
Eliana terbangun ketika merasakan ada beban berat menimpa perutnya, menyadari itu adalah tangan suaminya yang masih mendekap erat tubuh kecil perempuan itu.
Eliana tersenyum, ia berbalik menghadap Kemal yang masih terpejam, lama ia menatap wajah pria yang pernah membelinya dulu, tangan mulusnya tergerak menyusuri setiap garis wajah Kemal yang masih tidur dengan bertelanjang dada.
"Aku sungguh mencintai pria ini...." El bergumam sambil mengecup pelan rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang menambah ketampanan suaminya.
Kemal menggeliat, membuat Eliana terkekeh pelan melihatnya.
Setelah cukup untuk mengagumi wajah tidur suaminya, El menggeser pelan tangan kekar Kemal yang masih melingkar di badannya, keluar dari selimut yang sama El berniat beranjak dari ranjang untuk ke kamar mandi.
Karena masih dini hari, setelah dari kamar mandi El meminum air putih yang sudah tersedia di atas nakas sebelum kembali meringkuk dibawah kungkungan badan besar suaminya.
Baru saja ingin masuk kedalam selimut, El melirik ponsel Kemal yang berada disamping air putih yang baru saja ia minum, El menjadi tertarik ketika layar ponsel itu baru saja menyala seperti ada sebuah notifikasi yang masuk karena ponsel itu berada dalam mode 'diam'.
El meraih ponsel itu, keningnya berkerut melihat betapa banyak panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal.
Kemudian ada beberapa notifikasi pesan, El membuka setiap notifikasi tersebut diantaranya pesan dari beberapa kolega kerja nya, namun ada sebuah pesan dari nomor yang sama dengan panggilan tak terjawab tadi.
Mata sipitnya melebar ketika membuka pesan itu.
"Astaga.....kenapa wanita ini mengirim pesan pada tengah malam, huh....menyebalkan"
El menggerutu sambil menghapus pesan dari nomor yang baru diketahui adalah nomor Tiara tersebut.
"Apa seperti itu etika perempuan yang masih bersuami mengirim pesan pada suami orang lain ditengah malam begini, awas saja jika kau meladeni 'sahabat' mu ini ditengah malam buta, akan ku cincang kau Kemal" ucap El geram sambil melirik tajam suaminya yang masih tidak tahu apa-apa.
Setelah menghapus pesan dari Tiara, El mematikan daya ponsel tersebut dan kembali beringsut masuk kedalam selimut dan mendekap suaminya erat.
******
Kemal terbangun meraba ranjang yang sudah kosong disampingnya, ia mengumpulkan nyawa kemudian beranjak ke kamar mandi.
Sedang bersiap akan ke kantor, Kemal yang masih menghadap cermin tersenyum ketika istrinya datang menghampiri memeluknya mesra dari belakang.
Kemal berbalik badan, El segera mengambil alih memasangkan kancing kemeja suaminya yang masih tersisa.
"Kau tidak bersiap kuliah sayang?"
__ADS_1
"Tidak ada jadwal hari ini, aku akan di rumah saja bersama anak-anak"
Kemal mencium leher istrinya yang terus saja wangi bagi pria itu.
Setelah selesai El mengalungkan tangannya di leher Kemal, mengecup bibir suaminya pelan.
"Sayang.....bagaimana jika kita liburan ke villa? Aku merindukan desa ku" ucap El manja.
"Hei....ada apa ini kenapa kau tiba-tiba ingin liburan? Bukankah kau sendiri yang menolak tawaranku kemarin"
"Ayolah....apa butuh alasan untuk itu? Aku ingin menikmati akhir pekan bersama mu dan anak-anak" El masih bicara manja sambil mengetuk-ngetukkan jari lentiknya di dada pria itu, ia merasa geli sendiri ketika merayu Kemal.
"Baiklah......apapun untukmu sayang, nanti akan ku suruh Bella mengatur jadwal agar jumat bisa kosong, kita bisa berangkat pagi"
El tersenyum puas, tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk merayu pria itu agar mau berlibur, karena memang Kemal tidak pernah bisa menolak keinginan istrinya jika memang tidak ada pekerjaan yang mendesak.
Niat berlibur terbesit ketika El membaca pesan dari Tiara semalam yang mengatakan bahwa ia meminta Kemal dan Andra selaku sahabat untuk menemaninya menjalani kemotherapy yang pertama setelah menjalani beberapa kali radiasi di negara sebelumnya.
"Kenapa tidak ikut ke kantor saja hari ini?"
