
Nara menunduk hormat dan berterimakasih pada pria yang berdiri di hadapannya ketika mereka sudah di pintu keluar hotel.
"Ternyata bukan hanya tampan namun juga baik pria-pria di kota ini", gumam Nara tersenyum menatap punggung lelaki yang kian menjauh.
Nara bernapas lega setelah menemukan jalan keluar dari hotel saat seorang pria tampan yang berbaik hati mengantarkannya agar tidak tersesat kembali. Namun senyum gadis ini pudar kembali ketika mengingat ia tidak punya uang sepeserpun untuk melanjutkan niat pulang kampung.
Namun tidak berselang lama, dahinya mengernyit heran tatkala ia memasukkan tangannya ke saku jas yang ia pakai.
Senyumnya kembali mengembang ketika mendapati sebuah dompet dari jas tersebut.
"Dompet? ck..... kau beruntung untuk kesekian kalinya Nara", gumam Nara pelan dengan wajah bahagia.
Segera ia buka dompet itu dan seketika matanya menangkap sesuatu di sana, yaitu sebuah foto kecil terpajang, foto perempuan berwajah manis di sana.
"Hmmm.... apa ini kekasih tuan itu? atau istrinya? mati aku.... jika istrinya tahu bahwa suaminya telah bermalam dengan seorang gadis kampung seperti ku, orang kaya bisa melakukan apapun, lihat saja aku hampir dijual oleh bibi karena mendapati paman menyukaiku", Nara menjadi bergidik ngeri membayangkan jika istri pria yang menolongnya semalam sampai tahu.
"Lagi pula kami tidak melakukan apapun, aku bahkan tidak tahu nama pria itu".
Nara melihat isi dompet itu sambil tersenyum, ia begitu lega ketika mendapati ada banyak lembar uang tunai yang ia yakini cukup untuk ongkosnya pulang kampung dan makan siang hari ini.
"Maaf tuan, aku mohon pinjami aku uang ini untuk ongkos pulang, nanti pasti akan aku kembalikan", gumam Nara lagi.
Lalu ia memeriksa lagi dompet tersebut yang di dalamnya terdapat banyak kartu di sana beserta identitas pria itu yaitu KTP dan kartu nama, lalu Nara membacanya.
"Namanya Dannis? baiklah tuan Dannis, anda begitu baik sehingga meminjami ku jas sekaligus bonusnya, tenang tuan akan aku kembalikan jas dan dompet ini setelah aku pulang nanti".
"Ah.... tidak-tidak, aku harus mengembalikan dompet ini segera bagaimana jika tuan Dannis memerlukan kartu-kartu ini, dia sudah baik padaku", oceh Nara sambil berjalan menuju jalan raya.
__ADS_1
"Tetapi tidak mungkin aku mengembalikannya sekarang, aku mencapai pintu keluar hotel ini saja harus menanggung malu pada tuan Alan yang berbaik hati mengantarku, bagaimana jika aku masuk lagi dan mencari tuan Dannis bak mencari jarum ditengah jerami, huh lagi pula aku lelah setidaknya beri waktu untukku beristirahat agar otakku berpikir dengan baik", kembali Nara hanya sibuk bicara sendiri menjawab pun sendiri.
Nara terus melangkah hingga ia benar-benar keluar dari lingkungan hotel. Ia seperti kebingungan, sebab ia tidak pernah berada di kota sebelumnya, melihat jalan raya yang besar dan dipenuhi mobil berlalu lalang membuatnya kian pusing.
Tidak lama ia berjalan kaki menyusuri trotoar, Nara melirik toko baju di samping ia berdiri, tanpa berpikir panjang segera gadis ini masuk toko berniat membeli baju yang sopan untuknya berganti.
"Huh..... ini baru nyaman, penampilanku tadi benar-benar menyedihkan".
Nara tidak menghiraukan beberapa orang bahkan pelayan toko memandanginya heran, ada pula yang menyela bahwa penampilannya seperti wanita malam, ia tidak peduli hal itu.
Setelah membeli baju dan langsung berganti di toko tersebut Nara melanjutkan perjalanan yang bahkan gadis ini pun tidak tahu harus kemana.
******
"Ayolah bung, kau tahu sendiri bahwa orang yang sudah meninggal tidak akan hidup lagi, hidupmu harus tetap berjalan teman, sampai kapan kau akan mengorbankan waktu tidurmu hanya karena sebuah mimpi".
"Berhenti menceramahiku, kau saja tidak punya kekasih hingga sekarang, memangnya kau menunggu siapa?", jawab Dannis santai sambil mengepulkan asap rokok ke atas.
