
Eliana memenuhi janji untuk mengajak anak-anaknya bermain di kantor suaminya hari ini, setelah kuliahnya selesai ia langsung ke kantor Kemal yang mana si kembar dan pengasuh mereka sudah berada disana diantar oleh sopir keluarganya.
Dengan terus mengulum senyum Eliana berjalan menuju ruangan Kemal.
Baru saja langkah kakinya masuk, matanya berpendar melihat kehebohan seisi ruangan suaminya yang sudah berantakan dimana-mana oleh mainan Alea dan Dannis, terdapat pula dua bocah kecil itu sedang bertengkar, para pengasuhnya kewalahan melerai mereka yang berebut sesuatu yang El yakini itu bukanlah sebuah mainan.
"Mamaaaaaaa...." teriak Alea dari kejauhan.
El berlari mendekat, ikut melerai keduanya.
"Sayang mama....ada apa ini? astaga ini bukan mainan nak, ayo lepaskan berikan pada mama ini adalah trophy kantor papa sayang"
El berhasil mengambil benda kecil dari tangan mereka.
"Maaf nyonya, mereka tidak bisa diam sejak tadi....mereka begitu heboh ketika sampai disini dan mengeluarkan semua isi lemari" Pengasuh Alea menunduk takut.
"Tidak masalah....memang mereka tidak bisa dilarang jika sudah seperti ini, dimana suamiku?"
"Tuan pergi meeting nyonya, tuan sendiri yang menyuruh kami menunggu disini sampai nyonya datang"
El mengangguk mengerti, menghela napas kasar El kembali melihat sekeliling ia hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan dua anaknya yang sudah membuat ruangan Kemal berantakan, kemudian senyumnya mengembang ketika melihat si kembar sudah duduk manis di sofa sambil makan buah yang di bawa dari rumah sambil menonton tablet mereka.
"Astaga.....ini baru dua, bagaimana jika ada enam seperti yang diinginkan Kemal, huh.....baiklah saatnya berberes sebelum tuan bos itu kembali" gumam El pada dirinya sendiri.
El mencepol rambutnya keatas menyisakan beberapa anak rambut saja yang terburai, menyingsingkan lengan kemeja yang ia pakai, ia berniat membersihkan seluruh ruangan sebelum suaminya kembali melihat kehebohan yang terjadi.
Dibantu kedua pengasuh, mereka mulai memungut mainan dan meletakkan kembali barang-barang yang ada di ruangan itu ke tempat semula, beruntung si kembar sudah bisa diam karena sibuk dengan tablet mereka.
Kemal kembali bersama Bella dari ruangan meeting, ia melihat istrinya sedang sibuk membersihkan ruangannya membuat pria itu berjalan cepat menuju Eliana yang masih belum sadar akan kedatangan mereka.
"Sayang hentikan, apa yang kau lakukan?" Kemal menarik lengan Eliana yang tengah berjongkok memungut barang-barang yang berserakan.
"Hei...kau sudah selesai meeting? sayang maafkan aku, ruangan mu berantakan oleh anak-anak....aku tidak akan membawa mereka kesini lagi, kau jangan marah ya"
El mengira Kemal akan kesal melihat kondisi ruangannya yang benar-benar jauh dari hari biasanya, namun di luar dugaan Kemal menjawab dengan lembut.
"Sayang....kau bicara apa, kenapa aku harus marah, kenapa kau sendiri yang melakukannya? aku tidak akan marah, nama juga anak-anak, hentikan biar OB yang melakukan pekerjaan ini"
"Apa kau lupa, aku ini mantan OB disini jadi sudah biasa melakukan pekerjaan seperti ini" jawab El sambil terkekeh.
__ADS_1
"Oh astaga.....berhenti bilang begitu" Tangan Kemal tergerak mengusap keringat di dahi istrinya dengan sayang.
Mereka saling melempar senyum.
"Hei anak manis, mau bermain di ruangan bibi? sebentar lagi abang Abrar dan abang Arkan akan kemari setelah pulang sekolah, kalian bisa bermain nantinya" ucap Bella pada anak-anak Kemal.
Mereka mengangguk berbarengan, kemudian mematikan tablet nya, turun dari sofa menuju tangan Bella yang sudah di ulurkan pada keduanya.
El dan Kemal hanya mengangguk setuju setelah mendapat tatapan dari Bella, mereka ke ruangan Bella di ikuti kedua pengasuhnya.
Kemal menarik lengan istrinya menuju sofa, mereka duduk berdampingan.
"Lain kali jika mereka main kesini, biarkan saja ruangan ini berantakan, aku tidak akan marah sayang....tadi sudah ku pesan pada pengasuh asal jangan menyentuh berkas-berkas yang di atas meja saja, selain itu mereka bisa bebas"
"Tapi kau lihat sendiri ulah mereka, ini baru dua....bagaimana jika enam?"
"Aku akan membuat ruangan khusus untuk mereka bermain di sini jika memang benar mereka ada enam" jawab Kemal enteng sambil mengecup pipi Eliana.
"Astaga....." El memutar bola matanya malas.
