
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Kedua terdakwa menerima semua tuduhan yang dilayangkan kepada keduanya tanpa satu protes pun. Keduanya membenarkan semua dakwaan terhadap diri mereka karena sama sekali tidak ada manipulasi atau kecurangan yang dilakukan oleh pihak penggugat.
Mereka benar benar bermain bersih dan jujur.
Ketika persidangan telah usai,,, keduanya bertemu di pintu ruangan.
"Maafkan aku Yusuf." ucap Hana.
Yusuf tak menjawab. Ia terlampau kesal pada wanita yang kini duduk di kursi roda itu. Yusuf merasa sejak kehadiran wanita itu dunianya berubah dan hancur.
Secara mudahnya wanita itu masuk dan mengacaukan semuanya. Dan yang paling tidak bisa Yusuf terima adalah karena wanita itu juga ia jadi kehilangan Karin. Bahkan dengan kecurangannya,, wanita itu juga telah mendapatkan keperjakaannya secara tidak ia sadari.
Sesuatu yang sebenarnya sangat ia jaga selama ini malah jatuh di tempat yang tidak diinginkannya. Yusuf menjadi jijik padanya.
"Wanita murahan sepertimu apa layak dimaafkan?" tanya Yusuf.
"Tidak apa apa kalau kamu tidak mau memaafkanku. Aku bisa mengerti." lirih Hana.
"Sudahlah. Lebih baik kita tidak usah saling bertemu lagi. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal." tegas Yusuf.
"Baik." Hana tak banyak bicara lagi dan meminta petugas pengawal dari pihak kepolisian membawanya menjauh.
"Mbak Hanaaaa,,," Karin setengah berlarian melewati Yusuf yang berdiri mematung.
Karin melewatinya tanpa menoleh atau pun menegurnya. Ia berlarian menyusul petugas yang mendorong kursi roda Hana. Yusuf menghela napas berat. Ia sedih dicuekin seperti ini oleh Karin.
Yusuf kembali menghela napasnya dengan sangat berat. Separuh jiwa dan semangatnya menghilang seiring dengan perginya senyuman indah Karin dari hidupnya. Ia pun berjalan gontai mengikuti langkah para pengawal kepolisian yang membimbingnya dan akan membawanya ke tempat barunya setelah resmi menjadi tahanan.
"Kamu datang juga? Bukannya kamu harus jaga mama?" tanya Hana begitu Karin menyusulnya.
"Mama sudah Karin titipkan pada perawat. Karin ingin menemui mbak disini. Sebenarnya juga ingin mengikuti jalannya persidangan tapi tidak bisa juga lama lama meninggalkan mama."
__ADS_1
"Iya. Aku mengerti. Kamu sudah menyempatkan diri datang saja aku sudah berterima kasih sekali. Kamu masih mau menemuiku. Masih ingin tau kelanjutan kasus ini. Itu berarti banyak untukku Rin."
Karin menundukkan wajahnya. Bulir bening mulai berjatuhan membasahi kain penutup kepalanya yang menjuntai menutup dada.
"Aku gak apa apa Rin. Aku siap dan ikhlas. Doakan saja aku ya."
Ucapan Hana itu nyatanya tak mampu menenangkan perasaan Karin saat itu. Karin masih terus menangisi wanita yang kini tampak mencolok dengan pakaian tahanan. Sungguh pakaian yang seharusnya bisa tidak usah dipakainya jika saja ia tidak mengikuti hawa nafsunya.
"Tapi mbak,, Karin gak tega." ucap Karin di sela isak tangisnya.
"Terima kasih sudah begitu memikirkanku." ucap Hana selalu makin malu dengan perbuatannya pada Karin sebelum sebelumnya.
"Maafkan Karin yang tidak berhasil membujuk om papa untuk tidak memenjarakan mbak Hana di sini." lirih Karin.
Sebenarnya ia sempat membujuk Dion agar mengurus semua perkara ini di Indonesia saja. Agar Hana juga bisa menghabiskan masa tahanannya di sana juga. Tapi Dion punya alasan tersendiri yang tidak bisa disalahkan juga oleh Karin.
Inginnya Karin bisa setiap saat membesuk Hana di penjara,,, membawakan wanita itu sesuatu yang bisa menghiburnya atau menghangatkannya. Tapi Dion bilang itu semua tidak perlu Karin lakukan.
