Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Makan Malam


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Senang bekerjasama denganmu."


Yusuf menjabat erat tangan Hana setelah menandatangani segala berkas kerja sama bisnis mereka. Didalam berkas itu tertulis bahwa selama Yusuf tidak berada di Turki maka segala wewenang adalah di tangan Hana.


"Wow,,,Hanya begitu? Tidak ingin berterima kasih untuk yang lainnya?" tanya Hana dengan senyum manisnya.


Yusuf mengerutkan dahinya. Berpikir untuk urusan apakah ia harus berterima kasih pada wanita di hadapannya itu. Namun sejurus kemudian dahinya mengendur pertanda ia sudah memahami sesuatu.


"Oh ya. Tentu saja. Terima kasih atas semua ide briliantmu. Terima kasih juga sudah membuka jalan untukku dan bidadariku bersatu." senyum Yusuf pun merekah tiap kali membayangkan kebersamaannya kelak dengan wanita yang paling dicintainya.


"Sama sama. Tapi kalau kamu tidak buru buru, aku ingin meminta sesuatu darimu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihmu itu." seloroh Hana.


"Hhhmm dari awal ketemu sampai sekarang kamu gak berubah ya. Suka nuntut ucapan terima kasih." canda Yusuf.


"Harus dong. Gak ada yang gratis di dunia ini tuan muda. Hidup ini keras. Kamu tau itu kan?"


"Ya ya,,, baiklah. Katakan sekarang kamu minta apa? Biar aku belikan. Apa pun itu dan berapa pun itu aku tidak akan keberatan." tantang Yusuf.


"Hmm,,, kamu lupa? Yang di depanmu berbicara denganmu ini kaya raya. Aku mampu membeli sendiri semua yang kumau. Jadi jangan memberi penawaran murahan begitu." tolak Hana dengan menyombong.


"Ok. Kalau begitu katakan saja apa maumu nona kaya?" Yusuf meletakkan kedua tangannya untuk menyangga wajahnya.


Itu membuat darah Hana berdesir. Bulu bulu halusnya meremang. Rasanya sudah sangat lama ia tak mendapat sentuhan lembut dari seorang pria. Hana tak menyangkal. Ia menginginkan keindahan dan kenikmatan duniawi itu lagi. Apalagi pria muda dan tampan di depannya ini juga terlihat menggoda.


Guratan guratan ototnya yang membentuk tubuhnya dengan sempurna itu seolah melambangkan keperkasaan. Hana menelan ludahnya dengan susah payah saat membayangkan hal hal berbau kemesraan itu.


Ia pun mulai gelisah duduknya.


"Kok diam? Mau minta apa nih? Mumpung aku ada waktu lho. Hari ini Karin sibuk dengan bawaannya jadi aku tidak akan mengganggunya. Besok sore kami akan berangkat kalau memang semua sudah siap." ucap Yusuf.


"Baguslah kalau begitu. Kebetulan aku mau ajak kamu ke tempatku. Selama berpartner denganku, kamu bahkan belum pernah sekalipun mengunjungi kantor maupun tempat tinggalku. Tidak lucu bukan kalau gak tau kediaman orang yang paling kamu percaya untuk mengurus bisnismu?" Hana kembali tersenyum.

__ADS_1


"Mau apa kesana?" tanya Yusuf heran meski ia membenarkan ucapan tidak lucu kalau tidak tau rumah Hana itu.


"Makan malam mungkin?" Hana mengangkat bahunya.


"Bisa ditempat lain kan? Memangnya kamu bisa masak kok ngundang makan malam disana?" tanya Yusuf.


"Bukan bidadarimu saja yang pandai masak. Kamu juga harus mulai buka mata kalau di dunia ini tidak satu saja tuhan mengirimkan bidadari." kata Hana setengah berteka teki.


Yusuf yang tidak bodoh bodoh amat mengerti maksudnya. Tapi ia memilih tak menanggapinya. Ia hanya mengiyakan saja ajakan makan malam itu.


"Ok kita berangkat sekarang saja. Sudah sore dan kamu juga perlu waktu memasak kan?" tanya Yusuf.


"Siapa takut?" Hana semangat bangkit dari duduknya setelah merapikan semua berkas penting.


Keduanya kemudian melenggang meninggalkan cafe tempat mereka bertemu tadi. Tersungging senyum licik di wajah Hana yang tak pernah disadari oleh Yusuf.


