Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 20


__ADS_3

Hening, sampai pada sebuah suara memecahkan suasana yang tampak tegang.


"Paman? apa paman tidak malu berciuman di hadapan kami yang masih anak-anak?".


Alea membesarkan mata, segera ia bungkam mulut dan menutup mata kedua putra kembarnya.


"Nara? kak Dannis?", ucap Sheira ternganga, membuat semua mata menatap gadis ini penuh tanya.


Masih hening.


Nara berdegup kencang, dimana adegan terjatuhnya dia bukan hanya adegan biasa melainkan ikut terjatuhnya tubuh Dannis menimpa gadis itu, bukan hanya menimpa yang membuat manik mereka bertemu namun juga bibir mereka juga tanpa sengaja menyatu karena tidak bisa menghindar pada posisi yang sangat tepat seperti sedang berciuman.


"Apa ini yang namanya pucuk dicinta ulam pun tiba?", sahut Sheira lagi.


Mata Nara dan Dannis membesar, segera mereka berdiri dari posisi yang membuat semua mata menatap mereka penuh tanya, Nara hanya menunduk takut di belakang pria yang masih menjadi bosnya, matanya masih merah dan berair karena ia menangis sebelum hal itu terjadi.


Sampai pada bunyi sebuah benda yang terjatuh ke lantai, yaitu kue ulang tahun dengan lilin yang telah meleleh di atasnya.


Tangan Nesya gemetar, ia tidak mampu lagi menahan kue yang ia pegang untuk memberi kejutan pada pria yang hingga kini masih ia ingin curi hatinya.


Matanya berkaca-kaca menatap apa yang baru saja ia saksikan dengan jelas bahwa Dannis pria yang ia cintai itu menindih tubuh seorang gadis berseragam putih hitam dengan bibir yang menyatu satu sama lain.


Tak hanya Nesya, mama El pun tidak bisa berkata-kata ketika matanya melihat secara jelas apa yang baru saja putranya lakukan di tengah persiapan kejutan ulang tahun yang mereka rencanakan sejak kemarin.


"Mama, ini tidak seperti yang kalian pikirkan", ucap Dannis bingung setelah mendapati keluarga nya hadir di ruangan itu.


Mama El masih hening, ia menatap Dannis dan Nara bergantian.


Alea melirik suaminya Abrar yang juga masih membisu.


"Kenapa menatapku seperti itu?", tanya Abrar heran.


"Tunggu apa lagi, ayo bawa anak-anak keluar dahulu", perintah Alea.


Abrar seketika tersadar bahwa pemandangan di hadapannya bukanlah konsumsi putra putrinya yang ikut memberikan kejutan ulang tahun pada saudara kembar ibu mereka.


Segera pria ini mengangguk dan mengajak putranya keluar ruangan yang bahkan masih sangat tegang.

__ADS_1


"Kenapa keluar? bukankah acaranya belum dimulai?", celetuk Azzam salah satu kembar nya Alea dan Abrar.


"Bagaimana mau dimulai, kau tidak lihat kuenya sudah hancur begitu? dasar bodoh, sebenarnya kedatangan kita pasti mengganggu paman Dannis yang sedang bermesraan dengan pacar barunya", sahut Eza tertawa geli.


"Hei darimana kalian tahu tentang pacaran? ya ampun kak Alea anak-anak mu sungguh dewasa", ujar Sheira terkekeh mengusap gemas kepala keponakan nya.


"Apa bibi tidak tahu aku sudah punya pacar di sekolah, dia cantik dan imut seperti pacar baru paman Dannis itu, tidak seperti Eza dia hanya mengagumi Kayla dari jauh", jawab Azzam dengan nada serius tanpa takut sambil ekor matanya tertuju pada Nara.


"Ha ha ha, apa wanita yang kau sukai itu namanya Kayla?", tanya Sheira tertawa geli pada Eza.


Anak lelaki yang masih berumur tujuh tahun itu mengangguk polos, membuat Sheira ingin tertawa keras dibuatnya, namun sayang hanya ia yang merasa lucu akan tingkah bocah kembar itu di sana, karena semua orang masih terlihat tegang.


Membuat Alea membesarkan mata, sungguh ia mengakui bahwa putra-putranya memang sangat nakal.


"Ayo sayang-sayang mommy ikut daddy keluar dulu, kalian tidak ingin nenek pingsan karena ulah kalian bukan?", ucap Alea menatap tajam anak-anaknya.


