Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 62


__ADS_3

Mama Clara dan Naura tidak bisa menyembunyikan rasa sedih namun bahagianya, memang sudah ditakdirkan untuk jalan hidup mereka seperti ini kehilangan sosok figur suami sekaligus ayah dalam keluarga kecil itu, namun siapa sangka mereka mendapat ganti kehidupan yang mungkin akan lebih baik lagi, Abrar tidak bermain-main dengan ucapannya bahwa pria inilah yang akan bertanggung jawab atas kehidupan ibu tiri dan adiknya Naura.


Abrar telah membeli sebuah rumah minimalis yang tidak terlalu besar namun sangat cukup untuk tempat bernaung mama Clara dan Naura untuk melanjutkan hidup mereka, ia juga menjamin kebutuhan dua beranak itu perbulan dan juga berencana akan menyuruh Naura melanjutkan pendidikannya agar ia bisa menjadi lebih baik lagi.


Hubungan dua keluarga itu kian membaik setiap harinya, mama Clara juga akrab dengan menantu-menantu suaminya Melati dan Alea, terlebih Melati ia sungguh bahagia bisa mengenal dan dekat dengan ibu tiri sekaligus adik dari suaminya ini sebab ia memang tidak memiliki keluarga lagi setelah ibunya meninggal, pun dengan mama Bella perempuan itupun sudah lebih akrab dari sebelumnya, memang Arkan membujuknya untuk tinggal bersama mama Bella namun Melati tentu lebih nyaman tinggal di rumah mereka sendiri karena merasa lebih nyaman dan tidak terlalu mewah.


Pernikahan keduanya pun telah diresmikan setelah keputusan cerai dengan istri pertama Arkan sudah mencapai babak akhir di pengadilan, Vina hanya bisa menerima kenyataan namun ia masih tetap merasa beruntung karena sudah diberikan rumah, mobil dan modal usaha oleh mantan suaminya Arkan agar ia bisa membangun masa depan tanpa harus mulai dari bawah lagi.


Sebulan pun berlalu, masa berkabung telah dilewati, sudah saatnya mereka kembali ke rutinitas masing-masing Abrar dan Arkan kembali fokus dengan urusan pekerjaan, Alea terus melanjutkan koasnya dengan baik, perempuan cantik ini sudah tidak memikirkan lagi tentang kehamilan yang terus membuatnya merasa sedih, ia terus menjalani hari-hari bahagianya bersama sang suami.


*****


Alea sedang berjalan ke arah gerbang rumah sakit untuk menunggu sang suami menjemput, ia sibuk memainkan ponselnya ketika melewati parkiran yang lumayan sepi.


Kemudian ponsel beserta tasnya terjatuh ketika ia merasakan lemas pada sekujur tubuhnya dan tiba-tiba pingsan begitu saja saat dua orang pria berhasil membekapnya dengan sebuah sapu tangan dan membawanya masuk ke dalam mobil berwarna putih dari sana, namun sayang jangkauan cctv tidak mengarah pada lahan parkir itu sebab terhalang sebuah pohon hias.


Keysa yang kebetulan membawa mobil sendiri pun tengah berjalan ke parkiran, ia menjadi heran ketika mendapati tas sahabatnya dan sebuah ponsel disana.


"Alea.....kemana dia? Kenapa ponsel dan tasnya terjatuh disini?" gumam Keysa sambil memungut ponsel dan tas yang berserakan isinya karena memang Alea mempunyai kebiasaan tidak mengunci tasnya jika kemana-mana.


Lama Keysa berpikir tentang apa yang ia temukan "Astaga.....apa Alea menghilang? Atau di rampok? Tapi disini sepi dan tenang jika dirampok pasti akan ramai orang ini rumah sakit bukan hutan"


Keysa melihat sekeliling tidak ada yang mencurigakan, namun ia menjadi cemas sendiri bagaimana jika benar sahabatnya di rampok namun ia kembali mengernyit heran "Jika Alea di rampok seharunya tas dan ponselnya yang diambil bukan? Ini kenapa orangnya tidak ada benda ini dibiarkan disini saja...oppppss astaga apa ini penculikan? Aku harus bagaimana?" gumam Keysa kebingungan bukan main.


