
Selamat membaca 🌸
🌸🌸🌸
"Kamu merasa lebih baik pagi ini Han??" tanya Darren.
"Iya, Sepertinya begitu. Aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan bukan? Bryan pasti akan sedih melihatku begitu. Varren juga pasti ingin mommynya bangkit. Demi calon adiknya." Hana mengusap perutnya.
"Maksudnya Han??" Kening Darren berkerut sambil melihat tangan Hana di perutnya.
"Aku hamil Dare,,,"
Darren diam tertegun. Ia bingung harus sedih ataukah bahagia. Ia tentu bahagia akan punya keponakan baru lagi tapi ia ikut sedih membayangkan sekarang calon keponakannya itu harus terlahir sebagai anak yatim.
"Seharusnya berita kehamilanku ini jadi kado spesial untuk Varren yang sudah sering bilang bahwa ia ingin punya adik. Tapi dia sudah pergi sekarang,,, tanpa aku sempat memberitahunya bahwa ada calon adiknya dalam rahimku."
Airmata Hana kembali menetes menyesali kepergian Varren.
"Bryan sudah tau kamu hamil?" tanya Darren.
Hana menggeleng pelan. Kembali menyesali kenapa ia tak memberitahukan berita bahagia itu secepatnya. Andai ia tau umur suami dan anaknya tak lama lagi,, tentu hari di mana ia tau bahwa dirinya hamil itu langsung diberitahukannya pada mereka.
"Semua ini salahku. Aku berniat memberi mereka kejutan tapi malah aku yang terkejut dengan kepergian mereka." lirih Hana sambil terisak.
"Sabar Hana,,, Tuhan tak akan memberikan cobaan yang diluar kemampuanmu." Darren memeluknya. Memberinya kekuatan. Hanya itu yang bisa dilakukannya sebagai teman sekaligus kakak angkat Hana.
"Iya Dare,,, Aku pasti bisa melalui ini semua. Aku harus kuat. Dan kuharap kamu juga selalu mendampingiku." Hana mengusap airmatanya. Sepertinya ia sudah lelah seminggu belakangan ini terus menangisi kematian dua belahan jiwanya.
"Itu pasti." jawab Darren.
"Oh ya,, Apa pihak penabrak masih berusaha menemuiku Dare?? Aku sudah siap bertemu dengannya sekarang." kata Hana kemudian.
"Mmm itu,,, itu,,,, kamu yakin sudah siap bertemu dengannya??" tanya Darren.
"Ya,, Aku siap. Sepertinya dia juga tertekan kalau lama lama aku tak menemuinya. Tidak ada salahnya kan bersalaman. Aku tidak dendam,,, aku juga sudah mengikhlaskan suami dan putraku. Mau kutangisi seperti apa pun,,, mau aku dendam pada penabraknya sampai berapa turunan pun,,, tetap tak akan membawa mereka kembali padaku. Jadi aku ingin menyudahi semuanya. Menemuinya,, menerima permintaan maafnya."
__ADS_1
Darren jadi panas dingin mendengarnya. Kemarin saat ia belum tau bahwa Hana juga tengah hamil,, ia ingin Hana segera bertemu penabraknya. Tapi sekarang setelah tau wanita itu hamil,,, rasanya tidak etis mempertemukannya dengan penabraknya.
Bukan apa,,, Dion istrinya juga tengah hamil besar sekarang. Darren khawatir kalau Hana merasa iri dengan kebahagiaan mereka sementara dirinya ditinggal sendirian di dunia ini.
"Antar aku menemuinya ya Dare." Hana mengejutkan Darren yang melamun.
"Eh,,, Apa?? Antar?? Ketemu siapa??" Darren jadi gugup
"Iya Dare,,, antar aku ketemu sama yang nabrak. Kasian kan dia pasti masih merasa beban banget." Hana yakin dan keyakinannya itu memang benar adanya.
Dion kelabakan tiap harinya kalau belum bisa bertemu dengannya.
"Dare,, Kamu kenapa sih kok malah bengong gitu?? Mau gak temenin aku nemuin orang itu??" Hana menyikut Darren.
"Mmm,,, Han,,, kurasa kita harus bicara dulu." Akhirnya Darren membuat Hana heran.
"Ada apa sih?" tanyanya.
"Aku cuma ingin tau apa reaksimu kalau kamu tau siapa penabraknya. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Darren dengan nada menyelidik.