Bak pasangan, Hana menggamit lengan Yusuf. Meski awalnya mendapat penolakan dari Yusuf tapi dengan senyum manjanya Hana berhasil meluluhkan Yusuf.


Mereka menuju ke rumah Hana dengan mengendarai kendaraan mewah milik Hana yang notabene didapatkannya dari harta keluarga Dion. Tapi wanita itu tampak bangga mengendarainya seolah olah itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri.


"Silahkan masuk." tuan rumah mempersilahkan dengan sangat ramah.


Yusuf ragu sesaat saat tau keadaan rumah sangat sepi. Ia sedikit risih hanya berduaan di tempat ini.


"Anggap saja rumah sendiri. Aku ganti baju dulu." Hana mengusap lengan Yusuf lembut membuat Yusuf merasakan sensasi lain.


Pemuda original itu baru kali ini mendapat sentuhan langsung dari lawan jenisnya. Selama ini Yusuf memang tak pernah dekat dengan siapa pun. Jika ada wanita yang dekat ya hanya Karin. Dari dulu hingga sekarang.


Ditinggalkan Hana sendirian di ruangan luas itu membuat Yusuf jadi bingung mau apa. Duduk tidak nyaman,,, berdiri pun bingung.


"Gak lama kan nunggu?" Untungnya Hana tidak lama perginya.


Yusuf menggeleng perlahan. Matanya terpukau melihat bentukan indah yang tengah berjalan menuruni satu demi satu anak tangga. Hana berjalan mendekatinya dengan gaun selutut berpotongan lebar di bawah dan bentuk V di depan menunjukkan sesuatu yang tampak terbelah di sana.


"Aku langsung ke dapur saja. Kasihan kamu lama nungguinnya nanti. Kamu pasti juga sudah lapar kan?" tanya Hana.

__ADS_1


"Ii,,,Iya." Yusuf jadi gugup.


Hana tersenyum lalu berjalan membelakanginya. Yusuf makin gugup melihat punggung mulus nan terawat milik Hana yang diekspos bebas. Apalagi rambut pendeknya sengaja disanggul sekenanya hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Dress yang Hana kenakan rupanyanya adalah jenis backless yang cekungannya sampai di pinggang. Dengan melihat itu Yusuf jadi berfantasi membayangkan dua gundukan yang tadi tampak belahannya. Benda itu sudah bisa dipastikan tak memakai penutup.


"Astaghfirullah. Nyebut Suf,,, nyebut." Yusuf mengusap kasar wajahnya sendiri.


Ia kesal dengan fantasi liarnya sendiri. Tapi ia tak memungkiri pemandangan indah tadi itu sayang juga untuk dilewatkan. Suara barang barang dapur yang bersahutan menandakan Hana tengah sibuk menyiapkan makanan untuk mereka.


"Selesai makan langsung pulang pokoknya." tekad Yusuf.


Ia mulai takut tak bisa menguasai dirinya sendiri. Ia takut setan makin membuatnya fantasinya menjadi jadi. Ia yang selalu menghindari wanita akhirnya paham susahnya menolak pesona kemolekan wanita.


"Makan yuk. Udah siap tuh di meja makan." Hana muncul dengan wajah ramahnya mengajak makan.


Hampir sejam menunggu dengan kegelisahan melanda, akhirnya Yusuf lega.


"Baik."


Aneka warna warni masakan di atas meja rupanya mampu menggugah selera makan Yusuf.


"Enak nih kayaknya." serunya.


"Habiskan. Aku hanya sendirian malam ini. Jadi kalau gak habis sayang kan." ucap Hana.


"Beres. Aku banyak makannya kok." gurau Yusuf.


Hana tersenyum senang melihat Yusuf yang begitu semangat menyendok lauk demi lauk yang dimasaknya. Makin senang ketika pemuda itu mulai memasukkan makanan itu ke mulutnya.


"Enak?" tanya Hana.


Yusuf tak menjawab dengan kata melainkan dengan jempol tangan yang dinaikkan. Hana kembali tersenyum. Dibiarkannya Yusuf menikmati semua masakan yang sudah dibubuhinya dengan sesuatu yang akan bisa membuat malam panjangnya nanti makin berwarna.


...❤️❤️❤️❤️...


...Maaf ya baru up,,,author kemarin masih disibukkan dengan upacara keagamaan 🙏...

__ADS_1


__ADS_2