Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S2 Part 47


__ADS_3

Keesokan pagi nya Eliana bangun pagi, meninggalkan Kemal yang masih terpejam di ranjang.


Terbesit niat El ingin menghirup udara segar pedesaan yang telah lama tidak ia kunjungi, setelah melihat kedua buah hatinya yang masih tidur pulas, ia menitipkan pesan pada pengasuh agar memandikan mereka jika bangun nanti.


Tidak lupa El berpesan pada pak Hasan jika Kemal mencarinya.


Menyusuri jalan setapak menghirup udara yang masih basah, El berkeliling melewati hamparan pemandangan yang menenangkan, ia sungguh senang berada disana.


Melewati rumah sederhana yang pernah ia beli ketika memutuskan untuk pindah menghindari Kemal dulunya, membuat El tersenyum mengingat betapa bodohnya ia ketika itu.


El melihat sekeliling, ia pikir teman masa kecilnya akan berada disana, namun ia tidak menemukan Wahyu di sana.


Pada kenyataannya sejak ia kembali pada Kemal beberapa tahun yang lalu, rumah sederhana itu ia minta Wahyu untuk mengurusnya dan tinggal disana karena dekat dengan villa tempat pria itu bekerja.


El melanjutkan perjalanan karena tidak menemukan Wahyu disana, ia menyusuri jalan menikmati setiap tetes embun yang membasahi dedaunan.


Baru saja akan melangkah, Eliana mendengar dengan sayup suara tawa. El menoleh pada dua orang yang tengah berpegangan tangan sedang bercanda dengan mesra saling menatap penuh cinta.


El menghampiri mereka.


"Ehem...."


Karin terkejut mendapati El yang sudah berada di dekatnya.


"El....." Karin segera melepas tautan tangannya pada sosok pria yang Eliana baru saja cari.


"Nur" Sapa Wahyu.


"Hmmmm baiklah.....sekarang aku tahu kenapa kau sering menghilang akhir-akhir ini Karin, sepertinya aku mengerti kenapa kau memilih desa ini untuk jadi objek penelitian thesis mu" Ucap El tersenyum menatap kedua orang tersebut.


Karin jadi cangung, pun Wahyu mereka sudah tidak bisa menyembunyikan raut merah wajah malu keduanya.


Menghembus napas kasar Karin menjawab.


"Huh....baiklah sayang, kau sudah melihatnya....aku dan kak Wahyu, astaga aku malu mengatakannya"


"Nur....aku bisa menjelaskannya" jawab Wahyu.


"Berhenti memanggilnya begitu, dia akan menjadi kakak ipar mu" ucap Karin kesal sambil meraih lengan Wahyu mendekapnya erat.


El menjadi terkekeh melihat tingkah Karin yang terlihat cemburu.


"Apa kalian akan mengatakan padaku bahwa kalian punya hubungan spesial?"


"Hmmm....kami sepasang kekasih" jawab Karin cepat, Wahyu hanya tersenyum malu dan mengusap lehernya canggung.

__ADS_1


"Astaga......kalian begitu romantis" El masih tersenyum melihat tingkah keduanya.


"Nanti akan ku jelaskan padamu di villa, aku tidak akan membiarkan kalian bicara berdua meski kalian teman lama, aku akan cemburu" ucap Karin yang Wahyu semakin memerah wajahnya mendengar sang kekasih begitu frontal.


"Uuuu...kau membuatku takut Karin, baiklah sayang.....lanjutkan acara kalian, aku akan kembali berkeliling..."


"Mas Wahyu aku sangat senang mengetahui ini, aku juga tidak menyangka kau akan menjadi adik iparku" Ucap El menatap Wahyu yang masih malu-malu.


Karin mencubit perut kekasihnya ketika melihat senyum di wajah pria itu.


"Kenapa mencubitku?"


"Kenapa menatap Eliana begitu, aku cemburu" Karin mengerucutkan bibirnya kedepan namun tangannya tidak melepaskan lengan Wahyu sedikitpun.


"Kami berteman sejak kecil sayang...." jawab Wahyu menatap wajah jutek Karin.


"Berhenti bilang begitu, El akan menjadi kakak iparmu" kembali Karin menatap Wahyu tajam.


"Maafkan aku kalau begitu" jawab Wahyu tersenyum pada kekasihnya yang masih cemberut.


"Astaga....aku masih disini, oke baiklah....lanjutkan pertengkaran kalian, aku akan pergi" El geleng kepala dengan pasangan tersebut, ia memutuskan untuk segera berlalu dari sana.


******


"Sayang....." panggil Kemal sambil turun tangga, ia sudah segar berpakaian santai sambil menggendong kedua buah hatinya yang tidak bisa diam.


"Hei....kalian sudah bangun? astaga anak-anak mama sudah wangi" El menghampiri mereka dan mencium gemas pipi anak- anaknya.


"Kau tidak menciumku?" Kemal mengarahkan pipinya pada wajah sang istri.


"Astaga ada yang cemburu" El terkekeh kemudian ia segera mengecup pipi suaminya dengan sayang.


