
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Selamat datang di rumah yayasanku Dion dan mama." ucap Yusuf saat membukakan pintu apartemen yang memang dari awal ia beli untuk tidak ditempati olehnya melainkan untuk membantu siapa saja yang membutuhkannya.
"Wah bagus sekali nak Yusuf. Tidak mirip seperti rumah yayasan. Ini mah memang apartemen mewah." gumam mama Herna.
"Mama bisa saja." Yusuf tersipu malu.
"Kamu memang hebat nak. Tidak sia sia kamu jauh jauh merantau. Orang tuamu yang sudah di surga pasti bangga melihatmu." puji mama Herna.
"Aamiin. Terima kasih ma. Tapi apa mamaku yang ini juga bangga??" canda Yusuf.
"Pastinya kalau itu." jawab mama Herna sembari tersenyum.
"Kamu suka tempat ini Dion?" tanya Yusuf karena sedari tadi Dion malah tampak melamun.
"Catering itu,,," Dion malah menjawab pertanyaan itu dengan hal lain.
"Kenapa dengan cateringnya?" tanya Yusuf.
"Seandainya saja aku punya cukup uang, aku ingin bisa berlangganan." lirih Dion.
Yusuf tersenyum kemudian berjongkok di depan Dion. Memperhatikan wajah orang baru dalam hidupnya itu dengan seksama.
"Kan aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu memikirkan urusan uang dan makan. Aku yang akan menanggung semua kebutuhan kalian selama kalian di sini. Dan kalau memang kamu suka dengan catering itu, maka aku akan memintanya memasak untukmu juga."
"Benarkah?" mata Dion berbinar.
"Benar. Kalau memang masakannya mampu membangkitkan segala kenanganmu atas anak istrimu dan juga bisa membangkitkan semangatmu, maka aku akan atur semuanya. Bahkan aku juga ingin menjadwalkan terapi akupunktur untukmu juga. Aku yakin kamu pasti sangat ingin sembuh bukan?" tanya Yusuf.
"Kamu serius Yusuf?" tanya Dion lagi.
"Aku selalu serius dengan semua perkataanku. Asal kamu mau." tegas Yusuf.
"Tentu saja aku mau. Tapi,,,," Dion berhenti.
"Tapi apa?" Yusuf penasaran.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu begitu baik pada kami." Dion berterus terang.
__ADS_1
"Karena kalian membuatku merasa punya keluarga di negara orang. Aku jadi punya mama dan jadi punya abang juga. Kamu mengingatkanku pada almarhum abangku dan mama juga begitu mengingatkanku pada almarhumah mama. Apa aku terlalu berlebihan?"
Mama Herna mendekati Yusuf. Meraih bahunya lalu mencium keningnya dengan derai airmata.
"Terima kasih nak Yusuf. Saat orang yang kami sayangi malah membuang kami, kamu datang sebagai malaikat penolong kami." ucap mama Herna.
"Ma,,, jangan sungkan. Terimalah bantuan sekedarnya dari Yusuf ini ya. Kamu juga Dion,,," Yusuf yang belum tau usia Dion terpaut jauh darinya memang nyaman langsung memanggil namanya saja.
Lagipula Dion juga tak terlihat setua usianya.
"Terima kasih banyak Yusuf. Aku tidak tau harus bagaimana membalasnya kelak." ucap Dion.
Yusuf beralih ke belakang kursi roda Dion, memegangi kedua bahu Dion dengan erat lalu kembali berkata kata.
"Cukup dengan bersemangat sembuh agar kelak kamu bisa kembali pulih dan mendampingiku mengurus semuanya. Cukup dengan menganggapku adikmu sendiri dan menyayangiku."
"Meski aku ini anak tunggal yang tidak tau bagaimana rasanya punya adik,,, tapi abangmu ini akan berusaha keras untuk jadi abang terbaik untukmu adikku. Abangmu ini tidak akan pernah lupa semua yang sudah kamu lakukan untukku dan mama." janji Dion.
"Terima kasih bang D. Aku panggil begitu saja ya,,,Lebih keren kan?" kelakar Yusuf.
"Bang D ya,,,??" Dion berpikir sejenak.
"Not bad at all." Dion setuju dipanggil begitu.
"Wahh ini judulnya mama yang ketiban untung dapat dua anak cowok yang sama sama baiknya. Mama juga janji akan berusaha kembali menjadi mama yang baik untuk kalian. Terutama juga untukmu Dion. Mama minta maaf atas semua yang sudah terjadi." ucap mama Herna.
