
Sinar matahari pagi menusuk menembus gorden tipis yang belum terbuka sempurna, memancarkan cahayanya hingga membuat mata lelap Abrar terganggu, lelaki tampan yang tidak biasanya hari ini bangun lebih siang, ia mengerjapkan mata dan meraba ranjang sebelahnya yang telah kosong.
Mengumpulkan kesadaran, ia mulai beranjak berdiri berniat ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah ia melihat jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 7.15 pagi.
Setelah berpakaian rapi memakai stelan jas yang telah disiapkan istrinya, Alea mulai sadar akan tanggung jawab sebagai seorang istri yang baik akhir-akhir ini, perempuan itu telah berusaha untuk terbiasa bangun pagi dan menyiapkan segala keperluan sang suami untuk berangkat bekerja.
Abrar turun langsung menuju dapur, karena ia tahu pasti istrinya berada disana, benar saja Alea masih berkutat dengan wajannya, perempuan itu belum bersiap apa-apa masih dengan memakai kaos suaminya yang kebesaran yang hanya menutupi sampai atas paha saja.
Abrar menghampirinya dengan senyum termanis pembuka hari yang cerah pagi ini.
"Selamat pagi" bisik lelaki itu yang langsung memeluk Alea dari belakang.
Alea tersenyum merasakan sentuhan sang suami, ia tidak berbalik badan karena tangannya masih terus mengaduk.nasi goreng.
"Abang sudah bangun" jawabnya mencium pipi Abrar singkat.
"Maaf....aku kesiangan" ucap Abrar yang masih memeluk Alea mesra sambil tangannya ikut mengaduk nasi goreng.
"Aku yang seharusnya bangun lebih pagi lagi, aku akan belajar bangun pagi setiap harinya jadi abang tidak perlu membuatkan sarapan terus, ini memang tugas ku...." Alea membalas pelukan suaminya setelah mematikan kompor.
Abrar tersenyum mendengarnya, pria itu mengecup kening istrinya lama, kemudian Abrar dituntun Alea untuk duduk di meja makan saja, Alea lah yang menyiapkan semuanya.
"Nasi goreng sudah siap....jus jambu juga siap, meski agak tidak nyambung" cengir Alea pada suaminya.
"Apapun yang kau buat akan ku makan sayang...." jawab Abrar terkekeh.
Mereka menikmati sarapan sambil mengobrol kosong sesekali bercanda.
"Biar ku bereskan ini sayang, kau lekaslah bersiap, aku ada pertemuan pagi ini jadi tidak masalah bukan jika aku antar kau lebih pagi?" ucap Abrar.
"Tidak ini tugasku sayang, kau bisa ke kantor lebih dulu....aku bisa pakai mobilku saja" jawab Alea memegang tangan suaminya.
"Ayolah.....biar ku antar saja, kau tidak perlu repot menyetir sendiri"
"Hei.....aku malas berangkat pagi, aku akan sendirian disana karena teman-temanku datangnya jam 9 semua sayang, ini masih terlalu pagi, lagi pula aku sudah rindu mobilku...." rengek manja Alea pada suaminya.
"Huh....baiklah, ingat kau harus hati-hati oke....kabari aku jika butuh sesuatu"
Alea hanya mengangguk, ia mengantarkan suaminya sampai ke halaman, mereka berpelukan dan berciuman sebelum benar berpisah diiringi lambaian tangan Alea pada mobil suaminya yang menjauh.
__ADS_1
*****
Setelah membereskan rumah dan berpakaian Alea sudah tampak kembali menjelma sebagai dokter muda yang cantik siap menjalani tugas pendidikannya di rumah sakit milik pemerintah.
"Huh....aku merindukan mobil ini, sudah sangat lama tidak menyetir sendiri" gumam Alea tersenyum ketika ia sudah berada di belakang kemudi mobil kesayangannya sejak masih gadis.
Alea baru saja melewati lampu merah, ia tidak sengaja melihat gadis yang ia kenal berdiri di pinggir jalan bersama dua orang yang sudah paruh baya yang satu duduk di kursi roda, Alea berpikir itu mungkin saja orangtuanya.
Alea memutuskan untuk menepi, dan segera keluar dari mobilnya menghampiri sang gadis tersebut.
"Naura" panggil Alea.
"Oh nona Alea?" tatap Naura heran.
"Hei....iya ini aku Alea, kau masih ingat bukan dengan seorang wanita ceroboh yang akan menyeberang beberapa hari lalu?" jawab Alea dengan nada bercanda.
"Iya nona tentu aku ingat, kenapa berhenti?" tanya Naura kembali.
"Tentu saja karena aku melihatmu, kau mau kemana? apa ini orangtuamu?" tanya Alea sambil menghadap kedua orang tua tersebut.
"Iya, kenalkan ini papa dan mamaku nona, kami akan ke rumah sakit, hari ini kembali jadwal fisioteraphy papaku" jawab Naura.
"Hallo...paman, bibi aku Alea temannya Naura"
Alea memperkenalkan diri pada orangtua Naura yang Alea yakini ayahnya itu tengah sakit stroke yang terduduk di kursi roda tidak berdaya, pria paruh baya itu hanya diam karena lidahnya kelu ingin bersuara akibat kerusakan saraf yang dialaminya.