"Ayo kita sarapan" ajak El pada suami dan anak-anaknya yang sudah berhambur ke meja makan.


Kemal masih berdiri mengunci pinggang istrinya, ia mengecup bibir El mesra tangannya tergerak menyibak rambut yang terburai menutupi leher jenjang perempuan itu dan mengecupnya pelan, mencium wangi dari tubuh istrinya itu yang selalu saja membuatnya tergila-gila.


"Sayang ayo, sarapan dulu.....nanti kau boleh puas menciumku" El berucap sambil geleng kepala dengan tingkah manis Kemal di pagi ini.


"Baiklah.... dimana Karin?" Kemal melihat sekitar tidak menemukan adik sepupunya itu.


"Hmmmm dia sedang berkencan di pagi buta ini, kau akan terkejut jika melihatnya"


"Benarkah? apa dia mendapat pacar selama disini?"


"Sepertinya begitu, sudahlah ayo kita sarapan dulu, nanti ku ceritakan" El melepas pelukan suaminya dan menarik pelan lengan pria itu menuju meja makan yang kedua anak dan pengasuhnya sudah berada disana.

__ADS_1


Karena El tahu suaminya masih lelah, ia tidak memaksa Kemal untuk berkeliling desa. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan beristirahat saja di villa, berbeda dengan dua bocah kecil mereka yang sudah menghilang di ajak Karin berkunjung ke peternakan kuda bersama Wahyu.


*****


Kemal yang baru selesai dari kamar mandi menatap heran pada penampilan seksi istrinya yang memakai lingerie berwarna maroon seraya gerakan menggoda Kemal di tepi pintu kamar mandi menunggu pria itu keluar.


"Sayang....ada apa ini? kenapa kau? ayolah....aku bisa frustasi melihat mu begini?"


El tidak menjawab, ia terus saja menggoda suaminya dengan menyentuh punggung hingga dada pria itu seksi dengan gerakan mengitari tubuh kekar Kemal hingga membuat pria itu memejamkan matanya menikmati sentuhan sang istri.



"Aku mencintaimu" bisik Eliana di telinga suaminya.


Kemal menangkap tubuh seksi El dan mengunci pergerakannya, menatap penuh cinta El meraih bibir Kemal dengan manja, mereka terlarut dalam kemesraan yang hampir setiap hari tidak pernah mereka lewatkan.


Eliana berjalan mundur arah ranjang menarik pelan tubuh suaminya yang masih ia dekap tanpa melepas tautan bibir mereka.


Sampai ranjang, Kemal membaringkan tubuh seksi itu seraya menindihnya, masih terlarut dalam ciuman yang begitu dalam dengan napas yang sama-sama memburu berebut oksigen.


Kemal melapas bibirnya, ia takut tidak bisa menahannya karena ia pikir masih belum boleh menjamah tubuh kecil itu sebelum dokter mengizinkannya.


"Sayang.....astaga kau membuat ku gila, bagaimana jika aku tidak bisa menahannya"


El terkekeh, kebenarannya memang ia belum memberitahu soal perkataan dokter Shopia tempo hari, ia sengaja ingin memberi kejutan pada suaminya ketika di villa seperti sekarang.


El hanya menatap penuh damba, tangannya mengusap-usap bibir suaminya pelan, sedang tangannya yang lain ia turunkan untuk meraba kejantanan suaminya yang sudah menegang dibawah sana sejak tadi.


Membuat Kemal benar-benar frustasi dengan sentuhan tersebut, ia memejamkan mata menarik napas dalam, El tersenyum melihat raut Kemal yang menggemaskan.


"Aku milikmu sayang.....kau bisa lakukan apapun malam ini dan seterusnya" jawab El pelan dengan suara menggoda.


"Sayang....jangan bercanda, aku tidak mau menyakitimu, aku ingin kau sembuh dulu"


"Hei....aku sudah sembuh, dokter Shopia mengatakan kita boleh melakukannya, saatnya berbuka puasa sayang" El mengecup bibir suaminya sengaja meninggalkan liur disana


"Benarkah? astaga....kenapa tidak bilang dari tadi"


El tersenyum, Kemal tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera meraup bibir istrinya kembali dengan gairah yang. memuncak.


Dengan napas saling bersahutan, El membusungkan dadanya mulai merasakan rangsangan yang luar biasa, Kemal bermain di area leher meninggalkan banyak kissmark disana kemudian menuju dada berisi istrinya yang selalu membuatnya gila terlebih erangan-erangan kecil lolos dari bibir perempuan itu.


Mereka menyatu tanpa sehelai benang pun, setelah hampir satu bulan tidak merasakan nikmatnya peraduan mereka, hanya suara derit ranjang dan desahan-desahan seksi yang menghiasi kamar panas itu beruntung hujan lebat mengiringi hingga mereka bebas berekspresi dan bersuara melepas kerinduan yang lama tertahan.


Entah berapa ronde, karena terlalu bersemangat berbuka puasa hingga tanpa mereka sadari mereka bermain tanpa pengaman seperti yang disarankan oleh dokter bahkan mereka tidak mengingatnya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2