Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 16


__ADS_3

Alea benar-benar merasa berbunga ketika bertemu Abrar, ia tidak tahu kenapa bisa ia merasakannya secepat ini bahkan mereka belum genap sebulan menikah, Abrar pun kian bersikap manis padanya, pria ini memberikan seluruh perhatiannya pada Alea meski ia sibuk sekalipun jika Alea meminta sesuatu ia tidak pernah bisa menolaknya.


Seperti hari ini karena libur akhir pekan, Alea menemui Abrar yang sedang menghadap laptop di kamarnya.


"Apa dihari minggu tetap bekerja juga?" tanya Alea ketika ia mendekati Abrar duduk di sofa sudut kamar pria itu.


"Masih ada sedikit yang harus diselesaikan, memangnya kenapa?" tanya Abrar kembali sambil mengusap kepala gadis itu.


"Aku merasa bosan di rumah, ayolah kita bisa mengisi hari ini dengan berkencan" jawab Alea yang segera menyadari ucapannya.


"Hmmm maksudku kita bisa jalan-jalan bukan? Ayolah kita sudah lama tidak makan di luar" ucap Alea kembali dengan gugup.


"Memangnya kau mau kemana?"


"Kemana saja yang penting bersamamu....ayolah kelamaan mikir" kesal Alea.


Abrar menghela napas dalam jika Alea sudah memaksa seperti ini, ia pasti akan mengangguk juga.


"Baiklah, apapun untukmu istriku" jawab Abrar mencubit pipi gadis itu dengan gemas.


Sungguh Alea bahagia mendengar kata istri yang baru saja diucapkan Abrar biarpun terkesan bercanda, namun tanpa ia sadari Abrar serius mengatakannya.


"Aku akan bersiap dulu" ujar Alea seraya berdiri ingin kembali ke kamarnya.


"Apa tidak bersiap disini saja? Biar aku bisa melihatnya" canda Abrar.


"Bang Abrar.....aku maluuuu" bentak Alea yang langsung berlari keluar dari sana.


Abrar menatap Alea penuh makna.


"Andai kita satu kamar Alea, andai kita seperti suami istri lainnya...aku begitu pengecut bukan" ucap Abrar pada dirinya sendiri, ia merasa menjadi pria pengecut yang tidak berani mengutarakan isi hatinya pada gadis itu, padahal ia melihat sikap Alea yang kian melunak padanya akhir-akhir ini seperti sebuah lampu hijau baginya namun entah kenapa ia belum siap jika harus kecewa akan ekspektasinya akan sikap Alea tersebut.


Setelah bersiap mereka meninggalkan rumah, tidak sengaja melewati seorang perempuan sebelum mencapai gerbang perumahan.


Wanita seksi itu melambai tangan pada mobil Abrar, terpaksa Abrar menghentikannya.


Ia membuka kaca jendela mobil bagian kemudi tempat wanita itu berdiri.


"Tuan Abrar....bisakah aku menumpang sampai ke depan?" tanya wanita itu.


Abrar menoleh ke arah Alea seolah meminta persetujuan.


Alea kesal seketika, ia tahu itu adalah janda kembang tetangganya, ia terkejut bagaimana bisa wanita itu mengenal suaminya.


"Abang sudah mengenalnya?" tatap Alea tajam.


"Tidak....memang siapa dia?" tanya Abrar kembali.


"Hei tampan, apa kau lupa kita bertetangga, ayolah aku hanya menumpang sampai ke depan saja"


Alea menggeleng menghadap Abrar, namun Abrar menjadi tidak tega.


"Baiklah nona, kau bisa masuk" jawab Abrar pada wanita itu.

__ADS_1


"Abang" bentak Alea memukul lengan pria itu.


"Tidak ada salahnya, kasihan dia" jawab Abrar seraya tersenyum melihat raut merah Alea, ia berharap itu adalah ekspresi cemburu istrinya.


