Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 101


__ADS_3

"Sayang kita mau kemana lagi?", tanya Nara kesal saat Dannis diam saja sejak tadi.


"Pulang".


"Huh, kau ini kenapa bukankah kita akan makan. Aku sudah sangat lapar", rengek Nara lagi.


"Kita bisa makan di rumah mama saja, mood ku hilang karena mantan mu itu", jawab Dannis melirik Nara tajam.


Nara kembali tertawa.


"Dia hanya mantan tunanganku, dia saudara iparku sekarang, Reno baik padaku sayang.... mengertilah, kami menjaga hubungan baik, itu saja".


"Baik untukmu, tidak baik untukku".


"Dannis ayolah..... apa kita akan terus berdebat soal Reno?".


"Nara dengarkan aku, kau tidak boleh bicara pada pria itu lagi! maksudku semua lelaki siapapun itu, aku cemburu", ucap Dannis ketika menghentikan langkah sejenak.


"Bagaimana dengan pamanku? Baim? papa? apa kau juga cemburu pada mereka? ayolah sayang, aku istrimu milikmu oke".


Lama Dannis terdiam.


"Termasuk Baim".


"Kenapa Baim? dia adik iparku, mana bisa tidak bicara padanya, ada-ada saja lagi pula dia banyak membantu tugasku", Nara hanya geleng kepala, ia mengecup punggung tangan suaminya lalu menatap Dannis tersenyum.


"Tidak boleh ya tidak boleh", Dannis membalas kecupan juga pada tangan istrinya.


"Baiklah, aku tidak menyangka kau pria pencemburu.... bagaimana jika ku balik, aku juga cemburu pada nona Nesya meski kalian sahabat sekalipun, apa kau mau menjauhinya? maksudku jangan terlalu dekat, aku juga tidak menyukai jika kau dekat wanita manapun".


Dannis memasang sabuk pengaman untuk Nara setelah mereka masuk mobil, kemudian ia menyusul mendudukkan diri di depan kemudi.


"Apapun untukmu sayang", balas Dannis terkekeh.


"Aku ingin lihat wajah nona jahat itu ketika kau menolaknya, aku akan tertawa saat itu juga", gumam Nara mengingat wajah Nesya.


"Sayang kenapa kau terus mengatakan dia jahat? Nesya gadis yang baik".


"Dannis kau membelanya? kau tidak ingat reuni? huh kau menyebalkan, aku juga cemburu pada wanita itu, kau egois", bentak Nara kesal.


Dannis terkekeh, ia mengusap kepala istrinya dengan sayang.


"Dannis", bentak Nara lagi karena Dannis belum memberinya jawaban yang memuaskan.


"Apa?".


"Baiklah, jika kau masih berhubungan dengan Nesya sialan itu aku juga masih akan bicara pada Reno".


"Tidak boleh".


"Lalu kau boleh bicara pada mantan calon iparmu itu?".


"Sayang, bagaimana bisa aku tidak bicara padanya dia rekan bisnis ku sekarang".


Nara diam, ia malas berkata lagi sungguh ia merasa kesal terhadap jawaban Dannis, meski itu benar tapi ia tetap tidak menyukai Nesya sejak kejadian reuni, terlebih gadis itu mengatakan secara langsung pada Nara bahwa ia menyukai Dannis.


"Nara", panggil Dannis lembut.


"Aku malas berdebat, jika kau ingin aku percaya padamu.... jauhi Nesya, aku tidak suka".


Dannis menghela napas dalam.

__ADS_1


"Baiklah, jangan marah oke".


"Aku tidak marah, aku lapar", jawab Nara kesal.


Dannis menghentikan mobilnya, membuat Nara menatap heran.


"Kenapa berhenti?", tanya Nara polos.


"Aku mencintaimu, kau sungguh menggemaskan dalam keadaan apapun", ucap Dannis meraih wajah istrinya, mencium seluruh wajah Nara dengan gemas.


"Dannis", rengek Nara manja.


"Kita buat anak di sini?", goda Dannis menurunkan tangannya ke dada perempuan itu.