Kedua orangtua tersebut membalasnya dengan senyum tak kalah ramah, mereka salut sekaligus heran dengan perempuan yang bersikap sopan dihadapan mereka sekarang, dilihat dari penampilan Alea dan mobilnya bisa dipastikan bahwa mereka tengah berkenalan dengan anak orang kaya.
"Nak Alea....nama yang bagus, senang berkenalan denganmu" ucap bibi itu sopan.
"Kenapa kalian berdiri di sini?" tanya Alea.
"Kami sedang menunggu angkot yang ke rumah sakit nona" jawab Naura.
"Ayo ikut aku saja, aku juga akan ke rumah sakit....tujuan kita sama Naura, ayo bantu ayahmu masuk" ajak Alea tanpa basa basi lagi langsung membuka pintu mobil.
"Nona Alea, apa tidak merepotkan?" tanya bibi tersebut.
"Tidak bi, tujuan kita sama....aku juga sendirian, ayo aku senang membantu" ajak Alea kembali.
__ADS_1
Dengan langkah ragu, Naura dan ibunya pun mengiyakan ajakan Alea untuk berangkat bersama ke rumah sakit.
Dalam perjalanan Alea mendominasi pembicaraan, seperti itulah Alea ia tidak malu ataupun canggung meski baru berkenalan, ia berceloteh tentang aktivitasnya sekarang yang sedang koas di rumah sakit tujuan mereka, jadi sedikit banyak Alea berbagi pengalaman tentang pasien yang sama dengan ayah Naura agar lebih semangat lagi untuk meneruskan teraphy dan tidak putus asa dalam berobat.
Naura dan orangtuanya tidak menyangka wanita yang berpenampilan orang kaya ini tidaklah sombong dan sangat baik mau mengajak mereka bicara selama dalam perjalanan.
"Kenapa tidak bersama suamimu nona?" tanya Naura, karena dua kali bertemu Alea gadis itu selalu melihat Alea bersama suaminya.
"Suamiku sudah ke kantor Naura, dia ada rapat pagi jadi aku bawa mobilku saja hari ini, hei kau tidak bekerja? kau bilang kerja di toko roti bukan?"
"Iya nona, hari ini aku masuk shift sore jadi paginya aku bisa menemani papaku berobat"
"Lain kali aku akan mampir ke toko rotimu Naura" ucap Alea tersenyum sambil melirik Naura yang duduk di sebelahnya.
"Aku akan sangat senang jika nona mau mampir" jawab Naura membalas dengan senyum.
"Maaf nona Alea, bibi kira kau masih gadis nak...ternyata kau sudah bersuami" sambung ibu Naura memecah keheningan.
"Benarkah? apa aku terlihat seperti itu bi? aku memang masih muda bi, aku baru menikah belum juga tiga bulan, suami ku tampan bi....Naura pernah melihatnya" Jawab Alea dengan nada bercanda.
"Bibi bahagia mendengarnya, sepertinya kau bahagia menikah muda nak"
"Tentu saja aku bahagia bi, bahkan sangat bahagia aku mencintai suamiku bi....kami saling mencintai makanya menikah, aku tidak mau menyia-nyiakan masa mudaku, kau dengar Naura jika ada lelaki yang mencintaimu dan bertanggung jawab segeralah menikah, aku contohnya kami bahagia meski menikah di umurku yang baru dua puluh dua tahun ini" jawab Alea tertawa.
"Semoga kau bahagia selamanya nak Alea, bibi senang mendengarnya, kau benar jangan sia-siakan masa mudamu, bibi berharap Naura akan menemukan jodohnya yang baik"
"Amiiin" jawab Alea dan Naura bersamaan dan mereka tertawa.
"Kau harus cari lelaki baik Naura, yang bertanggung jawab dan tidak suka main perempuan.....kau harus benar-benar memilih untuk pasangan hidupmu, agar tidak gagal nantinya, aku saja selalu posesif pada suamiku padahal dia tidak melakukan apa-apa, lucu bukan...itulah aku, aku tidak mau ada perempuan lain yang berani menyukainya, terlebih suamiku tampan dan berkarir bagus hingga banyak wanita yang mengaguminya, itulah kenapa aku selalu waspada apalagi aku punya pengalaman ditikung teman sendiri ketika pacaran, akan ku makan wanita yang berani merebut suami, aku tidak takut apapun Naura, kau pun harus begitu nanti jika bersuami, karena janda dan sekretaris seksi bertebaran dimana-mana"
Ucap Alea panjang lebar tanpa ragu, membuat ibu Naura tersedak liurnya sendiri ketika mendengar celoteh Alea tentang hal tersebut.
"Bi? ayo minum dulu...." Alea menyodorkan botol mineral yang berada disampingnya.
"Apa aku terlalu berlebihan bi? tapi benar seperti itu bi karena aku mencintai suamiku bi, sangat mencintainya" ucap Alea lagi yang ditanggapi senyuman oleh Naura yang kagum dengan wanita seperti Alea.
"Kau benar sayang....bibi berharap kebahagiaan terus menghampiri rumah tanggamu" jawab ibu Naura setelah meminum air tersebut.
"Amiin...." jawab Alea dan Naura bersamaan lagi.
__ADS_1