Abrar sengaja melakukan itu, ia sangat suka melihat Alea marah jika berhubungan dengan perempuan.


Mereka melaju setelah wanita itu masuk kedalam mobil.


"Tuan Abrar, kenapa tadi aku tidak melihatmu lari pagi, biasanya kau selalu lewat didepan rumah ku" tanya wanita seksi itu dengan suara dibuat manja.


Alea melirik Abrar, bagaimana ia tidak tahu selama ini Abrar sering lari pagi seperti yang di ucapkan wanita itu, Alea merasa kecolongan akan hal ini.


Memang benar, Abrar selalu berolahraga pagi keliling komplek pagi-pagi sekali bahkan sebelum Alea bangun.


Menyadari tatapan mematikan Alea, Abrar hanya menghardikkan bahunya santai.


"Tadi aku kesiangan, jadi tidak keluar" jawab Abrar datar pada wanita itu.


"Astaga....padahal komplek ini akan kehilangan pesonanya jika kau absen berolahraga" canda wanita itu.


Abrar hanya tertawa canggung dibuatnya.


Wanita itu bahkan sama sekali tidak menyapa Alea yang sudah menggertakkan giginya geram.


"Sayang.....lain kali kau hanya boleh berolahraga di rumah saja, aku tidak mau pesonamu dinikmati semua orang apalagi seorang janda" sindir Alea sambil menyandarkan kepalanya di lengan Abrar.


Abrar seperti ingin tertawa keras dibuat dua wanita ini.


"Nona Alea.....tenanglah, aku tidak akan merebut suamimu, aku hanya mengagumi nya saja....kau beruntung mendapatkan suami setampan dan sebaik tuan Abrar, aku sangat iri" jawab wanita itu.


"Tetap saja kau tidak boleh seperti itu nona, bukankah mengagumi suami orang lain itu tidak baik, terlebih kau seorang janda, aku tidak mengizinkanmu mengagumi suamiku" jawab Alea serius.


Ingin rasanya Alea menurunkan janda itu dari mobil mereka sekarang juga.


"Astaga nona Alea ternyata kau istri yang posesif, itu sangat menggemaskan untuk pasangan baru seperti kalian" ucap wanita itu tersenyum.


Abrar terkekeh dibuat percakapan itu, tidak lama wanita itu minta diturunkan di pinggir jalan tempat tujuannya.


Alea bernapas lega, namun tidak bagi Abrar pria ini harus siap dengan kemarahan Alea.


Benar saja, Alea menatapnya tajam seolah meminta penjelasan.


"Alea....kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Sejak kapan abang berolahraga keliling komplek? Kenapa aku tidak tahu hal ini?"


"Aku sudah terbiasa melakukannya bahkan jauh sebelum kita pindah kesini, kau bahkan belum bangun tidur ketika aku lari pagi" jawab Abrar santai.


Alea merutuki kebodohannya, ia membenarkan bahwa ia selalu bangun siang bahkan Abrar sudah menyiapkan sarapan setiap paginya.


Lama Alea terdiam, ia menjadi sangat kesal akan hal itu.


"Awas jika abang melakukan itu lagi, aku tidak rela suamiku digoda janda menggelikan itu, astaga abang benar-benar jahat padaku..." Alea memukul lengan Abrar dengan kesal.

__ADS_1


"Astaga Alea hentikan, nanti kita bisa kecelakaan"


"Biar saja....kau menyebalkan" cebik Alea kembali, ia merasa ingin menangis saat ini.


"Alea.....bukankah kau sendiri yang bilang aku bebas mendekati wanita manapun, apa kau lupa akan hal itu?" tanya Abrar sengaja mengingatkan Alea akan itu.


"Tidak lagi, aku cabut ucapanku....abang tidak boleh dekat dengan siapapun" Alea berucap dengan mata berkaca-kaca.


