
"Temani aku berenang", perintah Dannis pada Nara yang baru saja beristirahat selesai mengerjakan tugasnya.
Nara menghela napas dalam, baru saja ia akan kembali ke kamar untuk tidur siang namun urung ketika mendapat perintah dari pria itu.
Karena malas menyahut, gadis itu pun hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah Dannis menuju kolam renang.
Nara mendudukkan diri di kursi tidak jauh dari kolam renang berada, matanya yang sayu karena mengantuk menatap ke sembarang arah tanpa menghiraukan suaminya yang telah menceburkan diri dan berenang seperti niatnya.
Nara hampir tertidur namun ia menjadi terkejut ketika mendengar Dannis berteriak padanya.
"Ambilkan aku handuk", perintah Dannis pada Nara yang belum memfokuskan diri.
Gadis itu mengangguk dengan cepat, ia berdiri berjalan ke arah Dannis dan memberikan handuk seperti yang diminta Dannis tanpa banyak bertanya apalagi membantah.
Diluar dugaan, bukannya menerima handuk yang berada di tangan Nara malah pria itu menarik pergelangan tangan gadis itu dengan kuat hingga Nara yang tidak siap itu pun akhirnya jatuh juga ke kolam renang.
"Tuan apa yang kau lakukan", teriak Nara kesal.
"Aku menyuruhmu menemaniku berenang bukan untuk tidur bodoh", jawab Dannis terkekeh.
Nara mengusap wajahnya yang sudah basah bahkan hingga ke kepala.
"Aku kira kau akan tenggelam, rupanya kau pandai berenang", ucap Dannis melihat Nara berenang ke tepi karena tubuh mungilnya yang tidak bisa menginjak dasar kolam renang seperti yang Dannis lakukan.
Nara berdecak kesal menatap Dannis tajam.
"Jika aku tidak pandai berenang mungkin saja aku sudah mati ketika mencari kalungku tempo hari", jawab Nara ketus, ia mencapai tangga berniat ingin keluar dari sana karena malas berdebat dengan pria egois seperti Dannis.
Dannis menarik kembali tubuh Nara ke dalam air.
"Mau kemana kau?".
"Apa kau ingin mengerjaiku lagi? ayolah tuan Dannis, ini siang bolong.... aku mengantuk, ini jadwalku tidur siang", jawab Nara tajam.
"Kau berani membantah ku?", bentak Dannis kesal.
"Maaf... aku tidak berani membantahmu, aku sudah mengerjakan tugasku dengan baik, kau minta ditemani aku temani, kau minta handuk aku berikan meski kau juga mengerjaiku hingga basah begini, apa salahku padamu tuan Dannis, mari kita hidup dengan damai, aku sudah berusaha menjaga sikap dan tidak mencampuri segala urusan pribadimu, lantas apa salah aku ingin beristirahat? aku lelah, aku ingin tidur siang", sahut Nara panjang lebar dengan nada serius.
Dannis kesal bukan main ketika Nara berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Pergilah jika kau bisa", ucap Dannis menarik gadis itu hingga masuk ke air yang dalam.
Nara berontak ketika tangannya dikunci oleh suaminya, hingga Dannis merasa sudah puas barulah ia lepaskan.
Sampai pada Nara terbatuk-batuk karena kehabisan napas berada dalam air, hal itu membuat Dannis tertawa lepas.
"Aku kira kau juga pandai bernapas di dalam air", ejek Dannis terkekeh.
"Apa kau ingin membunuhku tuan Dannis gila?", pekik Nara kesal dengan napas terengah-engah, ia memukul dada bidang suaminya dengan geram, lalu gadis itu menggigit lengan Dannis dengan kuat.
"Ahhh sial, kenapa kau suka sekali menggigit?", Dannis mengaduh memegang lengannya.
"Kau benar-benar jahat tuan Dannis", pukul Nara lagi pada dada yang berbulu tipis milik suaminya itu.
Dannis masih saja terkekeh menatap wajah Nara yang menggemaskan.
