Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 34


__ADS_3

Dannis menarik napas dalam, ingin sekali ia marah ketika mendapati kamarnya terlihat berbeda dari biasanya, namun urung karena beberapa saat lalu mama El yang mengaku bahwa dialah yang menurunkan semua figura yang terpajang di sana.


Dannis mengepalkan tangannya kesal, ia menatap Nara yang hanya menunduk saja sejak kepulangannya dari kantor tanpa berani menatap.


"Baiklah karena kau sudah berani meracuni pikiran mama dan Sheira tentang semua barang pribadiku, kau akan tahu akibatnya nona istri", ucap Dannis dengan geram di telinga Nara.


Dannis memalingkan wajah dari gadis yang berdegup takut itu. Pria ini berjalan menjauh seraya membuka dasi sekaligus kemeja yang ia pakai dengan kasar dan kesal.


Nara kian berdegup ketika netranya melihat jelas suaminya bertelanjang dada seraya minum air putih yang tersedia di atas nakas.


Beberapa kali Dannis menghembus napas kasar, ia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya yang terasa panas sore itu.


Nara masih terdiam, ia tidak berani berkata-kata sebab ia merasa bersalah akan hal ini, Dannis tentu saja marah ketika tahu photo kenangan dan barang-barang pribadi miliknya yang berhubungan dengan Naya semuanya sirna.


Nara berniat ingin meminta maaf pada Dannis yang masih di kamar mandi, baru saja akan mengetuk pintu ternyata Dannis lebih dulu membukanya.

__ADS_1


Nara tidak sempat bersuara ketika tangannya ditarik kasar oleh suaminya ikut masuk ke kamar mandi dan ikut diguyurkan di bawah shower hingga mereka berbasah-basahan.


"Tuan....", rengek Nara meringis ketika tangannya belum dilepaskan dan tentu saja ia merasa sakit oleh tangan besar Dannis yang meremasnya.


"Jangan sesekali kau ulangi hal ini, aku menikahimu terpaksa dan kau dengarkan baik-baik, jangan berani mencampuri urusan pribadiku terlebih lancang menyentuh barang-barang kenangan milik kekasihku, aku tidak akan mengampuni mu wanita sial", ucap Dannis tajam dengan kilatan amarah di matanya.


"Tuan.... maafkan aku, maaf aku sama sekali tidak bermaksud....", jawab Nara namun segera ditepis oleh pria berbadan kekar itu.


"Diam kau..... aku tidak menerima maaf apapun untuk hal ini, jika bukan karena orangtua ku mungkin kau sudah ku buang di jalan".


Dannis menyeringai, ia menghempaskan tubuh Nara hingga menabrak dinding di belakang gadis itu, kemudian kedua tangan Dannis meraih wajah Nara dengan paksa ia mencium bibir istrinya dengan kasar, Nara ingin menghindar sekuat tenaga namun tentu saja akan sia-sia.


Nara merasakan sesak di dadanya karena kesulitan bernapas padahal ia sudah berupaya memukul dada Dannis sebagai tanda untuk melepaskan bibirnya, melihat itu Dannis puas dan pria itu mengakhirinya dengan memberi gigitan bibir Nara hingga berdarah.


Tidak sampai di situ Dannis meraih pinggang ramping gadis yang hanya memakai dress selutut dengan bagian lengan terbuka itu hingga tubuh mereka menempel, Nara bahkan tidak diberi kesempatan untuk bersuara Dannis meraih resleting baju Nara di bagian belakang dan menariknya kasar hingga pakaian itu menjadi robek dan di saat itu pula tubuh mungil Nara ikut tersungkur ke lantai bersama tangisnya yang pecah.

__ADS_1


"Apa kau berharap aku akan menyentuhmu? teruslah bermimpi gadis sial, kau sudah keterlaluan memasuki kehidupanku, lihat saja sampai mana kau akan bertahan".


Nara menangis tersedu memegang dadanya, matanya menatap lesu Dannis yang membuka celananya dan memakai handuk sebelum keluar kamar mandi ia meraih wajah Nara dengan satu tangannya.


"Aku pastikan kau yang akan menyerah dengan pernikahan palsu ini, aku membencimu Khinara Aldaniah jangan lupakan itu", ucap Dannis tajam sambil menepis wajah itu ke samping dengan geram.


Nara menatap suaminya melangkah keluar kamar mandi dengan mata lelah dan bengkak oleh tangis.


Gadis itu meringkuk bersandar di dinding dengan air yang terus menyala mengguyurinya, setelah ia merasa cukup kedinginan akhirnya Nara berdiri dari sana dan mematikan shower.


"Pernikahan palsu", gumam Nara pelan menatap wajahnya yang sayu yang tampak menyedihkan, ia melihat pula penampilannya di cermin itu yang terlihat jelas bahwa ia baru saja mendapat perlakuan kasar dari suaminya hingga merobek pakaian yang ia kenakan.


Bibir yang bawahnya yang bengkak dan berdarah.


"Hanya dia yang bertahan dimasa sulitlah menjadi yang terkuat, ini bukan apa-apa tuan Dannis.... aku bahkan sudah mendapat perlakuan seperti ini sejak sekolah dasar, kita sudah diikat oleh pernikahan yang sakral tidaklah patut aku ikut mempermainkannya, palsu di matamu namun sah di mata Tuhan jangan lupa itu".

__ADS_1


"Berhati-hatilah dengan rasa benci karena benci dan cinta itu sangat berdekatan", ucap Nara pelan sambil tangannya menghapus airmata yang terus saja mengalir sejak tadi.


__ADS_2