Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 59


__ADS_3

Alea lelah menunggu suaminya pulang, sebab Abrar mengirim pesan jika akan pulang terlambat karena harus pergi untuk bertemu klien dari perusahaan asing yang akan bekerja sama untuk proyek besar yang akan ditanganinya, akhirnya perempuan ini pun terlelap seperti biasa di atas sofa meringkuk sambil menunggu sang suami membuka pintu.


Abrar keluar dari mobil sambil membuka dasinya dengan raut lelah, ia cukup sibuk hari ini dikarenakan Arkan meminta izin untuk pulang cepat sebelum siang ada sesuatu hal yang harus di urus oleh adiknya perihal rumah tangganya dengan Vina, hingga Abrar lah yang menyelesaikan semua pekerjaan hari itu.


Abrar menggeleng pelan sambil tersenyum melihat Alea kembali meringkuk menunggunya pulang, segera ia gendong tubuh istrinya menuju kamar perempuan itu sudah benar lelap hingga tidak menyadari tubuhnya sudah berada di atas ranjang empuk yang membuatnya bertambah nyaman, Abrar mencium kening istrinya lembut sebelum masuk ke kamar mandi.


Setelah melaksanakan ritual mandinya pria ini pun ikut berbaring disamping sang istri membuat kasur bergoyang dan tentu saja Alea merasakannya, kembali mata indah itu terbuka mendapati sang suami yang ia tunggu sejak tadi telah memeluknya erat dan hendak ikut memejamkan mata.


"Sayang kau sudah pulang? kenapa tidak membangunkanku? aku merindukanmu....kenapa lama sekali" tanya Alea mengecup bibir suamimya gemas dan tangannya ia gunakan membelai rahang Abrar yang berbulu.


"Maaf.....aku sangat sibuk hari ini, tapi sudah selesai, lanjutkan tidurmu aku juga sudah mengantuk" jawab Abrar membalas kecupan di pipi Alea.


Alea menggeleng pelan dan menatap penuh arti.


"Aku menunggumu sejak tadi, ada yang ingin ku katakan padamu ini tentang papa" jawab Alea yang sedang mengumpulkan segala ekspresi yang akan ia tunjukkan agar bisa membujuk suaminya ini.


Abrar menghembus napas pelan, dan sepertinya pria itu masih belum tertarik mendengarnya, namun ia ingin menghargai Alea saja.


"Sayang ayolah dengarkan aku kali ini saja, aku mohon" ucap Alea lagi tangannya masih mempertahankan wajah Abrar agar tidak memutus kontak mata.


"Ada apa lagi dengan pria itu?" jawab Abrar malas.


"Hei....bukan pria biasa dia papa kandungmu sayang, aku hanya ingin memohon untuk terakhir kalinya padamu ayo kita menjenguknya"

__ADS_1


"Huh....bukankah aku sudah pernah katakan aku belum siap Alea, aku tidak tahu apa aku bisa memaafkannya atau tidak"


"Meski untuk pertemuan yang terakhir kalinya?" tanya Alea kesal.


"Apa maksudmu? aku berharap tidak akan pernah bertemu dengannya lagi" jawab Abrar pelan.


"Kau benar-benar jahat bang Abrar, aku kecewa padamu aku kira kemarin kau sudah melunak dengan mau datang ke rumah sakit, ayolah sayang buka hatimu untuk papa....dia sedang sakit sekarang dan tidak tahu apa dia akan bertahan lebih lama lagi atau tidak" jawab Alea yang sudah menangis.


"Papa masuk ruang icu, kondisinya terus menurun dan terakhir ku dapat informasi dari seniorku bahwa papa sudah koma disana, perdarahan dikepalanya sudah meluas, kemungkinan untuknya bangun lagi akan sulit, tidakkah kau merasa kasihan atau setidaknya lihatlah wajahnya yang sudah tua terbaring lemah disana menunggu akhir hayatnya, bisa saja papa sedang menunggu kalian untuk mengikhlaskan...aku sudah tahu pasti keadaan pasien seperti yang papa alami, dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi"


"Ayolah buka hatimu sayang, aku mohon....aku tahu kau menyayanginya, tidak ada anak yang benar-benar benci pada orangtuanya sendiri, kau akan menyesal bang Abrar, kalian tidak bertemu hampir dua puluh tahun, takdir telah menghukumnya dengan sakit ini tidakkah kalian kasihan dia darah dagingmu, bukankah aku pernah bilang darah itu lebih kental daripada air, sudah dua puluh tahun sayang....bukan waktu yang singkat, akhiri kebencian ini, ayo dampingi papa mana tahu ini adalah saat terakhir dari hidupnya"


Ucap Alea sendu, perempuan ini sudah menangis terisak namun suaminya tetap bungkam, lama Abrar menatap wajah Alea yang berusaha membujuknya.


