
Alea terpaksa mendatangi rumah tempat tinggal saudara kembarnya, ia menjadi khawatir ketika papa Kemal menghubunginya memberitahu tentang Dannis yang tidak memberi kabar sudah satu minggu ini, terlebih ponsel pria itu sangat sulit dihubungi.
Alea bersama suaminya datang ke sana meski hari masih sangat pagi, saudari kembar Dannis ini cukup cemas memikirkan hal yang tidak-tidak yang mungkin terjadi pada saudara lelaki nya itu, sebab Alea tahu Dannis tidak pernah seperti ini sebelumnya tidak memberi kabar dan menghilang dari kantor tanpa alasan yang jelas.
"Ada apa dengan Dannis, mereka kemana? mobil nya ada", Alea terus menekan bell rumah itu bahkan sudah berulang kali namun tidak ada yang keluar dari sana.
"Sayang tenanglah, mana tahu mereka tidak sedang di rumah", sela Abrar menenangkan istrinya.
"Aku yakin terjadi sesuatu, Dannis tidak pernah seperti ini bang Abrar, kau tahu itu", jawab Alea kesal.
Abrar hanya bisa menghela napas, memang benar ia juga merasa bahwa Dannis tidak sedang baik-baik saja, tidak mungkin iparnya itu meninggalkan kantor sudah satu minggu, tidak memberi kabar hingga sekarang.
Alea terus menelepon, hingga ia merasa lega saat ponsel mereka mulai terhubung.
"Hallo Dannis, kau dimana? jangan membuatku khawatir", cerca Alea saat Dannis baru saja menerima telepon.
Diluar dugaan, ternyata Alea menjadi lebih khawatir saat saudara kembarnya itu menerima telepon dengan suara lemah seperti orang yang sedang sakit.
"Bang Abrar.... Dannis ada di kamarnya, ayo buka paksa saja, ya Tuhan.... dia semakin membuatku khawatir, sepertinya dia sedang sakit", ucap Alea pada suaminya dengan risau.
Abrar kembali pada mobilnya, mengambil sesuatu yang ia pikir bisa membobol pintu rumah iparnya itu.
Tidak lama berselang, pintu bisa dibuka yang Alea telah berlari menuju kamar Dannis tanpa berpikir panjang.
Langkah Alea terhenti saat membuka kamar pria yang menjadi saudara lelakinya itu, dimana mata perempuan cantik ini melihat betapa kamar itu tampak berantakan, sampah di mana-mana, pakaian kotor, kemudian ia melangkah cepat menuju ranjang yang Dannis masih meringkuk di sana.
"Dannis", panggil Alea dengan tangan yang meraba kening pria itu.
"Alea", lirih Dannis lemah.
"Kau demam, ada apa denganmu Dannis? kenapa jadi seperti ini? mana istrimu?".
Dannis diam saja, untuk membuka mata saja ia sangat malas.
"Kau kenapa Dannis? ayo katakan sesuatu, jangan membuat kami semua cemas, kau tidak ke kantor selama satu minggu, kau juga sulit dihubungi sekarang aku menemukan mu dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini", ucap Alea menatap sekeliling.
Abrar yang baru saja menyusul juga tak kalah terkejut dengan keadaan kamar itu terlebih ia sudah sejak masuk tadi melihat rumah itu menjadi berantakan di mana-mana.
Satu hal yang menarik mata lelaki yang menjadi suami Alea itu ketika kakinya menginjak sebuah kertas yang sudah kotor yang telah keluar dari sebuah map yang tak jauh dari sana.
Dannis tiba-tiba memuntahkan seluruh isi perutnya, membuat Alea kembali cemas, ia mengurut punggung saudara kembarnya itu dengan pelan agar membantu Dannis.
Matanya beralih pada sebuah cup mie instan yang berada di atas nakas.
"Kau makan mie instan? huh pantas saja kau muntah, apa yang terjadi padamu sebenarnya Dannis", gerutu Alea, ia tahu bahwa jika Dannis makan mie instan di malam hari maka pria itu akan memuntahkannya ketika pagi.
__ADS_1
"Sayang, Dannis sedang dalam masalah serius, aku rasa ini pula yang menyebabkan dia bisa seperti itu", panggil Abrar seraya memberikan sebuah kertas yang baru saja telah ia baca isinya.
Alea menerima dan betapa terkejutnya dia ketika membaca isi surat perceraian Dannis dan Nara yang itu, ia bahkan menutup mulut dengan mata berkaca-kaca menatap Dannis yang tampak sangat lemah.
"Dannis?".
Dannis menggeleng.
"Tidak, itu bukan apa-apa.... kami tidak akan berpisah Alea, tidak akan", jawab Dannis lemah sebelum ia memejamkan matanya yang cekung itu lagi, bukan tidur melainkan tidak sadarkan diri.
******
"Bagaimana apa kau nyaman bekerja di sini?".
Nara mengangguk dengan senyum terbaiknya.
"Aku sangat senang bekerja di sini, kau tahu aku suka menghias kue, terimakasih Reno kau baik padaku".
"Itu bukan apa-apa sayang.... kau meminta apapun juga akan ku berikan", jawab Reno terkekeh menggoda Nara.
"Berhenti memanggilku sayang, perutku ingin muntah mendengarnya", jawab Nara memutar bola matanya malas.
"Jika ada yang jahat padamu beritahu aku, akan ku pastikan mereka dipecat jika berani padamu".
"Berhenti menyebut nama pria pengecut itu", kesal Reno.
Nara hanya tertawa pelan seraya geleng kepala.
"Baiklah, maafkan aku.... tapi, apa kau tahu bagaimana kabarnya sekarang?".