“Jangan iri ya bang D kalau mama jadi sayang aku juga heheheh,,,”Yusuf menggoda Dion.
“Dihh,, abangmu ini udah puas disayang mama puluhan tahun.” Sang abang pun mengimbangi candaan adik angkat baik hati itu.
“Hahahah,, kamu benar benar cocok aku jadiin abang bang. Sama gokilnya sama aku.”
Tak hanya Yusuf yang senang punya abang angkat sefrekuensi tapi perasaan yang sama juga dirasakan oleh Dion. Begitu juga mama Herna yang tak henti henti berucap syukur dalam hati atas kebaikan Tuhan mempertemukannya dengan malaikat penolong ini.
Sebuah keluarga baru pun tercipta. Tanpa tau bahwa mereka memiliki keterikatan satu sama lain.
“Baiklah bang D. Aku harus Kembali bekerja. Aku tinggalkan kalian di sini ya. Istirahat dan anggap rumah sendiri.” Pesan Yusuf.
“Suf,,,” panggil Dion.
“Iyaaa aku ingat kok. Makan siang pakai catering langganan kan?” Yusuf mengerlingkan matanya sebelah kea rah sang abang angkat.
__ADS_1
“Kamu memang adikku yang paling the best. Sekali lagi terima kasih ya sudah begitu baik pada kami.” Ucap Dion.
“No worries bang. Bye,,,”
“Bye,, hati hati.” Pesan Dion.
Seperginya Yusuf, mama Herna pun mendekati Dion.
“Denga apa ya kita balas kebaikannya kelak Dion? Mama jadi gak enak banget sebenarnya sama nak Yusuf tapi sepertinya dia sangat tulus. Lagian kamu juga,,, isi pilih pilih catering segala. Mama makin malu lho. Sudah digratiskan kok malah melunjak sih?” sungut mama Herna.
“Entahlah ma. Sehabis makan makanan itu Dion terus terbayang wajah Karin. Dion mendadak rinduuu sekali padanya. Rasanya Dion tengah makan masakan Karin.” Gumam Dion.
“Itu hanya perasaanmu saja Dion. Lagian pasti juga bukan Karin yang memasaknya. Kamu hanya terlalu rindu padanya sampai sampai kamu jadi mellow begini pas makan masakan Indo. Selama ini kan Hana hanya menyediakan makanan seadanya yang cepat dan tidak merepotkannya.” Ucap mama Herna.
“Iya sih ma. Tapi kenapa mama bisa begitu yakin kalau yang masak bukan Karin?” tanya Dion.
Mama Herna tertunduk sejenak. Berasa sangat berat membuat pengakuan akan dosa di masa lampau. Takut akan menyakiti perasaan sang putra namun menyesal pun sudah percuma.
“Ma,, ada apa?” tanya Dion menyadarkan mama Herna dari lamunannya.
“Mama,,,”
“Kenapa ma? Mama sakit?”
Mama Herna menggeleng membuat Dion makin tak mengerti.
“Lalu mama kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaan Dion?”
Sekali lagi mama Herna menggeleng pelan. Makin berat rasanya saat ingin mengakui semuanya. Tenggorokannya terasa tercekat.
“Sebenarnya mama,,, mama,, Mama yang membuat Karin menjauh darimu Dion. Bahkan mama juga membuatkannya sebuah surat perjanjian yang mengharuskannya untuk tidak menemui atau pun menghubungi semua orang yang bisa jadi koneksimu. Mama juga membelikan dia tiket untuk pergi ke Kanada. Untuknya, anakmu dan mertuamu juga.” Suara mama Herna terasa habis saat mengatakan semua itu.
“Papa Adi??” tanya Dion.
Mama Herna mengangguk lantas menjelaskan semuanya pada Dion hingga Dion paham. Dion pasti bingung karena setau Dion mertuanya itu masih berada di penjara. Bagaimana bisa pergi dengan Karin?
“Jadi begitu Dion. Mama sungguh keterlaluan. Mama minta maaf sama kamu ya nak.” Mama Herna tak sanggup menahan airmatanya.
“Setidaknya anak dan istriku tidak sendirian di luaran sana saat ini. Semoga mereka sabar dan kuat menghadapi semua ini tanpa Dion.” Lirih Dion hampir tak terdengar.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1