Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 58


__ADS_3

"Bukan, bukan aku maaf kalian salah orang", jawab Nara lagi.


Kedua perempuan yang memakai baju panitia itu saling menoleh satu sama lain.


"Jadi jika bukan nona lalu siapa? hanya kau yang memakai baju berwarna terang di sini, penyanyi kami hari ini akan memakai baju warna seperti pakaianmu makanya kami mengira kau adalah penyanyi nya", jawab salah seorang tersebut.


Nara terdiam, ia baru mencerna ucapan dua orang asing itu lalu ekor matanya menatap kesal wajah Nesya yang sedang tersenyum penuh artu menghadapnya dari jauh.


"Seharusnya aku sudah menduga pasti aku telah dikerjai oleh nona Nesya, aku bahkan lupa bahwa dia menyukai suamiku", Nara bergumam pelan dengan mata berkaca-kaca.


Sungguh gadis ini merasa malu yang sangat luar biasa, ia baru tersadar bahwa sejak tadi banyak pasang mata menatapnya aneh sebab pakaian yang ia kenakan bukan bagian dari tema reuni.


"Maaf, kalian salah orang aku bukan penyanyi yang kalian maksud, maaf aku harus pergi", pamit Nara cepat-cepat ia menghindari dua panitia yang menatapnya tak kalah bingung.


Nara kembali terhenti saat hampir bertabrakan dengan seorang lelaki yang mampu membuat nya menengadah saling menatap satu sama lain.


"Aldo".


"Nara".


Nara menggigit bibir bawahnya merasa malu.


"Nara kenapa kau bisa ada di sini?", tanya Aldo yang berjalan sendiri.


"Aku, aku... aku salah masuk pesta", jawab Nara canggung.


"Begitukah? pantas saja pakaianmu berbeda, apa kau ingin menghadiri pesta pernikahan?", tanya Aldo setelah lama menatap penampilan Nara dari kepala hingga ujung kaki.


Nara terdiam, ia bingung ingin menjawab apa.


"Baiklah, maaf aku banyak bertanya. Apa kabarmu Nara lama kita tidak bertemu", basa basi Aldo.


"Aku baik", jawab Nara singkat.


"Hai Aldo", sapa seorang perempuan berwajah manis menghampiri mereka.


"Hei Naura, kau juga di sini? oh aku tahu apa kau EO acara ini?", tanya Aldo akrab.


"Iya tebakan mu benar, aku EO nya", jawab perempuan yang bernama Naura sambil melirik gadis cantik yang berdandan berbeda dari yang lain.


Lama Naura menatap Nara yang masih menunduk canggung.


"Hei apa kau Khinara?", sapa Naura tersenyum.


Nara menoleh, ia bingung namun gadis ini mengangguk.

__ADS_1


"Apa kau lupa? kita pernah bertemu saat di mall waktu itu? kau ingat aku yang bersama Reno".


Lama Nara berpikir, akhirnya gadis itu mengangguk lagi sungguh ia bingung sekarang ia tengah berhadapan dengan siapa dan dimana.


"Iya aku mengingatnya nona", jawab Nara tersenyum tipis, sungguh ia tidak nyaman berada lama di sana namun belum bisa pergi karena dua orang ini.


"Kau mengenal Nara?", tanya Aldo pada Naura.


Pada kenyataannya Aldo dan Naura bertetangga hingga tak heran mereka mengenal satu sama lain.


"Kau tidak tahu Nara ini adalah istrinya kak Dannis saudara kembarnya kak Alea iparku, kak Dannis masih bos mu bukan?", jelas Naura enteng.


"Apa?", Aldo terkejut atas kenyataan itu, pria ini melirik Nara seakan menanyakan apa benar yang di ucapkan oleh Naura.


Nara kembali menunduk.


"Oh maafkan aku Aldo, ini masih diketahui oleh keluarga saja, mereka akan resepsi beberapa bulan lagi", lanjut Naura menjelaskan ketika tahu raut bingung Aldo dan Nara.


Naura mendekat pada gadis yang mematung itu seraya berbisik, "Maaf aku mengetahuinya dari kak Alea tapi aku juga diberitahu Reno soal kalian yang sebenarnya".


Nara kembali hanya bisa menelan ludah.


"Nara? sungguh aku tidak menyangka kalian benar-benar menikah, aku kira gosip dari Reta adalah berita bohong".


"Kau tahu maksudku Nara, hubungan diam-diam kalian cukup menjadi trending topik di kantor, aku kira hanya hoax tapi aku rasa tidak setelah mengetahuinya hari ini", jelas Aldo tersenyum.


Nara tidak bergeming, ia sungguh malu sekarang.


"Itu artinya kau tidak salah pesta Nara, ini reuni SMA suamimu", ucap Aldo lagi.


Nara merutuki kebohongannya diawal.


"Sudah ayo jangan berdebat, Nara aku tahu kau merasa asing di sini, jika kau tidak keberatan ayo ikut denganku saja, kita bisa cari kak Dannis bersama", ajak Naura tulus.