"Kan aku sudah bilang tadi kalau aku cuma mau sekedar bersalaman. Memastikan padanya bahwa ia tak perlu merasa bersalah berlarut larut." tegas Hana.
"Iya Dare. Kamu kenapa sih??" Hana benar benar heran dengan sikap Darren kali ini.
Darren masih gelisah. Ia tak yakin kalau Hana tau bahwa Dionlah yang menabrak mobilnya maka ia bisa bersikap biasa seperti yang dikatakannya itu. Belum lagi Dion kalau tau Hana tengah hamil saat ini,,, Apa akan baik baik saja perasaannya??
"Kamu aneh Dare." Hana melangkah masuk dan mendahuluinya.
Hana kesal dari tadi Darren malah cuma bengong bengong gak jelas di depannya. Diminta mengantar tidak jalan,, ditanya kenapa juga malah makin aneh sikapnya. Hana jadi curiga kalau Darren mengenal siapa yang menabraknya.
"Sebaiknya aku cari sendiri penabrak itu dan aku temui sendiri. Dia pasti meninggalkan alamatnya di rumah sakit kemarin." Akhirnya Hana memutuskan bergerak sendiri saja.
...🌹🌹🌹...
Hana memencet bel rumah yang tampak megah itu untuk ukuran di Singapura. Dari rumah itu ia yakin yang tinggal di rumah itu bukan orang dari kalangan menengah ke bawah.
__ADS_1
Bryan suaminya yang sudah punya perusahaan sendiri saja masih belum mampu membelikannya rumah sebagus ini. Jadi Hana yakin pemilik rumah ini pasti jauh lebih mapan daripada Bryan.
Seorang wanita berhijab dan dalam keadaan hamil besar keluar dari balik pintu megah berwarna putih bersih itu. Wanita itu tampak berusaha mengenali tamunya itu tapi tak berhasil.
Karena dengan langkah yang sudah mulai susah karena tebakan Hana wanita itu tengah hamil delapan atau mungkin sudah masuk bulan ke sembilan.
"Maaf,,, Anda siapa ya?? Cari siapa?" tanya wanita berhijab itu sopan.
"Saya mendapat alamat rumah ini dari rumah sakit. Saya,,,"
"Siapa tamunya Rina??? Kenapa gak biarin suamimu saja yang buka pintu??"
Sebuah suara penuh kekhawatirah terdengar dari dalam rumah itu. Hana merasa mengenali suara wanita berumur itu. Ia penasaran menunggu sampai pemilik suara itu keluar.
"Mama??" Hana terkejut mendapati yang keluar dari rumah itu adalah mama Herna, mantan mertuanya.
"Loh,,, Hanaaaa,,, Sayang,,," mama Herna tergopoh gopoh menuju ke pagar dan melewati Karin yang masih berdiri mematung memandangi tamunya yang ternyata sama sama memanggil mama pada mama mertuanya.
"Mama kangen banget sama kamu sayang." mama Herna langsung memeluk dan menciumi Hana di depan mata Karin.
"Hana juga kangen ma. Mama apa kabar?? Mama sedang apa di sini??" tanya Hana.
"Ini rumah Dion sayang. Mama di sini karena,,, Mmm,,,Ayo masuk dulu sayang. Kita ngobrol di dalam saja ya. Ada papa juga kok di dalam. Papa pasti senang ketemu kamu lagi sayang." mama Herna mengalihkan pembicaraan.
Dengan bahagianya beliau mengajak Hana masuk dan menutup pagar.
"Oh ya ini Karina,, Istrinya Dion." mama Herna memperkenalkan.
"Hai Karina,,," sapa Hana dengan wajah bingung kenapa rumah sakit malah memberinya alamat Dion. Dan sejak kapan juga Dion tinggal di Singapura. Setaunya Dion tinggal di Hawaii.
"Hai mbak Hana,,," sapa Karin dengan mata yang terus memandangi tangan mama Herna yang seakan tak mau lepas dari Hana.
"Ayo masuk sayang." mama Herna melewati Karin dan lupa bahwa Karinlah yang lebih perlu dibantu berjalan menaiki tangga depan rumah.
Karin hanya menghela napas dalam dalam lalu berhati hati menaiki tangga itu.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Dukung author dengan vote, like dan komen 🌹🌸❤️