Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Istanbul


__ADS_3

...Selamat membaca ...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Bandara baru Istanbul yang sudah diklaim sebagai bandara terbesar di dunia ini mampu memukau mata Karin dan Pak Adi. Keduanya begitu kagum melihat kemegahan bangunan ini. Ada dalam benak mereka selintas pertanyaan,,, "Apakah ini buatan manusia?" saking bagusnya designnya.


Tapi di balik rasa kagum itu tetaplah terselit segumpal kesedihan yang mungkin akan terus membekas dalam hati Karin. Karin mulai bertanya tanya apakah yang harus dikatakannya kelak pada Delvara tentang semua ini.


Akankah Delvara menyalahkannya atas keputusannya pergi dari sang papa? Akankah sang putra murka karena merasa dipisahkan dari sang papa? Atau lebih parahnya,,, akankah sang putra menyalahkannya karena ia telah membawa sang putra dalam kehidupan yang belum tentu arah dan tujuannya ini?


Karin bimbang sejenak.


"Apakah Del akan merasa menyesal hidup bersamaku karena Karin bahkan tak punya pekerjaan atau pun tempat tinggal saat ini? Sedangkan papanya sudah pasti bisa menjamin hidupnya dengan segala yang ia punya. Sebenarnya Karin bisa saja percaya pada papanya tapi Karin tak yakin neneknya akan memperlakukannya dengan baik." lirih Karin sambil matanya mulai berkaca kaca.


Pak Adi yang sudah mendengar semua cerita Karin selama dalam perjalanan panjang di pesawat tadi hanya meraih bahu putrinya itu.


"Apa yang kamu lakukan ini justru sudah benar nak. Suatu saat Delvara sudah besar, dia akan mengerti dan bahkan sangat berterima kasih padamu karena telah mengambil keputusan besar ini. Ia akan paham bahwa ini bukan perkara kecil,,, ia akan bangga karena mamanya meski hanya perempuan biasa namun berani mengambil keputusan besar. Bahkan mamanya ini masih tetap memegang prinsip hidupnya saat pergi menjauh dengan menolak uang pemberian mereka meski mamanya ini tau ia bahkan tak punya uang banyak saat ini. Papa bangga sama kamu nak,,, Begitu juga Delvara kelak."


Pak Adi membesarkan hati dan jiwa Karin. Beliau tak ingin putrinya menyesal dengan apa pun keputusan yang telah diambilnya karena itu memang sudah keputusan yang benar. Menjauhkan Delvara dari tangan yang bisa saja membahayakan nyawanya adalah tindakan benar.


Pak Adi tidak menyalahkan Dion dalam hal ini mengingat menantunya itu mungkin belum tau atau sadar akan semua yang menimpa anak istrinya ini. Meski begitu jauh dalam hatinya,, pak Adi yakin suatu saat menantunya itu pasti akan datang mencari mereka. Menantunya itu bukan orang bodoh yang akan terima begitu saja dengan kepergian anak istrinya.

__ADS_1


"Percayalah,,, papanya akan mencari dan menemukan kalian. Saat ini mungkin ia hanya berbaring tak berdaya atau bahkan mungkin masih berjuang untuk hidupnya sendiri. Papa harap kamu sebagai istrinya tetap mendoakan yang terbaik untuk suamimu itu nak. Meski kamu belum tau seperti apa keadaannya saat ini dan ke depannya,,, tetaplah berdoa untuknya. Karena doa istri solehah itu pasti didengar olehNYA." ucap pak Adi kemudian.


"Itu pasti Karin lakukan papa. Tapi bagaimana dengan kehidupan kita? Kita bahkan belum punya,,,,"


"Nak,,, papa akan berusaha semaksimal mungkin untuk kita semua. Kita tidak akan hidup susah terus. Papa hanya minta kamu sabar dulu selama papa berusaha ya. Papa punya keahlian dan papa ingin menebus semua kekacauan dalam kehidupan keluarga kita yang papa ciptakan di masa lampau. Papa ingin membuatmu kembali percaya bahwa papa ini adalah papa terbaik. Dukung papa ya nak,,,"


Karin tak bisa lagi menahan airmatanya. Semuanya lolos begitu saja apalagi mendengar kesungguhan papanya itu. Karin memeluk pak Adi dengan penuh kasih sayang.


