
Baru saja berciuman, Alea merasakan sesuatu yang mengaduk-aduk perutnya, segera ia melepas tautan bibirnya bersama sang suami dan benar saja perempuan ini memuntahkan seluruh isi lambungnya di baju Abrar yang tidak sempat menghindar, bukan sekali namun berkali-kali hingga Alea merasa perutnya terasa di peras padahal sudah tidak ada lagi sisa cairan yang keluar.
Abrar tidak mencoba menghindar, ia terus memijat tengkuk istrinya agar mempermudah perempuan itu untuk muntah.
"Huh.....kenapa jadi muntah?" tanya Alea bingung pada yang terjadi padanya saat ini yang tiba-tiba saja.
Abrar hanya tersenyum, pria ini menyibakkan rambut istrinya agar tidak gerah.
"Apa karena aku makan mangga muda tadi pagi? Astaga sungguh tidak enak perutku....sayang maaf baju mu jadi kotor" ucap Alea lagi pada suaminya yang masih mengulum senyum.
"Bang Abrar....perutku sakit kenapa kau tersenyum, kau menyebalkan......sudah bersihkan baju mu di kamar mandi, pasti bau" ujar Alea kembali segera menyuruh suaminya ke kamar mandi.
Abrar tidak menjawab, ia hanya menurut saja turun dari ranjang dan membersihkan bajunya di kamar mandi, beruntung Abrar telah membawa baju ganti dari rumah yang akan ia kenakan jika malam jadi tidak perlu bolak balik pulang dan rumah sakit.
Abrar telah berganti pakaian dan kembali menaiki ranjang disamping istrinya membersihkan sisa-sisa muntahan Alea dengan tissu dan memastikan perempuan itu kembali nyaman dengan kondisinya sekarang, pria ini mencium kening Alea lembut dan menatapnya penuh arti, membuat Alea heran.
"Kenapa sejak tadi kau menatapku seperti itu?" tanya Alea manja sesekali ia mengecup pipi suaminya.
"Tidak....aku bahagia sekarang, kau kembali dengan selamat meski aku tidak bisa memaafkan diriku atas luka di punggung cantik ini, aku menyesal terlambat datang....maafkan aku sayang" jawab Abrar sendu.
"Sudah....jangan di ungkit lagi, aku baik-baik saja sekarang, maaf wajahmu memar karena papa......luka ini tidak seberapa yang terpenting aku bisa kembali padamu, aku tidak tahu bagaimana nasibku jika kau tidak menjemputku tadi pagi, aku janji akan menceritakan semuanya tapi tidak sekarang...aku masih lelah" ucap Alea membelai wajah suaminya.
"Baiklah.....ini bisa kita bicarakan nanti, ada hal yang lebih penting harus kau tahu" jawab Abrar berbinar.
"Apa itu? Apa aku boleh pulang secepatnya? Aku rindu kamar kita" tanya Alea lagi.
"Hei....kau harus benar-benar sembuh baru kita bisa pulang, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu dan.....calon bayi kita"
Jawaban Abrar mampu membuat Alea terbatuk sendiri.
"Apa? Coba ulangi katamu tadi?"
"Calon bayi kita" jawab Abrar tersenyum sambil mengelus lembut perut rata Alea.
"Sayang jangan bercanda...." Alea mulai kesal dan merasa tersinggung.
"Tidak....aku tidak sedang bercanda, kau mengandung sayang.....hei kita akan jadi orang tua, kau hamil Alea, dokter yang memeriksamu mengatakannya tadi pagi" jawab Abrar meyakinkan.
Alea meneteskan airmata yang segera dihapus oleh suaminya.
"Benarkah? Aku tengah hamil sekarang? Sayang.....ulangi lagi"
Abrar mengangguk semangat, seketika Alea memeluknya erat.
__ADS_1
"Bang Abrar......benarkah yang kau katakan ini?"
