Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 84


__ADS_3

Setelah orangtua Dannis mengetahui alasan kenapa pria itu sampai jatuh sakit dan masih dirawat sekarang.


Mereka semua sepakat bahwa akan membahas dan bertanya secara jelas jika Dannis telah sembuh dan pulang dari rumah sakit nanti, mengingat kondisi Dannis baru saja membaik setelah mendapat perawatan medis.


Eliana menunggu dan menjaga putranya bergantian dengan Syasya, Kemal tentu akan mengurus kantor selagi Dannis belum bisa masuk.


Dengan telaten perempuan paruh baya yang masih terlihat awet muda itu menyuapi Dannis yang duduk bersandar di kepala ranjang rawatnya.


"Mama, aku bisa makan sendiri, aku bukan anak kecil....", ucap Dannis berulang kali sebab sejak tadi sang mama tidak mengindahkan perkataannya.


"Berhenti bicara Dannis, mama bilang makan ya makan.... kau sudah dewasa namun di mata mama kau masih saja seorang bocah", jawab mama El kesal namun terus menyuapi pria itu.


"Mama ayolah".


"Siapa suruh kau sakit seperti ini, kenapa tidak bicara jujur pada mama dan papa sejak kemarin-kemarin Dannis? mama sudah mengurus semuanya, untung saja undangan belum tersebar", gerutu mama El lagi.

__ADS_1


"Maafkan aku ma", jawab pria itu menunduk.


"Mama tidak menyangka, dibalik wajah cantik dan polos istrimu dia tega meninggalkan mu seperti ini", ucap mama El sedih, ia yang masih mengira Nara sengaja meninggalkan Dannis terbukti dari surat perceraian yang mana Nara sebagai pihak penggugat.


"Bukan dia tapi akulah yang meninggalkan nya", jawab Dannis lirih.


"Dannis apa maksudmu?", tanya mama El serius.


"Ceritanya panjang, aku sama sekali tidak patut dibela dalam hal ini aku bahkan malu disebut sebagai pria", jawab Dannis pelan.


Namun Dannis tetap tidak menunda untuk jujur pada mamanya, ia tidak ingin lagi ada kebohongan terlebih pada orangtuanya sendiri maka dari itu ia menjelaskan tentang hubungan yang sebenar terjadi antara pria ini dan Nara.


Mama El terdiam, ia lama tercekat atas penjelasan Dannis yang semula tidak menghargai Nara, namun sekarang berubah menjadi cinta tapi apalah daya menantu perempuan idamannya itu telah pergi entah kemana hingga Dannis menderita seorang diri atas penyesalan yang bahkan menguras tenaga, pikiran, dan hati hingga kesehatan pria itu.


Dannis meraih tangan sang mama yang telah menangis sejak tadi, "Maafkan aku ma".

__ADS_1


"Dannis, kau lihat mama baik-baik apa pernah mama mengajarimu menyakiti seorang perempuan? apa kau tidak merasa iba jika adik-adik mu lah yang berada di posisi Nara? dijadikan pelayan oleh suaminya sendiri, istri tidak dianggap begitukah? oh apa ini Dannis sekarang dengan mudahnya kau bilang cinta?".


"Bodohnya kau menyia-nyiakan berlian hanya demi sebuah batu nisan, kalian menikah secara sah Dannis bukan sedang bercanda, apapun alasannya kau tidak boleh menyakiti Nara", cerca mama El yang mulai emosi.


"Kenapa tidak kau bangunkan rumah saja di samping makamnya Naya? alasan yang konyol Dannis, kau benar-benar keterlaluan".


"Apa sekarang? kau menyesal? huh baiklah nikmatilah penyesalanmu ini, lagi pula Nara sudah pergi, jika kau yakin ini cinta maka cari dia sampai dapat, jika tidak bersiaplah untuk gila".


"Hari ini kau masuk rumah sakit biasa mungkin saja esok-esok kau akan masuk rumah sakit jiwa".


Mama El menaruh piring makanan Dannis dengan kasar ke atas laci pasien yang berada di samping ranjang, perempuan beranak enam itu sungguh kesal atas kejujuran pria itu, karena Dannis tidak berani membantah, maka mama El meredamkan emosinya dengan meninggalkan anak sulungnya itu sendiri.


Dannis bukannya tersinggung atas kemarahan sang ibunda, pria ini malah tersenyum seakan mendapat energi baru.


Itulah yang membuat Dannis merasa bersyukur telah dilahirkan oleh seorang bidadari berwujud mamanya, perempuan lemah lembut itu mendidik tegas terhadap anak-anaknya jika memang bersalah.

__ADS_1


"Aku semakin yakin bahwa ini cinta, Khinara Aldaniah kembali lah, tidakkah kau kasihan aku dimarahi mama?", gumam pria itu terkekeh sendiri seraya membaringkan kembali tubuhnya berbantalkan kedua tangannya menatap jauh ke langit-langit kamar membayangkan wajah merona istrinya dengan perasaan rindu yang membuncah.


__ADS_2