"Papa memang yang terbaik. Dan selalu terbaik." ucapnya.


Delvara menggeliat seolah keberadaannya tak ingin dilupakan begitu saja oleh ayah dan anak itu.


"Iya sayang iya. Opa juga akan buktikan sama Del,,, kalau Opa ini adalah Opa terbaik juga. Opa akan jaga kalian berdua apa pun yang terjadi. Sampai nanti suatu saat papamu datang dan melindungi kalian kembali." pak Adi mencomot pipi gembul sang cucu yang kemudian sedikit menangis karena kesakitan.


"Semoga kamu kuat ya nak. Dukung mama dan Opa. Kita bertiga buktikan pada dunia bahwa kita bisa hidup tanpa bergantung dari uang nenekmu. Bukan gengsi namun ini adalah prinsip hidup kita. Namun apa pun yang akan kita lalui ke depannya,,,mama harap kamu Jangan pernah membenci nenekmu,,,apalagi papa. Mama yakin papa hanya sedang tidak mampu melindungi kita saat ini tapi suatu saat nanti,,, Papa akan datang. Kita doakan papa bersama sama ya sayang. Nenek juga kita doakan semoga Allah membuka mata hatinya dan bisa menerima kehadiranmu sayang." bisik Karin pada telinga Delvara.


Pak Adi yang bisa mendengar bisikan itu tersenyum bangga. Putrinya benar benar menjadi seorang bidadari tak bersayap. Meski sudah disakiti sedemikian rupa namun hatinya tak pernah membenci siapa pun yang menyakitinya. Bahkan ia tetap mendoakan yang terbaik bagi mereka.


"Baiklah,,, Ayo sekarang kita cari tempat tinggal terlebih dulu. Kasihan Delvara kalau tidak segera mendapat tempat berlindung." kata pak Adi.


"Iya pa,,,Kita bisa pakai uang tabungan Karin dulu. Karin ambil saja semua untuk biaya hidup kita sementara sambil tunggu papa dapat pekerjaan ya." ucap Karin yang ingat dirinya masih punya tabungan berbentuk deposito dolar yang bisa dicairkan di mana pun meski jumlahnya tidak banyak.

__ADS_1


"Iya nak. Papa janji akan kembalikan nanti kalau papa sudah kerja ya sayang." ucap pak Adi.


"Tidak perlu papa. Itu kan juga kita pakai bersama." Karin tersenyum.


"Baiklah. Ayo kita mulai kehidupan baru kita bersama sama dari sini. Kita besarkan Delvara bersama sama. Kita ciptakan keluarga kecil dengan kehidupan yang bahagia di sini. Semoga Tuhan senantiasa memberikan jalan bagi kita." pak Adi sangat bersemangat.


"Aamiin,,," sahut Karin.


Semangat keduanya mulai membara kembali. Istanbul yang menawarkan segala keindahannya ini pasti bisa memberikan kebahagiaan untuk mereka. Dengan lindungan Tuhan tentu semua akan baik baik saja.


Setidaknya begitu keyakinan Karin.


Sementara itu di sebuah ranjang pasien rumah sakit,,, Dion kembali membuka matanya. Mengedip beberapa kali dan tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri.


"Ya Allah apa yang terjadi padaku?" lirihnya setelah ia mampu mengingat jelas semua yang terjadi sebelumnya.


"Tuan Dion. Anda sudah sadar." ucap dokter yang dipanggil perawat.


"Di mana anak istri saya? Di mana Karin dan Delvara?" tanya Dion panik dan berusaha bangun begitu menyadari dalam ruangan itu tidak tampak anak istrinya.


"Kenapa saya tidak bisa merasakan tubuh saya dok?" Dion panik.

__ADS_1


"Tenang tuan. Anda harus tenang terlebih dulu. Jangan memaksakan kondisi anda. Anda masih sangat lemah." dokter mengingatkan.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2