
...Haaiii,,, Selamat membaca ya π€ Maafkan typo yang bertebaran π€π...
...πΈπΈπΈ...
"Selamat nyonya dan tuan." ucap dokter yang memeriksa Karin setelah mengkonfirmasi bahwa pasien muda itu memang tengah berbadan dua.
"Terima kasih dokter." sahut Karin bahagia.
"Dijaga kesehatannya ya nyonya. Ini masih trimester pertama dan masih rawan. Aktifitasnya mungkin bisa dikurangi dan jangan lupa minum vitamin dan susu kehamilan." dokter wanita itu sangat ramah.
"Kalau masalah itu serahkan sama saya dok. Saya yang akan menjaga baik baik menantu dan calon cucu saya ini." mama Herna langsung mendekap tubuh Karin dari belakang.
"Terima kasih mama."
Karin menitikkan airmata bahagia. Membayangkan jika saja mamanya sendiri masih hidup, tentu mamanya juga akan memperlakukannya begini. Belum lagi papanya yang saat ini berada di belahan bumi bagian lain dan tengah menjalani hukuman akibat deretan perbuatannya yang melanggar hukum. Tentu papanya juga akan sangat senang mendengar kabar bahagia ini.
"Hei,,, kok nangis??" tanya Dion.
Karin hanya menggelengkan kepala saja seolah mengatakan ia sedang tidak bersedih. Airmata ini bukan airmata kesedihan melainkan kebahagiaan. Bahagia meski jauh dari papanya,,, meski ditinggal mamanya menghadap sang Khalik,,, tapi ia masih dikelilingi orang orang yang menyayanginya.
Ada mama mertua yang mendekapnya erat dan menyatakan kesiapsiagaannya menjaga dirinya dan calon bayinya,,, Ada papa mertua yang meski tak melakukan apa apa saat ini tapi di balik diamnya dan senyum wibawanya itu terdapat tumpukan rasa sayang bagi Karin apalagi saat ini beliau tengah menantikan cucu pertamanya.
Dan tentunya ada suami yang juga sangat mencintainya. Menganggap dirinya adalah segalanya. Membuatnya merasa menjadi wanita muda paling beruntung karena besarnya cinta yang dimiliki suaminya itu untuknya.
"Kangen papa ya??" Dion membelai kepala istrinya dengan penuh pengertian.
Nah ini,,, Suaminya ini juga paling mengerti apa yang tengah dipikirkannya. Tebakan suaminya itu sangat benar membuat Karin kembali menangis bahagia.
"Iya nanti kalau kondisinya memungkinkan,,, kita mengunjungi papa di Paris ya." Dion kembali membaca isi pikiran Karin.
__ADS_1
Karin mengangguk namun merasakan dekapan mama Herna terlepas dari tubuhnya.
"Mana boleh ke Paris kondisi begini. Kalau hamil itu gak boleh bepergian jauh Dion. Apalagi naik pesawat. Benar kan dok??" tanya mama Herna.
Dokter tersenyum lalu menjelaskan bahwa boleh saja naik pesawat saat hamil asal kehamilannya tidak mengalami kelainan atau bisa dikatakan sehat sehat saja. Yang sebaiknya tidak dilakukan atau tidak naik pesawat adalah saat kehamilan memasuki usia 37 minggu ke atas karena dikhawatirkan calon ibu bisa melahirkan lebih awal.
"Ah pokoknya lebih baik tidak bepergian jauh. Mama gak mau membahayakan kehamilan Karin. Lagipula papanya Karin pasti juga memahami alasan ini kok." mama Herna tetap pada pendapatnya.
"Ya sudah kita pulang saja dulu ya. Nanti dibahas di rumah saja." Dion yang paham istrinya tentu kecewa dengan pendapat mamanya itu segera memotong pembahasan.
"Benar kata Dion. Itu bisa dibahas di rumah saja. Dokter tentu masih ada pasien lain yang harus ditangani ma. Ayo kita pulang saja dulu." papa Hengki juga mengajak pulang.
Meski kesal karena sepertinya anak dan menantunya tidak sependapat dengannya, mama Herna tetap mengikuti ajakan pulang Dion dan suaminya. Sebelumnya mereka memastikan vitamin yang harus diminum oleh Karin sudah terbawa pulang.
