Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Wanita Dari Masa Lalu


__ADS_3

...Selamat membaca ๐ŸŒธ...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


"Bagaimana dengan mbak Hana om papa? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Karin di sambungan telponnya.


Malam itu Dion menelponnya dan menanyakan kabarnya.


"Hana hamil sayang." jawab Dion singkat dengan wajah lesu yang bisa diartikan Karin sebagai wajah penuh rasa bersalah.


"Om papa,,, Apa yang sudah terjadi kemarin memang sebuah kesalahan. Tapi itu juga bukan kesengajaan. Jadi om papa jangan terus menerus menyalahkan diri ya. Ini semua adalah ujian keimanan bagi mbak Hana."


Dion menatap lekat wajah bidadari kecilnya di layar ponselnya. Sungguh ia bukan anak kecil yang tak paham dengan maksud bicara Karin itu. Ia paham bahwa istrinya itu tidak akan setuju dengan kemauan mama Herna agar Dion menikahi Hana demi bertanggung jawab atas kesalahannya.


Perkataan Karin itu benar tapi mungkin juga salah,,, Benar bahwa kejadian itu bukan suatu kesengajaan dan murni kecelakaan. Tidak perlu Dion merasa begitu terbebani seumur hidupnya.


Tapi salah juga kalau maksud Karin adalah ingin Dion tidak melakukan apa apa.


"Om papa pulang sebentar lagi sayang. Kamu tunggu di rumah dulu ya." Ucap Dion mengakhiri percakapan melalui video call itu.


"Iya om papa. Karin tunggu ya. Baby D juga kangen nih sama papanya." Karin mengarahkan layar kameranya ke perutnya.


"Hai baby D. Maafkan papa ya seharian ini udah mengesampingkan kamu sama mama kamu sayang." Dion benar benar menyesali semuanya termasuk setiap detik kebersamaannya bersama Karin dan baby D yang hilang karena harus menemani Hana di rumah sakit dulu.


"Gak apa apa Papa. Baby D sama mama ngerti kok. Ini juga akan segera selesai urusannya. Bukan seterusnya papa akan begini sama kita. Cepat pulang ya papa."


Lagi lagi Dion gigit bibir mendengar ucapan Karin itu. Itu kode keras bahwa Karin sama sekali tak berpikir Dion akan sampai bertanggung jawab menikahi Hana.

__ADS_1


"Aku harus bicara langsung pada Karin. Meminta pendapatnya. Ini rumah tangga kami jadi kamilah yang berhak menentukan bagaimana langkah selanjutnya." batin Dion.


Segera ia mengambil kunci mobilnya di nakas samping tempat tidur Hana. Wanita itu tengah terlelap dengan mama Herna yang terus mengusap usap tangannya.


"Mau kemana kamu Dion?" tanya mama Herna setengah berbisik melihat Dion mengambil kunci mobil.


"Pulang ma. Karin udah nungguin." Dion juga setengah berbisik tak ingin mengganggu tidur Hana.


"Jangan pulang dulu. Mama sama papa yang mau pulang. Kamu di sini saja jagain Hana. Nanti kalau kamu pulang juga dan Hana bangun gak ada siapa siapa,,, bagaimana kalau dia histeris?? Bagaimana kalau dia berbuat nekad?? Kamu juga yang repot nantinya kan? Ingat Dion,,, Hana begini juga karena kamu."


Dion ingin protes tapi benar juga apa yang dikatakan mama Herna. Dion kembali pusing menghadapi dua wanita yang disayanginya dan mereka berbeda pendapat. Satunya menegaskan bahwa semua ini bukan kesalahannya saja dan satunya lebih menegaskan bahwa apa pun yang terjadi sekarang adalah semata mata kesalahannya.


"Dion pulang sebentar ya ma. Dion udah janji sama Karin dan baby D. Baby D kangen sama papanya."


"Baby D belum lahir Dion. Itu cuma akal akalan ibunya saja memakai bayinya sebagai alasan. Sudah kamu pokoknya di sini dulu jagain Hana. Mama lelah. Papa juga lihat tuh udah lelah. Kami orang tua gak punya banyak tenaga. Kamu yang muda yang ngalah." mama Herna benar benar tak mengijinkan Dion pulang.


