Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Belajar Dewasa


__ADS_3

...Hai,, Selamat membaca ya 🤗 Maafkan typo yang bertebaran 🤭🙏...


...🌸🌸🌸...


"Bagaimana kondisi istri saya dok?? Apa dia baik baik saja?? Bagaimana dengan bayi kami??? Sehat kan dok?? Kenapa bisa sampai pingsan istri saya dok?? Normalkah seperti itu???"


Dion memberondong dokter dengan banyak pertanyaan membuat sang dokter hanya tersenyum saja. Beliau paham pasti suami pasiennya ini sangat cemas.


"Tenang tuan tenang dulu. Saya jawab satu satu ya." dokter bicara dengan sabar.


"Iya dok. Maaf anak saya terlalu cemas dan panik." papa Hengki maju dan ikut bicara.


"Iya dok maklum ini anak pertamanya." mama Herna turut bicara.


"Baiklah saya paham. Saat ini kondisi ibu dan bayi baik baik saja. Istri anda sudah siuman tapi sedang istirahat lagi. Suster masih mempersiapkan agar pasien bisa segera dibawa ke ruang rawat inap." ucap dokter.


"Alhamdulillah,,," seru semuanya bersamaan.


"Tapi dok,,, kalau semua baik baik saja kenapa istri saya bisa pingsan ya?? Dokter yakin dia tidak ada salah makan atau penyebab lainnya??" tanya Dion lagi.


"Maaf tuan,,, Bisa kita bicara di ruangan saya??" tanya dokter balik.


Dion mengangguk mengiyakan.


"Mama ikut. Mama mau tau kenapa Karina bisa begitu juga. Kan biar ke depannya mama tau apa yang boleh dan gak boleh dilakukannya." ucap mama Herna.


Dion tidak keberatan. Ketiganya lalu menyusul langkah dokter yang sudah mendahului.


"Silahkan." dokter mempersilahkan.


"Jadi ada apa dan kenapa dok dengan menantu saya??" mama Herna gak sabar lagi.

__ADS_1


"Sebenarnya saya kurang nyaman bicara selain dengan suami pasien dalam hal ini." jawab dokter.


"Tidak apa apa dok. Ini mama saya yang akan lebih sering bersama istri saya di rumah saat saya bekerja. Beliau berhak tau apa yang terjadi dengan istri saya agar ke depannya beliau bisa menyikapi kalau terjadi sesuatu lagi. Saya harap sih tidak akan ada lagi kejadian seperti ini." ucap Dion.


"Baiklah kalau begitu tuan. Saya tidak akan sungkan. Berdasarkan pemeriksaan,,, nyonya dan tuan baru selesai melakukan hubungan suami istri. Betul??" tanya dokter.


Tanpa malu atau rasa canggung Dion langsung mengangguk mengiyakan. Baginya tidak perlu malu mengakuinya meski ada mama dan papanya karena ia dan Karin telah menikah sah. Wajar bukan kalau suami istri melakukan hubungan suami istri??


"Jadi nyonya itu mengalami kontraksi. Kram perut yang muncul, baik sebelum, selama, atau setelah berhubungan intim dikenal dengan istilah Dispareunia. Dalam banyak kasus, kram perut setelah berhubungan intim diakibatkan oleh tekanan yang dalam." jelas dokter.


Dion antusias mendengarkan karena ia merasa memang meski melakukannya dengan lembut tetap saja ia tak puas jika tak menekan lebih dalam. Kini ia mulai merasa menyesal telah membuat istrinya kesakitan.


"setelah berhubungan badan masih dapat dikatakan wajar, karena saat orgasme terjadi otot-otot ****_* berkontraksi. Keluhan seperti ini mudah diatasi tapi tetap tidak boleh dianggap sepele ya tuan. Karena ini bisa jadi juga tanda adanya komplikasi kehamilan." lanjut dokter.


"Loh kata dokter tadi menantu saya baik baik saja kan??" protes mama Herna.


"Benar ibu. Untuk saat ini memang tidak ada tanda tanda adanya komplikasi. Tapi kalau boleh saya sarankan agar tuan dan nyonya,,, membicarakan berdua bagaimana baiknya masalah hubungan suami istri. Akan lebih baik lagi jika memang bisa ditahan dulu sampai setidaknya melewati trimester awal." ucap dokter lagi.