"Jangan gila, ayo jalan lagi aku sudah lapar", bentak Nara memukul tangan nakal suaminya.


*****


Baru saja Dannis masuk halaman rumah orangtua nya, menyusul pula sebuah mobil mewah di belakangnya.


Nara memejamkan matanya sejenak saat menyadari ia kembali terlena oleh Dannis sehingga melupakan sesuatu bahwa sudah pasti paman Harun mencarinya.


Nara keluar mobil Dannis berjalan ke arah pamannya yang juga baru keluar dari mobil, perempuan itu berniat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi hari ini namun Dannis lebih dulu menggenggam tangannya menahan langkah Nara menuju pamannya berada.


"Paman", panggil Nara takut.


"Tuan Harun mengertilah, Nara istriku tidak bisakah kau melepaskannya", ucap Dannis tanpa basa basi menatap paman Harun tanpa takut.


Mereka berhadapan secara langsung, sedang pria tua itu hanya diam menatap Dannis bergantian dengan wajah keponakan kesayangannya.


Mama El mengetahui tentang tamu yang masih berada di halaman rumahnya dari para pelayan segera menyusul keluar.


Mama El berbinar saat melihat putranya menggandeng tangan sang menantu yang telah lama tidak ia jumpai itu.


"Mama", sahut Nara canggung.


Mama El ingin memeluk Nara namun urung saat menyadari ketegangan antara Dannis dan besannya yang juga berada di sana.


"Oh aku mengerti sekarang... tuan Harun kau juga kemari? ayo masuk kita bisa bicara soal anak-anak kita di dalam, aku akan menghubungi Kemal agar segera pulang", ajak mama El sopan, setelah menatap mereka bertiga secara bergantian.


"Terimakasih tawaranmu nyonya Eliana, maaf sayangnya aku kemari bukan untuk itu, aku harap nyonya bisa mengajari putra nyonya tentang sopan santun untuk tidak menculik keponakan ku tanpa permisi", jawab paman Harun penuh arti.


Mama El terdiam, ia merasa tidak enak dengan keadaan itu.


"Nara, ayo pulang kau bahkan meninggalkan kuliahmu hari ini demi lelaki yang bahkan tidak menghormati pamanmu", ucap paman Harun lagi seraya mengulurkan tangan pada Nara yang sejak tadi takut bicara.


Nara menatap tangan pamannya dengan menelan ludah, lalu kembali menatap Dannis yang menggelengkan kepala seakan kode agar Nara menolak pria sebaya ayahnya itu.


"Sayang, jangan tinggalkan aku", ucap Dannis pelan pada istrinya.


"Tuan Harun aku minta maaf, bisakah kita bicara baik-baik tentang anak-anak kita di dalam", sela mama El lagi berniat membujuk rekan bisnis suaminya itu agar mau bicara baik-baik.


"Maaf nyonya Eliana, aku tidak punya waktu untuk itu, aku banyak pekerjaan yang harus ku urus, soal mereka sudah ku serahkan pada pengacara yang akan menangani perceraian ini, aku rasa dia lebih kompeten dalam urusan anak-anak kita dan akan ku pastikan akan selesai dalam waktu dekat", jawab paman Harun tidak goyah.


Mama El terdiam, ia menatap putranya yang mengepalkan tangan dengan mata yang memerah.


"Ayo Nara kita pulang sekarang".


Nara masih belum melepaskan tangan Dannis namun juga mulai takut pada pamannya.


"Kami tidak akan berpisah, tidak akan pernah", jawab Dannis tanpa takut menantang tatapan paman Harun.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, katakan itu dalam mimpi mu nak Dannis", jawab paman Harun enteng.


Paman Harun masih menatap Nara dengan uluran tangan tidak bergeming menanti sambutan Nara.


"Ayolah aku malas berdebat, Nara istriku dia tidak akan kemana-mana", Dannis menguatkan genggaman tangan istrinya.


"Kita dengar jawaban istrimu yang mungkin sebentar lagi akan menjadi jandamu", jawab paman Harun melirik Nara yang tampak takut dan bingung.


