
Terpisah dari sang suami memang tidak menyenangkan bagi Alea, sudah satu minggu ia pulang ke rumah orangtuanya namun belum juga bisa bertemu Abrar, sebab setelah keluar dari rumah sakit ia harus kembali bersabar bahwa suaminya diharuskan pergi keluar negeri untuk mengurus pekerjaan yang tidak bisa ditunda, Alea memakluminya yang terpenting komunikasi diantara mereka lancar meski sang papa belum juga reda marahnya.
Hari ini Abrar pulang ke tanah air, di jalan menuju arah rumahnya ia tidak sengaja melihat Imran sedang bicara pada seseorang di pinggir taman, emosi Abrar kembali ke permukaan mengingat pesaingnya itu telah mempermainkannya beberapa waktu lalu mengenai alamat penculikan istrinya berada, memang sejak kejadian itu Abrar belum sempat menemui Imran untuk membuat perhitungan karena sibuk urusan pekerjaan yang mengharuskan ia turun tangan langsung.
Abrar memarkirkan mobilnya, dengan wajah merah padam ia keluar hendak menghampiri pria yang sudah lancang menjebaknya, benar saja Abrar langsung meraih tubuh Imran dan memukulnya dengan kuat bagian wajah dan perutnya, Imran tidak sempat menghindar hingga ia terhuyung ke belakang beruntung temannya menahan tubuh pria itu jika tidak mungkin Imran sudah bisa dipastikan mencium tanah.
"Abrar? apa-apaan kau ini?" ucap Imran marah sambil mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Seharusnya aku yang bertanya apa maksudmu menjebakku dengan memberikan alamat palsu tentang penculikan istriku? apa kau dendam padaku karena proyek itu? jika kau punya dendam padaku mari kita selesaikan jangan kau melibatkan mertua dan istriku dalam hal ini" jawab Abrar dengan dada kempang kempis menahan amarah.
"Ha ha ha ternyata kau belum sadar juga teman.....bukan hanya karena proyek saja tapi karena Alea, iya aku menyukai istrimu Abrar. Lagi pula paman Kemal sepertinya sudah tidak memihak padamu, kau mengabaikan putrinya karena terlalu sibuk mengurus proyek besar yang kau menangkan, kau sudah tidak pantas mendampinginya Abrar, kau tidak becus menjaga istrimu hingga sampai kau lengah" jawab Imran santai seraya mengusap bibirnya yang berdarah.
Membuat Abrar kembali emosi dan benar-benar marah mendengar pengakuan Imran yang jujur menyukai istrinya, kembali Abrar meraih kerah kemeja teman lamanya itu dan mendorongnya keras.
"Jangan bermimpi kau bisa merebut istriku, lancang kau Imran dasar pria licik" umpat Abrar seraya menantang dan terus mendorong tubuh Imran hingga terbentur badan mobilnya.
"Hentikan ini....jangan berkelahi ditempat umum, kenapa kalian kekanakkan seperti ini jika ada masalah bicaralah baik-baik" ucap teman Imran mencoba melerai.
"Ini bukan urusanmu" jawab Abrar menepis tangan teman Imran, pria ini benar-benar emosi dan tidak terima jika Imran lancang menyukai Alea padahal ia tahu perempuan itu masih bersuami.
"Bang Abrar?" ucap seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Ketiga lelaki itu melihat ke arah sumber suara, Abrar terkejut sejak kapan istrinya berdiri disana.
"Alea" ucap Abrar dan Imran bersamaan.
"Jangan sebut nama istriku" segera Abrar menyangkal ucapan Imran yang menyapa Alea.
Imran hanya terkekeh.
__ADS_1
"Sayang kau disini?" tanya Abrar yang langsung menghampiri perempuan yang memakai sweater putih itu.
Alea hanya diam menatap suaminya bergantian dengan Imran.
"Apa yang kalian ributkan?" tanya Alea.