Ia memeriksa ponsel Alea namun tidak bisa karena tentu saja ponsel itu memiliki sandi untuk bisa membukanya.


"Oh....shit...bagaimana ini, aku harus apa?" Keysa gugup sambil terus berjalan kesana kemari untuk berpikir sampai pada ponsel Alea berbunyi tanda panggilan dari suami sahabatnya.


Segera Keysa menerimanya dan mengatakan Alea menghilang tiba-tiba sesaat sebelum ini, membuat Abrar berlari ke arah dimana Keysa berdiri.


"Bagaimana bisa? Baru lima belas menit yang lalu aku menghubunginya agar menunggu di depan" ucap Abrar cemas ia pun melihat sekeliling.


"Aku juga tidak tahu bang Abrar, aku baru saja akan ke mobilku dan aku langsung menemukan ini, Alea memang pamit untuk berjalan duluan" jawab Keysa juga kebingungan.


Ia menjelaskan bagaimana kondisi tas dan ponsel Alea yang ia temukan disana.


"Ya Tuhan.....kemana istriku" gumam Abrar mengusap wajahnya kasar, ia sungguh menyesali seharusnya ia datang lebih cepat dari ini.

__ADS_1


Mereka memutuskan untuk mencari Alea disekeliling rumah sakit dan menanyakan pada semua orang disekitar parkiran jika ada yang melihat, namun tidak ada satupun yang melihat perempuan itu membuat Abrar kian frustasi, Keysa pun sama ia sudah bertanya pada seluruh teman-temannya jika ada yang melihat Alea, namun tetap nihil sebab hari yang kian sore membuat lahan parkir memang tidak seramai pagi hari, terlebih kejadian Alea menghilang pun cukup di sudut tidak dalam jangkauan cctv.


Abrar masih berada dimobilnya, ia masih menunggu jika Alea akan muncul disana, namun tentu akan sia-sia sebab tidak ada tanda-tanda perempuan itu kembali.


Abrar sungguh bingung bagaimana ia harus berbuat sekarang terlebih jika mertuanya tahu bahwa ia tidak menjaga istrinya dengan baik, pria ini sungguh frustasi.


Abrar memeriksa ponsel istrinya, namun tidak ada tanda-tanda mencurigakan hanya ada chat Alea bersamanya dan tentu teman-teman koas Alea saja yang ia baca di pesan whatsapp.


"Sayang kau dimana....?" gumam Abrar memejamkan matanya bersandar di bangku kemudi, namun belum juga beranjak dari depan gerbang rumah sakit.


Ia hanya menghubungi Arkan, namun tidak menghubungi mertuanya sebab Abrar bingung harus bicara apa ia tahu pasti papa mertuanya akan marah besar jika mengetahui ini, ia belum siap menceritakan ini. Ia berencana akan mencari istrinya seorang diri. Tapi tentu masih kebingungan harus mencari dimana sebab tidak ada petunjuk apapun tentang hilangnya Alea.


*****


Alea terbangun dari pingsannya, matanya berpendar melihat sekeliling ia terkejut bukan main dimana ia berada sekarang ini.


Terdapat pula dua orang lelaki bertubuh tidak terlalu besar sedang menatapnya tak kalah bingung.


"Kalian siapa?" tanya Alea beringsut mundur.


"Kami ini penculik nona" jawab salah satunya.


"Kami juga tidak tahu nona, kami hanya menjalankan tugas saja, ayo ini makanlah karena kau sudah sadar....jangan sampai bayimu kelaparan kami akan dimarahi nanti" jawab lelaki itu seraya memberikan nasi kotak pada Alea.


Alea bingung, bayi mana yang dimaksud penculik itu.


"Apa maksudmu? Aku sedang tidak hamil" jawab Alea heran.


"Jangan bercanda nona, kami diberitahu bahwa perempuan yang akan kami culik itu sedang hamil"


"Huh....kenapa semuanya menyinggung perasaanku, kenapa kalian tega mengatakan aku hamil padahal tidak, kalian menyebalkan.....apa kau tidak melihat perutku ini rata" kesal Alea.


