Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 32


__ADS_3

Setelah ikut mengantarkan ayah Naura ke tempat tujuan mereka yaitu tempat fisioteraphy, Alea segera pamit untuk kembali ke ruangan tempat ia akan bertugas.


Di ruangan bangsal penyakit dalam, Alea bersua dua sahabatnya yang sudah datang terlebih dahulu.


"Hai Key hai Nazli sayang....aku merindukan kalian" peluk Alea.


"Huh....setiap hari kita bertemu, eh...ada berita yang harus kau ketahui" jawab Nazli.


"Memang apalagi jika bukan gosip si Deni dan Dara sialan itu, tidak akan mempengaruhiku juga" jawab Alea santai.


"Bukan kalau itu sudah basi....kau tahu, aku mengandung bayi kembar....." ucap Nazli dengan berbinar.


"What? Kembar? Aaaaaaaa pengen, memangnya siapa keturunanmu yang kembar?" jawab Alea memeluk sahabatnya.


"Paman suamiku kembar, jadi sekarang aku mendapatkannya, aku bahagia, semoga kalian segera menyusul"


"Huh....jangan membuatku iri, kau membuatku bersedih aku belum juga hamil sampai sekarang" jawab Keysa kesal.


"Kenapa kau kesal, aku juga belum hamil....tenang saja kita nikmati dulu masa pengantin baru" jawab Alea mencubit pipi Keysa.


"Satu lagi, kita mendapat dokter pembimbing baru di sini namanya dokter Bayu, tidak kalah tampan dengan suamimu....masih lajang pula, ya setidaknya kita bisa cuci mata selama disini" ucap Nazli kembali sambil tertawa.


"Itu tidak akan mempengaruhi cintaku pada bang Abrar, tapi....kau benar juga tidak ada salahnya cuci mata bukan? Ha ha ha" jawab Alea berbinar.


****


Setelah berkumpul di ruangan khusus para dokter, dimana dokter Bayu memperkenalkan diri sekaligus memulai bimbingannya pada mahasiswa koas selama berjaga di ruangan tersebut.


Semuanya telah bubar kecuali Alea yang terakhir ingin keluar ruangan karena sibuk mencari pulpennya yang hilang.


"Apa kau yang bernama Alea?"


Alea melihat ke arah dokter Bayu yang belum juga keluar dari sana, Alea membereskan tasnya dan mengangguk sopan menghadap dokter tampan itu.

__ADS_1


"Benar dokter, saya yang bernama Alea" jawab Alea pelan.


"Kau mengingatkanku pada seseorang" jawab dokter Bayu dengan wajah sulit diartikan.


Alea mengernyitkan dahi belum mengerti.


"Maksud dokter?"


"Iya kau cantik, kau mengingatkan ku pada calon tunanganku yang sudah mengkhianatiku" jawab pria itu masih dengan tatapan yang sama.


"Apa? Ha ha, dokter ini bicara apa, bukankah mirip itu hal yang biasa"


"Iya....kalian sama-sama cantik, senang bisa berkenalan denganmu Alea, kau bisa menghubungiku jika butuh bimbingan diluar rumah sakit" jawab dokter itu lagi dengan sebuah senyum terukir pada bibirnya.


Alea menjadi tidak nyaman dengan percakapan itu, maka darinya ia hanya mengangguk saja.


"Baik dokter terimakasih banyak, saya juga senang berkenalan dengan dokter Bayu, mohon bimbingannya selama disini" ucap Alea sopan sambil berdiri ingin segera keluar.


"Iya dokter, saya sudah menikah sama seperti temanku, dokter benar juga kelompok kami memang banyak yang sudah menikah, sepertinya lagi musim menikah muda" jawab Alea tertawa pelan, perempuan ini memang tidak canggung dengan siapapun ia berhadapan.


"Baiklah....kita bisa bicara lain waktu, kau sungguh cantik dan menarik Alea" ucap dokter Bayu dengan tatapan tidak putus terarah pada wajah istri Abrar itu.


Alea mengusap lehernya yang tidak gatal, sungguh diluar dugaannya bahwa dokter Bayu terlalu frontal berbicara pada seorang yang baru ia kenal.


"Saya permisi dokter...." jawab Alea yang segera menunduk hormat ingin keluar dari sana.


"Huh....bukankah tidak sopan memuji istri orang secara langsung, astaga....untung tampan jika tidak sudah ku tendang, enak saja wajah cantikku ini hanya untuk suami ku seorang" gumam Alea kesal sambil terus berjalan menuju teman-temannya.


*****


Abrar memergoki Arkan sedang melakukan video call diruangannya, Abrar ingin mengajak adiknya itu diskusi tentang proyek yang akan mereka tangani.


"Arkan" panggil Abrar.

__ADS_1


"Bang...." jawab Arkan yang langsung mematikan panggilan videonya.


"Kenapa kau matikan? Apa itu Vina?" tanya Abrar karena ia mendengar Arkan memanggil wanita itu dengan sebutan sayang.


"Tentu saja istriku bang, ada apa bang Abrar tiba-tiba masuk?"


"Kenapa tidak kau akhiri panggilan itu dengan baik terlebih itu istrimu, aku kesini ingin membicarakan tentang ini" ucap Abrar sambil menunjukkan sebuah map.


"Ha ha maaf, tadi abang masuk tiba-tiba, jadi aku reflek mematikan ponselku, baiklah ayo kita duduk dulu" jawab Arkan terbata.


Arkan menerima map itu dan mulai membacanya dengan teliti, tidak lama ponsel Abrar berbunyi tanda panggilan video dari istrinya yang segera di terima oleh Abrar.


'Sayang kau dimana? aku di kantormu' ucap Alea.


"Benarkah? aku sedang di ruang Arkan, kau bisa langsung kesini saja"


Alea mematikan panggilan itu dan segera melaju ke ruang yang disebutkan oleh suaminya.


"Sayang...." panggil Alea yang masuk dengan tanpa permisi ke ruang adik iparnya, beruntung tidak ada tamu disana.


Alea berhambur memeluk suaminya yang segera berdiri ketika mendengar suara dari Alea.


"Hai.....kau sudah disini rupanya" balas Abrar tak kalah erat, mereka saling menatap dengan senyum terukir dibibir masing-masing, Abrar bahagia istrinya datang, ia mengusap bibir Alea pelan lalu mengecupnya lembut.


"Aku merindukanmu" ucap Abrar dengan sayang.



"Aku juga merindukanmu, aku istirahat satu jam aku memutuskan kesini saja kita bisa makan siang bersama" jawab Alea kembali memeluk suaminya manja.


"Ck.....kalian anggap apa aku ini" Arkan menyindir sambil berjalan meninggalkan mereka menuju toilet.


Abrar dan Alea hanya terkekeh dibuatnya, Arbar kembali mencium bibir istrinya sungguh ia merindukan perempuan ini lebih dari apapun.

__ADS_1


__ADS_2