
...Selamat membaca ...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
"Dion bagaimana ma? Karin menemaninya kan?" lirih papa Hengki begitu beliau sadar.
"Jangan banyak gerak dan bicara dulu pa. Papa masih belum sembuh benar." ucap mama Herna.
"Apa kata dokter? Dion gimana ma?" papa Hengki tetap menanyakan hal itu.
"Pa,,, Papa masih lemah. Jantung papa kambuh lho. Mama gak mau papa anfal lagi kalau dengar berita aneh aneh. Yang jelas Dion sudah dapat perawatan terbaik rumah sakit ini. Dia masih dalam tahap observasi." jawab mama Herna.
"Kenapa harus diobservasi segala? Memangnya Dion kenapa sih ma? Bilang sama papa ma,,,"
Detik berikutnya papa Hengki terbatuk batuk. Mama Herna segera bangkit dari duduknya dan mengambil posisi mendekati papa Hengki seraya membantu mengusap usap punggung dan dada papa Hengki.
"Tuh kan mama bilang juga apa. Papa masih lemah. Kalau papa memang sayang sama Dion dan ingin segera tau kondisinya ya papa harus sehat dulu.Jangan mikir macam macam. Pokoknya Dion udah dapat perawatan terbaik."
Mama Herna tak tega jika harus memberitahu keadaan dan kelumpuhan Dion pada papa Hengki yang baru sadar itu. Untungnya papa Hengki menurut dan mau kembali beristirahat.
"Karin sama bayinya apa bisa ikut jaga di sini ma? Biasanya di rumah sakit tidak diperbolehkan bawa bayi kan?" tanya papa Hengki lagi begitu mama Herna membantu membaringkannya.
"Pa,,,sudah jangan banyak berpikir dulu. Papa harus ingat kondisi papa sendiri. Dan pikirkan mama juga. Mama butuh papa. Kalau papa seperti ini terus,,siapa yang beri mama kekuatan? Sudah ya,,, Jangan semua hal papa pikirkan. Sekarang yang terpenting kesehatan papa dulu."
Papa Hengki kembali mengangguk bukan karena beliau percaya begitu saja namun memang kondisi beliau yang belum memungkinkan untuk memikirkan banyak hal. Papa Hengki masih terlalu lemah.
"Mama tinggal dulu nemui dokter ya pa. Biar mama tau kondisi Dion terkini seperti apa." pamit mama Herna.
"Iya ma. Panggilkan saja Darwin biar menemani papa di sini." titah papa Hengki.
"Iya papa tunggu ya." mama Herna segera keluar memanggil Darwin, sopir mereka.
"Ingat ya,,,kalau tuan tanya soal Karin kamu harus jawab apa. Awas macam macam!" mama Herna memperingatkan Darwin sebelum lelaki itu masuk ke ruang inap papa Hengki.
__ADS_1
"B,,,Bbb,,,baik nyonya." Darwin gugup.
"Kamu juga Mela. Ingat kan harus gimana??!!" pandangan mama Herna beralih pada asisten rumah tangganya.
"Iya,,Iya nyonya." Mela juga gugup.
Mama Herna tersenyum puas karena baik Darwin dan Mela takut pada ancamannya. Setidaknya mereka tidak akan membocorkan berita tentang Karin.
Mama Herna melenggang ditemani Mela menuju ke ruang inap Dion yang mana mereka belum diperbolehkan masuk. Hanya bisa melihat dari kaca yang membatasi ruangan itu. Terlihat Dion dengan kondisinya yang masih dibalut perban disana sini dan masih dengan alat alat medis yang mama Herna sendiri tidak tau apa kegunaan dan fungsi masing masingnya.
"Kasihan kamu Dion. Menikah dua kali tidak juga membuatmu menemukan kebahagiaan. Ada saja cobaannya. Semoga kamu kuat ya nak menjalani hari harimu ke depannya. Mama tidak akan pernah biarkan wanita pembawa sial itu kembali mengusikmu. Wanita itu harus disingkirkan sejauh mungkin." batin mama Herna.
"Mela,,, ambilkan ponselku." titah mama Herna yang segera dilaksanakan oleh Mela.
