
Nara kian salah paham atas sikap Dannis yang mulai manis jika bersamanya, seperti pagi ini ketika mereka telah sampai di rumah orangtua nya untuk rencana makan siang bersama dilanjutkan dengan fitting baju untuk pernikahan Sheira.
Dannis menautkan tangan mereka ketika turun dari mobil, entah apa yang membuat Dannis melakukannya namun pria itu sungguh meraih jari-jari lentik gadis dengan wajah bersemu merah itu dengan erat dan berjalan bersama.
Meski raut cuek tetap melekat pada Dannis, Nara sungguh senang dan bahagia atas sikap itu meski ia tahu mungkin saja Dannis hanya ingin terlihat baik di hadapan orangtua nya saja.
"Sayang, kalian sudah datang", mama El menghampiri mereka dengan girang.
Nara tersenyum saat mertuanya memberi pelukan hangat.
"Dannis, ayo lepaskan istrimu.... bergabunglah dengan papa dan bang Abrar di belakang", ucap mama El sambil melepas paksa tautan tangan anak dan menantunya itu.
Membuat Dannis tersadar bahwa ia masih menggenggam tangan istrinya dengan erat, segera ia lepaskan dan mengangguk pada perkataan sang mama.
Nara tersenyum malu, namun sungguh ia merasa canggung dengan sikap Dannis.
Nara kembali mengangguk saat mama El mengajaknya bergabung dengan Alea dan adik-adik suaminya kecuali Baim.
Nara terkejut saat Aira memeluknya dengan girang.
"Bibi Nara, aku merindukanmu", pekik anak kecil itu.
"Sama bibi juga merindukanmu", balas Nara memeluk Aira tak kalah erat.
Semua tertawa melihat mereka, namun mereka kembali tercengang saat Aira meraba perut Nara seraya berkata.
"Apa di perut bibi juga ada adik bayi seperti kabar dari bibi Delila?", tanya Aira polos sambil menempelkan telinganya ke perut rata milik Nara.
Membuat Nara tersedak liurnya sendiri, gadis ini hanya bisa tersenyum canggung dan menggigit bibir bawahnya malu atas pertanyaan gadis kecil milik Alea.
Semua tertawa mendengarnya.
"Mungkin sebentar lagi", sambung Sheira sambil terkekeh geli.
"Bagaimana bisa ada adik bayi jika bibi saja tidak pernah disentuh paman mu", gumam Nara dalam hati.
"Nara apa kau belum merasakan tanda-tanda hamil?", tanya Alea.
"Apa?", Nara kembali dibuat terkejut akan pertanyaan saudara kembar suaminya itu.
"Jangan tersinggung, aku hanya bertanya saja, aku mengira kau tidak ber kb mana tahu kau sudah hamil sebelum resepsi mu nanti", ucap Alea lagi.
Nara hanya bisa menggeleng pelan, ia bingung ingin menjawab apa.
"Oke baiklah, jangan singgung soal hamil mari kita bicarakan tentang persiapan Sheira", ajak mama El lagi.
Mereka larut dalam percakapan hangat tentang persiapan pernikahan adik ke empat Dannis, sesekali mereka bercanda dengan suasana menyenangkan karena diselingi tingkah lucu Aira.
Nara menikmati setiap kenangan yang tercipta antara gadis itu dan keluarga suaminya, entah kenapa di dalam hati ia merasa sedih bagaimana ia diterima dengan baik oleh mertua dan iparnya namun tidak dengan Dannis, pria itu masih belum bisa membuka hati, sedang Nara mulai mengharap lebih pada pernikahan itu.
"Oke sekarang aku akan memberi hadiah pernikahan untukmu Nara", ucap Alea seraya memberi sebuah kotak besar.
Nara menerimanya, ia sungguh kembali dibuat terkejut setelah membukanya.
"Gaun pengantin?".
__ADS_1
Alea mengangguk.
"Itu untuk kau pakai saat resepsi kalian nanti, aku memesannya khusus sama seperti yang ku berikan pada Sheira juga, yang ini khusus ku pesan sesuai karaktermu, lemah lembut seperti mama", ucap Alea tersenyum tulus.
Nara tidak bisa berkata-kata selain berterimakasih atas kado indah itu.
****
Setelah makan siang bersama, semua kembali ke kegiatan masing-masing, Dannis tidak bisa menolak permintaan mamanya untuk mereka menginap di sana.
Hingga sore hari Nara baru terlepas dari gadis kecil yang mengajaknya bermain sejak tadi, sebab Alea dan suaminya pamit pulang baru lah Nara bisa duduk tenang.
Ia berjalan ke dapur untuk mengambil minum, keningnya berkerut saat matanya menangkap seorang lelaki yang menjadi adik iparnya itu.
"Hei.... kau sedang apa Baim? kapan kau pulang?", tanya Nara menghampiri.
"Baru saja pulang", jawab Baim.
"Kau memasak?", tanya Nara heran.
Baim mengangguk tersenyum.
"Aku suka makan di sore hari, jadi aku masak sendiri, kau mau mencobanya?" tawar Baim yang memang suka dengan dunia kuliner.
"Benarkah? apa boleh aku mencicipinya? sepertinya lezat, aku penasaran dengan masakan seorang pria apalagi pria manja seperti mu", ucap Nara bercanda.
"Enak saja, aku tidak manja meski aku bungsu", jawab Baim membalas juga dengan tersenyum.