Bagaimana ia bisa menahan cemburu jika hal itu benar-benar terjadi, membayangkannya saja Alea tidak mau, apalagi sudah terbukti bahwa semua wanita pasti mengagumi suami tampannya, untuk kasus janda ini saja ia merasa ingin mengamuk rasanya apalagi wanita yang bukan janda.


"Benarkah? Apa itu artinya kau menganggapku suamimu?" tanya Abrar tersenyum.


"Tidak tahu....diamlah, aku masih kesal padamu........ayo ajak aku makan es krim agar moodku kembali"


Abrar terkekeh, ia membelai wajah Alea lembut, gadis itu tiba-tiba mengulum senyum dengan dada berdegup kencang karena sebuah sentuhan Abrar pada pipinya.


Alea benar-benar mengakuinya, ia merasa berbeda ketika bersama Abrar sekarang, ia sungguh merasakan hal lain tidak sama dengan perasaannya sebelum menikah.


Mereka sampai di mall terbesar kota itu, makan es krim memang mengembalikan mood Alea, mereka makan siang dan nonton ke bioskop seperti pasangan pada umumnya, Alea selalu menautkan tangannya disela jari Abrar, berjalan-jalan membeli cemilan dan berbagai pernak pernik kebutuhan wanita.


Abrar terus memperhatikan Alea, ia tidak tahu bagaimana jika bukan gadis ini yang menjadi istrinya, Abrar bahkan akan tetap setia menunggu Alea menerimanya sampai kapan pun, ia tidak bisa membayangkan jika mereka berakhir berpisah nantinya akibat sandiwara ini, ia hanya berharap ada keajaiban yang melunakkan hati Alea untuk menyadari perasaannya.


Pun Alea, ia semakin menyadari arti dari kehadiran Abrar dalam hidupnya setelah menjalani pernikahan ini, gadis itu tidak lagi berpikir bagaimana caranya mengakhiri sandiwara ini yang ia pikirkan bagaimana mereka bisa tetap bersama, ia begitu malu jika harus mengaku duluan, ia tidak tahu apa Abrar juga menginginkannya atau tidak.


*****


Alea sudah tertidur didalam mobil, mereka pulang dari kencan yang tidak diakui itu sudah hampir pukul 10 malam.


Abrar menggendong Alea, ia tidak mau gadis itu terbangun, Alea dalam keadaan setengah sadar ketika dalam gendongan Abrar, ia merasa mimpi.


Gadis itu mengeratkan pelukan di leher suaminya, ia begitu nyaman menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Abrar.


Abrar kian berdegup akan posisi mereka, sungguh Abrar ingin melakukannya, namun rasa pengecutnya lebih besar hingga ia tidak berani untuk berbuat lebih pada gadis yang tertidur cantik itu.


Sampai dikamar Alea, ia meletakkan tubuh Alea dengan pelan, namun Alea tidak melepas pelukannya, membuat Abrar berada dalam posisi hampir menindih tubuh Alea dalam waktu lama.


Abrar tersenyum, ia mengecup lembut kening Alea begitu lama.


"Aku mencintaimu istriku....." ucap Abrar menatap lama wajah cantik Alea.



(tatapan mu bang.....)


Alea menggeliat, ia membuka matanya dalam setengah sadar, ia menatap wajah Abrar lama.


Alea tergerak mengecup sudut bibir Abrar lembut dan tersenyum.


"Selamat tidur bang Abrar" ucapnya kemudian ia kembali terpejam.


"Astaga....dia mengigau" gumam Abrar tersenyum, meski ia tahu Alea menciumnya dalam keadaan setengah sadar namun ia bahagia sekali.


Abrar bangkit setelah menyelimuti istrinya sampai dada, kembali Abrar mendaratkan bibirnya di kening Alea.

__ADS_1


"Aku jatuh cinta padamu bang Abrar" kembali Alea bergumam dalam tidurnya, namun sayang sekali Abrar sudah kembali kekamarnya.


__ADS_2