"Kita perlu hidup baru sayang. Om papa tau kamu tidak tega tapi bukan berarti kamu akan seterusnya membiarkan dia ada dalam kehidupan kita bukan? Ada yang harus selalu diingat, dikenang, disimpan,,, tapi juga ada beberapa hal lain yang memang hanya pantas untuk dikenang saja. Tidak untuk dilanjutkan atau dibawa ke masa kini dan ke depannya. Salah satunya adalah Hana. Dia hanya boleh jadi bagian masa lalu kita. Om papa tidak ingin lagi dia ada di antara kita."
"Aku pasti bisa melewatinya. Aku pergi dulu ya." pamit Hana.
Dirasa sudah cukup waktunya,,, Hana berpamitan sebelum pihak kepolisian setempat membawanya.
"Tetap ingat Tuhan ya mbak. Yang tabah." pesan Karin disambut oleh anggukan Hana.
Karin menatap pilu punggung Hana yang kini bertuliskan tahanan di pakaiannya. Pilu merasakan kepedihan wanita yang tengah diberikan teguran keras oleh Rabbnya.
"Aku janji aku akan berubah Rin. Demi orang tuaku dan demi kamu. Juga demi diriku serta semua orang yang pernah menyayangiku."teriak Hana sebelum polisi menutup pintu mobil.
Karin mengangguk, meneteskan airmata sekaligus tersenyum tanpa bisa berkata kata lagi. Hanya lambaian tangannya saja yang menyertai kepergian Hana. Di belakangnya menyusul mobil polisi yang membawa Yusuf.
Yusuf memandanginya dari kaca yang terbuka separuh. Hanya bisa menyampaikan permintaan maaf melalui pandangan saja. Itu pun tidak disambut oleh Karin karena wanita itu malah memalingkan wajah dan mengalihkan pandangannya.
Yusuf merasa hatinya bagai diiris iris sembilu. Perih,,, sakit namun tak berdarah. Begitu ungkapan yang tepat untuk Yusuf saat ini.
__ADS_1
"Kehilangan cinta sekaligus sahabat. Bodohnya aku. Mampukah aku melupakannya ya Tuhan? Sanggupkah hamba menerima kenyataan bahwa memang dia tidak pernah tercipta untuk hamba??" batin Yusuf menjerit.
Namun sekeras apa pun ia menjerit,,, tidak akan mengubah semuanya. Karin tetap akan bersanding dengan Dion dan ia akan menikmati dinginnya lantai jeruji besi. Sungguh ironis.
"Kita segera pulang ke Indonesia yuk sayang. Kamu mau kan?."
Dion merangkul bahu Karin yang langsung menyambutnya dengan senyuman.
"Kemana pun,, asal bersama om papa dan Delvara,,, Karin pasti mau."
"Pasrah banget sihhhh,,, Gak malu apa jalan sama kakek kakek begini? Gak malu apa jalan sama mantan duda begini?" goda Dion.
"Bodo amat. Yang penting kan si duda ini bisa menjamin kebahagiaanku. Masa bodo dengan semua komentar dunia." Karin langsung menggamit lengan Dion.
"Genitnya istrikuuuu,,,,"
"Genit sama suami sendiri hukumnya halal weeekkk,,," Karin menjulurkan lidahnya membuat wajah mudanya itu begitu menggoda iman Dion.
"Astaga,,, Om papa kayaknya harus segera pesan jet pribadi nih biar cepat sampai Indonesia."
"Kenapa om papa? Apa ada urusan mendadak?" tanya Karin dengan wajah serius.
"Ada dong dan ini sifatnya sangat mendesak. Berbahaya kalau terus ditunda tunda. Harus segera diselesaikan dan dipastikan benar benar tuntas." ucap Dion serius.
"Kalau begitu segera saja urus semua keperluan keberangkatan kita om papa. Apa perlu Karin bantu?"
"Loh ya perlu banget dong sayang. Kamu justru harus andil di dalamnya. Gak bisa nggak itu. Om papa gak bisa sendirian menyelesaikannya." Dion makin serius.
"Urusan apa itu ya kok tumben Karin juga harus andil?" sang istri penasaran.
Dion makin serius sambil membisikkan sesuatu dengan manja di telinga Karin. Wajahnya pun seketika memerah.
...❤️❤️❤️❤️...
...Hayooo urusan apakah itu?? 👀...
__ADS_1