Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Delavar Abdimandala


__ADS_3

...Selamat membaca...


...🌸🌸🌸...


Oeeee,,,,Oooeeeee,,,,


"Alhamdulillah,,,"


Dion langsung mengusap wajahnya dengan sepuluh jarinya begitu suara tangis bayi terdengar dari dalam ruang di mana Karin sedang berjuang melahirkan buah hati mereka.


Kini ia menjadi tidak sabar menunggu dokter keluar dan menyampaikan apa jenis kelam"in bayinya. Tidak masalah sih bagi Dion mau anaknya cewek atau cowok. Meski sebelumnya juga hasil USG terakhir memberi bocoran bahwa bayi mereka laki laki tapi tetap saja Dion takut tiba tiba berubah.


Konyol kedengarannya tapi nyatanya pernah salah satu temannya menceritakan pengalaman istrinya hamil sampai melahirkan. Saat di USg berjenis perempuan malah mereka sangat antusias membeli semua perlengkapan bayi perempuan. Nyatanya saat lahir bayinya laki laki.


Dion tertawa sendiri mengingat raut wajah temannya yang bercerita itu. Membayangkan jika itu menimpa dirinya juga. Tentu dia akan kalang kabut juga membeli perlengkapan bayi lagi.


90% persiapan kelahiran bayi memang sudah disiapkan oleh Dion dan Karin tapi tetap saja ketika tiba waktu bersalin,,, jantungnya masih berlompatan.


"Bagaimana dok? Anak dan istri saya? Mereka baik baik saja kan?" Dion langsung menghampiri dokter yang keluar dari ruang tindakan.


"Selamat bapak,,, Bayinya laki laki. Sehat dan normal. Ibunya juga sehat tapi masih dalam tahap pemulihan. Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang inap dan bapak bisa menemuinya ya." dokter mengatakannya sambil tersenyum.


"Alhamdulillah. Terima kasih banyak dokter." Dion menjabat tangan dokter dan sangat lega mendengar semuanya.


Baru saja dia hendak mengabari keluarganya, ponselnya berbunyi.


"Wah sahabat gue satu ini emang paling ngerti kapan musti telpon gue. Tau aja gue lagi senang dan mau berkabar." Dion langsung nyerocos begitu menjawab telpon dari Darren.


"Lagi seneng??" Kening Darren mengkerut.

__ADS_1


Di otaknya saat ini adalah Dion pasti sedang dilema menghadapi Hana dan Karin. Tapi ini kok malah bilang lagi seneng?


"Iyalah gue lagi seneng. Suami mana yang gak seneng kalau istrinya sudah melahirkan? Gue jadi papa bro,,, Finally." Dion begitu bersemangat.


"Alhamdulillah,,, Congrats ya bro. Akhirnya ada yang panggil lo papa. Jadi ponakan gue cewek apa cowok? Karin gimana? Sehat kan?" Darren kini ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.


"Cowok dong. Calon pengganti sang papa yang keren ini. Tapi gue malah belum lihat anak istri gue karena kata dokter mereka masih menyiapkan kamar inap dan segala sesuatunya. Ini tadi gue baru mau kesana." Dion tetap terdengar sangat bersemangat.


"Iya sabar dulu. Biarkan mereka dapat perawatan yang terbaik dulu." ucap Darren.


"Oh ya,,, lo apa kabar? Gue udah tepatin janji gue buat move on dan melanjutkan hidup. Gue udah menikah lagi,,, gue jadi papa sekarang. Dan sekarang giliran lo untuk semangat hidup." ucap Dion.


Nada bicaranya kali ini menyiratkan kesedihan mengingat kondisi Darren yang sering naik turun. Dion masih tidak sanggup jika harus kehilangan sahabatnya itu.


"Gue baik baik saja dan gue sedang ikut bahagia dengan berita baik ini. Akhirnya gue jadi om gantengnya anak lo. Tapi bro,,, ada yang ganggu pikiran gue saat ini." kata Darren dengan suara perlahan lesu.


"Ada apa? Lo beneran baik baik saja kan? Please bro,,, di hari bahagia gue ini gue mau semua orang bahagia juga termasuk lo. Jangan bilang sakit lo tambah parah lagi." Dion berganti cemas.