Mama Herna menelpon seseorang yang dipercayanya bisa mengatasi masalahnya sekaligus menyelesaikannya. Mama Herna tersenyum puas saat jawaban di seberang menyatakan kesiapannya untuk membantu.
"Baiklah kalau begitu. Urus secepatnya ya. Pokoknya aku mau semuanya bersih dan terjamin kerahasiaannya." titah mama Herna.
"Baik nyonya. Saya mengerti dan akan segera saya lakukan. Saya akan segera kabari nyonya begitu semuanya siap. Nyonya tinggal perintahkan saya untuk segera mengeksekusinya." jawab orang di seberang.
Mela yang mendengarkan di samping mama aherna hanya makin merasa bersalah kepada Karin jika ia tetap menutup mata, telinga dan bibirnya. Tapi apalah daya,,, ia terikat dengan nasibnya yang masih membutuhkan pekerjaannya.
Keluarga Dion memang tergolong murah hati dan tidak perhitungan dalam memberikan gaji meski itu kepada asisten rumah tangga sepertinya. Dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak banyak berbeda di tempat tempat lainnya namun dengan gaji yang dua kali lipat lebih tinggi tentu membuat siapa saja yang sudah bekerja di sana enggan melepaskan diri.
"Awas ya kamu Mel,,, awas kalau sampai semua ini sampai ke telinga tuan atau pun Dion. Kamu tau sendiri akibatnya nanti,,," ancam mama Herna.
"Ampun nyonya. Mela tidak berani." jawab Mela takut takut.
Meski ini baru pertama kalinya baginya dan Darwin mengetahui bahwa nyonya yang biasanya lembut dan baik hati itu ternyata bisa juga berbuat dzalim kepada menantunya begini,,, namun justru karena sebelumnya mereka tak pernah melihat hal serupa membuat mereka makin takut karena mereka tidak bisa menebak nebak apa saja yang bisa dilakukan nyonyanya itu pada mereka kalau sampai mereka berani membocorkan rahasianya.
"Bagus."
Di kamar inap papa Hengki,,Darwin mengucapkan permisi sebelum memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Masuklah Win,,," lirih papa Hengki.
"Bagaimana keadaan tuan? Apa sudah merasa lebih baik?" tanyanya prihatin.
"Aku masih tidak jago Win. Masih lemah." jawab papa Hengki seraya mengulas senyum tipisnya.
Darwin merasa sangat iba kepadanya. Tuannya yang baik hati itu jika saja bisa digantikan posisinya maka Darwin rela melakukannya. Tuannya itu sudah terlalu banyak melakukan hal baik untuknya.
"Tuan akan segera pulih. Tuan orang baik. Tuhan tidak akan membiarkan orang baik ini menderita lama lama." ucap Darwin tulus.
"Terima kasih Win. Kemarilah,, Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Jantung Darwin berdegup kencang seketika saat papa Hengki bicara demikian. Darwin segera sibuk memutar otak menyiapkan segala jawaban. Darwin seakan bisa menebak apa yang akan dipertanyakan oleh tuannya.
Pelan namun pasti Darwin mendekati papa Hengki. Dengan sopan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang pasien.
"Ada apa tuan?" tanyanya sopan.
"Apa benar kondisi Dion belum bisa dipastikan?" tanya papa Hengki.
"Benar tuan. Karena mas Dion belum sadar jadi pihak dokter belum bisa memastikan. Setau saya demikian tuan." jawab Darwin gamblang karena memang benar begitu adanya.
Darwin juga tidak tau mengenai kelumpuhan Dion karena memang mama Herna hanya terbatas saja mengatakan kepadanya soal Dion. Darwin paham,,, siapa dirinya dan keterbatasannya.
"Siapa yang menjaganya Win?"
"Nyonya tuan." kembali jawaban gamblang itu diberikan Darwin tanpa menyadari bahwa tuannya hanya sedang memancingnya.
"Nyonya?"
"Benar tuan."
"Lalu di mana Karin? Bukannya seharusnya Karin yang menjaga suaminya. Delvara bisa dirawat oleh Mela sementara waktu bukan?"
__ADS_1
Darwin pucat pasi mendengarnya. Dia baru sadar jawabannya tadi malah menjebloskannya dalam situasi sulit seperti ini.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...