
Dannis mulai panik ketika melihat sang istri hanya diam menahan sakit yang telah berkeringat dingin, pria itu mematikan ponselnya kembali mendekati Nara.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang".
Nara hanya mengangguk, ia sudah berkaca-kaca menahan sakit yang telah kerap menghampiri.
Dannis membukakan pintu mobil untuk istrinya setelah meletakkan tas persiapan kelahiran di bangku penumpang bagian belakang, segera Dannis mengemudi menuju rumah sakit tempat yang sudah mereka rencanakan untuk Nara melahirkan di sana.
"Katakan padaku mana yang sakit?", tanya Dannis yang terus menggenggam tangan istrinya.
"Otakku yang sakit, kenapa kau bertanya terus dari tadi", jawab Nara yang mulai menangis.
"Hei ayolah jangan membuatku cemas, kenapa menangis?".
Nara hanya diam, ia terus mengatur napas meski ia masih saja menangis bukan hanya menahan sakit namun juga menahan kesal pada suami yang mengoceh sepanjang perjalanan.
"Sayang, kau baik-baik saja kan? ayolah setidaknya bicara sesuatu sebentar lagi kita akan sampai, aku mohon jangan melahirkan di mobil".
Nara menepuk keras tangan suaminya.
"Diam, fokuslah mengemudi aku tidak akan melahirkan di jalan", jawab Nara kesal.
******
Dannis menitikkan airmata saat mendampingi detik demi detik proses kelahiran putra pertamanya yang cukup menguras tenaga istrinya.
Meski berisiko karena Nara melahirkan dengan preeklamsia berat, beruntung ia tidak mengalami kejang saat proses meneran untuk mengeluarkan bayinya, tentu saja dukungan suami tercinta yang selalu mendampingi perempuan itu melewati proses persalinan normal seperti rencana.
Namun disaat Dannis skin to skin dengan bayinya di ruang yang sama dengan Nara yang masih ditangani oleh dokter dan bidan.
Entah karena Dannis begitu bahagia hingga ia tampak fokus pada putranya daripada Nara yang mulai lemas dan menutup mata padahal plasenta baru saja dikeluarkan.
Dokter dan Bidan mulai menatap satu sama lain dengan perubahan itu.
"Nyonya, apa anda mendengar saya?", panggil salah satu bidan pada Nara yang diam dengan mata tertutup.
"Nyonya", panggilnya lagi, karena hanya diam sang bidan meraba nadi dan memantau pergerakan dada.
Meski lumrah pada kebanyakan perempuan melahirkan yang tentu merasa lemas dan mengantuk hingga tertidur setelah proses bersalin normal.
Dokter sigap dengan perubahan, ia menekan bagian perut bawah Nara beberapa kali.
"Nadinya lemah, kontraksinya tidak baik, pasien mengalami perdarahan", ucap dokter sambil geleng kepala setelah memeriksa Nara.
Menarik napas dalam dokter dan bidan saling menoleh dengan wajah penuh tanya, mereka terus memberi tindakan untuk mengatasi perdarahan namun tidak juga membuat rahim istri Dannis itu berkontraksi dengan baik.
Mereka mulai panik.
__ADS_1
"Hubungi ICU, kita pantau di sana".
Dannis mendengar itu menjadi terkejut, ia meminta salah satu bidan mengambil kembali putranya yang masih meringkuk nyaman mendekap pada dada sang ayah.
"Apa maksud kalian?", tanya Dannis tajam setelah melirik wajah istrinya yang kian memucat.
"Maaf tuan, istri anda mengalami perdarahan, meski diberi obat namun kontraksi rahimnya tidak juga kembali, pasien akan di bawa ke ICU untuk pemantauan ketat hingga pasien akan dilakukan pengangkatan rahim jika diperlukan ketika semua usaha tidak membuahkan hasil nantinya".
"Apa?", Dannis tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Maaf tuan, kita harus bertindak cepat untuk mengatasi perdarahan istri anda diperparah pasien masih mengalami tekanan darah tinggi hingga sekarang, beruntung nyonya Nara tidak kejang, beri keputusan saat semua usaha harus diakhiri dengan jalan pengangkatan rahim demi keselamatan nyawa istri anda", jelas dokter itu lagi.
Dannis tidak mampu berkata-kata lagi selain hanya bisa mengangguk dengan cepat, pria itu mengusap wajahnya kasar ia bahkan belum mencerna sepenuhnya ucapan dokter.
"Tidak... sayang hei bangun, Nara Nara buka matamu", Dannis membangunkan istrinya dengan rasa cemas yang berlebih.
Nara tidak menyahut, perempuan itu terpejam hingga beberapa orang membawanya keluar dari ruang bersalin menuju ruang ICU diikuti Dannis yang mulai panik.
Orang tua Dannis dan paman bibinya Nara telah menunggu lama di luar ruangan pun menjadi heran ketika Nara melewati mereka dengan tergesa diikuti Dannis yang tampak frustasi.
"Ada apa ini?", hampir berbarengan mereka bertanya pada Dannis.
"Istriku perdarahan, mama katakan padaku Nara tidak akan meninggalkan ku bukan?", Dannis bicara pada mama El dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?", mereka membali terkejut dengan kata-kata Dannis.
