Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 77


__ADS_3

Dannis terdiam.


"Aku tidak mengira kau bisa sejahat ini padaku tuan Dannis, jika kau ingin melepaskan ku dari pernikahan yang tidak kau inginkan ini kenapa tidak bicara secara baik-baik, kita bukan sedang bermain bukan pula sedang bercanda, kau bisa menceraikan ku jika kau ingin namun tidak dengan menyerahkan ku pada lelaki lain seperti malam ini sedang kita masih berada dalam satu ikatan".


"Aku tahu kau tidak pernah tertarik padaku, namun bukan berarti kau bisa merendahkan ku dengan cara seperti ini juga, kau benar-benar menyakitiku", ucap Nara lagi dengan suara serak.


Dannis meraih kedua tangan istrinya.


"Maafkan aku Nara", hanya kata itu yang mampu Dannis ucapkan saat ini.


Nara menatap Dannis lesu, lalu gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman Dannis, Nara berlalu begitu saja menuju kamarnya berada tanpa menghiraukan apa yang akan Dannis katakan selanjutnya.


*****


Sejak kejadian itu sampai beberapa hari selanjutnya hubungan Nara dan Dannis sungguh dingin, keduanya saling diam dan menghindar bahkan pria itu pergi pagi pulang larut malam.


Namun berbeda hari ini, Dannis tampak pulang cepat, ia menuju kamarnya dan langsung mengguyurkan tubuhnya di bawah shower yang menyala.


Nara hanya tersenyum tipis saat melihat Dannis melewatinya ketika pulang tadi.


Gadis itu tengah duduk di kursi dalam kamarnya yang menghadap jendela yang sengaja ia buka, wajahnya yang cantik namun menyiratkan luka yang mendalam itu diterpa angin malam di tengah bulan purnama yang mengembang sempurna.


Nara menarik napas dalam lalu mengeluarkannya, ia lakukan berulang kali, udara sejuk dan bau tanah yang basah setelah diguyur hujan sore tadi sedikit memberi efek ketenangan bagi hatinya rapuh.


Lama bermenung, ia mendengar suara langkah yang mendekat karena memang kamarnya tidak dikunci.


Nara menoleh pada pria yang membawa sebuah map di tangannya.


Dannis berjalan mendekat, ia mendudukkan diri di tepi ranjang tepat di samping kursi dimana Nara duduk sekarang.

__ADS_1


"Nara, aku ingin bicara sesuatu", ucap Dannis pelan.


Gadis itu hanya mengangguk, "Bicaralah tuan".


"Aku hanya ingin memberikan ini, aku rasa semakin lama pernikahan ini semakin tidak benar, aku banyak melakukan salah padamu, aku menyakitimu berulang kali".


"Aku hanya ingin membebaskanmu dalam memilih jalan hidup yang tidak seharusnya terjebak di sini aku tidak ingin kau terus bertahan dengan luka yang terus ku buat, maafkan aku Nara, aku belum bisa membalas perasaan mu", ucap Dannis menggenggam kedua tangan istrinya itu lalu memberikan map di tangan cantik milik Nara sebelum ia pergi meninggalkan gadis itu kembali ke kamarnya dengan perasaan bersalah.


Airmata Nara kembali jatuh tanpa permisi saat tangannya tergerak melihat isi dari map tersebut.


"Aku mengerti tuan Dannis, cinta memang tidak bisa dipaksakan, kau pun tidak salah..... kita memang sama-sama terjebak dalam pernikahan ini, hanya saja aku mencintaimu namun kau tidak", gumam Nara pada punggung Dannis yang menjauh.


Lama Nara terdiam dalam keheningan setelah membuat keputusan atas apa yang harus ia lakukan dengan map yang berisi surat gugatan perceraian yang mana namanya ditulis sebagai penggugat oleh Dannis di sana.


Nara menutup map itu seraya menghapus airmatanya, ia berdiri membuka lemari dimana banyak terdapat pakaian seksi pemberian Sheira ketika pertama menikah.



