
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Lisa tersenyum menang begitu draft nama nama ahli waris telah selesai dibuat. Dengan cepat disambarnya kertas itu dari Hendra. Ia ingin memastikan bahwa namanya benar benar ada di sana.
"Bagus. Sekarang giliranmu tanda tangan. Nihhh!!!"
Lisa menyodorkannya kepada Karin yang hanya diam tertunduk. Dengan perlahan ia mengulurkan tangannya untuk menerima kertas itu.
"Duuuhhh lambat deh!!! Sini,,,!!!" Lisa menarik tangan Karin dan memberikannya pena juga.
"Buruan!!!" tegas Lisa sekali lagi dengan nada kesal karena Karin terkesan mengulur waktu baginya.
Bertahun tahun menunggu momen ini membuat Lisa tidak sabaran bahkan semenit pun ia tak mau menunggu lagi. Sudah terlalu lama ia mendambakan harta ini namun selama ini ia takut dan enggan berurusan dengan Dion.
Ia tau Dion bukan orang lemah dan bodoh yang mau segampang itu dirampoknya begini. Karenanya saat mendengar kabar meninggalnya Dion dari kerabat lain yang masih tetap saling menjaga komunikasi dengannya, ia mengambil penerbangan pertama untuk segera menemui istri Dion.
"Astaga lama bener deh ih,,,Tunggu apa lagi sih?? Buruan tanda tangan!!!" ketusnya karena Karin malah tampak melamun.
"Maaf nyonya. Jangan sampai tindakan nyonya termasuk dalam tindak pemaksaan. Berikan nyonya Karin waktu untuk menenangkan diri dulu. Bila perlu bila nyonya Karin memang belum siap maka sebaiknya ini ditunda dulu." Sela Hendra membela Karin.
Dalam hatinya Hendra yang sebenarnya tidak punya hubungan pribadi dengan Dion maupun Karin selain sebagai kuasa hukum pribadi Dion, merasa sangat tidak suka dengan ulah Lisa itu.
"Haduuuhh ini lagi satu bawel minta ampun!!! Yang maksa juga siapa?? Dengar sendiri kan tadi kalau dia dengan suka rela dan sadar memberikannya?? Jadi letak tindakan memaksanya di mana???" sungut Lisa.
"Menyeret tangan nyonya Karin juga bisa termasuk tindakan memaksa nyonya." Hendra menjawab dengan kesal juga.
"Lebay deh!!! Saya cuma membantunya menyelesaikan tugasnya ya. Satu lagi,,,apa tadi anda bilang?? Menundanya??? Anda tau sudah berapa lama saya menahan diri dan menunda untuk ini semua?? Anda jangan sok mengajari saya tentang kesabaran atau menunggu ya!!!" Lisa makin sewot.
Hendra hendak menyahut namun diurungkannya karena melihat tangan Karin memberinya isyarat untuk tidak melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.
"Tidak apa bapak Hendra. Biar saya tanda tangani sekarang saja. Biar saya bisa segera menenangkan diri." Karin melerai.
__ADS_1
"Baik nyonya." ucapan penuh rasa segan sekaligus kasihan terlontar dari bibir Hendra.
Karin menarik napas dalam dalam sebelum mengukir tanda tangannya di kertas itu. Ada himpitan rasa bersalah teramat besar dalam dadanya karena merasa telah gagal menjaga peninggalan suaminya.
"Maafkan Karin om papa. Mungkin Karin lemah tapi Karin janji akan kerja keras ke depannya untuk Del dan Zoya. Harta ini biarkan dibawa tante Lisa daripada tetap bersama kami namun membawa petaka. Semoga om papa tidak menyalahkan keputusan Karin ini."
Goresan pena telah terurai di atas nama Karin. Kemenangan telah berada mutlak di pihak Lisa sebagai pemilik setengah dari semua yang menjadi milik Dion sebelumnya.
Dengan setengah bagian lainnya diperuntukkan untuk Delvara dan Zoya kelak. Namun hanya saat mereka telah berusia 17 tahun saja. Sebelumnya semua itu juga akan dikelola oleh Lisa.
Lisa menjentik jentik kertas itu dengan senyum puasnya. Begitu juga Celia yang girang telah merasa menjadi anak orang kaya dadakan.
"Abis ini kita shopping ya mom." ucap Celia senang.
