Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 34


__ADS_3

Angin bertiup menghembuskan nafas indahnya menerpa wajah sepasang suami istri yang tengah duduk bersantai di taman halaman rumah mereka sore itu, saling bertautan tangan dengan kepala Alea bersandar manja di bahu sang suami, mereka menikmati weekend hanya di rumah saja minggu ini.


Hubungan Alea dan Abrar tentu menjadi lebih baik dari hari ke hari, sudah tiga bulan umur pernikahan mereka dimana Alea terus belajar menjadi yang terbaik bagi suaminya, sudah mulai pandai memasak, terbiasa bangun lebih pagi dari sebelumnya, pun Abrar lelaki ini sudah mulai terbiasa dengan sikap posesif istrinya.


Namun ada yang mengganggu pikiran Alea dimana ia baru saja mendapat kabar bahwa Vina saudara iparnya telah mengandung tetapi tidak baginya, Alea belum juga menunjukkan tanda-tanda hamil hingga sekarang, ia menjadi takut jika Abrar kecewa akan hal itu.


"Sayang.....apa kau tahu Vina mengandung?" tanya Alea yang matanya menatap jauh langit senja.


"Hmmm iya, memangnya kenapa? bagus bukan jadi kita akan memiliki keponakan" jawab Abrar santai sesekali mengecup puncak kepala istrinya.


"Apa kau kecewa aku belum hamil hingga sekarang?" tanya Alea kembali namun terasa sendu bagi pendengaran Abrar.


"Apa yang kau bicarakan sayang, kita baru saja tiga bulan menikah itupun baru dua bulan pernikahan yang sebenarnya, aku tidak memikirkan itu sama sekali, menikmati hari-hari bersamamu saja sudah sangat bahagia untukku...." jawab Abrar mengecup tangan istrinya.


"Iya kita sudah dua bulan lebih bersama, aku tidak ber kb, aku hanya takut kau menginginkan anak namun sampai sekarang aku belum juga hamil"


"Hei....kau calon dokter sayang, kenapa kau mengeluh? bisa saja kita belum usaha maksimal lagipula kau tahu sendiri kita sama-sama sibuk, biarkan seperti ini saja....kita bisa menikmati waktu berdua lebih intim sebelum Tuhan memberikannya, percayalah aku sama sekali tidak kecewa" jawab Abrar optimis.


Alea tidak menjawab lagi, ia hanya mempererat pelukan di badan suaminya.


*****


Di rumah sakit, Alea sering bertemu Naura dan orangtuanya ketika jadwal berobat, mereka semakin akrab karena Alea sering pula memberi tumpangan jika Alea membawa mobil sendiri.


Di lain sisi dokter Bayu pun menjadi kagum akan Alea yang bersikap terbuka dan mudah bergaul, apalagi Alea dengan cepat memahami apa yang dokter itu jelaskan tentang kondisi pasiennya ketika sedang membimbing.


Dokter Bayu tidak manampik jika ia menyukai Alea meski ia tahu perempuan itu telah bersuami, seperti ada daya tarik tersendiri baginya terlebih pria itu menganggap Alea sama cantiknya dengan perempuan yang hampir menikah dengannya ketika masih tinggal di kota sebelah.


Alea sama sekali tidak mencurigai sikap baik dokter Bayu karena dokter itu bersikap humoris dan terbuka pada semua anggota kelompoknya dalam membimbing.


****


Alea pulang dari rumah sakit, kebetulan hari ini ia membawa mobilnya sendiri karena sang suami tengah berada di luar kota untuk dua hari.

__ADS_1


Dalam perjalanan, tidak sengaja ia melihat mobil iparnya Arkan yang berada di depannya, mula Alea biasa saja sampai pada mobil Arkan berbelok arah yang bukan jalan ke rumah mereka sebab arah rumah Arkan dan Alea satu jalan, Alea tahu itu arah sebuah perumahan sederhana di pinggir kota.


Alea tidak ingin menduga-duga, karena hari telah malam memang waktunya Arkan pulang kantor namun ia menjadi heran kenapa Arkan mengarah kesana bukan arah jalan pulang, tidak ingin penasaran Alea pun mengikuti mobil iparnya sampai benar-benar masuk area perumahan tersebut.


"Kemana dia? ini perumahan bukan tempat bertemu rekan bisnis apalagi ini sudah waktunya pulang"


Gumam Alea, matanya terus fokus melihat kemana arah mobil itu berhenti, dan benar saja ia menyaksikan sendiri Arkan berhenti pada salah satu rumah bergaya minimalis tidak terlalu besar, namun cukup untuk satu keluarga kecil yang bisa tinggal disana.


Alea masih memantau, tidak lama Arkan keluar mobil bersama seorang wanita yang membuat mata Alea membesar seketika bahwa wanita itu bukan Vina, namun mereka tampak mesra sambil terus tersenyum satu sama lain dengan Arkan memeluk pinggang wanita itu menuju pintu.


Dada Alea bergemuruh, ia sudah menduga ini sejak awal ia pernah melihat Arkan berciuman di luar pagar rumah mertuanya sebelum pria itu menikahi Vina.


Alea tidak berpikir panjang, ia melaju dengan kencang ke arah rumah itu dan dengan segera keluar dari mobilnya menghampiri Arkan dan wanita itu.