Hana sungguh belum bisa begitu saja menerima kenyataan bahwa suami dan anaknya meninggal dan sialnya itu akibat kecelakaan dengan Dion.


Dion menghela napas kasar. Sekali lagi ia merasa bersalah. Ucapan mamanya tadi benar juga. Harus ada seseorang yang menjaga saat Hana terbangun nanti. Memastikan bahwa Hana tidak berbuat macam macam.


"Nanti biar papa yang beritahu Karin kalau kamu belum bisa pulang ya. Papa yakin istrimu itu bisa menanggapi dengan bijaksana." papa Hengki menepuk bahu Dion.


"Semoga." batin Dion.


Betapa pun besar keinginannya untuk bisa pulang tapi Dion kalah juga dengan ucapan papa dan mama sudah tua tadi. Benar,,, mereka tentu lelah dan harus pulang. Tidak mungkin meminta mereka tidur di rumah sakit meski ruangan kamar inap Hana ini VVIP. Tetap saja untuk orang tua seperti papa dan mamanya tempat ini tidak layak bagi mereka istirahat.


Dion mengalah. Membiarkan orang tuanya yang pulang dan dia yang menginap di rumah sakit. Mengabaikan anak istrinya sekali lagi demi janda orang yang menjadi beban dan tanggungannya sekarang.

__ADS_1


"Papa yang bilang sama Karin ya kenapa Dion gak bisa pulang. Jangan mama. Dion khawatir mama akan bicara macam macam. Bagaimana pun juga itu hak Dion untuk bicara dengan Karin. Kalian jangan mendahului." pesan Dion pada papa Hengki sebelum keduanya pulang.


"Iya Dion. Papa paham." Sekali lagi papa Hengki menepuk bahu Dion. Beliau paham betul putranya itu tengah gundah.


Tinggallah Dion kini terduduk di samping tempat tidur Hana. Memandangi wajah wanita yang dulu pernah memporakporandakan hidupnya dengan rasa bersalah.


Kini wanita itu kembali menyiksanya dengan rasa bersalah meski berbeda alasan.


"Dulu aku menyakitimu dengan menghadirkan wanita lain dari masa laluku. Kini aku merampas kebahagiaanmu dengan suamimu. Maafkan aku Han. Sungguh aku tidak sengaja. Andai aku bisa memutar waktu,, Tentu tidak akan aku cari ponsel itu. Akan ku abaikan telpon itu seberapa pun pentingnya. Agar kamu dan suamimu serta anakmu tetap hidup dan agar bayi ini tetap punya seorang ayah."


Tangan Dion tergerak untuk mengusap wajah Hana namun diurungkannya ketika tiba tiba wanita itu mengigau.


"Maafkan mama nak,,,, Maafkan mama. Mama gak bisa jaga papa biar tetap bersama kita. Mama juga gak mau kamu tumbuh tanpa kasih sayang seorang papa. Maafkan mama nak,,,"


Dion merasa hatinya remuk mendengar igauan Hana itu. Wanita itu sungguh bersedih dengan kenyataan hidupnya. Ia tak akan sanggup membesarkan bayinya seorang diri tanpa pendamping.


"Tidak Dion. Kalau kamu melakukannya,,, kamu menyakiti Karin. Kamu sama saja tidak belajar dari kesalahan masa lalumu. Membawa wanita dari masa lalu hanya akan menghancurkan pernikahanmu."


Sebagian diri Dion menolak ketika bagian diri lainnya berpikir satu satunya jalan keluar dan untuk memastikan Hana dan anaknya akan baik baik saja adalah menikahi Hana.


Dion garuk kepala. Ia menghentikan gerakannya kala tangan Hana menyentuh dan menggenggam jemarinya yang sebelah.


"Jangan tinggalin aku,,," lirih Hana.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Dukung author dengan vote, like dan komen ๐ŸŒธ๐ŸŒนโค๏ธ

__ADS_1


__ADS_2