"Tuh Dion,,,dengerin dokter. Jangan nempel aja sama Karina." ketus mama Herna.


"Bukan tidak boleh nempel nyonya,, tapi sebaiknya dikurangi dulu intensitasnya." dokter tersenyum memahami wajah Dion yang menunjukkan keberatan itu.


Setelah dirasa cukup penjelasan dokter,,, mereka pun meninggalkan ruangan itu dan menuju ke ruang rawat inap Karin.


"Gimana kondisimu sayang??" Dion langsung mengusap kepala Karin yang rupanya sudah bangun.


"Om papa,,, Bayi Karin???" tatapan penuh kecemasan tampak di mata Karin.


"Sehat sayang. Baby D itu kuat." jawab Dion.


"Kuat tapi kalau mamanya gak bisa jaga nafsu dan kendalikan diri lagi ya entah bagaimana nanti. Apa benar masih kuat apa tidak!!"

__ADS_1


Karin langsung menoleh ke arah sumber suara. Mama Herna tampak tidak senang duduk dan memperhatikan mereka.


"Mama!!! Makin kasar deh ngomongnya." protes Dion.


"Benar kan?? Dokter tadi bilang begitu juga hanya saja bahasanya lebih lembut karena ia dibayar dan takut dilaporkan tidak sopan. Kalau versi kasarnya ya seperti ini." sahut mama Herna.


"Ya tapi kan itu bukan salah Karin saja. Dion juga salah." Dion tentu membela istrinya.


"Ini ada apa sebenarnya om papa?? Karin kenapa?? Baby D kenapa??" airmata Karin mulai meleleh.


"Ini akibat kalau kamu itu menikahi daun muda seperti Rina. Masih doyan doyannya sama begituan. Jadi belum bisa kontrol diri. Coba kalau dulu Hana yang hamil,,, tentu tidak seperti ini. Dia akan lebih bisa mengatur dan memahami porsinya." mama Herna tiba tiba menyebut satu nama yang asing di telinga Karin.


"Apaan sih mama ini kok bawa bawa Hana juga?? Hana udah gak ada ma." ketus Dion.


"Hana??" Karin memandang dua bola mata Dion meminta penjelasan.


Belum sempat Dion menjelaskan apa apa,,,mama Herna sudah mulai bicara lagi.


"Kenapa memangnya?? Hana itu wanita baik,, dewasa dan gak kekanak kanakan. Kamu bilang dia sudah gak ada,,,benar. Dia memang tidak ada sekarang di antara kita tapi di hati mama dia tetap menantu mama!!!" tegas mama Herna.


"Cukup ma!!!" ketus Dion.


Karin mengerti. Wanita itu adalah mantan Istri Dion yang sempat membuat suaminya itu menutup pintu hatinya pada siapa pun sampai akhirnya takdir mempertemukan mereka berdua.


Tapi apa perlu nama dan kebaikan serta sifat dewasa wanita itu dibahas saat ini??? Karin sedikit menyayangkan tindakan mama Herna yang terkesan membanding bandingkan antara dirinya dan wanita bernama Hana itu.


"Sayang,,, nanti om papa jelaskan ya. Jangan ambil hati bicara mama." pinta Dion.


"Memang tidak perlu diambil hati tapi ambil pelajaran dari bicara mama ini Rina. Mama itu sayang sama kamu sama juga dengan mama sayang sama Hana. Tapi saat ini mama ingin kamu belajar dewasa biar bisa seperti Hana. Dengan begitu kamu tidak akan melakukan hal hal yang bisa bahayakan calon cucu mama. Anak kamu!!" sela mama Herna.


"Ma,,,!! Kita pulang. Mama di sini bukannya menenangkan Karin malah buat dia pusing dan bertanya tanya. Mama bilang gak mau terjadi apa apa kan sama cucu kita?? Kalau benar begitu,,, berhenti bicara macam macam." tegas papa Hengki.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


Dukung author dengan vote, like dan komen ya 🌸❤️🌹


__ADS_2