"Mau kemana kau", tangkap Dannis lagi ketika Nara hendak menaiki tangga hingga ke permukaan.
"Tuan Dannis, ayolah jangan bercanda", berontak Nara lagi ketika Dannis kembali menangkapnya.
Disaat yang bersamaan terdengar suara anak kecil memanggil nama Nara.
"Paman, apa yang paman lakukan pada bibi Nara? ayo lepaskan dia", pekik gadis kecil yang ternyata adalah Aira putrinya Alea dan Abrar.
Dannis dan Nara saling melempar tatapan dalam posisi yang sangat berdekatan dengan tangan Dannis melingkari pinggang gadis itu.
"Aira?", ucap Dannis dan Nara berbarengan.
"Paman dan bibi sedang apa?", tanya Aira polos.
Belum juga menjawab mereka kembali dibuat terkejut oleh suara Alea yang mendekat.
Dannis membesarkan matanya, segera ia meraih tubuh istrinya dalam dekapan erat hingga Nara merasa sulit bergerak.
"Dannis.... ya Tuhan apa yang kalian lakukan?", ucap Alea sambil menutup mata putrinya.
"Alea kenapa kau tidak memberitahu bahwa ingin kemari? maaf bisakah kalian menunggu di ruang tamu saja, jangan melihat ke sini, istriku sedang tidak memakai baju", ucap Dannis membelakangi saudara kembarnya demi menyembunyikan tubuh Nara yang berpakaian pelayan.
Nara membesarkan matanya di dada milik Dannis, Nara menatap Dannis kesal karena bicara seperti itu di depan anak kecil.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku, lagi pula kenapa kalian tidak mengunci pintu, kau gila Dannis apa tidak ada tempat lain selain bercinta di sini? baiklah ayo sayang kita tunggu paman dan bibimu di ruang tamu saja", ajak Alea pada putrinya.
"Mom, tapi aku tadi melihat bibi memakai baju", ucap Aira polos pada mommy nya ketika mereka sudah berada di ruang tamu.
"Jangan bicarakan itu lagi sayang, tidak baik untuk anak kecil, mungkin saja baju renang maksudmu sayang".
Aira hanya memajukan bibirnya ke depan.
"Tuan... Kenapa kau bilang aku tidak memakai baju? enak saja", umpat Nara kesal setelah memastikan Alea dan putrinya telah pergi.
"Aku tidak ingin Alea mengetahui perihal seragam mu ini", jawab Dannis dengan tangannya yang masih saja melingkari pinggang gadis itu.
"Oh apa kau takut adikmu tahu bahwa kau memperlakukan istrimu sebagai pelayan?", sindir Nara.
"Awas jika kau mengadu".
"Bagaimana jika aku berteriak sekarang, nona Alea....." Nara mencoba mengerjai pria itu.
Namun tangan Dannis membungkam mulutnya.
"Awas saja jika kau mengadu, akan ku kurung kau dalam kamar mandi".
Nara menggeleng cepat.
"Tidak tidak tidak jangan lakukan itu", rengek Nara menatap Dannis dengan wajah menggemaskan.
"Segera berpakaian seperti biasa, bersikaplah dengan wajar ketika di hadapan saudaraku yang cerewet itu", perintah Dannis.
"Tidak mau".
"Kau berani membantah?".
"Baiklah, asal kau juga harus bersikap baik padaku, tidak mengerjaiku, tidak memerintahku dengan kasar, tidak.....", ucapan Nara menggantung saat sebuah kecupan mendarat di bibir cantiknya.
"Berhenti menggerutu", ucap Dannis mengusap bibir Nara pelan, seraya melepaskan gadis itu dan berlalu meninggalkan Nara yang masih berada dalam air.
Nara terdiam, hanya sebuah kecupan namun mampu membuat darahnya berdesir.
Gadis itu menatap punggung Dannis dengan tubuh tidak bergeming, wajahnya berubah menjadi merah karena malu, terasa seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
__ADS_1