
...Selamat membaca...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
"Apa maksud kalian? Jangan bicara macam macam kalian!! Kalian sengaja menjelek jelekkan Karin? Demi apa coba?? Kalian pikir aku akan begitu saja percaya?? Aku tau betul siapa istriku!!! Mama jangan nangis saja!! Mama kan yang punya ide ini?? Kamu juga Han,,,, Menyingkir dariku!!!"
Dion tak bisa lagi menahan ribuan tanya dalam benaknya. Seandainya bisa juga pasti sudah ditepis dan dihempaskannya tangan Hana yang masih menggenggam tangannya. Dion tidak butuh sentuhan maupun belaian wanita lain.
"Aku hanya mau Karin!! Aku mau Delvara!!! Panggilkan mereka!!!!" teriak Dion kencang lalu detik berikutnya ia tampak sangat kesakitan dan beberapa alat medis yang bermonitor menunjukkan angka dan grafik naik turun membuat mama Herna dan Hana cemas.
"Panggil dokter ma." titah Hana cepat.
"I,,i,,,iya iya. Dion kamu sabar dulu ya." mama Herna secepat kilat keluar memanggil bantuan.
"Dion,,, jangan begini. Aku tau rasa kecewanya saat orang yang paling kita percaya dan kita cintai ternyata tidak sesempurna yang kita mau. Kamu juga orang yang berlaku begitu padaku. Tapi lambat laun kamu akan terbiasa tanpanya. Yang harus kamu lakukan saat ini hanya merelakannya." ujar Hana halus.
"Diam!!!!" bentak Dion kemudian kembali kesakitan.
Betapa besar keinginannya untuk mendorong Hana keluar dari kamarnya tetap tak berhasil dengan kondisinya saat ini.
"Baiklah aku akan diam. Tapi kamu harus ingat,,, aku akan selalu ada untukmu Dion. Tidak peduli seperti apa pun sikapmu padaku,,, aku tetap mendampingimu. Aku tidak akan pergi dari sisimu karena aku paham sakitnya jadi dirimu saat ini." ujar Hana.
Terdengar manis bukan?
Terdengar sangat tulus bukan?
Terdengar menjanjikan bukan?
"Kamu itu,,, sudah lumpuh, masih saja sombong. Memangnya apa yang bisa dibanggakan lagi darimu? Tidak ada!!! Selain harta warisan yang menggunung, selain status tajir,,, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan darimu!!!" tapi itulah isi hati Hana sebenarnya.
__ADS_1
"Biar saya periksa pasien dulu nyonya." dokter meminta Hana memberinya ruang.
"Baik dok. Saya mohon,,, berikan yang terbaik baginya. Saya tidak sanggup kalau harus kehilangan dia juga. Dia satu satunya yang saya punya saat ini." rengek Hana sengaja di depan Dion dengan harapan lelaki lumpuh itu akan tergetar hatinya.
"Saya usahakan nyonya."
Dokter menjawab lalu segera bekerja memberikan obat agar pasiennya tak merasakan sakit berlebihan lagi. Dion diberikan sejenis obat penenang juga agar bisa istirahat secara optimal.
Dion tampak tenang dan terlelap setelahnya. Dokter menemui mama Herna.
"Bagaimana dok?"
"Nyonya,,, kondisi pasien masih labil. Sudah membaik memang tapi belum bisa diajak untuk membahas hal hal yang kurang menyenangkannya. Usahakan pasien mendapatkan apa yang diinginkannya agar pemulihannya juga lebih cepat. Jangan memberikan tekanan kepada pasien. Seperti yang saya bilang kemarin,,, kehadiran orang orang terkasihnya akan membuat hati pasien lebih tenang dan nyaman dan itu otomatis juga akan semakin mempercepat penyembuhan pasien."
"Baik dok. Akan kami berikan semua kepada pasien." jawab Hana cepat selagi mama Herna masih tampak berpikir.
Apakah mama Herna mulai menyesali tindakannya?
"Terima kasih dok." Hana tetap mewakili mama Herna yang termenung.
"Ma,,, mama kenapa sih? Kok malah ngelamun?" tegur Hana begitu dokter berlalu.