Membuat dua orang pria itu kebingungan, mereka melihat perut Alea dan benar saja rata tidak ada tanda-tanda membuncit seperti orang hamil pada umumnya. Mereka menggaruk kepala yang tidak gatal dan saling menatap satu sama lain.


"Jadi nona tidak hamil? Tapi bos kami mengatakan perempuan yang akan kami culik itu sedang hamil, astaga....kenapa kita tidak teliti melihat perutnya tadi?" gumam seorang pria itu pada temannya yang juga kebingungan.


"Apa kita salah culik?" jawab temannya.

__ADS_1


Alea menatap mereka bingung sekaligus kesal.


"Sebenarnya siapa perempuan yang akan kalian culik itu? Jika dia hamil itu berarti bukan aku, kenapa kalian bisa salah seperti ini?" tanya Alea yang semula takut namun sekarang ia merasa geli sendiri.


"Kami juga tidak diberitahu photonya nona, yang pasti ciri-cirinya seperti nona ini berambut panjang, cantik dan akan keluar dari rumah sakit melewati parkiran tadi"


"Huh.....kalian sungguh bodoh, banyak perempuan berciri sama seperti yang kau sebutkan, seharusnya kalian memastikan dia hamil atau tidak karena itu yang membedakannya, kenapa bisa sampai salah...ini konyol, bagaimana ini? Aku harus pulang suamiku pasti menunggu..." jawab Alea.


"Tidak bisa begitu nona, kami akan dimarahi jika melepas nona, ini juga sudah malam kita berada ditengah hutan sekarang, tidak ada mobil"


"Apa? Di tengah hutan? Astaga.....kalian ini benar-benar jahat, siapa bos kalian? Apa kalian pernah menculik sebelumnya?"


"Jujur tidak pernah nona, ini kami lakukan demi istriku yang akan melahirkan, maklum nona hidup sekarang serba susah jadi kami terima saja asal upahnya lumayan" jawab salah satu pria.


Membuat Alea terkekeh, ia sungguh merasa konyol terlebih jika di amati wajah dua orang tersebut tidaklah seram seperti penjahat profesional dan benar saja dugaannya ternyata mereka masih penculik amatiran.


"Dan kau apa alasanmu menerima pekerjaan ini?" tanya Alea pada temannya.


"Aku melakukan ini tentu uangnya untuk melamar kekasihku nona, kami lama berpacaran namun tidak ada modal untuk menikah" jawab pria itu polos.


"Ha ha ha, astaga.....kalian begitu lucu, tidak takut berdosa? Aku ini perempuan, istri dan kekasih kalian juga perempuan bukan? Bagaimana jika posisi kita dibalik? Apa kalian tega istri atau kekasih yang kalian sebutkan tadi jadi korban penculikan atau bahkan pembunuhan?"


Membuat dua pria itu bergidik ngeri membayangkannya.


"Tidak.....kami tidak mau itu terjadi" jawab mereka serentak.


"Lantas kenapa tidak kalian cari pekerjaan lain saja, kalian masih muda masih kuat kenapa mau jadi penjahat dan apa sekarang salah culik lagi apa kalian tidak malu pada jiwa kelelakian kalian? Cepat antar aku pulang di sini banyak nyamuk...." ucap Alea enteng.


"Nona menceramahi kami"


"Apa kalian pernah menonton atau menghadiri pengajian?"


Mereka serentak menggeleng.


"Baiklah anggap itu ceramah untuk kalian yang bodoh ini, agar kalian bisa tahu mana pekerjaan yang baik mana yang tidak, apa kalian pikir istri dan kekasih yang menunggu kalian pulang akan terima jika suami dan pacarnya seorang penjahat? Tidak bukan? Huh....aku lapar...nanti saja dilanjutkan cerita kita, boleh aku makan?"


Mereka mengangguk polos seraya menyengir dan mengusap leher yang tidak gatal.

__ADS_1


####


Penculiknya bingung.


__ADS_2