Nara meraih map di atas nakas, lalu membawanya ke kamar Dannis dengan wajah penuh senyuman.


Dannis yang tengah sibuk dengan laptopnya cukup terkejut saat melihat Nara masuk ke kamarnya dengan penampilan tidak biasa.


Dannis tiba-tiba menjadi berdebar tidak tentu dengan jantungnya, entah kenapa ia mendadak salah tingkah saat Nara berjalan ke arahnya.


Dannis melirik map di tangan Nara.


"Aku tidak bisa memaksa perasaan mu padaku tuan Dannis, maka akupun akan membebaskanmu dari tanggung jawab pernikahan yang mungkin tidak akan pernah kau terima", ucap Nara serius.


"Tapi sebelum aku menandatangani surat ini, bisakah aku memiliki mu malam ini? bisakah aku menjadi istri dalam arti yang sesungguhnya bagimu? setidaknya kita bisa saling menjalankan sekaligus melepaskan kewajiban sebagai suami istri yang sah yang tidak pernah kita lakukan", ucap Nara yang telah menaruh map di atas meja tepat di samping laptop yang masih menyala.

__ADS_1


Gadis itu meraih kedua tangan Dannis dengan lembut, ia menarik pria itu dengan jalan mundur menuju ranjang, Dannis tidak menolak, lidahnya kelu ingin menjawab perkataan Nara.


Dada yang berdegup kencang, sungguh Dannis tidak mengerti kenapa ia bisa takluk begitu saja sekarang.


Sampai pada mereka mencapai ranjang, Nara mengecup telapak tangan Dannis dengan lembut, lalu menatap wajah suaminya dengan penuh cinta membuat Dannis menelan ludah.


"Izinkan aku menyerahkan diri padamu malam ini yang seharusnya kita lakukan sejak malam pertama setelah menikah", ucap Nara sendu seraya mengecup bibir Dannis yang menatapnya tidak terputus sejak tadi.


Dannis memejamkan matanya sejenak, hanya kecupan namun sungguh ia merasa luruh segala pertahanan darahnya berdesir jantungnya terasa ingin lepas dari dada, Nara tersenyum sambil mengusap bibir Dannis dengan lembut.


"Iya, malam ini saja tuan Dannis.... Hanya malam ini saja, aku ingin menjalankan kewajibanku sebagai istrimu meski kau tidak mencintaiku sekalipun", ucap Nara serius pada pria yang masih diam itu.


"Aku rasa kau tahu alasannya tuan Dannis, bahwa tidak ada janda yang masih perawan".


Sambung Nara yang tidak memberi Dannis kesempatan untuk menjawabnya.


Gadis itu kembali meraih wajah suaminya dengan penuh cinta, bukan hanya kecupan namun lebih dari itu. Demi apa sungguh Dannis tidak mampu menolaknya, ia merasakan bahwa gadis itu memberikan seluruh perasaannya, Dannis mengakui jika belum pernah merasakan apa yang ia rasakan saat ini.


Degup jantung yang bersahutan, mereka berciuman lagi dan lagi, liar semakin liar, tangan Dannis mengusap punggung Nara yang terbuka dan tangan yang lain telah menyentuh bagian paha gadis itu.


Sampai pada Nara menggiring tubuh mereka jatuh pada ranjang empuk itu.


Entah nafsu atau cinta, sungguh Dannis sudah tidak bisa menahannya ia bahkan telah menindih tubuh cantik milik istrinya itu tanpa melepas tautan bibir mereka.


Semakin dalam, semakin liar, semakin menyatu.


Sampai pada adegan mereka tiiiiiiiiittttttt (sensor), maaf author nya masih berlebaran hihihi.


Mohon maaf lahir dan bathin semuanya, love dari author beranak tiga ini, silahkan lanjutkan adegan mereka sesuai pikiran masing-masing ya.

__ADS_1


__ADS_2