"Sepertinya aku akan menunggu adikmu Syasya menyelesaikan kuliahnya", goda Alan.
"Kau akan ku bunuh jika menginginkan adikku, tidak boleh", Dannis melempar kotak rokok pada temannya itu, membuat mereka sama-sama tertawa.
"Hei, bagaimana jika kau menerima perasaan Nesya? bukankah dia mencintaimu selama ini? Nesya dan Naya tentu tidak jauh berbeda bukan?".
"Kenapa jadi membahas ini? kau tahu sendiri aku hanya menganggapnya teman sekaligus saudara saja tidak lebih, entahlah aku merasa benar-benar telah kehilangan separuh hidupku, aku juga bingung bagaimana jika aku akan menjadi bujang seumur hidup, akan sangat menyedihkan bukan?",
Dannis geleng kepala atas ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Kau saja yang jadi bujang seumur hidup, aku tentu saja tidak mau, jika aku jadi kau aku tentu akan menikahi Nesya, karena mereka tidak jauh berbeda bukan, lagipula cinta bisa tumbuh kapan saja, jadi jangan menutup diri Dannis, aku jadi ngeri bisa saja kau menyukaiku jika lama-lama seperti ini", Alan tertawa dan bergidik ngeri membayangkan Dannis menyukainya.
Dannis hanya geleng kepala dan melempar bantal sofa pada temannya.
"Berhenti membahas itu, aku harus pergi sekarang untuk mengurus beberapa kartu yang hilang bersama dompetku, menyebalkan sekali membantu seorang wanita malah aku menjadi sial begini", ucap Dannis kesal sambio berdiri memperbaiki penampilannya sebelum pergi.
"Cantik tidak? itu artinya kau masih bisa diperdaya oleh wanita Dannis, lihat saja kau sampai memberinya jas sekaligus dompetmu, ha ha ha", Alan terkikik geli mendengar cerita sahabatnya tentang kejadian semalam.
"Aku tidak peduli dia cantik atau tidak, bukan urusanku.... yang menjadi urusanku sekarang adalah harus membuang waktu mengurus isi dompet itu", jawab Dannis kembali kesal.
"Terserah kau saja, yang terpenting ku lihat wajah sahabatku ini sudah ekspresif, wajahmu sudah tidak tegang seperti biasa, sebenarnya aku muak melihatmu meratapi kepergian Naya seakan kau tidak menerima takdir".
"Kau benar, hidup harus tetap berjalan bukan? meski aku sulit tentu aku juga tidak ingin hidupku sia-sia dengan meratapi takdir buruk yang menimpaku", ucap Dannis berjalan pelan dengan tangan ia masukkan ke saku celana menuju jendela, matanya berpendar melihat jalan raya yang lalu lalang terlihat dari kantor Alan.
"Aku yakin kau akan terbiasa tanpa Naya, ini sudah satu bulan, kau akan melewatinya sampai ada seseorang yang mampu mengambil hatimu kembali, aku yakin itu teman, semangatlah.... kau lihat jalan raya itu, seperti itulah hidupmu.... harus terus berjalan sampai kau menemui tujuanmu".
Alan menepuk pelan pundak temannya ini seakan memberi semangat, Dannis hanya menoleh dan tersenyum tipis. Tidak ada yang tahu isi hati pria ini yang berubah dingin sejak kehilangan tunangannya Naya.
*****
Nara memutuskan untuk pulang kampung memakai uang yang ada di dompet Dannis, gadis ini sudah tidak tahan hidup di kota yang membuatnya tersesat berkali- kali.
Nara berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan kembali ke kota untuk mengembalikan dompet sekaligus uang yang ia pinjami.
Gadis ini tidak sabar untuk bertemu Reno tunangannya, ia ingin bercerita dan berbagi cerita sedih yang ia alami selama di kota, karena hanya Reno dan keluarga pria itu yang memperlakukannya dengan baik.
"Aku akan pulang bu, aku harap kau tidak terkejut bahwa aku sekarang baik-baik saja, aku akan melepaskan Reno jika itu yang kalian inginkan, tetapi setidaknya jangan hancurkan hidupku dengan membuangku ke kota seperti ini, aku tidak sekolah tinggi seperti Ranti, aku tidak akan bisa bertahan hidup di sini untuk waktu yang lama karena tempatku hanya di desa saja".
__ADS_1
Gumam Nara sambil menunggu angkot yang akan membawanya ke terminal bis.