"Iya sayang kau tengah hamil 4 minggu, itu yang dokter tadi katakan bahkan dokter memeriksa perutmu dengan USG ketika kau masih terpejam di IGD memastikan bahwa calon bayi kita baik-baik saja, itu pula aku rasa kenapa kau baru saja muntah"
Alea tidak bisa berkata-kata lagi, bagaimana keinginannya selama ini agar bisa hamil seperti teman-teman dan iparnya sudah terwujud, ia mengelus perutnya dengan lembut betapa bahagia Alea mendengar berita itu dari suaminya sendiri, pikirannya menerawang mengingat rasa inginnya yang begitu tajam pada buah mangga muda padahal hari masih sangat pagi ketika ia masih berada di hutan tadi pagi, itu artinya perempuan itu benar tengah mengidam seperti yang disebutkan pria yang menculiknya.
"Bagaimana punggungmu sayang apa masih sakit?" tanya Abrar.
"Tidak....aku tidak merasakan apapun sekarang selain merasa bahagia atas berita ini, aku mencintaimu bang Abrar.....aku sangat bahagia hidup bersamamu, kita akan memiliki bayi yang banyak seperti orang tua ku" jawab Alea manja meringkuk di dada sang suami.
"Aku juga bahagia sayang, maaf aku belum menjagamu dengan baik, aku janji akan mengusut tuntas tentang penculikanmu"
Membuat Alea menelan ludah, ia mengingat dua pria yang sudah menculiknya namun mereka pula yang melepaskannya hanya saja Alea tidak tahu bagaimana nasib mereka yang pasti bos kecil berhasil menangkap mereka hingga sampai ia tertembak juga.
******
Pada malamnya Alea, kembali muntah-muntah setelah makan makanan yang di bawakan oleh mama Eliana, entah kenapa seleranya berubah ia menjadi tidak menyukai apapun sekarang, hanya makan buah saja yang bisa masuk tanpa di iringi muntah setelahnya.
Membuat sang mama menjadi khawatir, Alea sungguh berbeda dengannya ketika hamil dulu, bahkan mama Eliana sangat jarang mengalami muntah berlebihan seperti putrinya saat ini pada semua kehamilannya, yang ada papa Kemal yang sering merasakan itu selama kehamilannya.
Menjaga Alea dengan telaten, membuat mama El bersyukur putrinya menikah dengan Abrar, namun perempuan ini kesal pada suami yang masih saja berdebat tentang penculikan Alea.
"Ayolah papa berhenti menyalahkan bang Abrar, ini terjadi di lingkungan rumah sakit tidak ada hubungannya dengan suamiku tidak menjaga apalagi tidak bertanggung jawab seperti yang papa katakan" kesal Alea pada papanya yang sejak tadi menyudutkan suaminya.
Jawab mama El ikut meluruskan, ia tidak ingin memperpanjang masalah ini yang terpenting baginya putri sulungnya telah kembali dengan baik-baik saja, tentang luka siapapun tidak bisa menolak musibah.
"Huh.....sayang papa hanya tidak ingin ini terulang kedua kalinya" ucap papa Kemal.
"Aku akan berhati-hati lagi setelah ini, bisa kita hentikan kasus ini....aku tidak ingin mengingatnya, ayolah aku tidak ingin stress" kembali Alea menjawab agar papa nya tidak lagi membahas tentang penculikan, ia juga tidak mau dua pria yang telah melepasnya tertangkap dan pasti akan masuk penjara jika papanya sudah bertindak. Alea sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi padanya, ia bersyukur dua pria itu tidak melakukan apa-apa pada malam itu.
Abrar hanya diam saja sejak tadi, ia tidak ingin membantah apalagi melawan papa mertuanya, Alea terus menggengam tangan suaminya memberi dukungan, membuat papa Kemal memutar mata malas melihatnya.
Mama Eliana hanya tersenyum saja, namun tidak berselang lama kembali suaminya mencoba kembali berdebat dengan Abrar tentang penculikan itu, papa Kemal masih saja merasa tidak puas dan ingin mengusutnya bahkan ingin Abrar melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh suami bukan hanya diam saja seperti ini, Alea dan mamanya merasa geram.
"Awww.....perutku sakit" Alea memegang perutnya hingga menghentikan percakapan papa Kemal tentang penculikan, semua panik mendekati Alea.
