
Nara kagum dengan sikap teman baru yang ia kenal belum lama ini, bagaimana seorang gadis kaya raya membelanya di restoran tempo hari, dari sana ia bisa melihat dan percaya bahwa Sheira benar-benar tulus berteman dengannya.
Kembali bekerja seperti biasa, Nara sama sekali tidak bertemu Dannis selama ia bekerja, selain berbeda lantai tempat mereka bekerja, lagi pula Nara sudah tidak memikirkan untuk mengganggu pria itu lagi terlebih gadis ini tidak ingin gosip mereka muncul lagi setelah para pekerja lain yang bergosip tentangnya pun akhirnya lupa sendiri.
Nara telah membersihkan bagian tanggung jawabnya, Aldo tidak sengaja bertemu gadis ini yang sedang berjalan menuju ruang istirahatnya.
"Tuan Aldo", sapa Nara tersenyum sambil melirik mawar putih di tangan pria itu.
"Hei, berhenti memanggilku begitu aku bukan majikanmu Nara, kau ini ada-ada saja kita sudah berteman kau bisa memanggil ku dengan nama saja", ucap Aldo terkekeh.
"Baiklah, kau mau kemana? ku lihat semua orang di sini masuk ke ruangan yang berada di ujung sana dengan membawa mawar sama seperti mu sekarang?".
"Apa kau tidak tahu Nara? hari ini peringatan tanggal kematian rekan kerja kami Naya, gadis yang menjadi tunangannya tuan Dannis", jawab Aldo seadanya.
"Rekan kerja? apa maksudmu aku belum mengerti, dan tuan Dannis?".
"Iya, Namanya Khanaya dia bekerja di sini menjadi staff kantor di lantai ini juga, dia pula yang menjadi tunangannya tuan Dannis, sampai akhirnya dia meninggal karena mereka kecelakaan satu hari sebelum menikah", jawab Aldo lagi sambil geleng kepala sendu mengingat bahwa Naya adalah rekan kerja yang baik selama ini.
"Benarkah? aku baru mengetahuinya darimu", ucap Nara terheran.
"Menyedihkan bukan? dari mereka aku sadar bahwa tidak semua hal indah yang kita rencanakan bisa tercapai, jika Tuhan mengkehendakinya kita bisa apa selain ikhlas bukan? kami semua menyayangi Naya dia gadis yang baik".
"Aku turut berduka, aku tahu rasanya kehilangan, benar-benar menyakitkan, silahkan maaf aku menghalangi jalanmu", Nara menunduk dan bergeser berniat memberi jalan Aldo.
Aldo mengangguk dan segera berlalu dari sana.
Karena rasa penasaran setelah semua orang sibuk dan bekerja kembali ke ruangan masing-masing, Nara memberanikan diri masuk ke ruangan ujung tempat mereka masuk tadi.
__ADS_1
Mata gadis ini berpendar, melihat bahwa ada banyak mawar bermacam warna di sana, diletakkan di atas sebuah meja dan kursi yang ia yakini itu adalah bekas meja kerja gadis yang bernama Naya seperti yang dijelaskan oleh Aldo tadi.
Di sana tampak pula ada sebuah bingkai photo terpajang di dinding menampilkan senyum seorang perempuan berpakaian rapi khas pekerja di sana.
"Cantik", kata itu muncul dari bibir Nara.
Gadis itu tersenyum namun merasa sedih atas apa yang menimpa perempuan yang berada dalam bingkai tersebut.
"Aku berdoa semoga kau tenang di sana nona Naya", gumam Nara menatap lekat wajah dalam bingkai kaca itu.
"Kasihan sekali tuan Dannis, dia pria baik semoga tuan Dannis mendapatkan kebahagiaan setelah kehilangan tunangannya, badai pasti berlalu nona Naya aku yakin tuan Dannis akan mendapat wanita baik yang bisa menggantikanmu nanti nona, umur tidak ada yang tahu, hidup harus tetap berjalan bukan? semoga tunanganmu ikhlas seiring waktu berlalu".
Gumam Nara pada photo gadis itu, lalu ia membereskan mawar yang berserak dan merapikannya agar terlihat dari indah.
******
Bruk, Nara tidak fokus pada jalannya hingga ia menabrak seorang perempuan yang berada di hadapannya.
"Baiklah.... lain kali berhati-hati jika sedang berjalan", jawab perempuan itu sambil menerima tasnya dari tangan Nara.
Nara segera mengangguk.
"Dannis", panggil perempuan itu pads pria yang sedang berjalan dari arah belakang Nara.
Nara seketika langsung menoleh pada pria tampan yang telah menjadi bosnya.
"Nesya, kau menyusulku? kenapa tidak menungguku menjemput saja?", tanya Dannis saat ia telah berada di samping Nara.
__ADS_1
Nara hanya menunduk takut.
"Kau terlalu lama, jadi aku menyusulmu saja ke sini", jawab Nesya.
Dannis melirik gadis berseragam putih hitam yang masih berdiri di sana dengan heran.
"Ada apa ini? apa dia mengganggu mu?", tanya Dannis pada Nesya setelah menatap tajam Nara di sampingnya.
"Tidak tuan, aku tidak mengganggu nona ini, aku hanya tidak sengaja menabraknya maafkan aku", jawab Nara segera dengan menundukkan kepala takut.
"Dannis, dia benar. Gadis ini tidak sengaja menabrakku, sudahlah ayo kita pergi jangan membuat pegawai mu takut", ucap Nesya tersenyum geli.
"Baiklah, ayo kita pergi aku juga sudah siap.... hei kau kenapa masih di sini? apa kau ingin merepotkanku lagi? pergilah bekerjalah dengan baik jangan ceroboh", ucap Dannis pada Nara.
"Merepotkanmu? apa kau mengenalnya Dannis?", tanya Nesya heran karena gadis ini menatap bagaimana wajah kesal pria yang disukainya ini saat bicara pada Nara.
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Sudahlah dia tidak penting ayo pergi", ajak Dannis pada Nesya tanpa melihat Nara lagi.
Nesya menatap gadis yang masih menunduk itu cukup lama, kemudian ia segera menyusul langkah pria itu dengan cepat namun rasa penasaran nya mulai muncul sejak melihat Dannis menatap dan bicara pada gadis tadi dengan nada kesal dan tajam, padahal gadis itu tidak melakukan kesalahan fatal begitu isi pikiran Nesya.
Nara menatap punggung dua orang tersebut.
"Apa aku merepotkan tuan Dannis lagi? apa aku melakukan kesalahan hingga dia tampak kesal padaku, padahal aku tidak melakukan apapun tuan Dannis, huh.... orang kaya memang susah ditebak".
"Hei.... kenapa bingung seperti itu, ayo kita makan bersama", ajak Aldo yang tidak sengaja bertemu Nara yang tampak melamun di sana.
"Aku.... aku....", Nara ingin menolak.
__ADS_1
"Ayolah aku akan mentraktirmu kali ini kau tidak boleh menolak rezeki, Mery juga sudah menunggu di kantin".
"Baiklah.....", jawab Nara tersenyum.