"Kami sedang membahas sebuah proyek besar Alea, dimana proyek itu jauh lebih berarti daripada seorang istri yang baru saja selamat dari penculikan, aku rasa kalian tidak baik-baik saja sekarang, seharusnya tidak dilarang bertemu bukan? Paman Kemal sepertinya sudah tidak menginginkan menantu yang tidak bertanggung jawab seperti mu Abrar, Alea pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik darimu" jawab Imran menatap Abrar dan Alea penuh arti.
"Diam kau...." pukul Abrar lagi pada rahang Imran.
Pria itu tidak melawan, ia bahkan terkekeh melihat raut merah Abrar, Alea hanya diam dan melihat saja.
"Sayang jangan dengarkan dia" Abrar dengan cepat meraih tangan istrinya.
Teman Imran geleng kepala, dan ia segera mengajak Imran untuk segera pergi dari sana semula Imran tidak mau namun temannya memaksa untuk masuk mobil untuk menghindari pertengkaran yang lebih lanjut.
"Ketahuilah Alea kau terlalu cantik untuk diabaikan, kau tahu tidak Abrar lebih memilih mengurus proyek daripada membujuk papamu....apa itu artinya kau masih berarti untuknya? aku rasa tidak" sindir Imran melirik Abrar sebelum melaju kencang meninggalkan mereka.
Abrar menggeleng, ia meraih kedua tangan istrinya yang masih diam mematung.
"Tidak sayang jangan dengarkan pria gila itu, aku sama sekali tidak berniat mengabaikanmu, proyek itu sudah ku menangkan sejak lama dan tidak bisa ku tinggalkan begitu saja, bukan berarti aku tidak memikirkanmu dan tidak berusaha membujuk papa aku hanya tidak ingin papa bertambah marah jika aku memaksa, percaya padaku Alea....aku mencintaimu lebih dari apapun, tidak ada niat mengabaikanmu demi sebuah proyek, itu sama sekali tidak benar...."
Alea menatap wajah suaminya penuh makna, rintik hujan mulai turun hanya gerimis saja namun cukup membasahi wajah.
Alea menarik napas dalam dan mengangguk pelan seraya memeluk suaminya erat.
"Tentu saja aku mempercayaimu, karena aku tahu suamiku lebih dari siapapun" jawab Alea pelan lalu membenamkan wajahnya di dada lebar sang suami yang amat ia rindukan.
Abrar tersenyum lega, ia membalas pelukan Alea lebih erat.
__ADS_1
"Terimakasih sayang...."
Alea menengadah menatap suaminya penuh cinta "Aku merindukanmu....ayo pulang aku rindu kamar kita" ucap Alea tersenyum dan mengecup bibir suaminya sekilas.
"Sayang kau boleh keluar? bagaimana dengan papa?" tanya Abrar baru menyadari bahwa urusan dengan mertuanya belum selesai.
"Tentu saja aku keluar diam-diam dengan bantuan mama, papa sedang mengurus banyak hal jadi tidak akan tahu, aku merindukan suamiku....meski kau tidak berusaha menemuiku biar aku saja yang menghampirimu aku sudah tidak bisa menahannya, kau menyebalkan bang Abrar seharusnya kau yang menculikku" umpat Alea kesal.
Abrar terkekeh "Maafkan aku sayang....aku terlalu takut pada papa, aku tidak ingin gegabah yang membuat papa semakin marah dan mempersulitku nantinya"
"Huh....papa memang menyebalkan"
Abrar merasa gemas, segera ia mencium bibir istrinya dalam dan tiba-tiba Abrar membesarkan matanya.
"Sayang? kau tidak muntah?"
"Aku rasa bayi-bayi kita sudah lebih pengertian" jawab Alea meraih kembali bibir suaminya dengan rakus, sampai adegan itu terhenti ketika mereka sama-sama silau oleh lampu mobil yang lewat sengaja menyinari mereka yang masih berdiri mesra dipinggir taman.
Abrar dan Alea sama-sama terkekeh.
"Ayo pulang" ucap Abrar memeluk istrinya seraya mengangkatnya dengan gerakan memutar sebelum masuk mobil.
####
ayo baca juga "ku lepas kau dengan ikhlas" yaaaa Bee lagi butuh dukungan para readers ni....
ayo lanjut?
__ADS_1