Tidak dapat dipungkiri semua merasakan apa yang tengah dirasa oleh seorang suami yang menanti hidup dan mati istrinya, cemas semua merasa cemas tidak seorangpun dari mereka yang menginginkan ini terjadi, selain berdoa untuk keselamatan Nara tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, tidak ada yang ingin kehilangan perempuan cantik idaman semua lelaki itu, istri dan menantu yang baik yang hadir dalam kebahagiaan keluarga Kemal dan Eliana.
Sampai pada seorang dokter keluar memanggil keluarga dari pasien bernama Khinara untuk menjelaskan sesuatu.
Raut cemas Dannis sungguh tidak bisa dihilangkan, pria itu menggeleng dengan cepat bahkan dokter belum mengatakan apapun.
"Tidak, jangan katakan apapun tentang istriku dokter aku mohon, selamatkan istriku", Dannis berkata dengan suara berat, kakinya seakan kehilangan pijakan.
"Dannis tenanglah", papa Kemal merangkul pundak putranya menguatkan.
"Tuan tenanglah, pasien nyonya Nara telah..... ", ucapan dokter menggantung saat Dannis segera menyela dengan marah.
"Tidak, istriku baik-baik saja bukan? Nara jangan tinggalkan aku, Nara Nara.... Khinara", teriak Dannis yang meronta ketika dicegaj ingin masuk ke ruang ICU oleh papa Kemal karena dokter belum selesai memberi penjelasan bahkan ia mendorong tubuh dokter lelaki itu dengan kasar hingga terhuyung ke belakang.
*****
"Khinara, Khinaraaaaaaa".
Dannis membuka mata dengan napas memburu, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, matanya menatap langsung pada sosok perempuan yang masih meringkuk nyaman dalam dekapannya meski pagi telah menjelang.
Dannis menghembus napas panjang merasa lega bahwa itu hanya sebuah mimpi yang masih enggan pergi meski telah lama berlalu.
__ADS_1
"Sayang, kau bermimpi buruk lagi bahkan putra kita sudah berumur delapan bulan? hei selamat pagi apa kau lupa siapa yang berulang tahun hari ini?", ucap sang istri dengan suara manja khas bangun tidur, perempuan ini mengecup bibir suaminya dengan mesra.
Dannis merasa lega, suara itu masih menghiasi pendengarannya hingga saat ini.
"Bukan sekedar mimpi, itu pengalaman dan situasi paling buruk yang pernah ku alami. sayang jangan tinggalkan aku", jawab Dannis kembali mendekap tubuh mungil istrinya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher polos Nara.
"Satu hal ku berharap agar diberi umur yang panjang untukku mendampingimu hingga kita tua nanti, aku mencintaimu Dannis".
Dannis tersenyum mendengarnya, ia hanya diam dengan dekapan yang semakin erat menyalurkan segala rasa, rasa cinta yang amat dalam untuk istrinya sosok perempuan yang tidak ia hargai diawal pernikahan namun mampu membuat pria ini menangis cengeng ketika pada saat tertentu, perempuan yang telah memberinya seorang bayi lelaki yang lucu dan menggemaskan.
Nara melepas pelukan membuat Dannis heran ketika Nara mengambil sesuatu dari laci nakas di samping ranjang.
"Selamat ulang tahun sayang, ini kado dariku.... segera bangun kita akan ke rumah mama".
Nara mengecup seluruh wajah bantal suaminya, lalu ia bangun dari ranjang sambil merapikan jubah tidurnya berdiri di hadapan Dannis yang masih mengumpulkan nyawa menatap sebuah benda yang diberikan Nara tadi.
"Sayang kau?", Dannis kembali dibuat terkejut di pagi buta seperti ini.
Nara tersenyum dan mengangguk.
"Iya, aku hamil lagi.... kau hebat bukan? aku mencintaimu sayang, semoga Nathan diberi adik perempuan agar aku tidak cantik sendiri di rumah ini, aku akan melihat mungkin saja putra nakalmu sudah bangun sekarang", ucap Nara mengecup bibir suaminya yang masih terdiam mematung.
Nara meninggalkan Dannis menuju kamar sebelah dimana sang putra sudah bangun dan bermain sendiri sejak tadi, Nathan yang baru menginjak umur delapan bulan.
Dannis masih menatap sebuah tespack yang bergaris dua di tangannya, pria itu bahkan masih mengumpulkan nyawa.
Kembali Dannis menghempaskan tubuhnya ke ranjang lagi seraya bergumam.
"Trauma melahirkan Nathan saja masih menghantuiku hingga sekarang, apa ini? dia malah hamil lagi, sayang apa kau ingin aku mati muda".
End.
###
maafkan author yang garing ini, bukan sengaja slow up.
di dunia nyata author benar-benar lagi bnyak ujian hidup hingga banyak mengabaikan dunia halu ini.
tetap sehat untuk kita semua, tetap patuhi prokes semoga kita semua dilindungi dari bencana covid yang kembali merajalela.
untuk mengisi waktu di rumah daripada manyun aja yuk baca-baca lagi karya author ini yah, di ulang ulang juga masih seru kok hihihi.
novel "Bodyguard ku suamiku" akan ku lanjut mulai besok ya, semoga ga ada halangan lagi buat nulis rutin up setiap hari, separuh jiwa author benar -benar udah masuk ke dunia halu noveltoon ini pemirsa jadi susah mau berhenti.
terimakasih semuanya wassalam.
__ADS_1