*****


Nara terus menunduk malu, ia beruntung bisa dipertemukan dengan Naura yang mana gadis itu membawanya untuk duduk agak sedikit menepi dari keramaian hingga tidak terlalu terlihat.


Naura memberinya air minum agar Nara sedikit lebih tenang dari gugupnya.


"Terimakasih banyak nona Naura, aku senang bisa bertemu denganmu di sini jika tidak aku tidak tahu nasibku sekarang, aku sangat menyesal datang kemari, aku benar-benar malu", sesal Nara setelah menerima air mineral dari tangan gadis yang menjadi adik ipar Alea.


"Tenanglah.... apa kau ingin makan? biar ku ambilkan, semua makanan di sini enak kau tahu restoran Reno yang menjadi cateringnya hari ini sayang sekali pria itu tidak bisa datang karena ada acara lain", ucap Naura tersenyum.


Melihat Nara tersenyum canggung membuat Naura tidak enak hati telah menyinggung Reno di depan gadis itu.

__ADS_1


"Hei jangan melamun, aku tahu semua tentang kalian, aku dan Reno berteman baik saat kuliah, aku tahu ini sulit baginya menerima pernikahanmu, tapi yang membuatnya lebih terluka adalah karena kau menikah dengan kak Dannis terpaksa bukan karena cinta terlebih mereka masih bersaudara".


Nara masih diam seribu bahasa, ia mendengar dengan baik apa yang dikatakan oleh Naura.


"Aku juga kasihan padamu, kenapa kak Dannis bisa tega pada perempuan cantik dan polos seperti mu, kau istrinya namun diperlakulan seperti pelayan, Reno begitu marah".


Nara menatap Naura sendu, ia tidak menyangka bahwa perempuan dihadapannya ini tahu segalanya.


"Reno mencintai mu Nara", ucap Naura lagi.


"Aku sudah menjadi seorang istri meski tidak dianggap sekali pun, aku benar-benar berharap yang terbaik untuk Reno agar bisa menata hatinya kembali dan melupakan tentang kami", jawab Nara yakin.


Naura tersenyum.


"Kau sungguh idaman Nara, aku harap kak Dannis bisa melihat mu sebagai istri nya kelak, karena aku tahu kita sebagai perempuan tentu berharap bisa menikah satu kali saja seumur hidup".


"Iya aku juga berharap seperti itu nona, meski sulit.... tidak ada salahnya berharap yang lebih baik bukan? karena aku tidak ingin bermain-main dalam pernikahan", jawab Nara tersenyum pada Naura.


"Aku setuju padamu Nara, kau gadis yang optimis.... aku berdoa untuk kebaikan dalam pernikahan kalian, aku yakin Reno bisa menata hidupnya kembali karena tidak ada patah hati yang abadi bukan?", Naura terkekeh, mereka saling melempar senyum.


Lama mereka bertukar pengalaman layaknya teman yang sudah lama kenal.


Sampai pada Naura diberitahu salah seorang pekerjanya untuk mengurus sesuatu di lain tempat lain.


"Kau tunggulah di sini, aku akan mengantarmu pulang tanpa tahu kak Dannis, di sini ramai aku rasa kak Dannis tidak akan melihatmu".


Nara mengangguk.


"Huh aku bersyukur nona Naura begitu baik meski baru mengenalnya hari ini, setidaknya aku akan selamat dari nasib sial karena nona Nesya pasti ingin membuatku malu", gumam Nara menatap punggung Naura menjauh.


Gadis ini hanya diam dan melihat-lihat takut jika Dannis memergokinya datang ke acara itu, beruntung posisinya memang agak menepi dari yang lain.


Lama menunggu Naura yang belum kembali, sungguh Nara kesal saat ia merasa ingin buang air kecil namun tidak tahu harus kemana.


Karena sudah tidak bisa menahannya, Nara memutuskan untuk bertanya pasa salah satu perempuan yang ia yakini adalah salah satu tamu alumni.


"Maaf nona, bisakah kau memberitahu ku dimana toilet?", Nara bertanya dengan sopan.


Lama perempuan itu menatap penampilan Nara lalu ia menunjuk ke arah dimana Nara bisa ke tempat tujuannya.


"Siapa dia? dia tentu bukan alumni, apa dia salah satu pengisi acara?", perempuan itu bertanya sendiri melihat penampilan Nara dengan heran setelah gadis itu mulai berjalan menuju toilet.


Beberapa menit kemudian, Nara merasa lega telah keluar dari toilet yang mana ia merasa tersiksa saat menahan buang air kecil tadi.


Baru saja akan kembali ke tempat tadi karena ia takut jika Naura mencarinya nanti, matanya membesar saat langkahnya terhenti ketika tidak sengaja berhadapan dengan dua orang pria yang sejak tadi ia hindari untuk bertemu.

__ADS_1


__ADS_2