Menghela napas dalam Nara melonggarkan genggaman tangannya yang membuat Dannis menatapnya kecewa.


"Sayang?".


"Aku tidak pergi kemana-mana Dannis, aku hanya pulang bersama paman ku", jawab Nara pelan.


"Sayang jangan bercanda, kau ingin meninggalkan ku?".


"Aku tidak meninggalkan mu, aku hanya pulang ke lain rumah saja, tenanglah jangan memperburuk keadaan kita bisa bicara lagi nanti, aku akan menghubungimu nanti oke", jawab Nara berbisik.


"Sayang, tidak aku tidak mau".


"Ayolah, apa kau ingin terus berdebat yang semakin membuat paman marah? kita bisa bicarakan ini nanti, aku pulang oke... aku mencintaimu, akan tetap seperti itu", bisik Nara lagi.


Membuat Dannis kesal namun tidak memungkiri juga perkataan Nara jika ia terus bertahan dengan keras maka paman Harun pun akan tetap sama, Nara benar sebaiknya mereka pikirkan baik-baik nanti.


Dannis dan mama El menatap mobil paman Harun yang perlahan menjauh meninggalkan rumah mereka.


"Dannis, kenapa tidak memberitahu bahwa kau sudah bersama istrimu?", tanya mama El tajam.


"Ayolah apa mama juga akan memarahiku sekarang? aku pusing, pria tua itu benar-benar menyebalkan, enak saja main pisah-pisah saja itu tidak akan terjadi", jawab Dannis mengusap wajahnya kasar.


"Apa benar kau menculik Nara?".


"Menculik apanya dia istriku ma, aku tidak butuh izin siapapun termasuk pria tua itu".


"Pria tua itu paman istrimu Dannis, sama seperti ayah bagi Nara jangan lupakan itu, tuan Harun adalah ganti mertua mu", bentak mama El kesal menatap putranya.


"Kau pantas tidak direstui, mama tidak akan ikut campur dalam hal ini, selesaikan sendiri jika kau merasa bisa dasar sombong", cerca mama El lagi.


Dannis bertambah pusing dibuatnya.


"Mama ayolah maafkan perkataan ku, aku benar-benar ingin gila sekarang", Dannis menyusul langkah ibunya yang masuk ke rumah.


Mama El berhenti dan menatap Dannis tajam.


"Jika kau gila, kenapa kemari? di sini bukan rumah penampungan orang gila".


"Mama", lirih Dannis kehabisan kata-kata.


"Tunggulah papamu pulang, kita bicarakan lagi nanti", jawab mama El kembali meninggalkan Dannis mematung.


Ponselnya berdering, Dannis mengeluarkan ponsel yang berada di saku celananya, ia melihat nama perempuan yang tengah menghubunginya itu dengan tatapan kesal.


Dannis menerima telepon dari Nesya.


"Hallo, kenapa kau menghubungiku?", tanya Dannis tanpa basa basi dengan nada marah.


'Dannis, kau dimana? kenapa sulit sekali menghubungi mu, aku sudah pulang kapan kita bisa bertemu aku merindukan mu, aku mendengar dari Syasya bahwa kau dan wanita itu sudah berpisah, apa itu kabar baik untukku?'.


Nesya yang pulang dari luar negeri mendampingi ayahnya menjalani pengobatan intensif beberapa bulan terakhir itu bertanya kebenaran tentang Dannis tanpa basa basi.


"Terserah apa katamu, istriku tidak menyukai mu, jangan kau kira kami berpisah itu tidak akan terjadi, aku mencintai istriku kau dengar itu? Jangan hubungi aku lagi, karena tidak ada istilah sahabat wanita bagi pria beristri"

__ADS_1


Jawab Dannis kesal lalu mematikan panggilan Nesya sepihak tanpa menunggu jawaban gadis itu lagi, tanpa basa basi Dannis memblokir nomor ponsel gadis yang bahkan telah berteman dengannya sejak sekolah itu.


'Apa?', Nesya tercengang seraya menajamkan pendengarannya akan benar atau tidaknya suara Dannis yang tengah bicara seperti tadi.


__ADS_2