Abrar menarik kedua tangan putra kembarnya agar mengikuti langkah keluar ruangan.


"Mama", ucap Dannis lagi, pria itu seperti kehilangan kata-kata sekarang.


Ucapan itu membuat semua mata memandang Sheira penuh makna.


"Mama, aku benar bukan? ayo lihat gelang yang berserakan di lantai ini, aku tahu ini gelang kesayangannya Nara, tidak mungkin gelang ini putus jika tidak ada yang menyebabkannya, pasti kak Dannis memaksa temanku ma, lihat pakaian Nara menjadi kusut seperti itu", Sheira berbicara penuh semangat.


"Sheira?", sela Alea menatap adiknya itu.


"Apa? kenapa kakak melihatku seperti itu? Nara gadis yang baik, pasti kak Dannis yang memaksanya, bukankah semua lelaki itu sama saja tidak bisa melihat yang bening-bening sedikit", jawab Sheira lantang.


Membuat Nesya memejamkan matanya, ada butiran bening jatuh di sudut mata indah gadis pemuja Dannis hingga saat ini, hanya ia yang tahu bagaimana perasaannya saat ini.


Nara menciut ketika Dannis menatapnya tajam, gadis ini pun tidak bisa berkata-kata lagi karena ia bingung ingin bicara pun terasa sia-sia terlebih ia baru Sheira yang bicara lantang sejak tadi.


"Tunggu apa lagi? keluar dari ruanganku, kau benar-benar membuatku sial", ucap Dannis pelan namun penuh penekanan pada Nara.


Nara mengangguk takut, segera ia melangkah berniat pergi dari ketegangan ruangan itu.


"Mama ayo duduklah dulu, aku bisa menjelaskan semuanya, ini tidak seperti yang terlihat", ucap Dannis mendekati mamanya.

__ADS_1


"Kenapa menyuruhnya keluar? bukan hanya kau yang harus menjelaskan apa yang terjadi tapi juga gadis itu, apa putraku sudah berubah menjadi pria yang tidak bertanggung jawab?", ucap mama El menatap Dannis dengan mata memerah.


Dannis terdiam.


"Mama benar, Nara harus tetap di sini untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, apa benar kakak ingin memperkosanya atau tidak", sela Sheira cepat.


"Sheira jaga bicaramu, apa kau ingin aku pecah ketuban di sini?", sergah Alea yang sejak tadi juga bingung ingin berkata apa, ia cukup kesal dengan bicara konyol adiknya disaat semua orang sedang serius.


Sheira hanya memajukan bibirnya ke depan. Gadis itu mendekati Nara.


"Kau mengenalnya?", tanya Dannis mengernyit heran.


"Nara adalah teman yang ku ceritakan kemarin, rupanya kakak telah lebih dulu mengenal nya daripada aku, kebetulan sekali terlebih setelah apa yang kami saksikan tadi", jawab Sheira tersenyum melirik Nara di sampingnya.


Dannis hanya bisa berdecak kesal, ia mengusap wajahnya kasar.


"Ayo duduklah, kita bisa bicara baik-baik", ajak mama El menengahi.


Sheira menarik tangan Nara untuk duduk berdekatan dengannya. Nara hanya menunduk saja sejak tadi tanpa berani menatap siapapun di sana.


"Ayo jelaskan, kenapa kau diam saja sejak tadi? kau puas sekarang? kau puas membuatku malu di depan keluarga ku sendiri?", ucap Dannis pada Nara dengan nada marah.


Nara menangis oleh bentakan itu.


"Dannis.... apa seperti itu kau memperlakukan seorang wanita?", sela mama El dengan tajam menatap putranya.


Dannis kembali terdiam.


"Mama percaya padaku", ucap pria itu.


"Siapa gadis ini?".


"Dia.... dia cleaning service di kantor ini", jawab Dannis singkat.


Membuat mama El tersedak ludahnya sendiri. Berbeda dengan Nesya yang sejak tadi matanya belum beranjak dari seorang gadis berseragam putih hitam itu.


"Ya Tuhan.... kenapa putraku melakukan hal yang sama?", gumam mama Eliana dalam hati, ia memejamkan mata sejenak mengingat bagaimana kisahnya bermula dengan suaminya Kemal yang ia juga merupakan seorang pekerja kebersihan di sana.

__ADS_1


__ADS_2