"Hei...kau terlihat seksi ketika berkeringat seperti ini sayang" Kemal sudah mulai menempel, tidak ada jarak pada keduanya.
"Benarkah? apa kau ingat, aku cukup sering berkeringat ketika membersihkan ruangan ini dulunya, apa kau juga merasa aku seksi waktu itu?"
Kemal tersenyum mengingatnya.
"Kau bahkan sudah membuatku gila waktu itu, sayang.....aku mencintaimu, tetaplah seperti ini"
Eliana menjawab dengan kecupan bibir yang menggoda, hingga mereka sama-sama menikmati keintiman berciuman yang hampir tidak pernah mereka lewati setiap sedang berdua.
Sampai pada sebuah langkah menghentikan mereka, Tiara memejamkan matanya ketika melihat adegan Kemal bermesraan bersama wanita yang masih ia benci hingga saat ini.
Perempuan berwajah pucat itu melihat jelas kebahagiaan di wajah mantan kekasihnya itu jika bersama Eliana, membuat hatinya kian meradang karena ia menyadari bahwa ia tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sebenarnya meski Ricko sudah melakukan apapun untuknya dahulu di awal pernikahan.
El melepas pelukan suaminya, ia merasa tidak enak di perhatikan oleh Tiara seperti itu.
"Huh.....mengganggu saja" gumam Kemal pelan sambil menghembus napas kasar kemudian memperbaiki duduknya seperti semula namun tidak membiarkan Eliana pergi begitu saja, ia mengunci pergerakan istrinya dengan tetap memeluk pinggang Eliana.
"Nona Tiara, duduklah"
__ADS_1
Tiara masih tidak bergeming.
"Tiara.....ada apa kau kemari?" tanya Kemal tanpa basa basi.
"Aku bosan dirumah, aku butuh teman bicara....aku akan tambah sakit jika berada dirumah sendirian, apa kau keberatan aku ke sini?"
Tiara bicara melirik Eliana pada akhir kalimatnya sambil mendudukkan diri di sofa berhadapan dengan pasangan suami istri itu.
"Bukan itu maksudku....seharusnya kau beristirahat bukan keluyuran seperti ini" jawab Kemal pelan.
Tangan pria itu masih setia mengusap-usap lembut pinggang istrinya, membuat Eliana ingin tertawa karena merasa geli, El masih diam saja ia sungguh enggan terlibat percakapan tentang Tiara.
"Apa kalian sengaja bermesraan di hadapanku? huh..... kalian menyebalkan" ucap Tiara sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah dengan kedua tangan bersedekap ke dada.
"Baiklah....mungkin ada yang ingin kalian bicarakan, aku akan melihat anak-anak dulu" El menatap suaminya yang sibuk dengan ponsel menggunakan satu tangannya.
"Tidak sayang....kau akan tetap disini, lagipula tidak ada hal penting yang akan dibicarakan, Ricko juga akan kemari" Kemal menjawab sambil mengeratkan pelukannya agar Eliana tidak berpindah.
"Huh....kau benar-benar jahat Kemal" ucap Tiara kesal, padahal kedatangan ia ke kantor Kemal tidak lain tidak bukan untuk mendapatkan perhatian pria itu lagi, namun sungguh sial ia datang tidak tepat waktu disaat ada perempuan yang terus saja di puja oleh Kemal.
Eliana hanya diam saja, ia juga merasa kesal dengan suasana ruangan itu yang sudah tidak nyaman sejak kedatangan Tiara, ia menjatuhkan kepala di bahu Kemal dengan sengaja.
Melihat itu Kemal mengecup kening istrinya yang mampu ia jangkau "Sayang....apa kau lelah? ingin beristirahat dikamar?" Kemal sengaja menyindir Tiara.
El hanya menggeleng pelan.
"Seharusnya aku yang beristirahat Kemal, aku yang sakit bukan istrimu, atau kalian ingin mengusirku?"
"Maaf Tiara, memang sebaiknya kau beristirahat di rumah bukan di kantorku, lagi pula aku juga banyak pekerjaan yang harus ku tangani"
"Tidak Andra, tidak kau....kalian sama menyebalkannya sekarang, kalian melupakanku begitu mudah" Tiara kembali menunduk ia kembali merasa terpuruk dan berada di titik terberat hidupnya.
"Maaf.....baiklah terserah kau saja, aku akan melanjutkan pekerjaanku....istriku akan menemani mu disini"
El mengangguk ketika mendapat tatapan suaminya, tidak bagi Tiara perempuan itu semakin menangis akan nasibnya sendiri yang sekarang berbanding terbalik sejak ia berpisah dari Kemal beberapa tahun lalu, sempat bangkit dengan menikahi Ricko namun tidak bertahan lama sejak sakit yang menderanya membuat ia kian terpuruk kala keluarganya pun ikut hancur oleh skandal sang ayah.
Biarpun Eliana tidak menyukai keberadaan Tiara, namun ia tetap merasa kasihan dan beralih duduk di samping Tiara sambil mengusap punggung Tiara pelan.
Kemal hanya geleng kepala, ia tetap melanjutkan pekerjaannya berkutat dengan berbagai berkas di atas meja.
__ADS_1