ajakan tiga keponakannya untuk masuk rumah lebih dahulu.
"Nesya kau tidak tahu Dannis sudah menikah?", tanya Alea.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
"Oh maafkan saudaraku, dia memang sedang sibuk mengurusi proyek besarnya, itu pula alasan kenapa Dannis belum mengumumkan pernikahan nya beberapa waktu lalu, tenanglah resepsi masih lama jadi kau jangan takut tidak diundang, karena mereka menikah hanya dihadiri keluarga inti saja, jadi jangan tersinggung oke....", ucap Alea memberi penjelasan.
Nesya terdiam.
"Ayo masuklah.... kita bisa makan bersama", ajak Alea lagi.
Nesya hanya mengangguk saja, hatinya sungguh hancur mendengar pernikahan pria yang ia sukai itu benar-benar terjadi.
"Paman aku merindukan bibi Nara, padahal kami sudah berjanji akan bernyanyi bersama tapi ini sudah sangat lama rasanya", ucap bibir mungil Aira.
"Ini semua karena bibi Sheira yang melarang kami berkunjung ke rumah paman, dia bilang jika kami berkunjung itu akan mengganggu aktivitas pengantin baru", jawab Eza sambil membuka mainan barunya.
Dannis hanya menghela napas, ketika banyak pertanyaan yang diberi tiga bocah itu tentang istrinya, iya tentu saja ketiga keponakan Dannis itu menyukai Nara yang mereka anggap baik dan lembut, suka meladeni mereka bermain terlebih perempuan itu pandai bernyanyi.
Dannis tampak hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo... sekarang paman ingin melihat adikmu, paman ingin lihat apa dia secantik dirimu Aira?".
"Adik bayi cantik mirip bibi Nara", jawab Aira polos.
Alea hanya bisa geleng kepala dengan tingkah anak-anaknya, tidak memungkiri ia pun menyukai Nara sejak mereka berkenalan sebelum ia melahirkan.
Dannis masuk ke kamar bayi mungil itu tanpa menghiraukan Nesya yang tampak meradang luar dalam.
Gadis itu hanya diam sejak tadi.
"Dimana bang Abrar Alea? apa dia belum pulang?", tanya Nesya ingin menghindari percakapan tentang Nara saja sejak tadi.
"Iya.... bang Abrar mampir sebentar ke rumah mama Bella, ada urusan tentang adiknya Attha yang baru saja dipukuli orang tidak dikenal", jawab Alea.
__ADS_1
"Oh benarkah?".
Nesya dan Alea berbincang, sedang Dannis sibuk meladeni ketiga anak Alea yang cerewet sejak tadi.