Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Nasi Sudah Menjadi Bubur


__ADS_3

...Selamat membaca ...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


"Nyonyaaaa,,, tuan nyonya,,,,"


Mela yang melihat mama Herna berdiri tak jauh darinya langsung menghambur. Mama Herna membisu seakan tenggorokannya tercekat oleh bayangan buruk tentang papa Hengki.


Mama Herna berjalan lunglai dibantu oleh Mela. Mendekati ruang inap papa Hengki yang masih dipenuhi oleh tenaga medis yang berusaha memberikan tindakan.


Darwin dan Mela membantu mama Herna untuk duduk.


"Tuan kenapa Mel?" lirih mama Herna hampir tak terdengar.


Sebenarnya beliau enggan menanyakannya karena takut jawaban Mela akan makin membuatnya seperti kehilangan tenaga. Mama Herna takut akan fakta yang ada. Apalagi Mela yang ditanya juga malah menangis membuat mama Herna makin yakin telah terjadi hal buruk pada suaminya.


Mungkin saja beliau akan kehilangan suaminya. Membayangkan itu membuat mama Herna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tersedu di balik sepuluh jari itu.


"Sabar dulu ya nyonya. Dokter belum menyerah atau pun memberikan penjelasan pada kita. Tuan itu kuat nyonya. Tuan pasti bertahan demi nyonya dan mas Dion." Darwin yang lebih tegar mencoba membesarkan hati mama Herna.


"Sebenarnya tuan kenapa Win? Apa yang terjadi setelah ku tinggal tadi?" tanya mama Herna di sela isakannya yang mulai terdengar mereda.


"Tuan tadi hanya diam. Tapi tiba tiba nafasnya seperti putus putus nyonya. Tuan memegangi dadanya terus. Makanya saya segera panggilkan dokter." Darwin menjelaskan.


Mama Herna kembali tersedu membayangkan pria yang dikasihi selama puluhan tahun itu tengah kesakitan.


"Apa karena ucapanku tadi ya Mel? Apa karena tuan tau kondisi Dion ya? Aku hanya ingin dia cepat sembuh makanya aku katakan semuanya padanya. Aku ingin dia berjuang melawan penyakitnya dan mendampingiku makanya aku katakan kondisi Dion seperti apa. Dia tau aku tidak akan kuat sendirian begini,,,," ucap mama Herna lalu kembali tersedu.


"Sabar nyonya,,,, Yang kuat. Sebaiknya kita semua berdoa untuk kesembuhan tuan dan mas Dion." Mela berkata lembut sambil mengusap usap punggung mama Herna.


Mama Herna menggangguk dan menyeka airmatanya saat terdengar suara pintu di buka.

__ADS_1


"Bagaimana dok? Suami saya kenapa?" mama Herna langsung mendapat kekuatan untuk berdiri dan menghampiri dokter.


"Sebaiknya nyonya temui pasien sekarang juga." dengan wajah ditekuk dokter itu berbicara seakan waktu yang tersedia hanya sedikit.


Mama Herna mengerti arti tatapan mata dokter dan wajahnya itu. Dengan segera beliau masuk dan setengah berlarian mendekati ranjang pasien.


"Paaa,,,," mama Herna langsung menangis melihat suaminya yang begitu terlihat lemah tak berdaya dengan segala macam peralatan medis menancap di tubuhnya.


Diraihnya jari jemari yang terasa tak bertenaga itu lalu ditempelkannya di pipi kanannya. Mama Herna kembali tersedu. Sesekali diciuminya juga tangan lemah itu. Mela dan Darwin yang ikut masuk pun tak berdaya untuk tidak terbawa suasana. Mereka juga menangisi tuan baik hati yang sepertinya tak punya banyak waktu lagi bersama mereka.


"Ma,,," lirih papa Hengki begitu pelan sampai hanya mama Herna yang mendengarnya.


"Iya pa. Mama di sini. Papa cepat sembuh." jawab mama Herna masih diiringi lelehan airmata yang tak ada habisnya


"Ja,,,ngan bu,,,bu,,,nuh Di,,,on." papa Hengki terbata bata karena nafasnya benar benar sesak namun beliau merasa beliau harus mengatakannya.


"Papa ini bicara apa? Mana mungkin mama bunuh anak sendiri." mama Herna yang belum paham maksud bicara itu langsung menyela.


"Pa,,,mama gak ngerti maksud papa." mama Herna merasa bodoh dan kembali menangis.