Arkan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika tersadar Alea telah berada di hadapannya dengan berani menarik lengan wanita itu secara kasar.


"Bang Arkan....jelaskan padaku"


Wanita tersebut kebingungan menatap Alea.


"Kau....dasar wanita tidak tahu malu, pria ini sudah beristri" sergah Alea pada perempuan berwajah manis itu.


"Alea....kita bisa bicara baik-baik, jangan seperti ini, ayo kita masuk malu jika ada yang melihat" jawab Arkan menenangkan Alea.


"Masih ingat malu?" jawab Alea tanpa takut.


Wanita itu segera membuka pintu setelah mendapat tatapan dari Arkan, Alea masih kesal ia tidak beranjak dari sana sampai Arkan membujuknya untuk bicara di dalam.


Setelah mereka bertiga masuk, barulah Arkan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya yang Alea lihat sekarang, membuat Alea geleng kepala tidak percaya akan pendengarannya sendiri.


"Apa? wanita ini juga istrimu? astaga....apa yang telah kau lakukan bang Arkan" bentak Alea memukul lengan iparnya itu.


"Alea tenanglah....aku mohon padamu tentang hal ini"

__ADS_1


"Kau benar-benar jahat....istrimu mengandung sekarang kau begitu entengnya bilang wanita ini baru kau nikahi karena sebuah wasiat, ini gila" kembali Alea merasa geram dengan penjelasan Arkan.


"Aku juga mengandung sekarang" jawab wanita itu menimpali percakapan mereka.


Alea melirik wanita itu tajam.


"Apa lagi ini bang Arkan, kau menghamili dua wanita sekaligus...." tatap Alea pada Arkan.


Arkan terdiam, ia hanya bisa menunduk sekarang, pada kenyataannya Arkan menikahi gadis ini yang merupakan mantan kekasihnya sewaktu sekolah dulu, ia telah meniduri dan menghamili hingga ia merasa harus bertanggung jawab untuk menikahinya ditambah ia memenuhi wasiat sang ibu dari wanita tersebut untuk menjaga putrinya sebelum meninggal dunia.


Melati nama istri siri Arkan, bahwa ia hanya sebatang kara sepeninggal ibunya, ia menjalin hubungan sejak Arkan sering membantu keuangan keluarganya yang miskin, hingga mereka terjebak cinta lama sewaktu SMA dulu, namun pada saat itu Arkan telah memiliki Vina sebagai calon istri. Namun karena sebuah wasiat dan memang masih saling mencintai hingga pada akhirnya Melati tidak keberatan meski hanya menjadi yang kedua bagi suaminya saat ini.


"Jika kau mencintai wanita ini kenapa tidak kau batalkan saja pernikahanmu dengan Vina waktu itu? kau memang jahat bang Arkan, tidak sadarkah kau telah menyakiti dua wanita" ucap Alea.


"Jika ada didunia ini lelaki yang mencintai dua wanita sekaligus, itu adalah aku Alea...." jawab Arkan sendu menatap iparnya tersebut.


Melati memejamkan mata mendengarnya, airmatanya tidak tertahan sejak tadi.


"Kau jahat bang Arkan....bagaimana jika mama dan bang Abrar tahu tentang ini?"


"Ku mohon padamu Alea, aku belum siap untuk mengaku sekarang, tetap rahasiakan ini" Arkan memegang bahu Alea seraya memohon.


"Kau telah mengecewakan kami semua, bagaimana aku bisa diam bang Arkan? ini benar-benar gila....aku tidak tahu jalan pikiranmu"


"Ku mohon Alea, apa kau mau aku dibenci mama dan bang Abrar? apa kau tega jika hubungan kami retak karena ini? ku mohon Alea....kita bisa tetap diam, biar aku yang mencari jalannya"


"Hah.....kau pikir aku bisa diam selama itu? ini memang urusanmu bang Arkan, tapi kita sudah dekat sejak kecil kau sudah seperti kakak bagiku, aku benar-benar kecewa padamu" ucap Alea sambil menghapus airmatanya.


"Ayolah Alea....aku juga tidak berniat seperti ini, Melati juga istriku sekarang, semuanya sudah terjadi, aku butuh waktu untuk jujur pada Vina dan keluarga ku Alea, aku sangat mohon padamu sampai hari dimana aku siap mengakui ini pada mereka tetaplah diam seperti ini saja" tatap Arkan sendu pada Alea.


Alea tidak berkata-kata lagi, ia melirik sekilas pada Melati yang hanya bisa menangis sejak tadi sebelum ia beranjak meninggalkan Arkan disana. Alea berlari menuju mobilnya ia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah mengetahui ini.


Dalam perjalanan Alea sesekali menghapus airmatanya, ia teringat wajah mama mertua dan suaminya, ia membayangkan betapa marah dan kecewanya mereka jika mengetahui ini, sungguh Alea dilema untuk bersikap jika ia tetap diam itu artinya ia telah menyembunyikan kebenaran pada suami dan mertuanya, jika ia memilih jujur ia membenarkan bahwa hubungan Arkan dan keluarganya bisa saja hancur karena skandal tersebut Alea tidak ingin itu terjadi terlebih Alea menyayangi Arkan seperti saudara sendiri.

__ADS_1


__ADS_2