"Dengarkan aku bang Abrar, coba kita kilas balik masa lalu andai tidak terjadi perceraian antara mama dan papamu waktu itu tidak akan mungkin kita bisa bersama sekarang, kau ingat kita bisa dekat karena mamamu berteman dengan mamaku sejak perceraian itu, jika tidak karena ulah papa Agung juga tidak mungkin kau akan menjadi seperti ini dimana mama menikah dengan papa Ricko hingga hidup kalian bisa lebih baik bahkan sampai hari ini kalian disekolahkan dan menjalani hidup jauh lebih baik daripada ketika bersama papa Agung, jika tidak mungkin kaulah yang sekarang di posisi Naura bekerja di toko roti dan mencari nafkah untuk orangtuamu yang tidak memiliki apa-apa, tidakkah kau sadar akan hal ini sayang? kita tidak akan menikah, aku bukan siapa-siapamu jika mama Bella tidak bercerai ketika itu demi menghiburmulah mamaku suka mengundang kalian agar bermain dengan kami hingga tidak menciptakan trauma bagi kalian yang baru saja ditinggal seorang papa, semua masa lalu itu sungguh terasa hikmahnya saat ini, lihat dirimu baik-baik bang Abrar kau bukan siapa-siapa jika mama tidak menikah dengan papa Ricko" ucap Alea lagi tanpa henti.


"Teruslah bersama egomu, posisikan dirimu sekarang jika mengalami sakit seperti papa apa kau tidak mau didampingi putra-putri mu ketika menjelang ajal? bisa saja ini menjadi pertemuanmu yang terakhir kalinya, kau akan kehilangan sosok itu selamanya bang Abrar tenang saja, seperti yang kau sebutkan tadi bahwa kau berharap tidak pernah bertemu dengannya lagi bukan? Tuhan maha mendengar, kau tidak berhak menghukum papa seperti ini, kita sebagai anak akan selalu berbakti pada orangtua terlepas apapun alasannya, soal hukum menghukum bukan urusan manusia, semua perbuatan kita akan diperhitungkan nanti jadi bukan ranahnya manusia apalagi seorang anak kandung yang seolah menghukum ayah kandungnya hanya karena perbuatan dimasa lalu, kau lihat sendiri bukan bang Arkan pun melakukan hal yang sama...berhakkah kita menghukumnya? karena setiap orang pasti akan melakukan kesalahan apapun bentuknya, Tuhan saja maha pemaaf kenapa kau tidak? sesombong itukah dirimu?"


Ucap Alea mengeluarkan seluruh kekesalan dalam hatinya dengan dada kempang kempis menahan emosi sebab sejak tadi Abrar hanya diam saja, ia menghembus napas kasar lalu bangkit dari ranjang, ia ingin lari rasanya dari hadapan lelaki yang menurutnya sangat egois.


Alea mengusap airmatanya, ia berdiri dan menoleh sejenak pada Abrar yang masih mematung.


"Aku akan tidur di kamar sebelah, sepertinya memang hatimu sudah membatu....aku ingin istirahat malam ini tanpa pria yang tega mengabaikan ayahnya sendiri demi terus memelihara ego yang sengaja dibuat-buat selama ini, aku lelah membujukmu bang Abrar....kita tunggu saja kabar duka dari Naura yang mungkin tidak akan lama lagi menghubungiku, dengan kondisi sekarang hanya doa yang bisa menghantarkan papa jika memang ingin menemui ajalnya dalam kesulitan sebab dua putranya yang belum memberikannya maaf"

__ADS_1


Alea memalingkan wajah ingin melanjutkan langkah namun lebih dulu Abrar meraihnya dalam pelukan, pria itu mulai terisak dan membenamkan wajahnya di leher Alea.


"Tidak....sayang maafkan aku, aku memang sungguh bodoh dan egois....kau benar, aku tidak menyangkalnya, maafkan aku Alea....aku pria bodoh yang tidak akan menjadi suamimu jika masa lalu itu tidak terjadi aku bukan siapa-siapa sekarang, iya kau benar sayang....."


Jawab Abrar memegang wajah istrinya dengan tatapan sendu, Alea melihatnya pria itu menangis, belum lagi Alea menjawab Abrar menariknya mengarah ke pintu.


"Mau kemana?" tanya Alea heran.


"Tentu saja ke rumah sakit" jawab Abrar singkat namun sungguh berarti bagi Alea yang mendengarnya.


Perempuan ini langsung berhambur memeluk suaminya, ia mengusap airmatanya sambil tersenyum.


"Aku mencintaimu bang Abrar, aku tahu kau tidak benar-benar membencinya" ucap Alea mengangguk.


Abrar mengecup kening istrinya dengan sayang, lalu kembali menggenggam tangan Alea menuju pintu, namun Alea menahannya.


"Tunggu apa lagi?" tanya Abrar tidak sabar.


"Kau ingin aku ke rumah sakit dengan pakaian seperti ini?" tanya Alea tersenyum dengan penampilan gaun tidurnya yang seksi.


Abrar menepuk keningnya sendiri.


"Ayo bersiap" ajak pria itu lagi menuju lemari pakaian.

__ADS_1


*****


mau lanjut?


__ADS_2