"Baiklah, aku percaya kalian semua mandiri dalam segala hal....ayo kita makan", ucap Nara berbinar.
Baim menatap Nara dengan penuh arti.
"Ini enak, aku tidak menyangka kau pandai memasak", Nara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Seharusnya aku sekolah chef saja, tapi tentu saja mama tidak boleh karena itu akan keluar negeri, semua kami hanya boleh kuliah dalam negeri kecuali Dannis dan kau tahu? aku dan Dannis pandai memasak berbeda dengan saudara perempuanku semuanya manja", sambung Baim terkekeh.
"Oooo begitukah?", Nara baru mengetahui bahwa suaminya adalah lulusan luar negeri, membuat gadis itu geleng kepala dan kembali ciut merasa minder dengan kenyataan itu.
"Apa Dannis memperlakukan mu dengan baik?".
Nara mengangguk saja tanpa menjawab.
"Aku meragukannya", ucap Baim.
"Tentu aku sedikit harus lebih bersabar saja", jawab Nara pelan.
Mereka berbincang sambil makan bersama, bercanda karena Baim pandai mencairkan suasana, sampai Nara tersedak karena mengunyah sambil tertawa.
Baim menepuk-nepuk pundak Nara dengan pelan seraya memberi minum.
"Apa kau ingin tahu kelanjutannya?", goda Baim terkekeh.
"Berhenti membuat ku tertawa, apa kau ingin aku mati tersedak", Nara berkata seraya memukul lengan Baim.
Baim sungguh menikmati raut tawa tanpa beban gadis di hadapannya itu.
__ADS_1
Namun tanpa mereka sadari Dannis menatap keduanya dengan wajah dingin.
Nara menjadi canggung saat suaminya menyusul ke dapur, Baim berubah menjadi kesal sendiri.
Dannis menarik tangan Nara agar berdiri dari kursi.
"Maaf, aku hanya....", ucapan Nara menggantung saat Dannis menyela.
"Kita akan menginap di sini, aku ada keperluan di luar mungkin akan sangat malam pulang nanti, kau bisa menunggu di kamar saja".
Nara kembali mengangguk saja tidak berani membantah, Baim hanya memutar bola matanya dengan malas.
Dannis berjalan lebih dulu berharap Nara mengikutinya namun diluar dugaan gadis itu malah membantu Baim membereskan meja makan.
Dannis berdecak kesal saat melihat ke belakang, lelaki ini menarik tangan Nara lagi untuk berjalan di belakangnya tanpa menunggu tanggapan adik bungsunya itu.
"Ku bilang tunggu di kamar, kenapa suka sekali membantah", ucap Dannis kesal, membuat Nara heran namun ia tidak berani membantah apalagi sekarang mereka di rumah mama El.
"Aku hanya membantu Baim, aku ikut makan tapi dia yang berberes itu tidak adil bukan?".
"Diamlah, ada pelayan yang melakukan semuanya".
"Bukankah aku juga seorang pelayan", sindir Nara dengan senyum.
"Kau pelayan ku, bukan Baim", kata itu membuat Nara kembali memajukan bibirnya ke depan.
Dannis benar-benar pergi dan meninggalkan Nara seorang diri di kamar tempat pria itu pernah hidup membujang di sana.
Mata gadis itu enggan terpejam meski sudah larut sekalipun, ia belum tenang saat suaminya belum juga kembali.
Penglihatan Nara tertuju pada sebuah kotak besar yang berisi gaun pengantin pemberian Alea tadi, tangannya tergerak membuka kembali dan ada sebuah hasrat ingin mencobanya.
Nara pikir mungkin dengan mencoba gaun itu akan membuatnya tidak jenuh saat menunggu Dannis pulang.
Gadis ini memakainya, berputar-putar di hadapan cermin melihat jelas setiap inci gaun yang ia pakai.
"Kenapa bisa sebagus ini?", gumam Nara seorang diri.
"Apa aku akan benar-benar mengenakannya nanti sesuai rencana? huh aku ragu, aku bahkan seperti tidak pantas memakai ini karena prianya tidak menginginkan ku sama sekali", ucap Nara lirih dengan raut sedih mengingat statusnya dengan Dannis yang tidak seperti pengantin pada umumnya.
Lama terlarut dalam pikirannya sendiri, Nara yang masih enggan beranjak di hadapan cermin itu tersentak saat pintu kamar terbuka menampilkan wajah pria yang baru saja berada dalam pikirannya beberapa saat lalu.
Dannis mengerutkan kening menatap perempuan itu dengan mata sayu nan mengantuk itu.
Hatinya bergetar saat Nara berbalik badan menghadapnya, entah dirasuki oleh apa hingga penglihatan Dannis tiba-tiba de javu pada sosok perempuan yang pernah fitting baju pengantin bersamanya dulu.
Iya, Dannis melihat wajah Naya pada tubuh istrinya yang saat ini masih memakai gaun pengantin itu dalam bayangan pria ini.
Dannis berjalan cepat, ia tiba-tiba saja memeluk erat tubuh mungil Nara. Sangat erat hingga gadis itu merasa sulit bernapas terlebih saat Dannis berkata dengan nada pelan nan sendu yang mampu membuat jantung gadis ini merasa nyeri mendengar nya.
"Aku merindukanmu Nay.....sangat merindukanmu".
####
Lah si Dannis pake acara de javu segala.
__ADS_1
tepok jidat si author nya.
ayo lanjut yaaa