"Papa,,, me,,,nyerah ka,,,ka,,,karena,,, papa ti,,,tidak sang,,,gup hidup dan me,,,lihat Di,,,on menderita." sangat sulit papa Hengki menyelesaikan perkataannya.


"Ccc,,, Cari Kk,,,Karin dan Del,,,Vara ma. Me,,, me,,, mereka a,,,a,,, adalah nya,,,wa Dion. Jjj,,,Ja,,,Jangan pi,,,pi,,,pisahkan me,,,me,,,mereka."


Tiiiiiiittttttt,,,,,


Layar monitor yang semula seperti grafik naik turun kini hanya menggambarkan sebuah garis lurus. Bersamaan dengan itu tim medis yang masih berada di sana segera mendekat dan memberikan pertolongan secepatnya. Dengan harapan nyawa pasien masih bisa diselamatkan.


Mama Herna yang ditarik Mela hanya bisa menangis dan menangis. Melihat tim dokter yang setelah mencoba berbagai cara namun terlihat tak ada hasilnya dan salah satu perawat menutup tubuh lemah itu dengan selimutnya,,, mama Herna mengerti bahwa kini separuh hatinya itu telah pergi ke tempat dimana dirinya tak bisa mengejar.


Detik berikutnya,,, mama Herna merasa kedua lututnya pun bahkan tak mampu menyokong tubuhnya. Mama Herna pun limbung ambruk.

__ADS_1


"Nyonyaaa,,,," pekik Mela yang hampir tak bisa menahan berat tubuh mama Herna.


Darwin segera membantu dan dibantu oleh perawat juga. Mama Herna diberikan perawatan pertama di ruangan itu. Kebetulan ruang kelas atas itu menyediakan dua buah ranjang yang satunya diperuntukkan untuk keluarga pasien yang ingin beristirahat.


Sekitar setengah jam berlalu,,Mama Herna siuman.


"Papaaa,,," pekiknya langsung turun dari ranjang tempatnya dibaringkan menuju ranjang papa Hengki yang masih belum dibawa ke ruang jenazah.


"Bangun pa,,, Banguuunn,,," mama Herna mengguncang guncang tubuh tak bernyawa itu.


"Maafkan mama Pa,,, Mama yang harusnya mati bukan papa. Mama yang salah pa,,, Mama pa,,," tangis sendu itu makin terdengar pilu.


"Bangun paaa!!!" sekali lagi mama Herna mengguncang tubuh yang telah menjadi mayat itu.


Darwin tak membiarkannya. Dihelanya dengan pelan tangan mama Herna agar tak terus mengguncang guncang jenazah papa Hengki.


"Jangan begini nyonya. Kasihan almarhum." Darwin mengingatkan.


"Tuan Win,,, Tuaaaann,,," tangis mama Herna.


"Iya nyonya. Nyonya harus sabar dan mengikhlaskannya agar jalan beliau dilapangkan. Agar beliau diampuni dosa dosanya dan mendapat tempat terindah di sisiNYA. Aamiin,,," ucap Darwin.


"Tuan tak punya dosa Win,,, Aku yang banyak dosa. Aku sudah membunuh suamiku sendiri Win,,, Aku yang membunuhnya,,,Aku ini pembunuh Win,,, Pembunuh,,," mama Herna makin histeris.


"Istighfar nyonya,,, Istighfar,,," Mela ikut mengingatkan meski ia sendiri juga masih larut dalam kesedihan.


Kesedihan itu juga bukan hanya kesedihan biasa melainkan dipenuhi dengan rasa bersalah juga karena telah ikut andil dalam drama kepergian Karin hanya karena mereka tergiur oleh gaji yang berlipat ganda. Meski di akhir hayatnya rupanya papa Hengki tau itu semua tidak benar dan merupakan rekayasa mama Herna,,, tetap saja terselip rasa bersalah yang teramat besar dalam hati Mela dan Darwin.


"Maafkan Mela tuan,,," batin Mela dan tentu saja kalimat yang sama juga terucap dalam hati Darwin.


Nasi sudah menjadi bubur,,, Yang bernyawa kini telah kembali kepada pemilikNYA dengan membawa sejuta derita. Tinggallah mereka yang bernyawa yang tak bisa melawan takdirNYA,,, terluka dan terjerumus dalam lembah penyesalan akibat perbuatannya sendiri.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2