
"Dannis.... kau ingin membawaku kemana?".
"Kita akan pulang sayang, ke rumah kita", jawab Dannis enteng sambil terus mengemudi fokus, sesekali ia mengecup tangan istrinya yang terus ia genggam sejak tadi.
Nara kembali diam, meski masih kesal dan pusing karena digendong terbalik oleh Dannis tadi, namun wajahnya terlihat merona saat Dannis menatapnya penuh cinta.
Ia teringat sesuatu, ia melepaskan tangannya yang digenggam Dannis lalu mencari ponselnya dalam tas.
Baru saja akan menghidupkan layarnya, tiba-tiba Dannis merampas ponsel itu dan membuangnya sembarang ke bangku penumpang bagian belakang.
"Dannis, apa yang kau lakukan?", Nara terkejut dan melihat ponselnya sudah dilemparkan oleh Dannis.
"Kau tidak akan menghubungi siapapun sayang".
"Kau menyebalkan, aku harus memberitahu paman, ayolah Dannis pamanku bisa kehilangan".
"Tidak perlu meminta izin siapapun, kau istriku".
"Dannis", bentak Nara kesal.
Dannis terkekeh saja, ia menepikan mobilnya di halaman rumah mereka.
"Kita sudah sampai sayang", ucap Dannis seraya membuka pintu bagian Nara dan menggendong perempuan itu dengan mesra.
"Aku bisa jalan sendiri", bantah Nara.
"Tidak boleh", jawab Dannis santai.
Meski kesal, namun Nara tidak menolak ia sudah cukup lelah dengan drama culik menculik pagi ini yang mengharuskannya tidak masuk kuliah.
Dannis membawa istrinya itu ke meja makan, mendudukkan Nara di kursi.
"Sudah, jangan marah lagi oke.... aku mencintaimu, kau lapar? kita bisa makan, aku akan memasak untukmu", bujuk Dannis yang mencium seluruh wajah istrinya.
Nara menatap Dannis dengan bibir yang maju ke depan.
"Memangnya kau bisa masak? aku tidak lapar, aku sudah sarapan dari rumah, kau tidak lihat ini jam berapa aku harus kuliah", rengek Nara lagi.
"Kau akan bolos hari ini sayang, aku merindukanmu.... aku tidak peduli dengan apapun kau akan ku kurung hari ini", balas Dannis mengecup bibir Nara sekilas.
Nara kembali hanya bisa menghela napas kasar.
"Duduk, aku akan memasak untukmu".
__ADS_1
"Aku masih kenyang, tapi jika kau lapar biar aku yang buatkan kau makanan", tawar Nara melunak, ia tidak tega jika harus melihat suaminya memasak.
Dannis menoleh, pria itu sungguh mengembangkan senyumnya mendengar kata-kata dari Nara yang tampak sudah melunak.
Dannis meraih pinggang perempuan yang telah berdiri itu dengan mesra, ia raih wajah Nara mengecup bibir istrinya dengan lembut, Nara menerimanya, tentu tidak memungkiri ia pun merindukan suaminya.
Melihat reaksi Nara, Dannis melakukan yang lebih hingga mereka terbawa suasana, berciuman lama sampai Nara merasa tubuhnya melayang saat Dannis kembali menggendongnya mesra.
"Bukankah kau mau makan?", tanya Nara yang sudah mengalungkan tangan di leher suaminya.
Dannis menggeleng.
"Tidak, aku rasa kita butuh ranjang sekarang", jawab Dannis tersenyum yang sudah melangkah menjauh dari dapur menuju kamarnya berada, menaiki tangga dengan bibir yang menyatu bersahutan dalam ciuman yang dalam.
Nara menerima seluruh perlakuan Dannis, ia dapat merasakan Dannis memberikan seluruh perasaan padanya.
Dannis membaringkannya di ranjang, berciuman yang tiada henti hingga tubuh mereka sama-sama merasa panas akan gairah yang memuncak, Dannis melepas bibir Nara sejenak menatap istrinya penuh damba.
"Apa kau masih mens? jangan menggantungku seperti kemarin", tanya Dannis serius.
Nara terkekeh, ia menggeleng seraya mengecup rahang Dannis dengan sedikit menggoda dengan wajah yang merah.
Melihat itu Dannis menjadi berbinar, ia bersyukur dalam hati.
"Yess! itu yang ku butuhkan sayang".
"Dua-duanya, kau milikku Nara.... aku mencintaimu", jawab Dannis lalu mengunci bibir mungil Nara untuk tidak menjawab lagi.
Dannis bermain di leher, membuat Nara melenguh.
"Sayang itu geli", ucap Nara manja.
"Geli atau enak?".
"Dua-duanya", jawab Nara tersenyum saat Dannis menatap wajahnya sejenak.
"Kau membuat ku gila sayang", jawab Dannis yang kembali liar.
Mereka benar-benar melakukannya, melakukan hubungan suami istri untuk kedua kalinya, ketiga dan seterusnya.
Bercinta dipagi yang menjelang siang, hanya mereka yang tahu, hanya derit ranjang yang berbunyi, kamar yang terang oleh sinar matahari yang masuk di celah jendela, menampilkan pasangan yang tengah memadu kasih merajut cinta yang lama tertunda.
Dannis dan Nara menyatu di ranjang, bukan hanya tubuh namun juga perasaan mereka, iya perasaan saling menerima dan mencintai.
__ADS_1
Melihat Nara kewalahan, Dannis menghentikan aksinya, ia menatap wajah Nara penuh cinta dan peluh keringat.
"Aku mencintai mu", ucap Dannis dengan perasaan dalam.
"Kau tidak berbohong?".
"Kau tahu aku sedang berbohong atau tidak sayang".
Nara membelai wajah suaminya dengan pelan.
"Aku percaya padamu".
"Itu yang ku butuhkan sayang", balas Dannis tersenyum.
"Aku juga mencintaimu Dannis, sangat mencintaimu", jawab Nara mengecup hidung mancung suaminya cukup lama.
"Ingin lanjutkan? kita bisa pakai gaya baru", goda Dannis menggigit bibir istrinya pelan.
"Tidak, ini saja masih sakit", rengek Nara.
"Sakit atau enak?", goda Dannis lagi.
"Dannis".
"Ayolah".
"Kau tidak kasihan padaku kesakitan?".
"Baiklah, aku pegang saja", jawab Dannis dengan tangan yang sudah di bawah.
Nara menggeliat geli.
"Hentikan tanganmu".
"Tidak akan".
"Sayang", rengek Nara lagi.
Bergumul di bawah selimut tebal, entah apa yang mereka lakukan hanya mereka mengetahuinya.
Sesekali terdengar suara rintihan di bawah sana, rintihan kenikamatan tentunya.
******
__ADS_1
Nanti aku lanjut ya jika tidak sibuk, maaf slow up karena di dunia nyata author punya bayi yang kadang rewel kadang tidak, jadi waktunya menyesuaikan kapan mereka tenang.
Oke siap lanjut.