"Baiklah...." Kemal sedikit kecewa, karena sudah terbiasa ditemani istrinya dikantor sejak El libur panjang, Kemal merasa sangat bersemangat ketika didampingi istri tercinta dalam bekerja.
El meraih bibir suaminya, berciuman lama saling mengecap dan menautkan lidah, adegan ini tentu sudah menjadi rutinitas sebelum berangkat kerja, namun terhenti ketika ponsel Kemal berbunyi. Ia menjadi kesal siapa yang menelepon sepagi ini pikirnya.
Kemal menolak panggilan dari nomor asing tersebut, El melirik nomor itu ia mengingat jelas bahwa itu adalah nomor Tiara semalam.
Kemal kembali meraih bibir istrinya, tentu Eliana menerima perlakuan Kemal yang terus mendamba.
Kemudian Kemal benar-benar kesal ketika ponselnya kembali berdering.
"Astaga.....mengganggu saja, siapa yang berani menelepon ku sepagi ini" Kemal melihat history panggilan dari nomor tersebut, keningnya berkerut ketika melihat ada banyak nomor yang sama pada panggilan tak terjawab semalam.
"Sayang.....maafkan aku, itu panggilan dari nona Tiara, semalam dia juga mengirim pesan padamu tapi aku menghapusnya karena aku kesal dia mengirim pesan untuk suamiku pada tengah malam, maaf jika aku lancang....angkatlah jika kau ingin bicara padanya, sepertinya dia sangat membutuhkan mu" El menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan wajah, ia memang tidak bisa menyembunyikan hal sekecil apapun pada suaminya.
Menarik napas dalam El melanjutkan "Isi pesannya dia ingin kau dan mas Andra menemaninya kemotherapy sabtu nanti" El berucap pelan, ia seperti sulit untuk bernapas ketika mengatakannya, ia berpikir Kemal akan berubah pikiran dan membatalkan liburan mereka.
Kemal tersenyum mendengar El jujur pagi ini, ia mengerti maksud dari istrinya mengajak liburan akhir pekan ini hanya untuk menghindari Kemal dari menemani Tiara menjalani pengobatan.
__ADS_1
Belum Kemal menjawab kembali ponselnya berdering berasal dari nomor yang sama.
Kemal segera menolak panggilan itu kemudian tanpa berpikir panjang ia memblokir nomor tersebut dan kembali menyimpan ponsel mahal itu ke saku celana.
Tangannya mengangkat dagu sang istri yang masih menunduk.
"Apa karena ini kau mengajakku liburan?"
El hanya mengangguk "Aku minta maaf, kau boleh membatalkannya jika memang ingin menemani nona Tiara sabtu nanti, aku akan mengerti" jawab El dengan nada sendu.
Kemal terkekeh melihat raut wajah El.
"Sudah ku katakan, tidak ada yang lebih penting dari kau dan anak-anak sayang.....kita akan tetap berlibur, lagi pula aku tidak berkewajiban memenuhi permintaan Tiara, jangan merasa sungkan.....kau lebih dari apapun sayang" Kemal meraih tubuh El dan mendekapnya erat.
"Kau tidak marah?" El menengadah menatap suaminya yang masih mengulum senyum.
"Tidak....kenapa harus marah, kau berhak atas diriku sepenuhnya....aku tidak peduli meski dia habis riwayat sekalipun, kau tetap yang utama bagiku"
"Astaga...kata-katamu terlalu kejam" El menepuk pelan dada suaminya namun terukir senyum tipis dibibir manis Eliana.
"Aku serius.....bagaimana jika hari ini aku tidak ke kantor, kita bisa pergi ke taman bermain bersama"
"Tidak sayang, hari ini jadwalmu banyak"
"Bisa diatur"
Kemal melepas pelukan dan menarik pelan tangan istrinya duduk ditepi ranjang, ia kembali sibuk dengan ponselnya melakukan panggilan video.
"Bella.... Kosongkan jadwalku hari ini, kami akan berkencan, ku serahkan semua urusan padamu....aku tahu kau bisa diandalkan" Ucap Kemal sambil mencium pipi Eliana yang masih duduk disampingnya.
'Huh....astagaaaaa kenapa kalian pamer kemesraan sepagi ini padaku Kemal, kau menyebalkan....baiklah kau bosnya kau bebas melakukan apapun' jawab Bella diseberang sana sambil geleng kepala.
El hanya tersipu malu "Terimakasih nona Bella"
Kemal mematikan ponselnya, ia mengedipkan satu mata sambil tersenyum menyeringai menghadap Eliana.
"Kenapa menatapku seperti itu" El mengerti akan tatapan suaminya yang siap menerkam.
__ADS_1