"Apa pun yang mau kamu beli,,,boleh kamu beli Celia sayang. Tas mahal?? Sepatu?? Perhiasan?? Baju?? Semuanya boleh sayang. Promise,,," janji Lisa.
"Thank yoouuu mommyyyy,,," Celia mendekap erat tubuh Lisa dan menempelkan pipinya pada pipi Lisa.
Hendra risih sekali kepada keduanya yang tidak bisa sekali menahan diri untuk tidak meluapkan kemenangannya itu saat ini. Ia menggeleng gelengkan kepalanya mendengar ibu dan anak itu berencana membeli barang barang branded setelah ini.
Ucapan itu merusak kebahagiaan ibu dan anak itu. Mereka merengut mendengarnya. Bahkan sangat tidak suka karena merasa telah diusir.
"Memangnya ini rumah siapa?? Rumah Dion kan?? Itu artinya rumah ini juga jadi milik anak anaknya juga dan berada dalam pengelolaanku. Lalu kenapa kamu mengusirku?? Lupa diri???" sinis Lisa.
"Untuk yang satu ini, tidak akan saya berikan karena ini milik pribadi saya. Ini sudah lama diatasnamakan kepada saya karena rumah ini adalah kado pernikahan kami." jawab Karin berusaha mempertahankan kenangannya bersama Dion.
"Gimana sih anda ini?? Kenapa yang ini bisa terlewatkan??" Lisa kesal kepada Hendra yang tidak memasukkan rumah ini ke dalam daftar property milik Dion.
"Karena ini memang sudah bukan menjadi milik tuan Dion jadi saya tidak bisa memasukkannya ke dalam daftar." tegas Hendra tak mau disalahkan.
"Tapi,,,," Lisa masih hendak protes.
"Mom,,, Bisa tidak stop??!!! Menjijikkan sekali." Valdy muncul dengan suara dan wajah tidak sukanya.
__ADS_1
Celia yang tau watak kakaknya itu memberi isyarat kepada Lisa untuk tidak melawannya. Begitu juga dengan Lisa yang malas untuk berurusan dengan Valdy kali ini. Dalam hati tetap merasa kesal kenapa anak itu ikut.
"Lets go!!!" ajak Valdy kepada mereka.
"Baiklah. Untuk yang ini kamu boleh merasa menang." ucap Lisa pada Karin sebelum benar benar pergi dari sana.
"Moooom,,,!!!" teriak Valdy lagi karena ibunya itu masih saja terlihat mengintimidasi Karin. Mungkin Valdy merasa iba kepadanya atau dia hanya tidak suka saja dengan ulah ibunya.
Lisa segera keluar dari sana tanpa pamit pada tuan rumah dan Hendra. Celia menyusulnya dengan sempat sempatnya menunjukkan wajah kesalnya pada Karin sebelum ia benar benar keluar dari rumah itu. Karin hanya mengelus dada melihatnya.
"Ku kembalikan milikmu." ucap Valdy singkat sembari meletakkan kembali foto pernikahan Dion dan Karin yang tadi dibawanya.
"Terima kasih." sahut Karin sambil menganggukkan kepalanya sopan.
Valdy tertegun melihatnya. Ia heran kenapa wanita itu masih saja menunjukkan sikap sopan kepadanya meski ibunya telah begitu menyengsarakannya.
Valdy yang tadinya ingin lekas pergi jadi malah menghampirinya.
"Maafkan my mom." ucapnya lirih nyaris tak terdengar.
Ini pertama kalinya baginya merasa sangat perlu untuk meminta maaf.
"Semoga ibumu bisa memanfaatkan harta itu untuk kebaikan. Tidak perlu meminta maaf untuk itu. Aku mewakili suamiku memilih mengikhlaskannya daripada membawa petaka ke depannya. Bagaimana pun,,, kita ini saudara. Tidak baik bertikai mengenai warisan." ucap Karin sopan.
Sekali lagi Karin membuat Valdy tertegun.
"Apa ini yang namanya bidadari?? Apa benar ada yang seperti itu??" gumamnya dalam hati.
"Valdyyyy what are you doing??" teriakan Lisa membuyarkan lamunan Valdy.
"Coming." jawabnya pendek sambil Sekali lagi ia menoleh kepada Karin.
"Kamu cantik hati dan rupa." ucapnya cepat tanpa menunggu reaksi Karin mendengarnya.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...