"Apalagi sih yang harus dibahas di rumah Dion?? Mama sudah jelas jelas bilang ya kalau Karin sebaiknya tidak bepergian jauh. Itu juga untuk kebaikan dan keselamatannya sendiri dan calon cucu mama." mama Herna kembali membahas masalah itu saat mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.
Sesekali saja ia melirik ekspresi wajah mamanya dafi spion kecil di tengah. Tidak lupa juga ia sesekali menggenggam jemari istrinya yang duduk di sebelahnya. Ia sungguh tak ingin istrinya itu berpikir macam macam.
"Semestinya kan Karina juga paham sejak awal sebelum memutuskan menerima ajakan menikahmu. Bahwa dia akan ikut kamu." ucap mama Herna pada Dion.
"Rina,,, Sudah kewajiban istri ikut kemana pun suamimu pergi. Trus kalau situasinya seperti ini,,, sedang hamil tapi kangen papamu,,, kan ya musti tetap harus ngerti dong. Mama tau kamu ingin papa kamu itu juga tau kabar bahagia ini tapi Jangan egois dengan keinginan sendiri. Pikirkan keselamatan bayi dan juga kami yang begitu menginginkan cucu kami lahir dengan selamat." lanjut mama Herna sebelum Dion sempat menjawab apa apa.
"Mama apaan sih kok gitu ngomongnya???" tegur Dion yang tidak suka dengan tuduhan egois mamanya pada Karin.
"Kan benar apa yang mama bilang. Coba saja kalau papanya Rina gak dipenjara,,, kan bisa berkabar lewat telpon saja. Menyusahkan saja kalau begini." keluh mama Herna.
"Ma!!!" papa Hengki menegur istrinya yang sepertinya mulai keterlaluan bicaranya.
"Apa sih pa?? Benar kan kata mama?? Coba besan kita itu bukan narapidana,, kan kita gak perlu mengorbankan keselamatan menantu dan calon cucu kita." mama Herna belum paham juga apa yang membuat ia ditegur oleh suaminya.
__ADS_1
"Mama,,,!!!" papa Hengki meninggikan suaranya.
"Mama makin ngaco deh ngomongnya." Dion mulai kesal juga.
"Sudah om papa,,,Sudah. Apa yang dikatakan mama itu benar adanya. Karin memang harus mengalah dan memikirkan bayi Karin juga. Karin akan fokus jaga kesehatan dan kehamilan ini. Tidak apa apa menunggu nanti saja sesudah lahiran kita kabari dan kunjungi papa di Paris." ucap Karin melerai.
"Tapi sayang,,," Dion mau menyela.
"Rinanya udah gak keberatan kenapa kamu ganti yang ngeyel sih Dion???" potong mama Herna.
"Om papa,,, Karin gak apa apa. Sudah ya jangan diperpanjang lagi masalah ini." Karin mengelus lengan kiri Dion berusaha menenangkan suaminya agar tak terus terbawa emosi dan malah memicu pertengkaran dengan mama Herna.
Dion hanya mengangguk menuruti kata kata istrinya meski dalam hati ia tetap harus membicarakan ini dengan mamanya. Bagaimana pun mamanya harus tau dan menyadari kesalahannya tadi.
Tidak semestinya mengungkit status papa Adi yang masih jadi narapidana saat ini. Karena Dion tau meski bidadari kecilnya itu mengulas senyum di wajahnya tapi pasti sedih dalam hatinya.
"Minta maaf sama Karin ma." pinta Dion begitu Karin sudah masuk kamar.
"Loh memangnya salah kalau mama bilang papanya itu narapidana. Kenyataannya memang begitu kan??" mama Herna tetap ngotot.
"Ah,,," Dion sebal dan menyusul istrinya ke kamar.
"Anak aneh." Mama Herna hanya angkat bahu tak paham dengan apa yang membuat Dion sesebal itu.
...πΈπΈπΈ...
...Maafkan author yang lama libur up nya π Proses penyembuhan ternyata jauh lebih berat π₯΄ Malah curcol nih π€ ...
Beri vote, like dan komennya ya πΈπΉβ€οΈ
__ADS_1