"Tentu saja." sahut Dion mantap.


"Termasuk Hana?" tanya Darren lagi.


"Lo sudah tau masalah Hana?" tanya Dion balik.


"Sudah. Dia sendiri yang mengatakannya meski belum semua tapi justru itu yang buat gue kepikiran. Gue tau Hana gak bahagia dengan kelahiran anak lo ini dan justru itu buat gue cemas. Hana itu kadang suka bertindak di luar kendali. Latar belakang keluarga beragama kadang tidak jadi penghalang. Lo jelasin ke gue kenapa bisa jadi begini? Kenapa adik gue itu ada di rumah lo dan jadi calon istri lo lagi? Lalu Karin??"


Darren sampai terengah engah mengatakannya karena emosinya sangat terbawa suasana. Dia mencemaskan Karin dan anaknya sekaligus Hana dan calon bayinya. Dia ingin Hana bahagia tapi tidak dengan mengorbankan Karin juga.


"Bro gue tau lo gak mau gue bertindak gegabah atau menyakiti salah satu di antara keduanya. Lo percaya gue ya. Gue bisa urus itu. Untuk saat ini gue minta lo sabar dulu ya bro. Gue masih ingin bersukacita dengan kelahiran anak gue. Bisa kita bahas masalah Hana lain kali saja? Gue janji akan kasih tau lo semuanya." pinta Dion.

__ADS_1


"Baiklah bro. Gue ngerti. Sampaikan salam gue ke Karin ya. Kirim video anak lo juga nanti. Gue mau lihat secakep apa sih ponakan gue itu." ucap Darren tak ingin lagi mengganti kebahagiaan sahabatnya dengan beban urusan Hana.


"Ok i will,,, Take care ya bro. Ingat lo harus sehat biar bisa kesini ketemu langsung sama anak istri gue. Eh gak gak,,, gue yang bakal bawa mereka pulang ke Jakarta biar bisa dekat sama kalian semua di sana." ucap Dion.


Darren mengiyakan dan Dion pun segera masuk ke ruang inap di mana di sana sudah ada Karin dan bayinya yang menunggunya.


"Nah itu dia papa sayang,,, Ayo kasih salam sama papa." kata Karin mengajak bicara baby D yang hanya mengerjap ngerjap berusaha mencerna apa yang didengarnya.


"Mashaallah lucunya,,,," mata Dion berkaca kaca melihat mahkluk mungil yang wajahnya merupakan percampuran antara wajahnya dan Karin.


Alis yang hitam dan tegas khas ala dirinya dan hidung mancung ala Karin,,, Bibir mungil khas Karin dan tulang pipi yang jelas ala dirinya.


"Om papa Sayang,,, udahan ya nangisnya. Adzankan dulu putra kita." Karin menyentuh tangan Dion yang masih termangu dan terus menangis menyaksikan sendiri salah satu keajaiban dan kebesaran Tuhan di depan matanya itu.


"Iya sayang,,,Sini biar om papa gendong dia ya."


"Hati hati ya om papa." dengan pelan Karin menyerahkan putranya ke tangan Dion.


Sekali lagi Dion menangis bisa menggendong titipan tuhan kepadanya itu.


"Welcome to the world baby Delavar Abdimandala." Dion lantas membisikkan kalimat adzan di telinga putranya setelah mencetuskan nama lengkap bayinya itu.


"Delavar?" tanya Karin usai Dion menyelesaikan adzannya.


"Om papa beri dia nama Delavar agar kelak anak ini memiliki kemauan keras, bakat bisnis, dan wibawa. Ia terlahir untuk melakukan bisnis. Kan papanya ini jago bisnis,,, putranya juga harus jago dong." ujar Dion menyombongkan diri.


"Hmm dasar papa ya nak,,, workaholic. Masih bayi saja kamu udah diharapkan bisa berbisnis." protes Karin tapi dengan nada tanpa protes karena ia sendiri juga suka dengan nama itu.


...🌸🌸🌸...

__ADS_1


...Kalian suka gak nama itu? Author nyontek dari mbah gugel lho itu 😆...


Kirim hadiah, like, vote dan komennya ya buat author ❤️


__ADS_2