"Mama malu kalau harus memohon lagi pada Karin untuk kembali. Bisa besar kepala itu anak. Dan bisa makin susah memisahkannya dengan Dion. Apalagi anak haram itu,,, akan makin jadi senjatanya dong." jawab mama Herna.
"Yang mau suruh mama cari Karin lagi juga siapa ma? Benar memang dokter bilang menghadirkan orang terdekat akan bagus bagi Dion. Tapi bukan berarti juga harus Karin dan bayinya kan? Kita juga orang terdekatnya kan? Papa juga kan? Jadi mama jangan hanya terpaku pada wanita yang sudah pergi jauh itu. Dia tidak diperlukan di sini dan sebaiknya memang tidak perlu berada di sini." tegas Hana.
"Tapi nanti Dion ngamuk lagi gimana Han? Kesakitan lagi nanti dia. Mama kasihan sama Dion." mama Herna tak tega melihat putranya kesakitan tadi.
"Apa mama pikir Hana juga gak merasa kasihan sama Dion? Mama lupa kalau Hana juga sayang dan bahkan cinta sama Dion? Tapi justru karena Hana sayang dan cinta makanya Hana harus berhasil membuat Dion menerima kenyataan ma. Begitu kan seharusnya? Atau jangan bilang mama mulai berubah pikiran ya? Kan gak adil buat Hana kalau begini ini? Kemarin mama lho yang merengek meminta kesediaan Hana menemani Dion. Masak giliran Hana sudah bersedia malah mama mau cari Karin lagi?" sungut Hana.
__ADS_1
"Eh ya bukan begitu juga sayang maksud mama. Mama cuma,,,," mama Herna tak meneruskan kalimatnya.
Sepertinya beliau mulai merasa tindakannya menjauhkan Karin dari Dion adalah tidak bijaksana. Bahkan mungkin keterlaluan. Tapi untuk mencari Karin dan memintanya kembali,,, ah memalukan sekali.
"Mama juga jangan lupa sama janji mama akan menuruti apa pun syarat dari Hana kan?" desak Hana tak memberikan waktu untuk mama Herna berubah pikiran.
"Ten,,, Tentu sayang. Tentu mama ingat." sahut mama Herna agak terbata bata.
"Boleh Hana menagih janji itu? Hana punya beberapa syarat sebenarnya, tapi kali ini hanya satu dulu yang Hana minta dari mama."
"Apa itu sayang?" tanya mama Herna yang mulai merasa bodoh kenapa dirinya tak menanyakannya dulu.
"Hana tidak mau ada nama Karin dan bayinya disebut sebut lagi. Apalagi dihadirkan kembali. Jelas kan ma?? Mama tidak bisa menolaknya sesuai janji mama."
"Iya,,,Iya sayang. Tentu. Tidak akan ada Karin dan bayinya lagi."
Tiba tiba sebuah perasaan aneh menggelayuti pikiran dan hati mama Herna. Sebuah perasaan yang mirip rasa bersalah dan gegabah.
"Kenapa aku mengusirnya sebelum bayi itu di tes DNA ya? Kalau benar dia cucuku apa bukan berarti aku merampas kehidupan Dion ya? Ah gegabahnya aku,,,meski aku membencinya karena semua foto foto masa lalunya itu tapi semestinya aku tidak begitu saja mengusirnya. Aaahh,,, bagaimana ini?"
Hati mama Herna berkecamuk terjebak dalam dilema besar. Kebahagiaan Dion adalah hal utama tapi entah kenapa sekarang malah terasa justru terabaikan?
"Mama temui papa dulu ya Han. Kamu jaga Dion di sini." pamit mama Herna yang tiba tiba merasa sangat membutuhkan papa Hengki saat ini.
Suaminya itu akan dengan bijak memberinya solusi seperti biasa biasanya. Mama Herna berharap pria itu sudah sehat kembali. Mama Herna merasa rapuh tanpanya. Namun hampir sampai ruang inap papa Hengki,,langkah mama Herna terhenti.
Dilihatnya ada dokter dan beberapa perawat tergesa gesa masuk. Di luar ada Darwin dan Mela yang juga terlihat panik.
"Papa,,,,"
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...
...Halooo,,, sudah senin lho,,, mana nih jatah vote buat author??...