"Sayang apa yang sakit? Jangan membuat mama cemas Alea" ucap mama El.
Alea menyengir kuda melihat raut semua orang tampak sama paniknya.
"Aku hanya bercanda" jawab Alea tersenyum.
"Alea ini bukan waktunya bercanda...." jawab papa Kemal.
__ADS_1
"Ini juga bukan waktunya berdebat papa....sudah ku katakan ayo kita sudahi perdebatan ini dan hentikan kasus penculikan yang tidak ingin ku ingat lagi, yang terpenting aku baik-baik bukan?" jawab Alea lagi.
Membuat papa Kemal menghembus napas panjang, putrinya memang pandai menjawab segala sesuatu.
*****
Paginya Alea meminta Abrar menemaninya duduk di taman rumah sakit, ia sungguh bosan berada di dalam kamar saja terlebih setelah memuntahkan seluruh isi perutnya, membuat Abrar cemas melihat istrinya tampak lemah namun tidak bagi Alea.
"Sayang ayolah aku bosan, lukaku akan cepat sembuh jika aku rajin bergerak....aku sama sekali tidak merasa lemas aku baik-baik saja sekarang ayo" ajaknya lagi membuat pria itu mengalah dan mengiyakan permintaan istrinya.
Duduk dibangku taman, Alea menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami yang terasa nyaman seraya berjemur matahari pagi.
"Alea.....aku rasa papa ada benarnya, aku juga tidak tenang sebelum membuat perhitungan pada penculik itu, aku akan mengusutnya aku tidak bisa diam saja sayang mereka harus menerima akibat dari perbuatan mereka" ucap Abrar.
"Huh....mulai lagi, kau sama saja dengan papa, bukankah sudah ku ceritakan mereka hanya salah culik, mereka tidak melakukan apapun padaku bahkan mereka juga yang melepasku, memang benar aku tertembak oleh bos mereka, namun itu sudah berlalu sayang....ayo lupakan, aku yakin dua pria itu akan menepati janjinya untuk tidak melakukan pekerjaan itu lagi"
"Kau bahkan mengorbankan cincin pernikahan kita" jawab Abrar sedikit kesal, pada kenyataannya Alea telah menceritakan pada suaminya tentang kejadian di gubuk malam itu.
"Suamiku kan kaya....jadi pasti akan kau ganti nantinya, biarlah mungkin cincin itu menjadi rejeki bagi mereka berdua untuk menjadi lebih baik lagi dan bisa membantu keluarganya, kasihan yang satu istrinya ingin melahirkan yang satu ingin modal menikah. Lagi pula mereka sudah membantuku lepas"
Iya Abrar membenarkan apa yang dikatakan Alea, ia sangat bersyukur istrinya bisa lepas dengan selamat, bagaimana jika mereka melakukan hal yang kejam pada Alea malam itu sedang Abrar saja tidak tahu keberadaan Alea sama sekali, sungguh ia bersyukur sebab cincin itu tidak ada bandingannya dengan sang istri.
Alea menatap suaminya dengan senyum lalu mengecup bibir Abrar gemas.
"Sayang disini banyak orang...." ucap pria itu malu.
"Biar saja" jawab Alea terkekeh.
Matanya berpendar ke ujung taman, ia membesarkan mata ketika melihat dua pria yang baru saja mereka bahas.
"Kenapa mereka bisa ada disini?" gumam Alea dalam hati.
Melihat gerak gerik dua pria itu yang tampak mengawasinya dari jauh membuat Alea takut suaminya melihat dua pria penculik palsu itu.
"Sayang....bisakah kau mengambil ponselku di kamar? Aku ingin menghubungi temanku" pinta Alea.
"Kau tidak apa tinggal disini sendirian?"
"Iya, kau tidak lihat banyak orang disini....ku mohon"
"Baiklah...jangan coba kemana-mana" ucap Abrar seraya beranjak dari sana, Alea hanya mengangguk saja.
Setelah memastikan suaminya kembali masuk, Alea melambai tangan pada dua pria itu dan benar saja mereka mendekat.
__ADS_1