"Cih..... Kenapa bertanya padaku? aku bukan pengasuhnya, jangan membuatku kesal karena pertanyaan konyolmu Nara, baru juga satu minggu berpisah, kenapa kau suka sekali membuat ku cemburu".
Nara terkekeh melihat raut kesal Reno, mereka berhubungan baik hingga sekarang meski keduanya tidak lagi menjalin hubungan yang dulu hampir menikah jika saja Nara tidak ke kota.
Pada kenyataannya, Reno menyembunyikan sesuatu yang ia ketahui bahwa orangtua nya menghubungi pria itu mengatakan bahwa Dannis datang ke rumah orangtuanya kemarin hanya karena mencari Nara hingga menudingnya menyembunyikan Nara di villa.
Tentu saja Reno menjadi pihak yang bahagia akan perpisahan Dannis dan Nara, ia tahu bahwa Dannis tidak pernah memperlakukan Nara dengan baik selama menikah, tentu saja Reno masih mencintai perempuan itu yang akan ia perjuangkan kembali setelah tahu bahwa kesempatan mulai terbuka meski Nara belum resmi menjadi janda.
Istri Dannis ini merasa nyaman dan bersyukur bisa diterima bekerja di sebuah toko cake & bakery ternama di kota itu, terlebih ia diterima baik meski tidak memenuhi syarat bekerja di sana yang harus mempunyai ijazah minimal SMA, namun tentu karena bantuan Reno ia bisa diterima.
Toko kue dan roti itu bukanlah Reno sebagai pemilik, melainkan temannya yang ia minta untuk menerima Nara bekerja di sana, meski ia mengelola beberapa restoran kakeknya tentu Reno memperhitungkan jika Nara bekerja di sana maka perempuan itu akan mudah bertemu Dannis, sebab Dannis sering mengadakan pertemuan atau hangout bersama rekan bisnisnya di sana.
Nara difasilitasi tempat tinggal yang tentu Reno lah dalangnya tanpa diketahui olehnya, pria itu hanya berdalih bahwa perusahaan temannya itulah yang menanggung tempat tinggal dan bonus catering makan sehari-hari tanpa mengurangi gaji, hingga Nara bisa menerima gaji utuh setiap bulannya.
*****
__ADS_1
Alea terus berjalan kesana kemari menunggu kedua orangtuanya menyusul dari bandara menuju rumah sakit tempat Dannis terbaring sekarang.
Setelah memastikan saudara kembarnya itu beristirahat dan telah mendapatkan tindakan medis atas banyak masalah kesehatan yang terjadi pada pria itu.
Bagaimana tidak Dannis mengalami demam tinggi, kekurangan cairan hingga gula darah yang cukup jauh menurun dari normal karena tidak makan dengan baik, bahkan pria itu hanya makan satu kali sehari selama seminggu terakhir itupun dalam porsi kecil hingga hanya memakan mie instan saja.
Abrar terus menenangkan istrinya itu, ia rela tidak ke kantor hari ini sebelum mertuanya datang, di dalam kamar rawat Dannis ditemani oleh adik perempuannya Syasya yang kebetulan sedang libur kuliah.
"Alea", panggil mama El yang berjalan cepat menuju anak perempuannya berada.
"Mama, papa", Alea lega orangtuanya telah menyusul dengan selamat.
Mereka berpelukan, Alea menangis begitu saja membuat mamanya heran.
"Alea kenapa kau menangis? jangan membuat mama takut, ada apa dengan Dannis apa dia baik-baik saja?".
"Mama, papa Dannis Dannis.... Dannis dan Nara", ucapannya menggantung saat Abrar menggeleng bahwa tidak tepat memberitahu masalah Dannis sekarang.
"Sayang kau kenapa? Dannis hanya demam bukan? Alea bicaralah dengan tenang, mana Nara?", tanya papa Kemal mengusap airmata anak perempuannya itu.
"Sebaiknya, kita bicara setelah papa dan mama melihat keadaan Dannis dulu", ajak Abrar menengahi.
Mama El mengangguk cepat, mereka menuju kamar dimana putra sulung keluarga itu tengah terpejam dengan selang infus di tangannya.
"Mama, papa kalian sudah tiba....", sapa Syasya memeluk papa dan mamanya bergantian.
"Kak Dannis sejak tadi mengigau memanggil nama istrinya", ucap Syasya setelah mama El mendekati ranjang, mengusap rambut putranya dengan sayang.
"Mama lupa, mana Nara?".
"Dannis seperti ini ada alasannya ma, Dannis dan Nara akan bercerai", jawab Alea yang sejak tadi menahan ingin segera mengatakannya.
"Apa?", sahut papa Kemal dan mama El berbarengan.
Abrar hanya bisa menghela napas kasar, sungguh istrinya tidak sabar menunggu padahal mertuanya itu baru saja sampai.
Alea mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikan pada mama El yang menatap penuh tanya.
Mama El membacanya dengan perlahan, ia menelan ludah berkali-kali dadanya mulai sesak merasa kekurangan oksigen untuk bernapas, kepalanya tiba-tiba pusing dan kakinya terasa lemas untuk berpijak.
Demi apa, baru saja kembali dari kota tempat Delila tinggal dimana anak perempuannya mengalami kecelakaan yang bisa saja mengancam kehamilan, sekarang ia pulang setelah merasa lega Delila sudah lebih baik namun kepulangan mereka disambut Dannis yang terbaring sakit, bukan itu melainkan disambut oleh sebuah surat perceraian yang tertera jelas nama putra dan menantunya di sana.
Bugh.
Eliana jatuh pingsan setelah matanya membaca yakin bahwa memang nama putranya Dannis yang tertera di sana.
__ADS_1